
Bocil diharap minggir, karena mengandung adegan dewasa.
********
" Kau datang Tuan.." Tanya Alvinka
Alvinka yang sedang asik menonton kartun kesayangannya dikejutkan dengan kedatangan Jonathan yang tiba-tiba sudah berdiri tak jau dari tempatnya.
" Ini barang mu dan bersiaplah aku akan mengantarkanmu pulang.". Jonathan menyerahkan tas milik Alvinka yang telah dia tahan selama ini.
" Apa maksud anda saya akan dibebaskan.". Tanyanya dengan penuh harapan
" Yah ,bersiaplah untuk - "
Belum sempat Jonathan meneruskan ucapannya Alvinka sudah memeluk Tubuhnya
Tentu saja Jonathan sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Alvinka saat ini.
" Cup " Jonathan benar - benar dibuat terpaku oleh tawanannya ini.
" Terimakasih Tuan Jonathan." ucapnya setelah mencium pipi Jonathan.
Alvinka segera berlari menuju kamar yang sudah dia Anggap sebagai kamarnya sendiri itu.
" Tunggu." Jonathan menahan Alvinka.
Alvinka berhenti dan berbalik.
Seketika matanya yang lebar itu melotot sempurna sehingga tambah besar saat merasakan bibir basah Jonathan melahap bibirnya.
Alvinka sempat terpaku namun beberapa detik kemudian dia mengikuti gerakan Jonathan.Akhirnya mereka pun saling melahap satu sama lain.Decapan demi decapan Terdengar indah memenuhi telinga keduanya.Mereka pun saling mengecap rasa manis untuk yang kedua kalinya.Entah sejak kapan kedua tangan Alvinka sudah melingkar di leher Jonathan.
"Ah.." Alvinka mendesah ketika ciuman Jonathan turun menyusuri lehernya yang putih nan mulus bak porselen itu.Kini tangan Jonathan sudah bergerilya di paha Vi ,karena Vi hanya menggunakan kemeja miliknya yang hanya sebatas paha saja ,maka dengan mudah tangan itu merabanya.
" Tuan...!" lirih Alvinka, sebenarnya dia ingin menghentikan,tapi apa daya tubuhnya berkata lain.
" Call my name girl." Kini ciuman itu turun menyusuri dia gundukan dada Alvinka,meski masih terbungkus oleh lapisan kemeja dan bra namun nyatanya sentuhan itu mampu membuat darah Alvinka semakin panas.
Jonathan berlutut didepan Vi tapi ciuman demi ciuman serta sentuhan demi sentuhan tak berhenti.
__ADS_1
" Stop tuan stop." Akhirnya Alvinka harus menolak keinginan tubuhnya itu.
Jonathan yang sudah dikuasai oleh gairah tak serta-merta menghentikan kegiatannya ini.
" I can ' t stop it girl, kamu tau sudah sangat lama aku tak melakukan hal ini." Ucapnya sambil mendorong tubuh Alvinka ke sofabed.
" Ah Tuan !" Alvinka semakin dibuat tak berdaya ketika ciuman dari Jonathan ketika bibir Jonathan menyusuri bagian pahanya.
" I say call my name girl." Ucap Jonathan dengan suara serak.Suara khas seorang pria yang gairahnya sudah mencapai puncak.
" Jo...Don't di it Jo.Please ..!" Pinta Alvinka agar Jonathan berhenti.
".Tapi kamu menikmatinya girl." Jonathan semakin liar.
".Kau tau baru kali ini aku bergairah setelah Seseorang menghianati aku." Ucap Jonathan kembali melahap bibir manis milik Alvinka
" Ah ,Jo .Ah..". Alvinka semakin mendesah saat Jonathan bermain - main di lembahnya.
" Go from there Jo.Ah.." bibirnya menolak tapi kedua tangannya malah menekan kepala Jonathan agar lebih dalam.
