1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Interview


__ADS_3

Beberapa kejadian tadi mungkin awal dari keberuntungannya. Fatin tetap berpikir positif dan berprangsangka baik pada Tuhan.


Amplop coklat yang ia pegang agak kusut sedikit. Tapi, tidak apa. Fatin sudah menjaganya sebaik mungkin.


Gadis itu terus berjalan menuju ruang interview. Hatinya tidak berhenti untuk terus berdzikir.


Langkahnya terhenti. Terkejut. Begitu banyak orang yang mengikuti walk in interview hari ini. Padahal, Fatin datang di hari kedua. Ternyata masih banyak.


Fatin mengambil kartu antrian dan kembali terkejut melihat nomor antrian yang ia terima.


Sudah satu jam, namun belum ada panggilan.


Fatin selalu menyimpan cemilan di tasnya yaitu yupi warna warni. Untuk menemani rasa bosannya.


“Ya allah, aku bakal masuk jam berapa ini?”


***


Akhirnya interview selesai. Fatin harus menunggu selama 3 jam karena banyaknya orang yang mendaftar.


Tapi, Fatin tidak pesimis. Ia tetap optimis dan selalu berprangsangka baik untuk hasilnya nanti.


Baru saja langkah kaki sampai di ambang pintu gedung tinggi ini–ponselnya berdering.


Fatin merogoh ponsel yang disimpan di dalam tas. Ternyata itu Fatih.


“Hallo, assalamualaikum. Ada apa, Bang?”


“Waalaikumussalam. Fatin mau gak antar aku ke toko buku? Ada buku yang harus cari. Aku tidak mau sendirian kesana,” Sahut Fatih di seberang sana.


“Boleh. Kebetulan Fatin baru beres interview. Tapi traktir es krim ya?” tawarnya sambil terkekeh kecil.


“Iya iya. Aku jemput kesana ya sekarang,”


Telepon itu sudah mati.


Tapi, cuaca hari ini cukup terik. Gadis itu bingung harus menunggu Fatih di mana.


AHA! Fatin tahu di mana ia harus menunggu.


Gadis itu berjalan menuju depan sana. Social butterfly adalah sifat Fatin yang gampang akrab dengan siapapun. Tapi, Fatin lebih senang mengobrol dengan orang. Karena di setiap obrolannya ia selalu mendapatkan pelajaran berharga.


“Assalamualaikum, Bapak,” salam Fatin pada pak satpam yang sedang berjaga di pos nya.


“Waalaikumsalam, Nak,” sahut si bapak dengan ramah.

__ADS_1


“Maaf, Bapak. Apa boleh saya menunggu teman disini? Soalnya diluar panas dan tidak tahu mau kemana,”


Dengan antusias. Bapak satpam memberikan kursi plastik pada Fatin.


“Dengan senang hati, Neng. Malah Bapak senang. Bapak, jadi ada temannya,”


“Tidak apa apa. Pak?” Fatin merasa tidak enak.


“Tidak apa apa. Sini masuk,”


Fatin mengangguk dan tersenyum. Namun, ia terkejut. Begitu banyak layar di pos bapak satpam ini. Sepertinya, itu layar untuk memantau cctv.


“Wah, keren. Apa bapak ga pusing melihat layar sebanyak ini?” tanya Fatin.


Bapak satpam tertawa kecil. “Tidak, bapak sudah terbiasa. Seharusnya sekarang, Bapak, tidak boleh memasukan sembarang orang ke dalam sini. Tapi sepertinya, Neng, orang baik. Jadi, tidak apa apa,” ujarnya.


Fatin mendaratkan bokongnya di kursi.


“Ish. Bapak jangan selalu melihat orang lain dari luarnya saja, Pak. Bagaimana kalau aslinya saya penjahat yang menyamar,”


“Tidak mungkin. Masa gadis secantik ini menjadi maling,”


Kedua nya tertawa.


Di luar sana banyak sekali orang dan kendaraan keluar masuk. Fatin terdiam sejenak, memperhatikan orang orang itu.


Akan ia hadapi semuanya, walaupun sambil menyebut ya allah, ya allah setiap hari xixixi.


“Neng, baru lulus kuliah ya?” tanya bapak satpam menyadarkan Fatin dari lamunannya.


