1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Abang


__ADS_3

Giga adalah si pengamat paling baik. Ia sedari awal melihat Fatin sudah merasa curiga bahwa ada sesuatu yang Fatin sembunyikan.


"Fatin... Kamu... Habis nangis ya?"


Pertanyaan Giga sukses membuat dirinya terkejut.


Fatin berusaha biasa saja. Gadis itu tidak mau di kasihani, ia sangat membeci hal itu. Hidupnya tidak semenyedihkan itu.  


“Ngga, aku gak nangis . Mata ku merah karena debu, hehe” Fatin terkekeh kecil. 


Mendengar itu, Nara menelisik wajah Fatin, tidak percaya. “Iya, kamu seperti habis nangis, Fatin. Mending jujur deh, kamu kenapa?” desak Nara. Karena Fatin tidak pernah cerita apapun tentangnya pada keduanya sahabatnya. 


Mereka selalu tahu lewat Fatin. 


“Tidak, Nara, Giga. Aku tidak apa apa. Ya sudah kita makan ayo, aku sudah lapar ini,” Fatin memasang wajah cemberut agar temannya tidak terus bertanya.


Nara dan Giga memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Mereka tidak mau merusak suasana ini. Keduanya hanya berharap bahwa Fatin benar seperti omongannya. Dia… baik baik saja. 


*** 


Kakinya sudah sangat banyak melangkah, mencari seseorang yang ia khawatirkan sejak mendengar informasi yang tidak diharapkan. 


Namun sosok yang ia cari cari tak kunjung terlihat. Sudah seluruh penjuru kampus yang ia singgahi.


Nafasnya menderu kencang. Rasa lelah sudah menyeruak di dalam dirinya. Ia pun menyerah sudah tidak tahu harus mencari kemana, akhirnya ia pergi ke parkiran dan kembali pulang. 


Setiba nya di parkiran, kedua bola matanya membulat sempurna. matanya berbinar senang, seketika rasa lelah tadi hilang. 


“Fatin!” Serunya kegirangan, lalu menghampiri dan memeluk gadis dihadapannya. 


Ya, Fatih menghawatirkan Fatin. Setelah ia mendengar kabar bahwa beasiswa luar negeri tahun ini di tunda, pikirannya langsung melambung pada satu nama yang selalu melekat di pikirannya. Fatin. 


karena ia yang paling tahu seberapa keras usaha Fatin. Gadis itu sudah seperti adik baginya. 


Fatin mengerutkan kedua alisnya. “Fatih, kamu kenapa?” tanyanya kebingungan sembari melepaskan pelukan sahabatnya. 


“Kamu tidak usah menutupi kesedihan mu di hadapan ku, Fatin. Aku tahu hati kamu sedang tidak baik baik saja. Kamu boleh menangis,” mohon Fatih. 


Jujur saja, Fatih tidak menyukai sifat Fatin yang satu ini. 


“Sedih kenapa, Bang? Fatin tidak apa apa,” 

__ADS_1


“Kamu jangan terus seperti ini, Fatin. Aku sudah dengar dengar tentang beasiswa itu.” kata Fatih yang masih kekeh untuk membuat gadis dihadapannya jujur dengan perasaannya sendiri. 


Tiba tiba, Fatin mendekatkan diri pada Fatih. “Abang, Fatin boleh minta es krim tidak?” bisiknya tepat di telinga Fatih. 


Dengan cepat pemuda itu mengangguk. “Boleh, mau es krim strawberry di tempat biasa?” 


“Iya,” Fatin tersenyum manis mendengar kemauannya langsung di-iya-kan oleh Fatih. 


“Mau berapa? 1? 3? 5? 10?” tanya Fatih sembari mengeluarkan kuda besi miliknya dari parkiran. 


Fatin terkekeh. “Satu cukup tapi yang besar,” 


Jawaban Fatin sangat menggemaskan terdengar di telinga Fatin. Lelaki itu tertawa kecil. 


“Oke, lets go! kita beli es krim strawberry yang besar untuk tuan putri satu ini,” 


Jika sudah bersama Fatih–Fatin tidak perlu menghawatirkan moodnya. Lelaki yang sedang mengendarai ini selalu saja bisa membuatnya bahagia. 


