
Dalam satu tahun, Fatih dan Fatih bertemu sekitar 360 hari. Berarti dalam setahun itu mereka tidak bertemu hanya 5 hari.
Kalau begitu, mending menikah saja gak sih? Agar serumah dan Fatih tidak repot untuk menjemput.
***
Dari obrolan serius sampai obrolan random sudah mereka bicarakan dari tadi. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi dan matahari sudah menyorotkan teriknya.
Laut memang indah jika pagi dan sore hari. Kalau siang begini, kulit bisa terbakar.
Keduanya membereskan dan membersihkan sampah agar gazebo yang mereka tempati tadi kembali ke keadaan semula.
Keduanya yakin, kalau nenek sudah menunggunya. karena mereka sudah berjanji agar tidak terlalu lama di pantai.
Namun sayang, besok Fatih dan Fatin harus kembali ke kota. Banyak urusan yang harus keduanya lakukan.
“Nenek!” panggil Fatin dari luar.
Mendengar namanya dipanggil. Nenek yang sedang membuat hidangan itu bergegas ke depan untuk menghampiri sang cucu.
Nenek sudah berkepala tujuh, namun badannya masih tegak sempurna hanya kulitnya saja yang keriput.
Semasa hidupnya, nenek selalu menjaga makanan yang masuk ke perutnya agar tidak banyak penyakit yang hinggap di badannya semasa tua nanti.
Dan, benar saja. Walau sudah renta nenek jarang sekali sakit. Alhamdulillah.
“Ada apa, Ndok?” tanya nenek, lalu duduk disamping Fatin.
Dengan antusias, Fatin meraih kresek yang ia bawa tadi. Fatin membeli oleh oleh.
“Lihat, nek. Fatin beli syal dengan motif yang cantik,”
Nenek tersenyum. lalu, Fatin memakaikan syal berwarna maroon itu ke leher nenek. Padahal ini bukan musim penghujan tapi Fatin ingin sekali membelikan neneknya syal.
Walaupun, memakai uang Fatih dahulu xixixi.
“Wah, bagus banget, Ndok,” Nenek meraba syal yang menggulung lehernya dan tersenyum, lalu memeluk Fatin.
“Terima kasih ya…” ucap nenek, lalu mengecup kedua pipi Fatin.
Sedangkan Fatih, hanya terdiam dan tersenyum melihat keduanya.
__ADS_1
***
Dengan berat hati, Fatih dan Fatin harus berpamitan dengan nenek. Fatin sempat menangis karena tidak mau jauh dengan sang pelipur lara.
Gadis itu berjanji, jika nanti ia sudah sukses. Fatin akan membawa nenek ke kota dan hidup bersamanya.
“Nek, maaf. Fatin tidak bisa lama. Terimakasih ya, Nek, sudah selalu menyayangi, Fatin,” entah sudah berapa kali keduanya saling berpelukan.
Setelah ritual pamit berpamitan selesai. Fatin dan Fatih berangkat dengan beberapa oleh oleh khas desa.
Sepanjang perjalanan, Fatin menangis tanpa suara. Airmata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh tanpa persetujuan.
Mengingat umur nenek yang terus bertambah, Fatin khawatir tidak bisa membalas seluruh kebaikan nenek.
Dan, terlebih lagi ia tidak punya siapapun untuk menjadi sandarannya di dunia ini. Tidak ada yang tulus pada dirinya seperti nenek.
Ya allah, Fatin mohon jangan ambil nenek terlebih dahulu sebelum Fatin bisa membahagiakannya dan sebelum Fatin mempunyai teman hidup. Fatin menerima semua ketentuanmu. Tapi, untuk yang satu ini Fatin ingin egois dan memaksa. Fatin mohon, ya allah. Gumamnya dalam hati.
***
Brak!
Suara pintu dibuka dengan kencang. Fatin yang baru terlelap langsung mengerjap kaget. Bibinya tiba tiba masuk dengan… dengan amarah?
“Bibi, kenapa?” tanya Fatin dengan degupan jantung yang kencang.
“Kamu bilang, kamu tidak punya uang. Tapi nyatanya lo nganterin uang bulanan ke nenek lo langsung tanpa di transfer! Itu artinya kamu masih punya uang lebih, Fatin!” bentak bibi seraya menangkup dagu Fatin erat.