“Oh iya, Pak. Saya Baru lulus kemarin.” Jawab Fatin sambil menoleh pada bapak satpam.


“Jurusan apa? Dan, Neng, mau melamar di bagian mana?”


“Saya kuliah jurusan ekonomi dan bisnis, Pak. Saya juga melamar di bagian sekretaris,”


Bapak satpam mengangguk ngangguk.


“Neng, kalau mau kerja. Bukan hanya ilmu dan ijazah yang disiapkan. Tapi, mental juga. Karena dunia kerja itu sangat kejam,” ucap pak satpam sambil menyeruput kopi hitam milikinya.


Fatin mengangguk, mendengarkan penuturan bapak satpam.


“Kalau saya melihat pergaulan zaman sekarang tuh ngeri, Neng. Anak anak zaman sekarang kurang didikan dari orang tua. Masa saya kemarin melihat ada anak yang bacok guru. TErus saya lihat juga banyak kasus bully.”


“Saya mah sampai tidak habis pikir, Neng. Bagaimana kehidupan mereka di masa depan. masih sekolah aja sudah ada jejak buruk.”

__ADS_1


“Biasanya, kalau anak yang seperti itu tuh, kurang kasih sayang dari orang tua dan mencari kesenangan di luar. Bapak mah bersyukur pisan punya anak yang baik. Anak, Bapak, ada tiga dan semuanya sekarang sedang pesantren,”


Fatin tidak mengalihkan wajahnya sedikit dari pak satpam. Ia terus mendengarkan dengan baik perkataan bapak di depannya ini.


“Neng, harus selalu berbakti sama orang tua ya? Agar hidup, Neng, nanti sukses. Seburuk apapun mereka. Mereka tetap orang tua yang harus dihormati,”


Bapak satpam terus saja berbicara. Fatin mengerti, karena beliau kerja sendiri dan tidak ada teman. Makanya ketika kedatangannya bapak ini terus berbicara.


“Tapi, saya sudah tidak punya orang tua, Pak. Saya yatim piatu,” jawab Fatin yang berhasil membuat pria paruh baya itu terkejut.


“Astagfirullah, Neng. Maafkan, Bapak, ya?” bapak satpam menjadi tidak hati.


“ Tidak apa apa, Pak. Lagian, bapak, juga tidak tahu.”


“Maafin, Bapak ya, Neng, sekali lagi,”


Fatin terkekeh kecil. Tidak apa, Pak. Santai saja. Lagian itu sudah lama dan saya sudah menerima takdir itu, Pak. Bapak, tidak usah khawatir,”


Karena terlalu nyaman mengobrol. Keduanya tidak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikan keduanya dari luar pos.


Fatih berdehem cukup keras. “Ehem!”


Mendengar itu, Fatin langsung menoleh. “Eh, sejak kapan kamu sampai?” katanya sambil beranjak dari kursi, lalu menghampiri Fatih.


“Aku sudah lama disini. Apa kamu tidak menyadarinya?” raut wajah Fatih terlihat bete.


“Maaf, Bang.”


Fatin masuk kembali ke dalam pos. Berpamitan pada bapak satpam.


“Bapak, aku sudah ada ada yang jemput. Aku mau pamit ya… Doain semoga keterima kerja disini. Jadi, aku bisa bertemu bapak kembali,” Fatin mengulurkan tangannya dan mencium tangan bapak satpam untuk berpamitan.


“Iya, Neng. Bapak, doakan. Semoga hal hal baik selalu menyertai, Neng, ya?”


Fatin mengangguk. “Aamiin, Pak. Terima kasih untuk doanya. Assalamualaikum,”


“Iya, Waalaikumsalam,”


Fatin segera naik ke motor Fatih dan melambaikan tangannya ke bapak satpam dengan senyum yang ceria.


Nah, mengobrol dengan orang tua itu menyenangkan. Sudah dapat nasehat, juga dapat pujian dan doa. Masyaallah.


Kini, keduanya pergi menuju tempat tujuan yaitu toko buku.


“Abang, memang mau cari buku apa?” tanya Fatin di sela sela keheningan.

__ADS_1


“Aku mau cari buku tentang sejarah islam. Aku sudah lama tidak membaca buku itu,” kata Fatih yang sedikit berteriak agar lawan bicaranya mendengar di sela sela jalanan ibu kota yang ramai nan padat ini.


__ADS_2