1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Anak cantik


__ADS_3

Pagi ini, Fatin bangun lebih segar dari biasanya. Setelah rehat satu hari full akibat kejadian malam itu. Fatin banyak belajar, bersyukur dan tentunya hatinya semakin kuat. 


Setelah mandi dan berolahraga, tidak lupa berdoa juga. Fatin siap mengawali kembali hari harinya yang penuh keberuntungan. 


Pagi pagi sekali, Fatin sudah siap dengan berkas lamaran kerja yang sudah ia siapkan sebelum berkunjung ke nenek kemarin. 


Tapi, untuk mengurangi kesalahan yang akan terjadi nanti, Fatin mengecek ulang berkas berkasnya. 


“Yeay! Sudah siap, alhamdulillah,” 


Gadis itu sudah sarapan tadi dengan menggoreng nasi sisa semalam. Tidak apa, yang penting makan dan bersyukur masih diberi rezeki. 


Dengan dada yang tenang dan lapang. Fatin melangkah yakin untuk memulai hidup barunya yang akan datang. 


Lagi lagi karena bantuan Fatih. Gadis itu akhirnya mempunyai pegangan untuk modal ia mencari kerja. 


Tidak tahu karena sudah terlalu lama dekat atau gimana-- sehingga hati keduanya terhubung.


Kemarin, Fatih merasa sangat gelisah. Pikirannya terus tertuju pada Fatin. Ada firasat buruk dalam hatinya. 


Dan, benar saja. Firasatnya tidak pernah salah. Tanpa pikir panjang, malam itu juga Fatih menghampiri Fatin ke rumah Neni. 


Fatin sudah sampai halte. Kan sudah dibilang bahwa ia mempunyai keberuntungan. Di halte ini hanya ada anak kecil dengan boneka di pelukannya, tidak ada siapapun lagi. 


Jadi, ia tidak perlu berebut kursi nantinya.


Fatin mendaratkan bokongnya di kursi halte dengan senyum tipis yang sedari tadi tidak luntur.


Kepalanya menoleh kesana kemari. Melihat orang orang yang sibuk dengan dunianya sendiri.


Dunia memang tempat cape. Jadi, jika tidak bersabar dan ikhlas--kita akan berat menjalaninya.


"Argh!" tiba anak kecil disampingnya teriak ketakutan.


Anak kecil itu langsung berlari mendekat Fatin dan memeluknya erat.


Fatin panik.


"Kamu kenapa?" tanya Fatin sembari mencari sumber yang membuat anak kecil itu ketakutan.


Anak kecil yang ada dipelukkan nya itu menangis tersedu, bersembunyi di perut Fatin.


"A-aku takut kucing, kak," lirih anak kecil yang di kuncir dua dengan tas warna pink lucu.


Mendengar itu, seketika Fatin terkekeh. Astagfirullah aku kira ada monster. Katanya dalam hati sembari mengusap lembut kepala anak itu.


"Hush! Hush!" Usir Fatin pada kucing berwarna oren. Dan, tidak lama kucing itu berlari menjauh dari halte.


Fatin melepaskan rengkuhannya dan berjongkok menyetarakan tingginya dengan anak perempuan itu.


"Sudah. Kucingnya sudah pergi. Sekarang kamu tidak usah takut lagi ya..." tenang Fatin sambil mengusap air mata dan membenarkan poni anak yang ada di hadapannya.


Tangisan itu berhenti.


"Terimakasih, Kakak." katanya dengan memeluk kembali Fatin.


"Sama sama." Fatin mengusap lembut punggungnya.

__ADS_1


Berselang beberapa menit keduanya kembali duduk dan menunggu halte bersama.


"Oh iya, nama kamu siapa, anak manis?"


Anak yang ditanyai Fatin seperti sedang sibuk mencari cari sesuatu yang hilang.


Anak itu seperti kebingungan dan matanya kembali memerah seperti akan menangis.


Fatin bingung.


"Kamu cari apa? Kamu kehilangan sesuatu?"


Masih tidak ada jawaban dari gadis kecil itu.


Anak dengan rambut kuncir dua disampingnya masih kebingungan mencari barang miliknya yang hilang.


Fatin meraih kedua pundaknya untuk mengalihkan perhatian gadis kecil itu dan menjawab pertanyaannya.


"Dengar, Kakak, sebentar ya? Kamu sedang mencari apa? Siapa tahu, Kakak, bisa bantu cari," tanya Fatin.


"Bonekaku, bonekaku, Kak. Kok tidak ada? Apa dicuri kucing tadi?" jawabnya dengan air mata yang sudah luruh.


