
“Tidak apa. Kehidupan itu memang seperti itu. Tidak ada hidup yang selalu senang. Tapi, ingat jika ada kesulitan pasti ada kemudahan,” Nenek menarik kembali Fatin agar masuk ke dalam pelukannya.
Tiba tiba mata Fatin terasa panas.
Kehidupan setelah kedua orang tuanya pergi begitu menyakitkan bagi Fatin. Sebelum pamannya ikut pergi, Fatin masih mempunyai sandaran. Tapi, setelah paman berpulang… Ia hidup sendiri.
Namun, Fatin tidak lupa ia masih diberi dua orang yang masih peduli pada dirinya yaitu nenek dan Fatih.
Usapan di punggungnya begitu nyaman dan menenangkan. Seolah olah, masalah besar yang sedang ia hadapi hilang seketika. Fatin tidak mau beranjak dari posisi ini.
***
Setelah tegur sapa yang panjang, kini nenek sedang menyiapkan makan malam dengan dibantu oleh Fatin.
Oh iya, nenek di desa hidup dengan anak bungsunya. Om Faris.
Om Faris adalah anak bungsu nenek dan menikah dengan kembang desa yang ada disana. Sungguh beruntung. Om Faris meneruskan kebun nenek. Om Faris tidak ingin merantau seperti anak anak lainnya, beliau tidak ingin meninggalkan nenek sendiri.
Om Faris ingin terus berbakti pada nenek sampai akhir hayat.
“Nenek lihat! Fatih dapat ikan besar,” laki laki itu mengangkat tinggi ikannya, raut wajahnya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah dari orang tuanya.
Pemuda itu tiba tiba datang dari pintu belakang, mengagetkan Fatin dan nenek yang sedang memasak.
“Astagfirullah, Fatih,” kaget nenek.
Si pelaku malah cengengesan. “Hehe, maaf, Nek. Habisnya Fatih senang, setelah menunggu 2 jam akhirnya dapat ikan besar,”
Fatin dan nenek hanya bisa menggelengkan kepala melihat sifat kekanakan Fatin.
Ikan itu diserahkan pada nenek dan di masaka sesuai keinginan Fatin. Nenek tidak pernah lupa masakan kesukaan Fatin dan Fatih.
***
“Fatin… Fatih. Sini, Nak. Makanan sudah siap,” panggil nenek.
Sementara kedua orang dewasa yang kekanakan itu sedang menikmati sunset yang indah.
Rumah nenek tidak jauh dari laut. Langit berwarna jingga, burung berkicau berterbangan di langit, dan semilir angin yang menyapu wajah dengan lembut sungguh menenangkan.
Besok pagi, keduanya akan ke pantai untuk melihat sunrise. Fatin tidak sabar.
“Iya, Nek. Kita ke dalam sekarang,” sahut Fatin.
Fatin menyenggol lengan Fatih yang masih melamun menikmati senja yang menahan dirinya untuk tidak meninggalkannya.
__ADS_1
“Ayo, Bang,” ajak Fatin sekali lagi.
Laki laki itu menghela nafas enggan. “Iya, iya ayo,”
Nenek tersenyum melihat keduanya.
Tidak lama mereka langsung menyantap hidangan yang sudah nenek buat. Fatin dan Fatih sangat menikmati makanan itu. Ini adalah masakan yang mereka rindukan.
Karena, masakan nenek adalah yang paling terenak di dunia.
Tidak ada obrolan sepanjang makan. Karena, nenek sangat tidak suka jika sedang makan terus mengobrol. Nenek sangat disiplin tentang adab dan etika. Keduanya makan dengan tenang.
***
Suara ayam berkokok sudah terdengar. deburan ombak sangat lembut masuk ke dalam indra pendengaran.
Setelah selesai beribadah tadi–Fatin dan Fatih sudah berangkat menuju laut. Sesuai rencana mereka.
Cuaca pagi ini sangat mendukung. Matahari masih malu malu untuk menunjukan dirinya.
Tenang. Satu kata yang dapat menggambarkan suasana hati Fatin sekarang.
Desa adalah tempat yang paling favorit bagi seluruh manusia. Karena, tempat itu menyediakan keindahan yang sangat tulus. Juga, udara yang yang begitu menyegarkan.
Fatih menjalankan sepeda motornya di pinggir pantai secara perlahan. Membiarkan angin membelai keduanya dengan lembut.
