
" Memangnya kenapa kalau aku ada di sini, ini kan tempat umum." ??
" kamu pacarnya Rian yah, kenalin aku sahabatnya." kata ?? sambil mengulurkan tangannya.
" Namaku Lea dan aku bukan pacarnya Rian kita temen baru dekat." kata Lea.
" Kalau aku Putri, senang berkenalan denganmu Lea". kata Putri
" oh iya kalian satu sekolah?." tanya Putri.
" Iya.." jawab Lea.
" Ya udah ya, Putri Rian aku duluan dulu, Bye." kata Lea.
" Iya, Lea hati-hati." kata Rian.
setelah berpamitan dengan Rian dan Putri Lea pun merasa ada sesuatu yang aneh di antara mereka. Seperti kedekatan mereka berdua yang lebih dari sekedar seorang sahabat.
" untuk apa aku memikirkan hal itu padahal itu bukan urusanku." kata Lea.
" seharusnya aku tadi buru-buru pulang." kata Lea.
Sementara itu Putri dan Rian
" kak kamu suka sama Lea Kenapa gitu banget lihatnya." kata Putri.
" astaga Putri kamu tu jangan ngaku-ngaku jadi sahabat aku ucap aja jujur adik aku gitu biar saya nggak penasaran." kata Rian.
" lah emangnya kenapa kakak membaca pikirannya Lea?." kata Putri.
" udah ah ayo pulang udah keburu sore kamu ngapain juga jemput kakak di sini." kata Rian.
" habisnya aku bosen di rumah terus mana ayah sama bunda belum pulang lagi." kata Putri.
" Wajar aja Put, mereka kan kerja juga buat kita." kata Rian sambil berjalan pulang ke rumahnya.
" Iya masa setiap hari, nggak mungkin juga kan kak. bahkan kita jarang jarang banget loh kumpul sama ayah bunda." kata Putri.
" memangnya kakak nggak ngerasa kesepian gitu." kata Putri.
" kakak sudah terbiasa." kata Rian.
" astaga benarkah, ululu cini Putri peluk." kata Putri.
" apaan sih malu tahu ini tuh masih di luar rumah." kata Rian.
" emangnya kenapa kok masih di luar rumah kan orang-orang juga sudah tahu kalau kita kakak beradik." kata Putri.
" Iya kan nggak enak kalau dilihat Putri..." kata Rian.
" ah masa?." kata Putri.
__ADS_1
" daripada kamu gangguin kakak terus nih bantuin kakak bawain tas." kata Rian.
" dari tadi dong kak kalau mau dibawain tasnya, sini." kata Putri.
" nih..." kata Rian sambil melemparkan tasnya.
( hap )
" Astaghfirullah, kak. Kamu sekolah bawa apa sih berat banget." kata Putri.
" Bawa beban hidup." kata Rian.
" Pantesan aja, tubuh kakak lebih pendek dari aku." kata Putri.
" Apa." kata Rian.
" Aaa kabur." kata Putri sambil berlari masuk rumah.
Ya.., begitulah keseharian kakak beradik itu. Bermacam-macam kesenangan mereka ciptakan sendiri untuk mengisi hari-hari yang membosankan tanpa kedua orang tuanya. Namun, di balik kesenangan itu mereka juga merasa kesepian karna rumah yang sangat sederhana itu tampak seperti rumah kosong di setiap harinya. Mereka mempunyai keinginan bahwa setiap mereka pulang sekolah, mereka akan disambut dengan senyum hangat dari orang tuanya. Akan tetapi hal tersebut hanya akan menjadi sebuah angan-angan yang tidak pernah terjadi.
[ hari berikutnya ]
pukul jam setengah 5 pagi, Rian pun terbangun dari tidurnya dan segera bersiap untuk membangunkan adiknya itu.
( Di kamar putri )
" Putri, put." kata Rian yang berusaha membangunkan adiknya itu.
" Ayo bangun, sholat." kata Rian.
" k-kak, se sepertinya a aku-" kata putri yang menggigil
" Astaghfirullah, dik. Kamu kenapa?. Astaga badan kamu panas." kata Rian setelah menempelkan tangannya ke dahi Putri.
