
Keadaan di dalam ruangan semakin kacau karena Neni tidak kunjung menghentikan aksinya dan juga Zoeya yang nangis ketakutan.
Bunda sudah berusaha sampai memanggil suster dan dokter. Tetap saja, mulut Neni masih berkicau keras.
Tidak lama, ada pergerakan dari Fatin.
Mata Fatin berkedip kedip dan tangannya bergerak.
"Bunda, Kak Fatin bangun!" teriak Zoeya yang langsung lari mendekat pada Fatin.
Gadis yang baru saja membuka matanya dan kepala nya masih terasa pusing itu--berusaha memperjelas penglihatannya yang buram.
Neni yang melihat itu kembali menghampiri Fatin.
"Bangun lo!" teriak bibi serata menarik selimut Fatin.
"Bi--bibi," lirih Fatin yang hampir tidak terdengar. Badannya terasa sangat lemas.
Bunda kembali menarik Neni agar sedikit menjauh dari Fatin.
"Ta--tapi, Bi. Fatin tidak punya uang sebanyak itu,"
Kesabaran bunda sudah habis.
"Sebenarnya apa yang butuhkan!?" bentak bunda yang sudah tidak tahan melihat orang yang sudag menyelamatkan putrinya di perlakukan kasar ketika masih terbaring.
"Saya butuh uang 10 juta sekarang juga! Dan anak yang tidak berguna ini malah enak enak tidur disini,"
Bunda menghela nafas kasar. Kenapa tidak bicara sedari tadi? Agar ibu ibu dihadapanya ini tidak menganggu Fatin.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Mana sekarang nomor rekening mu? Saya transfer sekarang juga,"
Baru kali ini bunda semarah ini. Perihal apapun yang membuatnya kesal, bunda tidak pernah semeledak ini dan sekarang ini sampai harus membentak.
Neni memberitahu nomor rekeningnya dan tersenyum saat melihat jumlah uang yang bunda transfer lebih dari yang ia inginkan.
"Sudah saya transfer. Sekarang jangan ganggu lagi Fatin. Ingat kamu itu," perintah bunda.
Neni menyeringai.
"Sering sering deh lo kecelakaan nyelamatin anak orang kaya. Kan gue enak, lo juga enak. Lo dapat pahala gue dapat duit,"
Setelah berkata seperti itu, Neni keluar dari bangsal dengan tersenyum.
Tidak henti hentinya ia memandangi saldo yang ada di atm nya.
"Sudah, Fatin. Kamu tidak khawatir perihal Bibi kamu lagi,"
__ADS_1
Bunda duduk du sofa. Mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya setelah menghadapi manusia macam Neni.
Juga Zoeya yang sedari tadi hanya diam dan menangis, kini ia memeluk Fatin yang sudah siuman.
"Kakak, maafin, Zoeya," Zoeya kembali menangis.
Fatin memejamkan mata sejenak, lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap lembut kepala Zoeya.
"Tidak apa apa. Kakak malah senang ternyata Zoeya selamat,"
Bunda tersenyum melihat interaksi keduanya.
Diingat, Zoeya ingin sekali mempunyai adik. Mustahil jika Zoeya mempunyai kakak. Karena anak gadisnya ini sering kali merasa kesepian, tidak ada teman di rumah.
Ayah Zoeya belum sempat menjenguk ke rumah sakit karena masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan hari ini.
***
Setelah banyak berbincang tentang kehidupan Fatin. Bunda sedikit terenyuh.
Jalan hidup yang tidak mudah untuk gadis berusia 25 tahun ini. Fatin sangat hebat dan kuat.
Mulanya Fatin tidak mau menceritakan kisah hidup menyedihkan ini. Tapi melihat perilaku Neni tadi--bunda jadi penasaran.
Bunda masih terlihat awet muda. Umurnya pun tidak jauh beda dengan Fatin.
Bunda menikah di usia yang cukup muda. Sehingga diusianya yang baru menginjak kepala tiga--ia sudah anak gadis yang cantik ini.
"Bunda, Bunda, tahu gak? Kalo ternyata, Kak Fatin kerja di kantor Ayah tahu," ucap Zoeya sembaru menarik narik kecil baju bundanya.
"Wah iya? Kamu kerja di bagian apa?"
