1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Prof. Alif


__ADS_3

Fatin dan Fatin berpisah saat sudah sampai kampus. Fatih ada urusan dengan anak anak organisasinya. Dan Fatin, gadis itu bergegas menuju ruangan Prof. Alif. 


Kejadian tadi pagi hilang seketika dari pikirannya, teralihkan oleh berita baik yang ia tunggu sudah lama ini. Sebentar lagi, Fatin akan pergi dari rumah yang selama ini mengurungnya. 


“Fatin Lunara Pasha,” panggilan itu, Fatin sudah hapal siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan… 


“Nara,” balas Fatin pada Nara yang berada di belakangnya. 


Ya, Nara adalah teman Fatin dari awal ia masuk kuliah. Tentunya, Nara tidak sendiri. Ada Giga di samping nya. Ketiga sahabat itu berkumpul kembali setelah sekian lama sibuk oleh urusan masing masing. 


Mereka berpelukan seperti teletubies. Melepas rasa rindu. 


“Aku kangen banget sama kalian.” ucap Fatin dalam pelukan. 


“Aku jugaa rasanya seperti berbulan bulan kita tidak bertemu, padahal hanya 1 minggu hehe,” ujar Giga seraya melepaskan pelukannya. 


“Tara!” Nara mengangkat sebuah plastik yang berisikan makanan favorit ketiganya. “Liat aku bawa ini. Ayo kita makan,” ajak Nara dengan antusias. 


“Ayo! lets go,” bukan Giga namanya kalau tidak antusias soal makanan. 


“Ehh sebentar, aku harus ke ruangan Prof. Alif dulu,” kata Fatin dengan sedikit tidak enak hati.


"Yah... Lama gak?"


"Ngga lama, Giga. Cuma sebentar aja ko. Kamu ini kalau soal makanan kesabarannya tipis banget ya," Fatin dan Nara terkekeh sementara Giga terdiam malu.


"Ya... Kalau soal makanan sih beda lagi, Fatin,"


"Iya iya, aku janji ko gak akan lama. Nanti aku nyusul ya ke kantin, kalian tunggu saja disana, aku mau ke ruangan Prof. Alif. Dadah, asslamualaikum,"


Fatin bergegas tempat yang ia tuju sejak awal. Waktunya tinggal 10 menit lagi dengan waktu perjanjian dengan Prof. Alif, semoga saja dosennya itu belum sampai.


***


Obrolan keduanya sangat seru dari 10 menit yang lalu. Mereka membicarakan tentang masa kuliah Prof. Alif yang cukup lucu.


Ternyata, dosen juga tidak sebaik teladan yang Fatin pikirkan. Dulu, Prof. Alif ternyata termasuk mahasiswa kupu kupu.


Fatin berdeham, lalu memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


"Emm, Prof, maaf boleh saya menanyakan tentang hal lain?" tanya Fatin hati hati dan mendapat anggukan dari Prof. Alif.


"Saya mau menanyakan perihal beasiswa S2 saya ke luar negeri. Apa sudah ada kabar baiknya, Prof? Saya sangat menunggu kabar baik itu,"


Fatin sudah tidak sabar mendengarnya. Ia yakin, bulan depan dirinya sudah bisa terbang ke negera tetangga dan hidup bahagia disana.


Pikiran Fatin sudah sangat jauh. Dari mulai ia bisa bangun tanpa teriakan, hidup tanpa gangguan dan yang paling penting mentalnya aman ketika hidup seorang diri.


Tiba tiba wajah Prof. Alif berubah drastis seolah akan menyampaikan berita buruk pada mahasiswa kesayangannya itu.


"Emm, Fatin, bagaimana jika kamu kuliah S2 di indonesia saja?"


Kedua alis Fatin saling bertaut. Tidak mungkin kan beasiswanya tidak di acc. Kalau dilihat dari nilai dan prestasinya ia sangat mungkin mendapatkan beasiswa itu dan juga kemampuannya dalam bahasa asing pun luar biasa.


"Maksud, Prof, bagaimana ya? S2 di luar negeri itu mimpi saya dan tidak mungkin saya ubah,"


Jantung Fatin berdegup kencang, takut yang ada dipikirannya benar terjadi.


