1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Taman


__ADS_3

Seharusnya Fatin dan Fatin Satu angkatan. Tapi, karena dulu Fatih diharuskan masuk pesantren selama satu tahun–mau tidak mau pemuda itu harus gap year.


Sedangkan Fatin, sudah wisuda bulan lalu. Dan dihadiri oleh Fatih saja.


Keduanya sudah sampai dan segera masuk ke dalam.


Tidak lama, toko buku itu sudah ada di depan matanya.


Toko buku adalah surga dunia bagi seseorang yang gemar membaca.


Buku adalah jendela dunia. Kita bisa tahu apa saja yang ada di dunia ini hanya lewat buku.


Terlebih lagi buku sejarah. Fatin sangat suka suka sejarah. Masa lalu itu cukup untuk dikenang bukan untuk di ulang.


Masa lalu biarlah berlalu.


“Kamu tidak ada mau beli buku, Fatin?” tanya Fatih sambil mencari buku sejarah islam yang ia cari.


“Tidak, nanti saja,”


Bukan tidak ada. Tapi, ia tidak punya uang untuk membelinya. Masa iya harus Fatih lagi yang membelikannya. Kan kemarin ia sudah diberi uang saku oleh Fatih untuk beberapa hari kedepan.


“Bohong,”


"Seriusan, Bang. Aku sedang tidak mau beli buku. Nanti saja,” katanya sambil berlalu ke rak buku sejarah.


Akhirnya, buku yang ia cari ketemu juga. Lalu, pergi menghampiri Fatin.


Dari kejauhan, Fatih memandang satu sosok yang selalu membuatnya terkagum akan kesabaran dan ketulusan hati yang gadis itu miliki.


Dari sepeninggal orang tuanya–gadis itu selalu menerima apa apayang menimpa dirinya. Di hadapannya, Fatin tidak pernah mengeluh. Hanya menangis kemudian kembali pada keadaan semula. Seperti tidak terjadi apa apa.


Di hadapan semua orang. Fatin adalah wanita kuat. Tapi, ketika sendiri, ia adalah gadis lemah yang butuh rangkulan.


Fatih tahu itu–karena ia sering mengikuti Fatin kemanapun gadis itu pergi. Sering sekali Fatin menangis di taman ketika sore hari.


“Kalau gak beli buku–ga aku beliin es krim strawberry, ya?”


Fatih tahu, kalau Fatin ingin membeli buku. Gadis itu tidak enak jika harus dibayarkan apalagi meminta padanya.


Jadi, satu satunya cara adalah memaksa Fatin untuk membelinya. Fatih adalah cowok sejati dan kelewat peka.


“Ihh! Ko gitu sih? perjanjiannya kan beli es krim sehabis antar beli buku,” gerutu Fatin.


“Ya, makanya. Kalau mau dibelikan es krim yang kamu harus beli buku juga,” Fatih tersenyum lalu mengangkat kedua alisnya sekali.

__ADS_1


Fatin menyipitkan bola matanya dan alisnya berkerut.


“Ya sudah kalau, Abang, maksa,” Fatin langsung membalikkan badannya, lalu terkikik malu.


Sama seperti Fatih. Pemuda itu pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah gemas Fatin.


***


Setelah dari toko buku tadi—Fatih mengajak Fatin ke sebuah taman yang ia tahu tempat menangis gadis di sampingnya ini.


Walaupun, sampai sekarang Fatin tidak pernah tahu kalau Fatin selalu menguntitnya jika ia sedang bersedih.


Keduanya berjalan menuju pohon besar di tepi danau sana.


Sore yang indah dan cerah. Cocok sekali menikmati es krim disini. Rasanya menjadi berkali kali lipat enaknya.


“Ko, Abang, tahu sij taman ini? Tahu dari mana?” tanya Fatin yang kaget tiba tiba di ajak kesini.


Mendengar pertanyaan itu–Fatih menghentikan jilatannya pada es krim.


“Emm… Kamu tidak tahu kalau taman ini terkenal ya? Siapa sih yang tidak tahu taman ini,” jawabnya asal.


Fatin mengerutkan kedua alisnya. Melihat sekeliling yang sepi pengunjung. Tidak lebih dari sepuluh orang yang di taman ini termasuk dirinya dan lelaki di sampingnya.


“Apa iya?” tanyanya menyakinkan.


