1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Preman


__ADS_3

Pada malam itu, Fatin memutuskan untuk keluar rumah. Mencari udara segar untuk mengurangi sesaknya.


Ini sudah lebih dari jam 10 malam. Tapi, Fatin tidak peduli. Dadanya semakin sesak terus berada di dalam rumah itu.


Tidak tentu arah. Fatin hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Matanya tidak henti henti mengeluarkan bulir bulir bening.


Mengeluh? Sudah tidak ada artinya lagi. Buat apa? Mengeluh tidak akan mengembalikan semuanya.


Tidak sadar, ia sudah berada di sebuah jembatan jalan yang membentang begitu luas.


Suara kendaraan terdengar begitu ramai berlalu lalang. Angin menyapu kencang wajah cantik yang sedang bersedih itu.


Fatin menghentikan langkahnya di sebuah kursi kosong yang ada di pinggir jalan. Menatap langit indah yang dipenuhi oleh bintang bintang yang bersinar.


Gadis itu mengusap air mata yang sedari tadi membasahi kedua pipi meronanya.


“Bintangnya cantik,” gumamnya seraya tersenyum.


Fatin terus mendongakkan kepalanya. Menyapa bintang dan bulan yang akan menemaninya malam ini.


“Bintang, apa dunia emang harus seperti ini? Apa kebahagiaan itu diciptakan untuk orang yang masih mempunyai kedua orang tua? Rasanya, ketika aku ditinggal Umi dan Abi–kebahagiaan itu seketika hilang dari hidupku,”


Fatin mencurahkan rasa sakitnya yang teramat sakit.


“Bulan, kamu pasti tidak pernah kesepiannya, ya? Karena. kamu selalu ditemani oleh bintang bintang di samping. Semoga, nasib kamu tidak seperti aku ya. Semoga, tidak ada bintang jahat disana,”


Tidak terasa, Ia sudah beberapa jam diam di jembatan ini. Sampai jalan pun menjadi sepi kendaraan.


Fatin tidak membawa ponsel atau menggunakan jam tangan. Ia tidak tahu sekarang pukul berapa.


Panik segera menyerang. Bergegas gadis itu beranjak dari tempat dan kembali pulang. Ia yakin sekarang sudah jam 12.


“Astagfirullah, ya allah.” Gadis itu berjalan cepat menuju arah pulang.


Di dalam hatinya terus berdoa agar ia selamat sampai rumah. Jalan benar benar sepi. Tidak ada satupun orang dan kendaraan pun sangat sedikit.


Ia tidak sadar saat melamun memperhatikan langit, Fatin tertidur di kursi dengan posisi duduk.


Perasaannya kalut saat melihat gerombolan orang di depan sana. Ada 4 laki laki sedang bercengkrama dengan beberapa botol yang tergeletak di bawah dan mereka masih memegang botol baru.


“Astagfirullah, ya allah. Tolong, Fatin, takut,” Jantungnya berdegup hebat.


Fatin menghentikan langkahnya. Ia takut untuk berjalan kesana. Kepalanya menunduk dan memilin ujung bajunya. Lalu, menutup mata untuk mengumpulkan keberanian melewati gerombolan berandal itu.


Fatin menarik nafas lalu, “Bismillah,” ucapnya lalu berjalan dengan yakin.


Fatin mengangkat kepalanya berani. Lalu, berjalan dengan yakin.


Salah satu dari ke empat berandal itu menyadari ada seorang perempuan berjalan sendiri di tengah malam ini sendiri.

__ADS_1


Lelaki dengan baju berwarna hitam compang camping itu menyeringai melihat gadis yang sedang ketakutan itu, lalu menyenggol salah satu temannya untuk memberi isyarat. Dan dua lainnya balik badan untuk melihat objek yang sama.


Lelaki dengan bandana di lengannya itu berjalan perlahan mendekat pada Fatin.


“Hallo, cantik,” sapanya dengan tubuh sempoyongan.


Fatin tidak menjawab. Ia menghiraukan dan terus berjalan seakan ia tidak melihat ada orang di depannya.


“Wii, cantik cantik kok sombong sih? Jelek ahh jangan kayak gitu,” ujar pria yang menggunakan topi dan berbadan gempal.


“Permisi, numpang lewat,” Fatin tidak tahu harus berkata apa. Ia takut sekali.


Preman yang memakai bandana tadi tersenyum saat melihat tangan Fatin bergetar.


