
“Jangan, bang. Itu uang Fatin terakhir,” sergah Fatin. Gadis itu berusaha merebut kembali uang yang Roni ambil dari dalam dompet yang tergeletak diatas meja.
“Berisik! diem ga lo!” bentak Roni berusaha menjauhkan Fatin dari dirinya. Roni terus merogoh dompet Fatin dan menguras habis dompet milik gadis mungil yang kini masih memakai mukena.
Fatin terkejut saat ia baru saja selesai melaksanakan ibadah, Roni dengan badan sempoyongan akibat menegak minuman keras itu menerobos masuk ke dalam kamarnya dan teriak teriak meminta uang pada Fatin.
“Bang, Fatin mohon itu uang Fatin yang terakhir. Sekarang Fatin sudah tidak bekerja lagi,” Mohon Fatin.
Roni adalah kakak sepupunya yang hanya bisa menjadi beban keluarga. Kerjaanya hanya minum dan bermain wanita. Sejak dulu, ia sangat dimanja oleh ayahnya. Apapun yang diinginkan pasti dikabulkan hingga Roni menjadi seonggok manusia yang sangat tidak berguna.
Roni mengernyit saat lihat nominal uang yang ada di dalam dompet Fatin. “Uang lo cuma segini?”
“Iya, bang. Fatin sudah tidak punya uang lagi. Tolong jangan diambil,” rengek Fatin. Matanya sudah memerah, bulir bulir bening sudah bertumpuk di pelupuk matanya dan siap terjun bebas di kedua pipinya.
Namun, Roni tidak mendengarkan rengekan Fatin. Ia menghiraukan gadis mungil itu dan keluar kamar Fatin dengan beberapa lembar uang di genggamannya.
Akhirnya, pertahannya runtuh. Tubuh Fatin luruh, terduduk di atas sejadah coklat miliknya. Pasalnya, beberapa saat lalu–bibinya datang ke kamarnya untuk meminta uang belanja.
“Fatin, mana uang belanja yang kemarin Bibi pinta?” seloroh Neni–bibi Fatin saat akan berangkat menuju pasar.
Fatin yang baru saja pulang dari kampus terdiam, mengingat uang yang ia miliki tidak cukup untuk hidupnya sendiri apalagi di bagi dengan bibinya.
“Tapi, Bi. Sekarang Fatin sudah ga kerja lagi jadi asisten dosen. Fatin kan udah lulus, jadi Fatin ga punya pemasukkan lagi,” ujar Fatin.
“Ya berarti kamu harus mencari pekerja lain dong. Kalo kamu ga kerja gimana keluarga kita makan? masa harus Bibi yang kerja? ogah banget. Inget, kamu tuh dibesarin sama siapa. Jangan jadi anak gatau diri!” ucap Neni dengan penekanan di kalimat terakhir.
Ya, benar. Ia di besarkan oleh pamannya. Jadi, Fatin hanya bisa diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Perlahan ia mengeluarkan dompetnya. merogoh beberapa lembar uang dan ia berikan pada bibinya.
“Bi, maaf. Sepertinya untuk minggu depan Fatin tidak bisa memberikan uang belanja sampai Fatin punya pekerjaan nanti,”
__ADS_1
Neni mengambil uang dan menghitungnya. “Oke, tidak apa apa. berarti kamu juga tidak bisa makan sampai kamu punya kerjaan nanti,” setelah mengatakan itu, Neni beranjak dari hadapan Fatin.
Kini uangnya tinggal sisa dua ratus ribu dan itu pun sudah diambil oleh kakak sepupunya yaitu Roni. Fatin sudah tidak punya uang lagi. Ia bingung untuk ongkos ke kampus nanti bagaimana.
Tidak mungkin ia berjalan ke kampus. Jarak dari rumahnya hingga ke kampus cukup jauh.
Tangan Fatin bergerak memeluk dirinya sendiri, matanya terpejam, menenangkan diri sendiri adalah hal yang selalu ia lakukan setiap hari.
“Umi, abi, kenapa kalian tidak membawa Fatin. Kalian jahat, meninggalkan Fatin sendiri. Sekarang, Fatin harus memeluk diri Fatin sendiri, mengusap pundak sendiri, dan menenangkan hati sendiri. Fatin… cape, Umi, Abi. Fatin rindu kalian,”
Dadanya begitu sesak, suaranya tercekat di tenggorokan. Hidupnya berubah 360 derajat saat kedua orang tua dan pamannya pergi.