Fatin tersenyum kecil. "Sebenarnya saya belum kerja. Hari ini saya baru di terima jadi besok baru bisa kerja. Alhadulillah saya ke terima di bagiab yang saya impikan, Bu. Sekeretaris,"
"Ohh. Masyaallah. Berarti kamu yang akan menjadi sekretaris suami saya ya?" Bunda turut bahagia. Karena suaminya akan mempunyai sekretaris seperti Fatin.
Fatin terlihat anak yang baik. Tidak ada sedikit di pikiranya--kalau wanita yang akan menjadi sekretarisnya inu sepertu sekretaris yang sudah sudah.
Fatin terlihat orang yang dapat di percaya.
"Ya sudah. Nanti saya sampaikan pada suami saya, kalah besok kamu belum bisa masuk kerja. Kamu boleh libur dulu sampai kamu benar benar pulih,"
"Ahh, tidak Bu. Tidak enak saya. Belum masuk kerja tapi sudah libur," tolak Fatin hati hati.
"Tidak apa, kamu jangan hiraukan orang orang kalau nanti kamu masuk kerja dan mereka ngomong yang buruk. Malah saya akan marah jika besok kamu masuk kerja,"
Bunda sudah seperti ibu peri.
__ADS_1
***
Malam sudah sangat larut. Bunda memutuskan untuk pulang bersama Zoeya. Karena besok, mereka harus beraktivitas seperti biasa.
Di rumah sakit, Fatin ada yang menemani. Si mbok yang sangat di percaya bunda untuk mengurus segala hal kebutuhan untuk Fatin.
Zoeya sudah mandi dan bersih bersih. setelah membaca buku 10 menit, anak itu sudah terlelap tidur di kamarnya.
Sedangkan bubda, masih harus menunggu suaminya pulang. Katanya sudah di jalan pulang dan sebentar lagi sampai.
Bunda menyalakan lilin aroma therapi dan menyemprotkan wewangian yang dapat meredakan stress.
Ritual sebelum tidurnya sudah beres. Bunda merebahkan dirinya di kasur dan mengecek kembali jadwal yang harus ia lakukan esok hari.
Tidak lama suara mobil pun terdengar. Sudah bisa di pastikan, itu mobil milik suaminya.
Bunda mengecek kembali penampilannya. Dan, menyambut suaminya di ambang pintu kamar.
Bunda memeluk erat suami yang sangat ia cintai. Melepaskan seluruh penat, menyalurkannta lewat pelukan.
Lelaki bertubuh kekar itu membalas pelukab sang istri dengan lembut.
Tidak ada yang bisa mengalahkan kenyamanan yang ada di muka bumi selain pelukan suami tercinta.
"Bagaimana harimu? Pasti berat ya hari ini?" pertanyaan yang selalu membuatnya dihargai dan di cintai dengan hebat.
"Iya, Mas. Hari ini sangat lelah tapi sekaligus senang."
"Apapun yang terjadi kamu syukuri dan jadikan pelajaran untuk kedepannya ya? Kamu harus lebih hati hati lagi. Agar tidak terjadi hal seperti ini. Mas percaya, istri Mas, sangat kuat dan hebat,"
Pria dewasa itu mencium kening bunda dengan lembut dan kembali memeluknya.
Keluarga kecil ini sering kali membuat siapapun yang melihatnya pasti iri karena keharmonisan keduanya yang selalu di jaga.
Kedewasaan suami dan kesabaran istri adalah paket paling ampuh untuk menjaga rumah tangga agar selalu rukun dan damai.
Zoeya adalah anak yang beruntung mempunyai kedua orang tua sepertu mereka.
***
Pagi ini, setelah keluar rumah sakit. Fatin di antar oleh supir suruhan bunda.
Bunda tidak bisa mengantar karena harus kerja. Juga, Zoeya, anak gadis itu harus sekolah karena dalam masa ujian.
Fatin melangkah dengan hati hati menuju kamar.
Seperti biasa, di rumah tidak ada siapa siapa.
__ADS_1
Sudahlah, Fatin tidak pedulu. Toh biasanya juga seperti ini.
Fatin berjalan menuju kamarnya. Tapi, langkahnya terhenti di depan kamar Roni ketika mendengar suara wanita yang sedang... Melenguh?