
Seseorang yang memanggil dirinya ternyata hrd yang akan menginterview ulang.
Saat Fatin keluar dari lift kebetulan berpapasan dan memanggil Fatin yang sedang kelimpungan mencari ruang melati. Dilihat di tangannya, hrd itu membawa biodata dirinya.
Entahlah, mungkin peraturan hrd disini seperti itu. Sampai sampai membawa biodata dan mengingat wajah pelamarnya.
Fatin di bawa ke ruangan melati. Sebelum melakukan interview ulang. Ada beberapa tahap yg mesti ia lakukan.
Setelah berjibaku dengan perintah yang hrd itu perintahkan. Fatin akhirnya sudah selesai.
Cukup lama, butuh waktu 2 jam. Dan, alhamdulillah besok ia sudah bisa bekerja.
Tidak bisa diungkapkan sebahagia apa ia sekarang.
Berprasangka baik memang sepenting itu.
Fatin kembali pulang. Di dalam lift, gadis itu terus memandangi setiap sudut ruangan kecil itu.
"Mulai besok dan seterusnya, aku akan naik lift ini terus. Terima kasih, Ya Allah,"
***
Seperti kebahagiaan yang hanya lewat. Fatin kembali ke realita yang menyakitkan.
Pikiran Fatin kembali pada permintaan mustahil bibi nya semalam.
"Ya allah, dari mana aku bisa mendapatkan uang 10 juta hari ini." Fatin duduk di halte.
Gadis itu duduk melamun, memikirkan apa yang tidak mungkin menurutnya terjadi. Pasalnya, Fatin hanya mempunyai uang 50 ribu hari ini.
Untuk mencapai 10 juta, butuh banyak sekali.
Fatin menghela nafas gusar.
"Kak Fatin!"
Terdengar suara yang tidak asing di telinganya. Fatin langsung menoleh ke sumber suara.
Matanya berbinar melihat gadil kecil yang cantik melambaikan tangan dari kejauhan.
"Zoeya!" sahut Fatin.
Gadis kecil itu berlari, menghampiri Fatin dan memeluknya.
"Aaa Zoeya kangen sama Kakak," kata Zoeya seraya melepaskan pelukannya.
"Tahu ga? Setiap hari, Zoeya selalu berdoa sama Allah supaya Zoeya di pertemukan lagi sama Kakak," jujur Zoeya dengan antusias.
Melihat Zoeya seantusias itu, membuat hati Fatin tenang.
"Wah, rasanya Kakak mau terbang di kangen sama anak cantin ini,"
Keduanya terkekeh.
"Eh, Zoeya habis daru mana? Pulang sekolah?" tanya Fatin.
"Iya. Zoeya baru pulang sekolah. Tapi, tadi mampir sebentar ke kantor Ayah." Zoeya menelisik pakaian Fatin.
"Sepertinya, Kakak, habis melamar kerja ya? Di mana?" tebak Zoeya.
"Kok tahu sih? Kakak habis interview ulang di kantor itu dan besok Kakak sudah bisa kerja loh," Fatin menunjukan sebuah gedung tinggi yang tak jauh dari halte.
Zoeya menoleh, mengikuti arah telunjuk Fatin.
__ADS_1
"Kantor itu, Kak?" Fatin mengangguk.
Raut wajah Zoeya bertambah bahagia. "Wah... Bisa ketemu Kakak tiap hari dong. Asikkkk,"
"Memang kamu setiap pulang sekolah suka di nunggu di halte ini?"
"Tidak. Tapi, setiap hari Zoeya selalu samperin Ayah ke kantor dan kantor Ayah di gedung itu,"
"Masyaallah, kok bisa kebetulan sih. Kamu tahu tidak, Ayah, kamu kerja di bagian mana? Biar nanti, Kakak, bisa menyapanya,"
Zoeya berpikir sejenak. Kedua alisnya saling bertaut.
"Emm... Kalau kata Bunda sih Di- apa ya... Oh Direktur!" Jawaban Zoeya berhasil membuat Fatin tersedak.
Astagfirullah. Berarti aku sedang bersama anak pemilik gedung itu dong? Fatin terkejut.
"Di-direktur?"
Zoeya mengangkat kedua alisnya berbarengan sebagai jawaban.
Jadi, aku lagi ngobrol sama anak bos?
Setelah mendengar jawaban Zoeya. Fatin menjadi segan pada gadis kecil ini. Bagaimana bisa ia sesantai ini dengan calon bos nya nanti.
"Kalau gitu, Zoeya pamit ya? Sudah di tunggu Bunda di seberang sana. Besok kita pasti ketemu lagi, kan?"
Fatin mengangguk ragu.
"Kita pasti ketemu setiap hari, kan?"