Aku selalu berharap dan berdoa agar kebahagiaan serta menyertaimu dan aku akan selalu menjagamu sampai kapanpun. katanya dalam hati.
Fatih berhenti di gazebo depan sana.
“Sudah sampai,”
“Terimakasih, Pak supir,” ucap Fatin seraya turun dari motor.
Fatih langsung melirik tajam pada Fatin setelah mendengar kalimat itu. “Ga sopan!”
Gadis itu terkekeh kecil lalu berlari menjauhi Fatih. “Maaf, abang ganteng!” teriaknya.
Fatih hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Fatin. “Dasar, bocil,”
Mumpung Fatin sedang bermain pasir disana. Fatih menyiapkan kejutan yang sudah ia siapkan. Gadis itu tidak tahu, karena Fatih sangat pandai memberi kejutan.
Fatih tidak akan pernah gagal dalam memberi kejutan, ia selalu berhasil membuat orang yang diberi kejutan olehnya senang.
Fatin bukan tipe gadis yang ribet. Apa saja yang diberikan padanya–gadis itu selalu senang dan bersyukur. Itulah yang membuat Fatih senang memberi kejutan, karena selalu dihargai dan diterima dengan baik.
__ADS_1
Dengan cepat, Fatih membereskannya sebelum Fatin kembali menghampiri dirinya.
***
Nafasnya sudah ngos-ngosan. Cape karena terlalu senang jadi lupa berhenti berlari. Rasa bahagianya sekarang tidak dapat diukur oleh apapun.
Gadis dengan dress berwarna monokrom dengan jilbab senada itu terduduk di pinggir pantai. Menyambut matahari yang akan memunculkan dirinya.
Ia sudah bermain sekitar 15 menit lamanya. Fatin melupakan Fatih sepertinya.
Waktu sudah menunjukan pukul enam lebih dan matahari telah menampakan seluruh dirinya.
“Terimakasih, ya allah. Telah memberikan rasa bahagia ini,” ucap Syukur Fatin.
Tidak lama, karena tidak enak meninggalkan Fatih sendirian. Gadis itu segera kembali pada gazebo.
Tapi, Fatin terkejut melihat Fatih sedang duduk di atas sebuah kain dengan beberapa cemilan dan minuman. Seperti sedang… Piknik! ya benar, piknik.
Dengan cepat berlari, menghampiri.
Fatin terdiam sejenak. Ia refleks menutup mulutnya terkejut dan matanya berbinar.
“Wah, masyaallah, Abang. kapan kamu menyiapkan ini? Kenapa tidak bilang?” tanya Fatin antusias.
“kalau bilang, bukan kejutan namanya,” jawab Fatih sambil memakan yupi warna warni.
Fatin duduk di samping Fatih dan mencomot chiki rasa keju kesukaannya. Kalau dilihat lihat cemilan yang ada di depannya ini favorit dirinya semua.
Fatih memang yang terbaik.
Dulu, Fatih dan Fatin saling mengandalkan satu sama lain. Dekat, sangat dekat. Bahkan, keduanya sering tidur bersama saat kecil. Sudah seperti anak adik kakak, mungkin lebih tepat anak kembar.
Banyak kesamaan antar keduanya. Mulai dari sifat dan wajahnya ada sedikit kemiripan.
Namun, setelah baligh. Keduanya tidak sedekat itu. Mereka diajarkan untuk berjaga jarak oleh orang tua masing masing.
Sedekat apapun dan selama apapun mereka bersama, keduanya tetaplah asing dan bukan mahramnya.
Tapi, untuk yang satu ini mereka tidak bisa. Mereka tidak bisa jika tidak berjabat tangan. Keduanya tetap berjabat tangan namun tidak sering hanya sesekali.
Dan, kalau Fatin di bonceng pun ada pembatas di tengahnya.
Salah satu dari mereka pasti ada yang menyimpan perasaan. Entah, itu Fatin atau Fatih, entahlah. Keduanya hanya saling membutuhkan dan saling bergantung.
Dalam satu tahun, Fatih dan Fatih bertemu sekitar 360 hari. Berarti dalam setahun itu mereka tidak bertemu hanya 5 hari.
__ADS_1
Kalau begitu, mending menikah saja gak sih? Agar serumah dan Fatih tidak repot untuk menjemput.