1 ATAP 2 RATU

1 ATAP 2 RATU
Roni


__ADS_3

Pagi ini, setelah keluar rumah sakit. Fatin di antar oleh supir suruhan bunda.


Bunda tidak bisa mengantar karena harus kerja. Juga, Zoeya, anak gadis itu harus sekolah karena dalam masa ujian.


Fatin melangkah dengan hati hati menuju kamar.


Seperti biasa, di rumah tidak ada siapa siapa.


Sudahlah, Fatin tidak peduli. Toh biasanya juga seperti ini.


Sebelum masuk kamar, ia ke dapur dulu untuk mengambil minum dan buah yang di belikan oleh si mbok tadi.


Kata bunda, Fatin harus makan makanan yang sehat. Sebelum Fatin pulih benar benar pulih. Si mbok akan setiap mengantarkan makanan dan buah buahan untuk Fatin.


"Sebenarnya, ini musibah atau keberuntungan, ya? Aku dapat uang untuk memenuhi permintaan Bibi dan juga aku mempunyai uang saku untuk satu bulab ke depan. Tapi, aku juga kecelakaan sampai harus di rawat dan badan ku sakit sakit. Ahh sudah lah. Yang penting aku bersyukur Allah sudah membantuku," monolog Fatin.


Buah nya sudah siap untuk di makan dan air putih di botol besar pun sudah ia isi.


Setelah makan buah nanti--Fatin akan meminum obat.


Fatin berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang sungguh seperti tidak ada beban.


Tapi, langkahnya terhenti di depan kamar Roni. Fatin mendenga suara aneh di dalam sana.


Fatin membuka telinganya lebar lebar. Mendengarkan suara itu dengan baik agar ia tahu suara apa itu.


Matabya tiba tiba membulat sempurna. Sebentar, suaranya seperti wanita yang sedang... Melenguh?


"Astagfirullahaladzim," cicit Fatin pelan.


Tanpa menimbulkan suara. Fatin berjalan pelan. Tidak peduli apa yang sedang Roni lakukan--Fatin tidak peduli.


Dalam hatinya terus beristigfar.


Fatin buru buru mengunci kamarnya.


"Ya Allah, cepat datangkan jodoh untuk Fatin. Fatin ingin sekali keluar daru rumah ini. Lama lama Fatin takut dengan Bibi dan Bang Roni,"


***


Setelah selesai makan dan obat.


Fatin berbaring di kasur. Ohh iya, ia lupa tidak membuka ponsel miliknya. Pasti Fatih menelponnya.


Fatih adalah cowok paling posesif padahal bukan siapa siapa. Pacar bukan suami juga bukan.


Tuh kan benar. Ada 78 panggilan dari Fatih. Lelaki itu menelpon Fatin dari kemarin.


Fatin bergegas menelpon balik Fatih.


Tidak lama orang yang Fatin panggil mengangkat teleponnya.


"Hallo, assala---


Belum beres Fatin menyapa--Fatih sudah menyerobot.

__ADS_1


"Fatin! Kamu dari mana saja sih? Kamu buat aku khawatir tahu ga!?"


Fatih marah benar benar marah juga khawatir.


"Astagfirullah, jangan marah marah, Bang. Fatin gak apa apa kok,"


"Gak apa apa gimana? Orang kemarin aku tanya Bi Neni--kamu lagi di rawat di rumah sakit. Tapi, aku tanya--Bibi ga jawab. Sebenarnya kamu kenapa?"


Fatin menjelaskan semua yang terjadi kemarin. Tidak ada yang terlewat satu kejadian pun.


Kini, Fatih sudah sedikit tenang.


"Ya sudah, nanti aku jenguk kamu ke rumah. Sebentar lagi, habis dari kampus aku langsung ke rumah, ya,"


Jangan. Jangan sekarang. Kalau Fatih sekarang ke rumah bisa gawat. Pasal nya Roni sedang tidak waras di bawah.


"Emm... Jangan sekarang, Bang. Sore atau malem aja ya? Aku baru pulang pengin istirahat juga," alibi Fatin.


"Iya, iya, malam saja. Kamu mau di bawain apa?"


"Apa saja yang penting enak," Fatin terkekeh kecil.


"Oke... Nanti aku bawain makanan kesukaan kamu ya. Kalau gitu aku tutup telepon nya. Assalamualaikum..."