"Iya, Zoeya. Kita pasti ketemu setiap hari. Ya uda, kamu pulang ya, takut Bundanya nunggu lama,"
Zoeya tersenyum, lalu pamitan pada Fatin.
Tiba tiba, mata Fatin membulat sempurna.
Dengan secepat kilat ia berlari menghampiri Zoeya. Fatin mendorong Zoeya dengan kencang hingga anak itu terlempar jauh.
Seketika, Fatin terserempet mobil dan tubuhnya terbanting.
Fatin langsung tidak sadarkan diri. Semua orang yang melihat itu berhambutan menghampiri Fatin yang tergeletak di tengah jalan.
Gadis kecil itu syok. Zoeya terdiam dengan goresan kecil di sikut nya.
Bunda Zoeya yang berada di dalam mobil--keluar menghampiri anaknya yang terus menatap Fatin yang tergeletak dengan darah yang bersimbah.
"Zoeya!" teriak Bunda dan langsung memeluk anak gadisnya.
"Bunda..." lirih Zoeya yang ketakutan.
Bunda yang sama syoknya, langsung mengecek keadaan Zoeya. Panik. Tentunya panik.
"Bunda... Kakak Fatin," suara Zoeya mengecil dan menunjuk ke arah Fatin dengan pelan. Matanya tidak berkedip sama sekali.
"Astagfirullahaladzim!" Bunda lekas melepaskan Zoeya fan menghampiri Fatin.
"Ya allah," Bunda langsung menelpon ambulan.
Jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
***
Fatin di angkut oleh ambukan dan segera di larikan ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Bunda dan Zoeya mengikuti Fatin di belakang.
Fatin sudah di tangani oleh doktef di UGD.
Hatinya sangat khawatir sengan kondisi Fatin. Tapi, jika dirinya memperlihatkan kekhawatirannya.
Zoeya pasti ikut khawatir.
Bunda memeluk Zoeya yang sedari tadi tidak berbicara. Tatapannya kosong ke arah ruangan yang di dalamnya terdapat Fatin.
"Bunda..." panggil Zoeya pelan.
"Iya sayang?" jawab bunda, lalu mencium dan mengusap kepala Zoeya.
"Kalau, Kakak Fatin, tidak bangun lagi bagaimana? Berarti, Zoeya sudah membunuh Kakak Fatin ya?" racau Zoeya.
Deg!
Tidak percaya kalau anaknya bisa berbicara seperti itu.
"Tidak sayang, tidak. Kakak Fatin, pasti bangun kok. Kan, sekarang Dokter lagi nolongin, Kakak Fatin. Zoeya, berdoa terus ya buat Kakak Fatin. Supaya, Kakak Fatin cepat sembuh,"
Bunda terus menerus menenangkan Zoeya. Agar anaknya tidak terlalu merasa bersalah amatas apa yang terjadi.
Memang salah dirinya. Seharusnya, bunda menjemput Zoeya ke halte. Bukan malah membiarkan putrinya menyebrang sendiri.
Zoeya memeluk bunda erat. Takut. Gadis kecil itu ketakutan yang sangat luar biasa.
Air matanya luruh di dalam pelukan bunda.
***
Setelah 1 jam lamanya Fatin di tangani oleh dokter. Akhirnya, ia di pindah kan ke bangsal.
Tapi, Fatin masih belum sadarkan diri.
Sementara Zoeya, gadis kecil itu masih terus menemani Fatin di bangsal.
Zoeya tidak ingin pulang sebelum Fatin bangun. Karena rasa bersalahnya besar--Zoeya ingin minta maaf langsung pada Fatin.
Zoeya duduk di samping Fatin dengan menggenggam tangan putih milik Fatin dan sesekali mencium tangan itu.
"Kak Fatin, bangun. Zoeya minta maaf," kata Zoeya.
Pandangan bunda tidak lepas dari Zoeya dan Fatin.
Brak!
Tiba tiba pintu terbuka dengan kencang.
Ternyata itu adalag Neni.
Neni berdiri di ambang pintu dengan amarah yang sudah meluap.
Neni mendekat pada Fatin yang masih belum membuka matanya.
"Heh! Bangun lo!" Neni mengguncang tubuh Fatin.
Bunda segera menghentikan aksu Nenu itu.
"Ehh, maaf, Bu. Fatin masih belum, jadi tolong jangan kasar," kata bunda panik.
"Enak enak lo tidur disini. Mana uang yang lo janjiin! Cepat bangun, elah. Buru cari duit, Fatin!"
__ADS_1
Tanpa memedulikan kondisi Fatin dan Bunda yang berusaha menghentikan aksinya. Neni terus berusaha membangunkan Fatin