" Dik, kakak. antar kamu ke rumah sakit ya." kata Rian.
" Tidak usah kak, aku tidak apa-apa." kata Putri.
" Tidak apa-apa gimana. Orang kamu panas banget kayak gini kok. Udah sekarang kamu nurut sama kakak, kita ke rumah sakit aja yah." kata Rian.
" Jangan kak, aku enggak mau. Aku mau di rumah aja." kata Putri.
" Yaudah, kakak tinggal dulu ambil kompres an yah. Sambil masakin kamu bubur." kata Rian.
" Iya kak." jawab Putri.
Rian pun keluar dari kamar adiknya itu dan segera menuju ke dapur untuk mengambil air dan handuk. setelah menyiapkan itu, Rian pun juga telah memanaskan air untuk memasak bubur.
" Aku tinggal dulu enggak apa-apa kali ya." kata Rian.
" Yaudah aku tinggal dulu aja." kata Rian.
__ADS_1
kemudian Rian berjalan ke arah kamar adiknya.
" Dik, kakak kompres dulu aja yah." kata Rian.
(Putri pun mengangguk)
" Kemarin kamu kemana aja sampai demam tinggi seperti ini." kata Rian sambil memeras handuk dan meletakkannya di dahi adiknya.
" Kak." kata Putri.
" Iya.., kenapa?. handuknya terlalu dingin ya..." kata Rian.
" Enggak kak, handuknya sudah pas kok." kata Putri.
" Lalu?." kata Rian.
" kakak sholat dulu gih, nanti waktunya keburu habis." kata Putri.
" Astaghfirullah. " ucap Rian saat dirinya belum melakukan ibadah.
" kakak tinggal sebentar, enggak apa-apa kan?" kata Rian.
" Iya kak, enggak apa-apa kok." jawab Putri.
" kakak tinggal wudhu dulu, nanti kakak akan kembali lagi." kata Rian.
" siap kak:)." jawab Putri.
Rian berjalan keluar dari kamar adiknya itu dan menuju ke dapur untuk memastikan bahwa air yang ia panaskan tadi telah mendidih. Dan ternyata benar, setelah Rian datang ke dapur air itu benar-benar sudah mendidih. Dengan segera Rian pun memasak bubur untuk adik nya.
" Okay, semua udah masuk. Sekarang kita tunggu biar matang. Aku tinggal dulu sebentar pasti tidak apa-apa kan. Sebelum aku tinggal, lebih baik apinya aku kecilkan dulu. Nah, sip. Tinggal sholat dulu lalu ke sini lagi." kata Rian setelah mengecilkan api kompornya.
Rian pun menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, setelah ia selesai, ia langsung kembali ke kamarnya untuk melakukan ibadah.
5 menit kemudian, setelah Rian selesai. Dirinya langsung menuju ke dapur dan memastikan bahwa bubur yang ia masak untuk adiknya itu pun telah matang.
" hhmm~," Rian yang sedang mencium aroma buburnya.
Karna penasaran bagaimana bubur yang ia masak untuk adiknya itu, Rian pun langsung mengambil sendok dan menyendok kan nya ke bubur serta langsung mencicipinya.
" Apakah ini kurang asin, aku tambahin sedikit lagi garamnya." ucap Rian setelah merasakan bubur masakannya.
" Sepertinya ini pas dan mari kita tuangkan ke dalam mangkok." kata Rian.
Setelah bubur tersebut masuk ke dalam mangkok yang sudah Rian sediakan, langsung saja Rian membawanya ke kamar adiknya. Namun, sebelum menuju ke kamar adiknya tak lupa Rian mematikan kompor gasnya. Dan langsung menuju ke arah kamar adiknya.
" Dik, ayo makan dulu." ucap Rian sambil membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat. Perlahan Rian meletakkan nampan tersebut ke atas meja samping ranjang dan menuju ke arah adiknya untuk membantu membangunkan nya.
" Kak, hari ini aku sekolah yah..?" kata Putri dengan posisi tengah duduk di atas ranjang dan bersandar.
" Tidak, kakak tidak ngizinin kamu untuk ke sekolah." jawab Rian sambil mengambil mangkok yang terdapat buburnya.
__ADS_1
Bersambung....