Sebenarnya peninggalan orang tua Fatin cukup untuk biaya hidup dirinya sampai lulus dan dapat di pastikan Fatin tidak akan hidup kekurangan.
Tapi, Fatin kurang beruntung mempunyai bibi dan Kaka sepupunya yang tamak akan rezeki. Mereka sangat suka foya foya hingga uang Fatin habis dan rumah peninggalan orang tuanya pun di jual untuk kesenangan Neni dan Roni.
Fatin mengangkat kepalanya, mengusap air matanya, tidak peduli bagaimana caranya ia ke kampus. Yang peting sekarang adalah ia siap siap dulu. Sudah jam delapan dan Fatin belum mandi. Satu jam lagi ia akan bertemu dosen untuk membicarakan kuliah S2 nya di luar negeri.
Semoga saja beasiswanya di acc dan ia bisa keluar dari rumah ini. Fatin siap bekerja keras untuk mewujudkan mimpi uminya yaitu bekerja keliling dunia menjadi pembicaran tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun. Lebih tepatnya, umi ingin Fatin menjadi seorang motivator.
Sudah sepuluh menit Fatin berjalan, tapi belum ada separuh jalan menuju kampus. Tapi, fatin tidak merasa lelah. Bahkan, ia sangat semangat karena ia siap sangat siap mendengar kabar baik dari Prof. Alif mengenai beasiswa nya di luar negeri.
“Fatin!”
Gadis itu tidak mendengar panggilan karena menggunakan earphone dengan volume yang cukup kencang.
“Fatin!”
Fatin tetap pada langkahnya.
Tiba tiba sebuah motor berhenti di hadapannya membuat gadis itu terkejut dan menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang, matanya membulat sempurna.
__ADS_1
“Fatih!” sentak Fatin terkejut. Sementara orang yang ia sebutkan namanya malah cengengesan tanpa dosa.
“Fatih! Kamu ngagetin aja. Gimana kalau jantung aku copot!? Nyebelin banget sih,” gerutu Fatin. Ia sangat kesal sekarang, moodnya berubah drastis.
“Ya... habisnya kamu aku panggil panggil ga nyaut nyaut. Kaget kan sekarang? Makanya kalau pakai earphone tuh jangan kencang kencang,” ujar Fatih di atas motor nya.
Fatin mendelik. Kebiasaan Fatih dari kecil suka membuatnya kaget, seperti mempunyai pintu doraemon. Lelaki itu selalu saja ada di hadapannya tiba tiba.
“Ya, kamu bisa kan panggil aku pelan pelan atau tepuk bahu ku. Tidak usah mengagetkan seperti itu,”
“Iya iya aku minta maaf. Jangan marah ya.” Fatih mengulurkan tangan kananya sebagai tanda damai.
Fatin membalas uluran tangan itu tanpa menoleh sedikit pun pada Fatih.
Laki laki dengan kemeja kotak kotak itu terkekeh. Kebiasaan Fatin yang satu ini selalu saja berhasil membuat dirinya gemas.
“Btw, kamu mau ke kampus? Kenapa jalan? Kan jaraknya cukup jauh?” tanya Fatih.
“Iya, uang ku diambil Kak Roni semua tadi pagi. Makanya aku jalan,” Fatin terkekeh.
Sudah Fatih duga. “Kenapa kamu tidak telepon aku sih? Kan kita bisa ke kampus bareng. Kamu tuh selalu saja begitu. Sok sok an tidak mau merepotkan aku dan lebih milih cape sendiri. Kamu anggap aku orang lain—
Fatin memotong omelan Fatih. “Iya iya maaf. Aku kira kamu tidak akan ke kampus,”
“Makanya telepon dulu, tanya dulu. Mana mungkin kamu tahu kalau tidak bertanya, aneh,”
Fatin cemberut, kepalanya menunduk. Itu adalah jurusan andalannya agar omelan Fatih benar benar berhenti.
Fatih menghela nafas. “Ya sudah, ayo ke kampus sama sama. Tapi ingat, lain kali kamu harus hubungi aku ya. Jangan selalu merasa sendiri.”
Fatin mengangguk dan tersenyum. Kemudian naik ke atas motor Fatih.
__ADS_1
Sebenarnya ia bukan tidak menganggap Fatih, tapi sudah banyak bantuan yang ia terima dari laki laki ini. Fatin bingung harus balas budi seperti apa nanti.
“Terimakasih, Abang,” ucapnya pelan dan masih bisa di dengar oleh Fatih. Laki laki itu tersenyum manis mendengarnya.