*** 


Fatin dan Fatin dua insan yang selalu saja membuat orang keserimpet saat memanggil namanya keduanya yang hampir mirip itu sudah sampai di mall. 


Gerai es krim ada di depan sana. Fatih seperti anak kecil yang kegirangan melihat gerai es krim dan Fatin seperti seorang yang menjaga anaknya di belakang. 


Tidak lama, Fatih memberikan semangkuk es krim strawberry pada Fatin. Keduanya lalu duduk di kursi kosong dan menyantap es krimnya. 


Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Mereka fokus pada es krim masing masing dan juga pada pikiriannya sendiri. 


Selang beberapa menit akhirnya Fatih membuka obrolan dengan pernyataan yang cukup menenangkan bagi Fatin. 


"Kalau kata aku sih S2 tahun depan tidak terlalu buruk," ucapnya sembari menoleh pada gadis di sampingnya. 


"Iya gak sih? Kamu bisa cari pengalaman dulu dan ningkatin skill kamu, Fatin. Kamu bisa kerja dulu selama masa tunggu kamu. Mungkin ini memang sudah takdir kamu seperti ini,"


Perkataan Fatih memang ada benarnya. 


"Iya sih, tapi— 


"Semua yang ada di dunia ini tidak akan ada yang sia sia dan tidak ada yang kebetulan juga. Kalau memang sudah takdirnya kamu seperti itu, bagaimana pun pasti akan mencari jalan pada si empunya. Kamu harus percaya sama yang di atas, bahwa akan ada rencana yang lebih indah di banding rencana yang kamu buat, Fatin," 


Pemuda itu langsung menyela perkataan Fatin, seakan tahu apa yang akan gadis itu katakan. 

__ADS_1


Fatih begitu lembut dan tenang ketika menasehati Fatin. Fatih seperti sedang menasehati anak kecil–nadanya begitu lembut dan asyik. 


Fatin berpikir sejenak. Mencerna setiap kata demi kata yang dilontarkan oleh sahabatnya itu. 


Apa yang Fatih sampaikan memang benar tidak ada yang salah. 


Bahwa di dunia ini semuanya sudah ada yang atur dan tidak akan ada yang sia sia. Mungkin rencana yang Fatin rangkai sudah sempurna, tapi rencana yang Allah swt buat sudah pastu sangat sempurna. 


Tinggal bagaimana kita meyakininya dan beribadah. Semua pasti akan ada kemudahan. 


"Apa yang kamu bilang memang benar. Bukan aku merasa sakit hati karena aku terlalu berharap. Padahal berharap pada manusia itu hal yang paling menyakitkan, ya kan, Bang?" 


Fatin memang tipe wanita yang gampang di nasehati dan juga penurut. Makanya Fatih selalu senang jika menasehati gadis itu. 


"Ya, itu kamu tahu." 


"Kamu sudah tenangkan sekarang?" Tanyanya dan mendapatkan anggukan dari Fatin. 


"Nanti kita cari kerja bareng bareng ya. Kamu kan mau kerja di gedung tinggi, oke?" 


"Oke!" Fatin sangat senang. 


Ia sangat beruntung memiliki sahabat yang sudah seperti kakak baginya. 


Fatih sangat memperlakukan dirinya begitu baik. 


***


Fatin masih berdiri di depan gerbang dan masih memperhatikan punggung Fatih sampai hilang di belokan sana.


Tidak lama, ia masuk dan sudah di sambut oleh Neni yang sudah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu.


"Asslamualaikum, Bi," sapa Fatin lalu mencium tangan Neni.


"Bagaimana beasiswa kamu? Pasti di tolak, kan?"


Deg!


Seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatinya secara bersamaan. Fatin terdiam.


Neni menelisik raut wajah Fatin, ia sudah bisa menebaknya.

__ADS_1


"Bagus deh. Kamu tidak usah buang buang waktu dan uang untuk kuliah S2 kamu itu. Mending kamu mencari kerja sekarang. Skincare saya sudah banyak yang habis. Ingat ya, kamu tidak boleh makan sampai nanti kamu dapat kerjaan. Kamu ingat itu!"


__ADS_2