"Iya, Prof, tahu sekeras apa kamu berjuang untuk mendapatkan beasiswa itu. Tapi, kamu jangan berkecil hati kalau tahun ini kamu belum bisa berangkat ke negara tujuan kamu. Mungkin memang sudah jalan nya seperti, kamu bisa sabar sedikit lagi ya. Insyaallah kamu bisa berangkat tahun depan," jelas Prof. Alif dengan sangat hati hati.


"Maksud Prof. Alif beasiswa saya di tolak?"


Seketika tubuh Fatin terasa lemas mendengar kabar dari Prof. Alif. Khayalan khayalan yang akan kebahagiannya itu sudah sirna seketika di dalam pikirannya.


Fatin tidak bisa berkata kata lagi. Lidahnya kelu, pikirannya kosong sekarang.


Melihat reaksi Fatin, Prof. Alif sangat tidak tega. Mengingat kerasnya hidup yang harus gadis ini tempuh.


Fatin adalah salah satu mahasiswanya sangat rajin dan juga teladan sekaligus asisten dosen Prof. Alif.


"Fatin, tolong bertahan sebentar lagi. Saya yakin kamu bisa mewujudkan apa yang kamu mimpikan, Nak." semangat Prof. Alif sepertinya sudah tidak bisa masuk telinga Fatin karena kekecewaanha yang begitu besar.


Fatin beranjak dari kursinya dan membungkukan tubuhnya sedikit tanda pamit.


"Kalau begitu saya permisi pamit, Prof, terimakasih atas informasinya. Assalamualaikum," salam Fatin tanpa menatap wajah Prof. Alif.


***


Sebelum menghampiri teman temannya yang menunggu dirinya di kantin, Fatin melipir sejenak ke masjid untuk berwudhu agar hatinya sedikit tenang.

__ADS_1


Itulah kegiatan yang selalu Fatin lakukan jika suasana hatinya sangat kacau.


Selesai berwudhu Fatin berdiri di hadapan cermin, melihat pantulan dirinya.


"Kenapa semua rencana aku selalu gagal?" monolog Fatin. Kepalanya tertunduk, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh, terjun bebas di kedua pipinya.


"Apa aku tidak pantas bahagia? Ya allah, kenapa sungguh berat ujian yang engkau berikan," tangisan Fatin semakin terisak.


Dadanya sangat sesak, suara tercekat di tenggorokan. Fatin memukul pelan dadanya agar mengurangi sesaknya.


"Kenapa? Padahal aku sudah berusaha keras untuk mewujudkan mimpi umi, apa aku salah?"


Fatin terus bermonolog mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam.


Tiba tiba ia mendengar langkah seseorang, dengan cepat Fatin masuk ke dalam toilet dan menguncinya.


Setelah beberapa saat ia menenangkan diri dan memakai riasan sedikit agar tidak terlihat habis menangis, Fatin kemudian keluar dan bergegas menghampiri teman temannya.


Ia yakin Nara dan Giga sudah menunggu lama.


Fatin melebarkan bibirnya hingga membentuk kurva cantik nan manis. Tidak ada orang yang akan menyangka dirinya sudah menangis.


***


"Nara, Giga," panggil Fatin dan dapat lambaian tangan dari kedua gadis yang sudah menunggu dirinya lama.


"Ngapain aja sih? Kok lama banget," seru Nara.


"Iya nih, gue kan udah lapar dari tadi, Fat." keluh Giga.


Fatin mendaratkan bokongnya di hadapan Nara dan Giga.


"Aduh, maaf ya. Kalian tahu sendiri kan, kalau aku sudah bertemu Prof. Alif pasti lama. Prof. Alif pasti selalu punya cerita baru," jelas Fatin.


"Ya, ya, ya, kamu emang paling sabar, kalau aku sih kayanya udah kabur karena gak betah dengar cerita yang itu itu aja,"


"Hush! Gak bolek gitu, Nara ihh,"


Giga adalah si pengamat paling baik. Ia sedari awal melihat Fatin sudah merasa curiga bahwa ada sesuatu yang Fatin sembunyikan.

__ADS_1


"Fatin... Kamu... Habis nangis ya?" tanya Giga yang membuat Fatin terkejut


__ADS_2