1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Pria dewasa


__ADS_3

Fatin menenangkan diri sejenak. Pria dewasa di sampingnya terdiam, memberi waktu Fatin. 


Setelah dirasa semuanya baik baik saja. Fatin menoleh pada seseorang yang sedari tadi menunggu dirinya berbicara. 


"Maaf, Pak. Maaf jika saya lancang tadi menggedor mobil, Bapak, dengan tidak sopan. Dan, terima kasih atas bantuannya, Pak," Fatin menangkup kedua tangannya. 


"Tidak apa. Itu wajar dikala seseorang sedang panik. Sekarang kamu pulang kemana?" tanya pria itu. 


"Tidak jauh dari sini kok ,Pak. Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya. Jika tidak ada, Bapak, saya tidak tahu akan bagaimana nasib saya," 


"Iya. Apa kamu mau saya antarkan?" Tawar pria berjas hitam yang gagah itu. Bisa diperkirakan usianya sudah berkepala 3.


"Ahh, tidak apa apa, terima kasih. Saya sudah merepotkan, Bapak, tadi. Saya bisa pulang sendiri," tolak Fatin yang tidak enak hati. 


"Bagaimana jika sepulang nanti kamu bertemu kembali preman preman itu? Saya hanya khawatir jika besok saya mendapatkan berita yang tidak enak," 


Sebenarnya pria itu membantu Fatin dengan tulus tidak ada maksud lain lain. Karena, ia mempunyai masa lalu yang tidak ingin terulang kembali. 


"Ba-baik, Pak. Maaf jika saya banyak merepotkan," 


Benar juga apa yang dikatakan pria dewasa disampingnya ini. Bagaimana jika preman itu menemukannya atau bisa saja Fatin bertemu dengan preman lain di jalan pulang. 


Tidak ada salahnya jika menerima bantuan. Toh, lampu mobil di dalam juga dinyalakan. Jadi, orang orang di luar bisa melihat aktivitas keduanya. 


 *** 


Akhirnya, Fatin pulang dengan selamat sampai rumah. 


Gadis itu langsung menjatuhkan diri di atas kasur untuk meluruskan badannya. 


Seluruh tenaganya ia kerahkan untuk berlari tadi. Untung saja, Allah memberinya bantuan lewat pria dewasa tadi. 


"Alhamdulillah, ya allah," ucapnya syukur. 


Tidak terasa mata nya sangat berat untuk dibuka. Fatin menoleh sebentar untuk melihat jam di dinding sana. 


Ternyata sudah jam 3 pagi dan ia belum tidur. Rasanya sekarang, Fatin akan tertidur lebih pulas dari biasanya. 


Dan, kini alam bawah sadar Fatin yang bekerja. Memberikan mimpi mimpi indah yang selalu ia dapatkan untuk pengganti hidupnya yang jalannya sangat berkelok. 


Tring…tring…tring… 


Suara alarm sudah berbunyi sekitar 20 menit yang lalu. 


Namun, tuan putri tak kunjung juga bangun. 


Karena dirasa hari ini ia tidak punya kegiatan. Setelah shalat subuh tadi–Fatin kembali tidur. 


Untuk kali ini saja, ia rela untuk dimarahi oleh bibinya karena bangun siang. 


Suara dering telepon terdengar nyaring. Gadis itu menggerakan tamgannya dan meraba raba kasur untuk mencari ponselnya. 


Matanya masih tertutup. 


Suara dering ponsel itu terdengar sekali lagi lalu kembali mati dan tidak lama sebuah pesan masuk. 

__ADS_1


Dengan mata yang sangat berat. Fatin memaksakan untuk bangun. Dan, mengecek pesan dan siapa yang pagi pagi gini sudah menghubunginya. 


Matanya seketika terbelalak. Rasa kantuk yang menyerangnya tadi seketika hilang setelah melihat sebuah pesan yang masuk. 


Sungguh, pesan itu adalah pesan yang selalu ia tunggu. 


Fatin mendapatkan panggilan dan ia di terima di kantor impiannya. 


"Yeay! Alhamdulillah," 


Fatin berjingkrak senang di atas kasurnya. 


Akhirnya, senyuman bahagia itu terlihat kembali setelah beberapa tahun bersembunyi. 


Ada dua panggilan dari Fatih. Ahh, abaikan saja. Pasti Fatih meminta dirinya untuk menemaninya. 


Sekarang, Fatin akan bersiap siap karena ia dipanggil ke kantor pukul 10. Masih 2 jam untuk bersiap. 