"Yeay! Terima kasih, Abang. Waalaikumsalam,"


Sambungan telepon itu terputus.


Fatin langsung tidur sesuai yang ia katakan pada Fatih tadi.


***


Entah karena efek obat atau karena selama ini ia tidur tidak pernah dengan kepala dingin. Fatin tidur dengan benar benar nyenyak, bahkan suara adzan di ponselnya pun tidak terdengar.


Fatin terkejut karena melihat langit sudah berubah warna. Gadis itu buru buru mengecek ham di ponselnya.


Benar saja, sekarang sudah mau magrib.


Fatin buru buru ke kamar mandi dan wudhu untuk melaksanakan shalat dzuhur dan ashar yang tertinggal.


"Astagfirullah, Ya Allah, maafin Fatin,"


Bukan. Bukan shalat yang di percepat, tapi gerakannya saat wudhu dan memakai mukena ia percepat. Dan, Fatin membaca surat pendek saja agar saat shalat ashar keburu sebelum maghrib.


Tidak lama ketika Fatin sudah selesai beribadah dan maghrib pun sudah terlaksana.


Ponselnya berdering dan satu pesan masuk.


Ternyata Fatih sudah ada di depan rumah.


Secepat kilat Fatin siap siap dan langsung menghampiri Fatih.


"Assalamualaikum, ukhti..." sapa Fatih saat pintu itu terbuka.


Fatin tersenyum tipis. "Waalaikumsalam, akhi..." balasnya gemas.

__ADS_1


"Karena kamu gak boleh makan es krim, jadi aku bawain buah aja. Es krim nya nanti kalau sudah sembuh ya..."


Fatin sedikit cemberut. Lalu mengambil kresek itu dari tangan Fatih.


"Yah, tidak ada es krim. Tapi tidak apa. Terima kasih, Abang,"


Fatih mengangguk dan mengusap kepala Fatin.


Dari semenjak Fatin tinggal di rumah bibi nya. Fatih belum sekali pun menginjakkan kakinya di dalam rumah itu.


Entahlah, Fatin selalu tidak mengizinkannya.


Karena masih ada kegiatan yang harus di kerjakan. Fatih langsung saja pamit pada Fatin.


Fatih janji besok akan berkunjung kembali dan mengajaknya jalan jalan. Agar Fatin segera sembuh.


***


Zoeya baru keluar kelas dan di depan sana sudah ada pak Agus yang menunggu.


Karena kejadian kemarin, Zoeya tidak ingin pulang dan pergi sekolah sendiri. Ia akan menurut apa yang ayahnya perintahkan.


Takut takut kalau nanti harus ada orang yang celaka karena dirinya.


Raut wajah Zoeya tidak seceria sebelumnya. Ia sedih memikirkan kondisi Fatin saat ini. Meski tahy, Fatin baik baik saja--tetap saja ia merasa bersalah.


Sudah menjadi rutinitasnya. Sebelum pulang ke rumah--Zoeya pasti menghampiri ayahnya di kantor.


Entah untuk apa--tapi ini sudah kebiasaan.


Baru sampai lobby kantor seorang lelaki dengan tubuh kekar di tambah masker dan topi itu menghampiri Zoeya.


Di mata Zoeya, lelaki itu sepertu tidak asing. Tapi siapa? Tidak jelas karena pakai topi dan juga masker.


"Mau apa ya, Om?" tanya Zoeya saat lelaki itu mengajaknya mengobrol di kantin.


"Tidak. Om temannya Kak Fatin. Om cuma mau melihat kan kepada kamu kondisi Kak Fatin seperti apa. Apa kamu mau melihatnya? Tadi Om habis video call-an,"


Jika berkaitan dengan Fatin--Zoeya pasti akan langsung ikut.


Tanpa pikir panjang, Zoeya mengikuti lelaki itu menuju kantin.


Zoeya bukan anak kecil. Anak gadis itu tahun ini akan berusia 10 tahun.


Keduanya duduk di kursi kantin pojok. Tentunya pak Agus tidak ikut, beliau menunggu Zoeya du parkiran.


Lelaki itu mengeluarkan ponselnya.


Zoeya antusias melihat kondisi Fatin.


Tiba tiba, gadis itu terdiam dengan tatapab kosong dan rasa tidak percaya yang membara.


Zoeya melihat foto ayahnya berduaan dengan seorang perempuan. Dekat. Sangat dekat.


"I--ini A--Ayah?" tanya tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2