1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Nenek


__ADS_3

"Bagus deh. Kamu tidak usah buang buang waktu dan uang untuk kuliah S2 kamu itu. Mending kamu mencari kerja sekarang. Skincare saya sudah banyak yang habis. Ingat ya, kamu tidak boleh makan sampai nanti kamu dapat kerjaan. Kamu ingat itu!"


Setelah mendengar perkataan bibinya–Fatin bergegas ke kamar.


“Fatin, pamit masuk kamar ya, Bi,” tidak ada balasan, gadis itu memutuskan untuk masuk kamar.


Fatin langsung bersih bersih badan setelah seharian diluar. Setelah beres ritual sebelum tidurnya, gadis dengan piyama berwarna hitam itu merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sebuah buku diary di tangannya.


Pandangannya mengarah pada langit langit kamar. Pikirannya melambung pada beberapa tahun ke belakang pada saat kedua orang tuanya masih ada.


“Abi! tangkap!” seorang gadis dengan dress muslim berwarna pastel dengan kerudung senada melemparkan bola basket pada sang Ayah. Raut wajah gadis kecil itu sangat bahagia.


“Yah… Kok gak ditangkap sih, Bi?” mimiknya seketika berubah drastis.


Sementara seorang pria dewasa itu terduduk lemas di pinggir. “Sudah, sudah, sudah. Permainannya kita akhiri ya? Abi sudah lelah sekali, Fatin,” katanya dengan kedua tangan kebelakang sebagai penopang tubuh. Rasa lelah itu begitu menyeruak di dalam dirinya.


“Yah, kok udahan lagi sih? Ini kan lagi seru serunya,” Fatin cemberut.


TIba tiba seseorang keluar dengan beberapa cemilan dan buah-buahan juga senyum yang paling menenangkan sepanjang masa.


“Fatin,” panggilnya lembut.


“Sudah ya? Kasian dong Abi sudah lelah seperti itu. Kalian sudah main lama sekali dari habis ashar dan sekarang sudah mau maghrib. Kita akhiri ya permainannya? Besok kan  masih bisa, ya?” rayu Umi.


Fatin tidak merespon. Tangannya ia lipat di depan dadanya dan raut wajah cemberutnya belum hilang juga.


Umi terkekeh. “Lihat Umi bawa apa? Tara! Umi bawa buah kesukaan, Fatin.”


Belum ada jawaban dari gadis kecil yang sedang merajuk itu. Tentunya umi tidak habis akal, beliau tahu cara paling ampuh membujuk putri kecilnya.


Umi menoleh pada abi untuk meminta izin dan mendapat anggukan dan senyuman dari abi.


Umi mendekat pada Fatin. “Gimana kalau nanti weekend kita pergi ke kebun binatang?” rayuan paling ampuh ada pergi berwisata.


Dengan cepat Fatin langsung menoleh, matanya berbinar senang. “Ayo! Umi janji ya?” katanya dengan sangat antusias. Gadis kecil itu mengangkat jari kelingking mungil miliknya sebagai pertanda janji dengan Uminya.


“Andai saja Umi dan Abi masih ada sekarang—


Fatin langsung menggeleng gelengkan kepalanya. Mengembalikan pikiran ke masa sekarang.

__ADS_1


“Astagfirullah! Berandai andai itu tidak baik, Fatin,” gadis itu memukul kecil mulutnya lalu mengucapkan kata syukur berkali kali karena masih di beri nikmat yang luar biasa oleh yang di atas.


Fatin membetulkan posisinya menjadi duduk, ia melihat tanggal dan terkejut. Karena besok adalah waktunya untuk mengirim uang pada neneknya.


Ya, Fatin mempunyai tabungan khusus untuk nenek tercinta. Ia selalu menyisihkan uang untuk neneknya.


Fatin tidak selalu bilang seluruhnya uang yang ia punya. Gadis itu hanya akan mengatakan 60% uang yang ia miliki pada Neni dan 40% nya untuk tabungan nenek dan untuk uang darurat.


Karena jika ia mengatakan seluruhnya, maka uangnya akan habis diambil dan ia tidak bisa memberi nenek uang.


Satu ide bagus terlintas di benaknya.


“Gimana kalau uang bulan ini diantar saja tidak dikirimkan? Kan, aku sudah lama tidak bertemu Nenek. Aku selalu sibuk kuliah dan sebelum sibuk kerja lebih baik aku mengunjungi sebentar. Rindu sekali,” ucapnya.


