
Nenek berpakaian kuno dan memegang tongkat itu menatap Zizi dan Shane.
Dan...
Nenek itu menfokuskan tatapannya pada Zizi.
"Kau aromanya mirip Naga tua itu. Apa kau si cicit petakilan Naga Bandapati?"
Nenek itu bertanya pada Zizi.
Zizi tepuk jidatnya.
Ah lagi lagi ada lelembut yang kenal dirinya.
"Ya, aku cicit moyang Bandapati."
Kata Zizi.
Nenek berpakaian kuno itu terkekeh.
"Pantas juga kau bisa melihat jalan menuju tempatku, jika kamu manusia biasa yang tersesat ke alam gaib, kau hanya akan bisa melihat jalan milik para dayang hutan."
"Ho?"
Zizi celingak-celinguk.
"Bukannya jalan di hutan ke lima ini hanya ada satu jalur saja."
Gumam Zizi.
"Ya, jika kau bukan turunan Naga petakilan itu."
Ujar nenek berpakaian kuno tersebut.
"Jika di alam manusia, ini sudah masuk kawasan Ceremai, aku adalah salah satu penguasa di sini."
Kata nenek itu.
Zizi nyengir lebar.
"Aaa ternyata kau si Nini pelet itu, yang tadinya akan perang dengan mak lampir, ya kan?"
Zizi menunjuk si nenek yang terkekeh.
"Dasar bocah tengik, pada orangtua tak ada sopan-sopannya, dan lagi aku bukan Nini pelet."
Nenek itu kemudian berjalan ke sisi timur, beberapa semak belukar tumbuh di sana. Di sana ada beberapa batu pipih besar, nenek itu duduk di sana.
Zizi mengikuti, lalu ia juga ikut duduk.
"Pegel Nek kakinya?"
Tanya Zizi.
Tung!!
Kepala Zizi kena pentung nenek berpakaian kuno itu.
Dua macan tutul yang menyertai sang nenek tertawa melihat kepala Zizi dipentung Nenek.
Zizi mengusap kepalanya yang kena pentung.
"Kau mau ke mana?"
Tanya si nenek.
"Ke merapi, ini nih akibat tidak ada peta, jadi nyasar-nyasar."
Gerutu Zizi.
Tung!
Kepala Zizi kena pentung lagi.
"Nek, kenapa mentung kepala Zizi terus sih?"
Omel Zizi.
Si nenek terkekeh.
"Lucu."
__ADS_1
Kata Nenek.
Haiiish... Zizi mendesis.
Sayup angin hutan bertiup, menggoyang dahan-dahan pohon di dalam hutan dan membuat dedaunan yang kering berguguran di sekitar tempat Zizi duduk.
"Kau memang ditakdirkan lewat tempat ini, selain ke Merapi, kau pasti sedang mencari sesuatu kan?"
Tanya nenek tersebut.
Zizi mengerutkan kening.
"Sesuatu apa?"
Zizi malah jadi bingung.
"Aku akan memberitahumu."
Kata Nenek tersebut.
"Sebentar, kau ini teman Moyang Bandapati kah Nek?"
Tanya Zizi penasaran. Kenapa nenek itu sok akrab dengannya.
Si Nenek terkekeh.
"Aku pernah berurusan dengannya, setelah ia membakar hutan kemenyan, ia lari ke sini, ia meminum mata air di tempat ini untuk memulihkan kondisinya yang sempat terkena serangan Pemimpin kera putih."
Ujar si nenek.
"Dia meminum mata air di tempat ini tanpa permisi, maka ia jadi berurusan dengan dua penjagaku."
"Pasti moyang Bandapati yang menang."
Kata Zizi malah bangga.
Membuat dua macan itu mengaum kesal.
"Tidak ada yang menang, mereka semua terluka parah, itu sebabnya aku turun tangan."
"Jadi nenek tabib?"
Tanya Zizi.
Tung!!
"Cerewet sekali kamu itu, seperti burung Jalak saja."
Zizi langsung melihat ke arah burung jalak yang banyak di dalam hutan, mereka membuang muka disamakan dengan Zizi.
Haiiish... Zizi mendesis.
Awas kalau aku balik lagi, aku bawa ketapel. Batin Zizi.
"Aku ini orang biasa menyebutku Nyi Linggi."
Nenek itu akhirnya memperkenalkan diri.