Sepertinya boneka itu sangat berharga baginya.


"Ya sudah, coba kamu ingat ingat dengan tenang dan jangan panik ya. Biar cepat ketemu. Kakak, bantu ya..."


Gadis kecil itu terus mencari cari boneka miliknya. Begitu pun dengan Fatin, ia membantunya.


Kedunya kerjasama.


"KAKAK, KETEMU!" teriak gadis kecil dengan tangan yang menunjuk ke jalan raya.


"Astagfirullah. Kok bisa terlembat jauh sih?"


Mungkin karena takut yang sangat amat. Anak itu refleks melempar yang ada di genggamannya dan langsung memeluk Fatin.


Fatin langsung menyebrang dengan hati hati. Kedua tangannya merentang lebar untuk men-stop kendaraan yang berlalu lalang.


Ya, akhirnya boneka itu kini sudah ada ditangannya.


Fatin kembali pada gadia kecil itu dan memberikannya.


"Ini. Lain kali hati hati ya... Sebenarnya kucing itu baik kalau kita baik juga," Fatin tersenyum, lalu mengusap poni anak yang kegirangan bonekanya telah kembali.


"Ayo, duduk." Ajak Fatin dan langsung dibalas anggukan.


Tiba tiba Fatin mengulurkan tangannya.


"Kenalin aku Fatin," katanya memperkenalkan diri.


Gadis mungil itu tanpa ragu menjabata tangan Fatin.


"Kenalin nama aku Zoeya," sahutnya dengan senyum ceria yang ia miliki.


"Masyaallah, nama yang cantik seperti orangnya,"


Zoeya memukul kecil lengan Fatin.

__ADS_1


"Ahh, bisa aja, Kakak ni," Zoeya tersipu malu.


Fatin gemas melihat tingkah anak kecil ini.


"Ohh iya. Kamu mau kemana? Kok sendirian?"


Zoeya membenarkan posisi duduknya dengan nyaman dan mengeluarkan dua permen lolipop dari dalam tas nya dan memberikan nya satu pada Fatin.


"Ini buat, Kakak, sebagai tanda terima kasih aku," Fatin menerimanya dan langsung memakannya.


"Aku disini buat pergi sekolah,"


Fatin mengerutkan kedua alisnya. "Sendiri? Ibu kamu tidak antar?"


"Tidak. Aku tidak mau terus terusan diantar sama Bunda. Aku sudah besar, mau belajar mandiri," katanya sembari mengemut permen.


Menggemaskan. Pipinya menggembung sebelah.


"Wah, masyaallah hebatnya. Tapi kamu harus hati hati juga ya?"


Zoeya mengangguk dan memberikan kedua jempol sembari tanda setuju.


Tidak lama bus yang mereka tunggu akhirnya datang juga.


Kebetulan. Tapi, tidak ada yang kebetulan di dunia ini.


Keduanya naik bersama dan duduk bersampingan sambil menikmati lolipop yang ada di tangan masing masing.


***


Tidak tahu arahnya gadis kecil itu kemana. Tapi, Fatin turun duluan. Dan, pamit pada Zoeya si anak hebat.


Tapi dilihat dari barang barang anak itu dan cara bicaranya. Zoeya bukanlah anak sembarangan.


Etika seperti sudah dibentuk dengan matang.


Kini, Fatin berdiri di depan gedung tinggi yang selama ini menjadi mimpinya yaitu menjadi sekretaris.


Fatin memandang lekat lekat gesung tinggi itu dan terus berdoa dalam hatinya supaya nanti ada kabar baik.


Dengan segala keyakinan dan ketabahannya. Fatin melangkah dengan yakin.


Baru sampai lobby, ia dikejutkan dengan interior yang sangat elegant.


Benar benar tipenya. Simple but elegant.


"Bismillahirohmanirohim. Semoga hal baik serta menyertaiku dan keridhoan mu, ya allah." ucapnya dalam hati.


Brak!


Fatin terpental. Seseorang tidak sengaja menabraknya dan buku buku yang ada di tangan orang itu berserakan.


"Aduh, Mbak. Maaf, saya tidak sengaja,"


Seorang perempuan dewasa dengan pakaian syar'i buru buru mendekat pada dirinya karena merasa bersalah.


"Tidak apa, Mbak. Saya baik baik saja," ujar Fatin sambil berdiri dan membantu memreskan buku buku yang berserakan.

__ADS_1


"Sekali lagi, saya minta maaf ya. Saya sedang buru buru soalnya," wajah panik sangat terpancar diwajah wanita dengan usia yang bisa di perkirakan sudah kepala tiga.


__ADS_2