Segera gadis itu menyambat ponsel yang ada di atas nakas dan menelpon seseorang untuk dimintai bantuan. Kalau bukan Fatih–siapa lagi yang akan ia mintai bantuan.


Fatin akan meminta Fatih mengantarnya ke rumah nenek, hitung hitung liburan. Kan, rumah nenek dekat pantai.


Gadis dengan piyama hitam itu terkekeh senang.


***


Fatih sudah tidak asing lagi dengan keluarga Fatin. Karena ayah dan abi mereka bersahabat cukup lama dan saat kecil mereka bertetangga jadi sangat dekat.


“Sudah tidak ada yang tertinggal?” tanya Fatih memastikan.


Fatin mengangguk. Ia sudah tiga kali memeriksa ranselnya dan semuanya sudah aman.


“Oke, kita berangkat. Bismillahirohmanirohim,”


Perjalanan menuju desa memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam. Tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat.


Fatin sangat senang. Akhirnya setelah sekian lama, ia akan menuntaskan rasa rindu yang selalu menggulung di hatinya.


“Bang, kamu masih ingat tidak saat kita mancing bersama Ayah dan Abi?” tanya Fatin dengan suara sedikit kencang agar terdengar oleh Fatih.


“Yang mana?”


“Yang waktu kita menumpahkan ikan di ember itu. Susah payah Ayah dan Abi memancing, tapi saat sudah banyak malah kita lepaskan kembali ke kolam,” Fatin tertawa mengingat kenangan itu.

__ADS_1


“Oh iya aku ingat. Sehabis itu kita dihukum bareng, kan? Ya, aku ingat. Itu lucu sekali saat melihat ekspresi Ayah dan Abi. Kamu sih nakal,” Fatih menyalahkan Fatin.


“Dih, itukan ide abang. Abang yang ajak Fatin, wlee. Berarti abang yang nakal dong,” hanya dengan Fatih sifat kekanak kanakannya keluar. Hanya dengan Fatih ia merasa aman.


Fatih tertawa. Sebenarnya iya. Saat kecil Fatih adalah pengaruh buruk bagi Fatin. Karena selalu mengajak Fatin dalam hal gila yang terlintas di benak nya. Dan, Fatin harus menerima hukuman yang bahkan ia tidak bersalah.


Tapi, itu adalah kenangan paling indah bagi keduanya.


***


Perjalanan yang cukup panjang akhirnya selesai.


Fatin langsung turun dari motor, menyimpan ranselnya di kursi depan rumah dan berlari mencari neneknya ke dalam rumah.


Ternyata neneknya sedang tidur bersama cucu kecilnya.


“Nenek!” seru Fatin dan langsung menghambur memeluk tubuh neneknya yang sudah tidak sebugar dulu.


Nenek terkejut akan kehadiran Fatin yang tiba tiba.


“Ya allah, Fatin…” Nenek sangat senang cucu yang sudah lama tidak bertemu ini akhirnya datang berkunjung.


“Nek, Fatin kangen,” pelukannya semakin mengerat.


Nenek menepuk nepuk punggung Fatin beberapa kali. “Astagfirullah, Fatin. Nenek tidak bisa bernafas ini, tolong lepaskan, Nak,”


Fatin melepaskan pelukan dan terkekeh. “Maaf, Nek. Habisnya, Fatin sangat rindu Nenek,”


Nenek menatap Fatin dengan sangat lekat dan senyuman yang tenang. Nenek lalu mengusap kepala Fatin dan merapikan poni gadis yang selalu ia anggap kecil dihadapannya.


“Nenek juga sangat merindukan kamu. Sudah lama sekali Nenek tidak bertemu kamu, Nak. Apa kehidupanmu di kota baik baik saja?”


Seketika Fatin terdiam. Memang benar, pertanyaan ini sangat diharapkan. Tapi, untuk kali ini Fatin bingung untuk menjawab. Jika menjawab ‘ya’ berarti dirinya berbohong. Namun, jika menjawab ‘tidak’ ia tidak mau membuat nenek nya khawatir.


Dari raut wajah Fatin. Sudah jelas terjawab apa yang terjadi di kehidupan cucunya itu. Nenek sudah tahu jawabannya tanpa harus dijawab.


“Tidak apa. Kehidupan itu memang seperti itu. Tidak ada hidup yang selalu senang. Tapi, ingat jika ada kesulitan pasti ada kemudahan,” Nenek menarik kembali Ftin agar masuk ke dalam pelukannya.


Tiba tiba mata Fatin terasa panas.

__ADS_1


__ADS_2