"Dulu saat Tuan Sunan Gunungjati yang lama mencari petunjuk untuk melawan orang-orang dari negeri jauh akhirnya turun dari Ceremai, banyak orang bercerita soal aku yang katanya menggantikan sang Sunan duduk di batu di mana beliau mencari petunjuk."
Tutur Nyi Linggi.
"Sebetulnya, aku sudah ada sejak jauh hari, hanya saja memang yang diketahui orang, aku baru ada saat itu."
Nyi Linggi terkekeh.
Zizi melihat penampilan Nyi Linggi yang sangat kuno, jadi dia percaya.
"Ya kalau kanjeng Sunan kan sudah lumayan modern, sekitar tahun 1500-1600an."
Maria nimbrung.
"Nah itu benar."
Zizi mantuk-mantuk.
"Batu lingga di gunung ceremai yang dikeramatkan adalah salah satu pintu menuju ke tempatku, biarlah orang mensakralkannya, karena dengan begitu manusia juga sedikit hati-hati jika akan merusak alam di sekitar sana, atau anak-anak muda yang naik gunung tak sampai berbuat tak senonoh di sana."
Ujar Nyi Linggi.
Zizi mantuk-mantuk.
__ADS_1
"Ya, kan jarang ada anak muda kayak Zizi, yang tegak lurus macam pohon pinang."
Kata Zizi bangga.
Maria yang tadi sempat terlempar dan kini kembali lagi terlihat tertawa.
"Lurus apanya, kamu itu zigzag."
Kata Maria.
Haiiish... Zizi mendesis ke arah pengasuhnya.
"Baiklah... Kau sudah sampai di sini, lebih baik kau selesaikan apa yang harus kau lakukan."
Ujar Nyi Linggi.
"Setelah peristiwa Bandapati, terjadilah perang cukup besar dari Merapi ke Gunung Salak, serangan kepada kerajaan Dalu, kau pasti sudah dengar bukan Zizi?"
Tanya Nyi Linggi.
Zizi mantuk-mantuk.
"Kerajaan Dalu porak poranda, sempat dikunci oleh penguasa segara kidul karena dianggap menjadi sumber masalah keributan antara bangsa lelembut yang hampir mengguncang dua alam, antara alam para lelembut dan juga manusia."
Nyi Linggi bertutur.
"Singkat cerita, ratu dari tanah Dalu di bawa ke Merapi, dan kemudian rajanya mencoba mengambilnya."
"Dan mereka hilang Nyi, putri mereka meminta tolong Zizi untuk menemukan keduanya."
Kata Zizi.
Nyi Linggi menganggukkan kepalanya.
"Ya itu benar, maka dari itulah kau bisa terseret ke sini."
Ujar Nyi Linggi.
"Bunga Petak sekarang ada di dalam kungkungan Dayang Sumbi, dia adalah anak Nini Pelet. Selamatkanlah ia."
Kata Nyi Linggi.
"Bagaimana bisa dia malah ada di sini? Bukannya dia dibawa ke Merapi."
Zizi jadi heran, ini para lelembut sangat tidak jelas.
"Kau tahu bukan peperangan yang hampir terjadi antara Merapi dan Ceremai?"
Zizi mengangguk.
"Yang mereka memperebutkan dua Naga hitam dan merah yang mengunci tanah Dalu, Zizi yang menghajar mereka."
Kata Zizi bangga.
"Dasar bocah tengik, petakilan melebihi moyangnya."
Nyi Linggi terkekeh.
Zizi garuk kepalanya.
Lagi-lagi dia dikatai bocah tengik. Mana di depan Kak Seng.
"Dayang Sumbi berhasil membawa bunga petak yang merupakan kesayangan Grandong. Sementara suaminya, raja Dalu masih ada di Merapi, menjadi budak pekerja di sana."
"Ah begitu rupanya. Baiklah, Zizi selamatkan Bunga Petak lebih dulu."
Ujar Zizi.
"Tapi apakah itu tidak akan bahaya Nyi? Zizi harusnya menemui Eyang Sapujagad lebih dulu agar energi jahat di Jayapada tak sampai menguasainya."
Maria khawatir.
Nyi Linggi menatap Zizi.
"Jadi jayapada sudah ada di tangan kau bicah tengik?"
Tanya Nyi Linggi.
Zizi menganggukkan kepalanya.
"Pedang itu sudah mulai jahat, jika ditambah lebih banyak energi jahat, Zizi yang justeru akan dikendalikan."
__ADS_1
Ujar Maria.
**------------**