“Ti-tidak, Bi. Fatin tidak punya uang lagi. Itu memang sudah fatin sisihkan untuk Nenek,” jelas Fatin dengan tangan yang bersusaha melepaskan lengan bibinya dari dagunya.
“Jangan bohong kamu!”
“Fatin tidak bohong, Bi. Fatin sekarang memang tidak punya. Kemarin Fatin minta tolong ke Fatih untuk mengantarkan ke rumah Nenek,” jelas Fatin jujur.
Namun, Neni tetap tidak percaya. ia yakin kalau Fatin pasti masih menyimpan uang. Fatin bukan orang bodoh yang memberitahukan semua penghasilannya kepada orang yang selalu meminta uang kepadanya.
Neni melepaskan tangannya, lalu mengobrak ngabrik kamar Fatin. mencari sesuatu yang ia yakini tempat persembunyian uang Fatin.
Dengan cepat, Fatin beranjak dari tempat tidurnya dan mendekat pada Neni. Udah, Bi, udah. Fatin memang sudah tidak punya uang lagi. Fatin janji, Fatin akan segera mendapatkan pekerjaan,” mohon Fatin dengan derai air mata.
Neni berbalik, menangkup kembali dagu Fatin dengan erat dan mata yang membulat sempurna.
__ADS_1
“Kamu jujur atau saya usir kamu dari rumah ini!”
Seketika rasa takut itu menjalar diseluruh tubuhnya. Pikiran Fatin kosong, kepalanya berdenyut kencang, tangannya bergetar hebat, Air matanya terus luluh lantah di kedua pipinya.
Tanpa berpikir panjang, Fatin segera mengambil buku tabungan yang ia simpan rapat rapat di dalam tas yang sudah lama tak terpakai.
Lalu, Fatin memberikannya pada Neni.
Itu, uang terakhir paling terakhir yang ia punya saat ini. Sekarang, Fatin tidak mempunyai uang lagi. Benar benar tidak punya.
Neni menyeringai, mengambil buku tabungan itu dari tangan mungil Fatin.
“Nah, kalau kamu memberikannya dari tadi kan saya tidak perlu marah marah seperti ini. Lain kali, kalau kamu punya uang tidak usah disembunyikan. kalau sampai disembunyikan seperti sekarang, kamu akan tahu akibatnya!” Katanya sambil meninggalkan kamar Fatin.
Fatin dengan cepat beringsut dan duduk di pojok kamar. Menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut dengan kedua tangannya sebagai penopang.
Gadis itu menangis dengan terisak isak. Dadanya terasa sakit, nafasnya tercekat di tenggorokan. Sakit. Benar benar sakit.
“Umi… Abi…” lirih Fatin.
Anak Abi kuat. anak Abi hebat. Kamu, memang anak Abi yang paling berharga, nak.
Tiba tiba, suara abi yang terdengar beberapa tahun silam terdengar di telinganya.
Hatinya semakin sakit. Tangisnya semakin pecah.
“Ma-maksud Abi. Abi me-menyiapkan Fa-Fatin untuk menjalankan hidup yang keras ini sen-dirian? I-Iya?” Isak tangisnya tidak dapat dibendung.
“Abi jahat, Umi juga. Kenapa tinggalin Fatin sendirian seperti ini,” racaunya.
Suaranya sudah tidak bisa keluar. Sakit itu sangat membuatnya tersiksa.
Kamar ini adalah saksi bisu kisah hidup Fatin yang sangat menyedihkan. Saksi bisu bagaimana gadis itu menangis setiap malam.
Sudah beberapa kali berpikir untuk menyerah. Beberapa kali pikiran gila itu datang.
Namun, satu kata yang selalu ia pegang adalah.
*Memang mengakhiri hidup akan menyelesaikan semuanya? Jika iya. Tidak mungkin perbuatan itu diharamkan. Dan, malah akan menjadi masalah baru yang tidak ada ujungnya. *
Kalimat itulah yang selalu membuat beristighfar, dengan cepat Fatin mengingat yang maha kuasa. Dan kembali meyakinkan diri bahwa di balik kesulitan ada kemudahan.
__ADS_1
Doa Fatin hanya satu yaitu tolong kuatkan hatinya dan tangguhkanlah. Agar mimpi Uminya terwujud.