" Kau seksi sekali girl.I like it." Jonathan semakin mempercepat ritme dan memperdalam ciumannya meski benda itu masih terbungkus kain segitiga berwarna hitam yang sudah sangat basah itu.
*****
Sania yang tadi ketiduran terbangun karena bermimpi buruk tentang Alvinka
" Nyonya ada apa...?" Tanya salah satu pelayan wanita yang sedang memijit kaki sang Nyonya
Sania terengah-engah, tubuhnya berkeringat
". Alvinka bik , Alvinka...!' Sania terisak
" Non Alvinka pasti baik - baik saja nyonya.Anda sepertinya bermimpi buruk.Nyonya minum dulu ya." Pelayan itu menyerahkan segelas air putih kepada Sania
Sania meneguk habis air itu karena tenggorokannya terasa kering.
" Terimakasih bik.Aku harap putri ku baik - baik saja dan segera pulang." Lirih Sania dengan air mata yang turun menyusuri pipinya yang masih terlihat tanpa kerutan itu meski kini Usia sudah tak muda lagi.
" Mommy aku pulang !" Tiba - tiba sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar berteriak.
__ADS_1
Sania langsung turun dari ranjang dan berlari keluar dari kamar.
"Mom aku pulang...!' Alvinka berteriak di lantai bawah.
Sania mengerjabkan mata berkali - kali untuk memastikan jika yang berdiri di lantai bawah itu adalah benar - benar putrinya yang beberapa hari ini telah menghilang.
" Mom..." Alvinka melambaikan tangan ke atas
" Alvinka,ini kamu sayang...?" Tanyanya masih tidak percaya jika putri yang dia tangisi itu kini telah berdiri tegak di rumahnya.
Yah Alvinka telah pulang dengan di antarkan oleh Jonathan.Tapi pria itu langsung pergi begitu saja tanpa ikut masuk kedalam rumah.
". Alvinka." Pekik Sania lalu berlari menuruni tangga
" Om ,I 'm coming." Ucap Alvinka sambil memeluk tubuh Sania yang terlihat lebih kurus.
" kamu kemana saja Alvinka,Hah kenapa membuat mommy sama papi khawatir." Sania terisak.
" Maaf mom, tapi aku baik - baik saja kok.Lihat aku sehat kan sama seperti kemarin - kemarin." Alvinka tersenyum didepan sang mommy
" Tapi kenapa tak memberi kabar Alvinka,kamu tau kami khawatir." Sania merasa sebal dengan putrinya itu.
" Sudah mommy,yang penting kan aku sudah pulang hmm." Alvinka menghapus sisa air mata ibunya.
" Auh...Auh..Ampun papi ,ampun." Alvinka meringis dan memohon ampun pada Arman yang sedang menjewer telinganya
" Ampun kamu bilang, seminggu pergi tanpa kabar kamu bilang jangan khawatir, kau lihat mamimu itu jadi kurus seperti itu,karena tak bisa makan."
" Dan lihat mata indahnya sekali jadi bengak karena selalu menangis dan kau bilang tenang.Dan lagi papi kalang kabut mengerahkan seluruh anak buah serta para polisi untuk mencarimu hah.dan aku bilang baik - Baik saja." Arman Sangat murka kepada putrinya itu bisa - bisanya gadis itu tidak merasa bersalah dengan kelakuannya.
" Maaf, Vinka memang salah ,pergi tanpa kabar." Alvinka meminta maaf tapi dia tak mengatakan bahwa dia sedang disekap oleh Jonathan.Yah Saat ini Alvinka memang sudah jatuh cinta kepada pria itu.
Dia tak mau menceritakan semuanya karena Alvinka tak mau jika Orang tuanya beranggapan buruk tentang Jonathan dan menganggap Jonathan adalah pria jahat karena sudah menculik dan menyekap dirinya selama ini.
" Katakan pada kami kemana saja kau,hingga lupa pada orang tuamu hah !" Geram Arman
" Maaf,vinka -....
'
__ADS_1