Selanjutnya tidak ada obrolan yang keluar dari keduanya. Masing masing terbenam di dalam pikirannya.


Fatin memikirkan tentang pekerjaan. Sedangkan Fatih, cowok itu… Memikirkan gadis disampingnya.


***


Rasanya pulang itu… mengerikan.


Setiap orang akan bahagia dan tenang jika mendengar kata pulang. Tapi, untuk gadis satu ini–pulang adalah sesuatu yang menyiksanya.


Fatin melepaskan sepatu dan menyimpannya di rak sepatu dekat pintu. Lalu, berjalan ke dapur mengambil minum dan meneguknya hingga tandas satu gelas tinggi.


Fatin tidak mendengar suara televisi atau suara lainnya yang menandakan keberadaan Neni. Apa bibinya tidak ada dirumah?


Fatin mengedikan bahunya sekali dan berlalu masuk kamar.


Setelah seharian diluar rasanya badan lengket dan banyak debu menempel. Fatin bergegas ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu bersiap untuk membaca buku yang dibelikan Fatih tadi.


Fatin merebahkan tubuhnya. Menarik selimut, lalu menutup mata perlahan. Merasakan kenyaman yang menjalar di tubuhnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah. Terima kasih atas nikmat mu, Ya Allah,” ucap syukur Fatin.


Tidak lama, gadis itu membuka buku sejarah yang ia pegang sedari tadi. Lalu membacanya secara teliti agar jika Fatih menanyakan isi buku itu, ia bisa menjawabnya.


Fatin terperanjat dari tempat tidurnya. Terkejut mendengar suara ribut di bawah.


Dengan cepat ia menyimpan buku dan kembali ke posisi lalu memejamkan matanya. Pura pura tidur.


Brak! 


Fatin muak sekali mendengar suara gebrakan pintu itu. apa tidak bisa secara baik baik membuka pintunya?


“Bangun kamu!” Neni menarik selimut Fatin dengan kasar.


Gadis itu langsung berdiri dihadapan Neni dengan kepala menunduk dan jantung yang selalu saja berdegup kencang dihadapan bibinya.


“Tatap mata saya.” suruh Neni. Tapi Fatin tidak berani menatap mata yang selalu membuatnya takut.


“Tatap mata saya! Apa kamu tidak mendengar apa yang saya ucapkan ha!?”


Neni menarik dagu Fatin agar kedua mata mereka saling bertatapan.


Fatin terkejut dengan sebuah lebam biru yang ada di pipi bibinya itu.


“Besok kamu harus kasih saya uang 10 juta. Kalau tidak, jangan harap kamu bisa melihat Nenek kamu!” Ucap Nenni kasar, lalu menghempaskan wajah Fatin.


“Hah! 10 juta? Dari mana Fatin mendapatkan uang sebanyak itu, Bi,”


“Bibi, tidak mau tahu kamu harus bisa mendapat uang itu besok.”


Darimana Fatin mendapatkan uang sebanyak itu. Sekarang saja ia hanya mempunyai uang untuk makan dirinya itupun hanya untuk seminggu ke depan.


“Ta–tapi


“Tidak ada tapi tapian! kamu harus dapatkan uang itu besok, Fatin! Kamu minta saja pada sahabatmu yang kaya itu. Dia kan selalu memberikan apa yang kamu mau,”


Fatin bersimpuh di hadapan Neni.


“Tidak, Bi. Fatin tidak berani. Sudah banyak sekali, Bang Fatih, membantu, Fatin. Fatin tidak enak hati hati, Bi,”


Neni berdecak kasar. lalu menurunkan badannya agar sejajar dengan Fatin.


“Kalau kamu merasa tidak enak hati untuk meminta uang dengan cuma cuma. Kenapa kamu tidak jual diri saja pada Fatih, ha!?”


Kedua bola mata cantik itu membulat sempurna. “A-apa, Bi? Jual diri?”

__ADS_1


“Iya, jual diri. Kalau kamu tidak mau jual diri kamu pada Fatih, biar Bibi saja yang carikan kamu lelaki hidung belang yang mau membeli kamu. Syukur syukur kalau dapat uang lebih,”


Tubuh Fatin terasa lemas mendengar kata kata itu. Apa boleh dirinya direndahkan sampai seperti ini? Jujur, Fatin sudah tidak bisa berkata kata lagi.


__ADS_2