"Jangan takut gitu dong. Kita gak bakal apa apain,” preman itu mendekat dan memegang tangan Fatin yang bergetar. Namun, ia langsung ditepis oleh Fatin.


“Weits, jangan galak dong manis,”


Keempat berandal itu terus mendekat pada dirinya. Matanya sudah terasa panas sekali.


“Permisi, Bang. Saya numpang lewat,” otaknya benar benar kosong sekarang. Rasa takut itu menjalar di seluruh tubuhnya.


Salah satu dari mereka ada yang memegang bahunya.


Fatin langsung menyingkirkannya. “Tolong, jangan pegang pegang,”


“Gak apa apa dong, cuma pegang bahu aja kan ga pegang yang lain,” bisiknya tepat di telinga Fatin dan membuat tubuh gadis itu merinding.


Fatin semakin takut, kala salah satu dari mereka ada yang membuka sabuk celana.


Fatin terus beristighfar di dalam hatinya.


Gadis dengan piyama itu mencoba untuk tenang. Melihat kondisi sekeliling. Dan… Gadis itu langsung berlari dengan cepat saat melihat celah.


Fatin berlari secepat yang ia bisa.


“Woi!” teriak berandal di belakangnya.


Air matanya luruh dengan deras. Fatin terus berlari dan berlari. Tapi, karena kakinya kecil–para preman itu terus mendekat.


Peluh bercucuran di keningnya.


Fatin menggulingkan tong besar yang ada di depannya untuk menghadang para preman itu. Lalu melempar keranjang kayu.


Gadis itu terus berusaha menyelamatkan diri.


Fatin terus berteriak berharap ada orang mendengarnya. Gadis itu masuk ke dalam gang kecil.


“TOLONG!”

__ADS_1


“TOLONG!”


“TOLONG!” Teriaknya berharap ada warga yang keluar rumah.


Namun, nihil. Gang ini sangat sepi.


Fatin menyipitkan matanya. melihat mobil dan seseorang sedang bertelepon di dalam mobil itu.


Beberapa kali, Fatin melirik ke belakang untuk memastikan jaraknya dengan para preman itu.


Fatin menambah kecepatan larinya/ Dengan cepat Fatin menggedor gedor kaca mobil itu.


“Tolong saya, tolong. Saya di kejar preman,”


Melihat raut wajah Fatin ketakutan. pria itu langsung membuka kunci pintunya dan membiarkan gadis yang tidak ia kenal masuk ke dalam mobil.


Fatin langsung ke area tengah mobil dan meringkuk di bawah agar tidak terlihat. Sedangkan pria di depannya tetap berpura pura bertelepon sambil memperhatikan beberapa preman yang ia yakini mencari gadis yang masuk ke dalam mobilnya.


Para preman itu bercelingukan di sekitar mobil yang ada Fatin di dalamnya.


Gadis yang meringkuk itu membulatkan matanya saat melihat preman dengan bandana ada disamping mobil. Fatin terus membenamkan tubuhnya agar tidak terlihat dari luar.


“Kamu sudah bisa keluar. para preman itu sudah pergi jauh,” kata pria dewasa itu setelah beberapa saat.


“Apa para preman itu sudah tidak ada di sekitar sini?” bisik Fatin.


“Ya, sudah tidak ada. kamu bisa keluar,”


Fatin mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling memastikan apa yang pria itu katakan benar.


Setelah dirasa aman. Fatin mengangkat tubuh dan duduk di kursi samping pengemudi.


Pria dewasa itu menyodorkan sebotol air putih pada Fatin.


“Minum dulu, tenangin diri kamu,”


Fatin mengambil dan langsung menegak habis air putih itu hingga tandas.


Fatin menghela nafas lega.


“Terima kasih, Pak, atas bantuannya.” ucap Fatin.


“Sama sama. Kenapa di tengah malam ini kamu ada di luar?”


Tanya pria itu heran. Dari gelagat dan penampilannya–gadis disampingnya bukan lah gadis yang nakal yang suka keluyuran malam. Yakin pria itu.


Fatin meregangkan telapak tangannya pertanda sebentar.


Namun, tanpa mereka sadari. Di depan sana ada yang sedang memotret kedua di dalam mobil.

__ADS_1


Pria dengan baju hitam hitam di lengkapi masker dan topi menyeringai melihat gambar yang ia ambil.


“Nice,”


__ADS_2