258 HARI BERSAMAMU

258 HARI BERSAMAMU
Bang Adi Kecelakaan


__ADS_3

4 hari berlalu Bang Adi belum juga pulang, Beliau terakhir memberi kabar kemarin itu hanya pesan singkat yang meminta kami semua disini menjaga diri baik-baik dan menjaga kesehatan agar tidak drop.


"Kak, kapan Abang pulang? apa Abang sudah mengabari, Kakak?" tanya Fina.


"Dek, tolong Kakak juga cemas tapi jangan seperti ini! Lebih baik kita do'akan saja semoga Abang baik-baik saja disana." nasihat Kak Khalisa ia pun merasa cemas berlebihan karena suaminya belum juga pulang.


"Aku takut, Kak." ucap Fina yang entah dari mana bulir bening menetes tanpa permisi di wajahnya.


"Kakak paham, Dek tapi kita harus tetap khusnudzon ya. in syaa Allah Abang dija-"


Drett.. Drett..


Ucapan Kak Khalisa terpotong karena bunyi handphonenya.


Kak Khalisa melangkah mengambil handphonenya lalu dahinya berkerut,


"Siapa, Kak?" tanya Fina penasaran.


"Gatau juga, Dek." jawab Kak Khalisa apa adanya.


"Kakak angkat saja siapa tahu penting."


"Assalamu'alaikum? dengan siapa?" tanya Kak Khalisa.


"Alaikumussalam, maaf apa benar ini dengan Istri Bapak Adi?" tanya orang di sebrang sana.

__ADS_1


"Iya benar dengan Saya sendiri, Anda siapa ya?"


"Kami dari rumah sakit Bina Medika, Kota Surabaya ingin mengabarkan bahwa suami ibu sedang dalam keadaan kritis karena kecelakaan di Tol jalan Kota Surabaya."


Jeddarr...


Seolah petir menyambar Kak Khalisa langsung terduduk di lantai mendengar sang suami terbaring di rumah sakit.


"Kak, Kak, kenapa?" tanya Fina.


Kak Khalisa hanya menangis sesegukan.


"Halo, maaf ada apa ya?" tanya Fina mengambil alih handphone yang di pegang Kak Khalisa tak lupa memeluk sang Kakak.


"Maaf Bu, Kami dari rumah sakit Bina Medika, Kota Surabaya ingin mengabarkan bahwa Bapak Adi sedang dalam keadaan kritis karena kecelakaan di Tol jalan Kota Surabaya."


Kuat Fin,


"Baik, kami akan segera kesana, Wassalamu'alaikum." ucap Fina kemudian mengakhiri panggilan secara sepihak.


Ngga! Ga mungkin! Abang ga mungkin kecelakaan! itu pasti bukan Abang! rumah sakit itu salah orang! Tuhan tolong jangan ambil Abang hamba, Hamba tidak ingin kehilangan satu-satunya pelindung Hamba. batin Fina berteriak histeris mendengar kabar yang baru saja ia dengar.


Bruk..


Bukan Kak Khalisa yang pingsan karena shock, melainkan Fina yang tak sadarkan diri karena terlalu kaget mendengar kabar tersebut.

__ADS_1


"Fin, bangun! jangan seperti ini, please." ucap Kak Khalisa menepuk pipi Fina.


"BUDEEE! PAKDEE! AGUS CEPAT TURUN" teriak Kak Khalisa yang pastinya menggemma di seluruh ruangan tak terkecuali yang membuat seisi rumah panik menuju ke asal suara.


"Ada apa Lis?" tanya Bude.


"Fina, pingsan, Bude. Gus tolong angkat Fina menuju kamarnya Aku mau ke RS Surabaya dulu ya, titip Aif Bude, Pade."


"Ada apa toh Nduk, coba tenang, Istigfar dan ceritain pelan-pelan." titah Bude.


"Mas Adi kecelakaan dan berada di RS Surabaya aku harus kesana."


"Yasudah diantar Agus saja iya Nduk, kamu tidak baik menyetir sendiri dalam keadaan terguncang seperti ini." ucap Bude.


"Iya, Bude. Titip, Fina, Nggih. Kalau Fina mau kesana tolong minta Atha mengantarnya." pesan Kak Khalisa dan melangkahkan kakinya menuju bagasi dimana mobilnya berada disana.


Sementara di dalam..


"Gus, tolong kamu antarkan Kak Khalisa ke Surabaya ya, dan apa kamu sudah menghubungi Nak Atha?" tanya Bude.


"Sudah, Bun. Aku berangkat ya, tolong jaga Fina, emosinya belum stabil pasti dia sangat terguncang." pesan Agus.


"Iya, Nak. Fi Amanillah." ucap Bude dan Pakde.


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


__ADS_2