Gadis itu langsung mencari pakaian terbaik yang ia punya. 


Ada jas dan celana bahan dengan warna yang senada. 


Baju ini sudah ia beli sejak beberapa tahun silam. Untuk membuatnya semangat menggapai mimpinya. 


Setiap kali melihat setelan itu, Fatin bersemangat dan tidak sabar untuk memakainya. 


Akhirnya setelah penantian yang cukup lama. Allah mengabulkan keinginannya. 


Fatin berdiri di depan kaca dengan senyum yang merekah. 


Fatin berteriak kegirangan. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di bawah bantal. Kedua kakinya dihentak hentakan di atas kasur. Fatin salah tingkah mendengar penuturannya barusan. 


"Sudah, sudah, sudah, Fatin. Ayo kita bersiap siap sekarang," monolognya, lalu bangkit dan masuk ke kamar mandi. 


Sungguh, jika ada orang yang melihat Fatin–sepertinya orang itu akan merasa pegal bibir. Karena, melihat Fatin yang terus senyum senyum dari tadi. 


Senandung yang merdu terus terdengar di ruang kecil itu. 


Mulut mungil itu terus saja berbeo tidak berhenti. 


Mungkin, kalau umi dan abi melihat Fatin sekarang. Mereka akan bangga melihat putri kecil nya tumbuh dengan kuat dan hebat. 


"Sudah selesainya," beo nya lalu turun ke bawah. 


Melangkah ke dapur dan meminum segelas air putih. 


Fatin tidak sarapan. Mana mungkin di rumah nya ini ada makanan. Bibinya tidak pernah menyetok makanan. 


Neni selalu membeli makanan siap saji di warteg depan rumah. 


Fatin juga dibelikan, tapi hanya dengan telur dadar saja. 


Tidak apa apa yang penting perut terisi. 


Sudah selesai. Fatin memakai sepatu pantofelnya. Lalu keluar. Tidak lupa ia membaca doa dulu sebelum memulai aktivitasnya. 

__ADS_1


"Bismillah. Ya allah, tolong lindungi aku disetiap langkahku dan tolong lancarkan semua urusanku. Aamiin," 


*** 


Setelah perjalanan kurang lebih 20 menit. Fatin akhirnya sampai. 


Kembali ia menatap gedung tinggi impiannya yang kini sudah terwujud. 


Namun, ada yang ia tidak boleh lupakan. Fatin berbelok sebelum masuk ke dalam gedung. 


Dan, menyapa seseorang disana. 


"Assalamualaikum, Bapak," sapanya pada pak satpam. 


Pak satpam dengan kepala pelontos dan kumis lebat itu berbalik badan. 


"Waalaikumsalam," balas pak satpam sembari mengingat ngingat gadis di hadapannya. 


Sepertinya bapak satpam lupa pada Fatin. 


"Bapak, ini aku. Alhamdulillah aku keterima kerja di perusahaan ini. Makasih atas doanya, Pak," ucap Fatin. 


Bapak satpam mengerutkan kedua alisnya. 


"Masyaallah, Neng. Bapak baru inget," Bapak satpam menghampiri Fatin dan memeluk layaknya ayab kepada anak yang bangga atas pencapaian yang anak itu raih. 


"Selamat ya, Neng. Bapak turut bahagia," katanya seraya menepuk nepuk punggung Fatin dan tidak lama melepaskannya. 


"Terimakasih, Pak. Akhirnya, aku bakal setiap hari nih ketemu sama Bapak. Senang sekali," 


"Alhamdulillah. Bapak seperti punya anak baru," 


Fatin tertawa kecil mendengarnya. 


Karena tidak bisa lama lama. Fatin pamit pada pak satpam dan bergegas masuk. 


Gadis itu menaiki lift menuju lantai 10 sesuai instruksi dari hrd yang menghubunginya tadi pagi. 


Di dalam lift ini hanya ada dirinya seorang tidak ada siapapun lagi. 


 Ting 


Tiba tiba lift terbuka dan terdapat seorang perempuan dengan pakaian yang elegan dan sangat berwibawa dilihat dari gerak geriknya. 


Fatin merasa tidak asing dengan perempuan di hadapannya. 


Keduanya saling menganggukan kepala pertanda menyapa. 


Perempuan itu menekan tombol lantai 20. 


Tidak lama, lantai yang Fatin tuju sudah sampai. Ia keluar dan mencari ruang melati. 


Seseorang menghampiri dirinya kejauhan sana. 


"Fatin Lunara Pasha?" Tanyanya. 

__ADS_1


__ADS_2