
" Ustadz ... Ustadz Mulkan! " teriak ku kepadanya agar mereka berhenti.
Dan Ustadz Mulkan pun berhenti,
" Kenapa Zahra? "
Aku pun menyerahkan kantong plastik besar berisi keripik yang banyak.
" Huuh... Huuhhh... Huuhhh. Ini Tadz, keripik buat Ustadz dan lainnya.! " Nafas ku habis karena mengejar mereka berlari. Aku pun sambil mencari oksigen alias bernafas. 😄
" Untuk ku apa untuk Ustadz Furqan? " tanya nya balik.
"Untuk Ustadz Mulkan dan ya untuk semuanya di sana" ku tegaskan.
Ternyata hubungan aku dengan Furqan seolah-olah jadi pembicaraan hangat di Asrama Santri. Apa ada hal yang disembunyikan dariku.
" Terimakasih ya. " Ustadz Mulkan langsung tersipu.
Aku pun kembali ke Asrama santriwati untuk menikmati keripik 1 bungkusnya lagi bersama-sama 1 asrama.
💐💐💐
Ketika waktu makan siang, kami pun menuju ke arah dapur umum untuk makan.
Dan pada saat itulah aku berpapasan dengan Ustadz Furqan. Aku tersenyum dengan nya. Jelas sekali berpapasan dengan nya. Tapi dia acuh dengan ku, seolah aku tidak terlihat di matanya.
Aku sampai kebingungan dan mematung. Dan dia berlalu begitu saja.
"Dasar, Furqan!. Jadi begitu ternyata sikapnya. Padahal dia sendiri yang tidak sadar diri kesalahannya apa. " Batin ku kesal dan marah.
Aku pun menghentakkan kaki, dan pergi makan.
Aku menjadi tidak nafsu makan dibuatnya, karena memikirkan Furqan.
Sampai pada saat aku setor hafalan kepada ustadzah pun sempat kacau. Sampai berapa kali ulang.
Aku pun menangis sejadi-jadinya. Aku minta izin istirahat, dan pergi ke pojok belakang asrama. Dan menangis sepuasnya.
Ustadzah pun datang menghampiriku.
" Kami kenapa Za? Ada masalah?" Ustadzah pun duduk disamping ku.
" Begini Za, memang ujian nya berat jika mau menghafal itu. Apalagi jika masalah cinta. Makanya jangan bermain api, kau sendiri yang akan terbakar! " ucap Ustadzah seolah tahu masalah ku.
Aku pun langsung mengusap air mata ku.
" Siapa yang bermasalah cinta. Saya rindu rumah Ustadzah .... " Aku pun menangis lagi.
Dipeluk nya tubuh ku, aku pun mendekap Ustadzah. Sebenarnya Ustadzah pun tahu kebohongan ku.
Setelah selesai menangis, aku pun merasa lega. Lalu aku bangkit dari duduk dibangku pojok dan mau mengambil handuk untuk mandi.
Sayangnya tepat saat mau mengambil handuk di pintu lemari.
BRAAAKKKKK
__ADS_1
Semua santriwati histeris.
" Zahraaa .... "
Zahra pingsan.
💐💐💐
Karena aku kemaren pingsan aku pun istirahat dari segala kegiatan, dan dapat izin 2 hari.
Padahal aku sudah sehat. Sayangnya Abuya ingin Aku benar-benar istirahat saja. Aku bosan di asrama. Akhirnya aku pun duduk di kantin menemani Ukhti Anis menjaga wartel dan kantin.
" Assalamualaikum. " Ustadz Mulkan masuk ke kantin dan menyapa kami.
" Oh ada Zahra ya, gimana kabarmu? " tanyanya kepadaku.
" Baik Tadz, Alhamdulillah. " Aku beranjak keluar dan duduk di kursi depan pintu. Aku ingin menghirup udara pagi.
" Mana yang lainnya, 4 kawan mu? " dia bertanya dan sambil duduk disamping ku.
" Ada, mereka di rumah Abuya. Belajar baca Kitab sama Abuya. Kenapa Tadz? Ustadz sendiri ga ngajar anak-anak? " tanya ku balik.
" Engga, jadwal ku kosong hari ini. " Dia duduk bersandar ke dinding.
" Za, kamu kenapa suka Ustadz Furqan? Dia itu playboy. Mending sama aku. " di sentuh nya tangan ku yang semula memegang bangku.
Aku pun terkejut dan menarik tangan ku.
" Kamu itu dijadikan taruhan oleh Ustadz Furqan sama yang lainnya. Katanya siapa yang bisa memiliki mu, " terang Ustadz Mulkan.
" Kalo kamu suka, Aku bakal menikahi mu! " Ustadz Mulkan langsung memegang tangan ku dan menatap ku.
Aku pun menarik tangan ku dengan lembut, aku takut terlampau kasar.
" Yee Ustadz Mulkan, saya aja baru 16 tahun. Masih panjang perjalanan.! Mau sekolah dulu, " ucap ku pelan.
Lalu dia pun berdiri.
" Padahal aku lebih baik dari Furqan Za! " Ucapnya penuh kekecewaan.
" Apa sih yang kamu suka pada Furqan Za?" tanya nya balik.
" Hehe, tadz ... Ustadz Furqan ada di Asrama ya? " aku sengaja tidak menjawab pertanyaanya.
" Dia pulang sore kemaren, " terang Ustadz Mulkan.
" Ooh, memang ada razia ya? " sengaja ku korek-korek informasi karena aku ingin kebenaran.
" Iya, kenapa? " Ustadz Mulkan bertanya balik dan penasaran.
" Engga, Ga pa-pa. Untung asrama putri ga ya! " ucap ku mengalihkan pembicaraan.
" Ya sudah, nih aku kasih nomor telpon ku. Siapa tahu kamu mau menghubungiku. Aku balik ke Asrama. Assalamualaikum. " Dia pun berlalu tanpa menunggu jawaban salam dari ku.
Aku pun hanya tersenyum , itu orang jadi suka sama aku sampai ngajak nikah apa karena keripik kemaren. Waduh, sulit sekali ternyata. Kadang sikap baik kita di salah artikan. Dia kira aku punya perasaan terhadapnya, atau dia memang lagi ngebet nikah.
__ADS_1
Ada-ada saja.
Ternyata benar ada razia. Harris tidak bohong kepadaku. Artinya Ustadz Furqan memang marah kepada ku. Apa perlu aku jelaskan kepadanya, apa aku perlu cerita kalau Mba Lili melabrak ku karena nya. Atau aaaaakhhhh apalah.
Apa aku harus menelponnya. Sepertinya aku harus menelponnya.
Aku pun dengan segera mengambil secarik kertas yang dia berikan dulu kepadaku di lemari.
Aku kembali ke kantin dan masuk ke ruang wartel.
Tuuutt ... Tuutt ... Tuutt
Ku tekan angka no telpon Ustadz Furqan. Terdengar suara menyambungkan. Dan ...
" Halo ... Dengan siapa? " Tanya seseorang disana. Aku tidak mengenali suaranya.
" Emmm ini temannya Furqan, Furqan ada Pak? " tanya ku kepadanya.
" Tunggu ya ... " Ada suara ribut kecil.
" Halo, ini Furqan. Dengan siapa? " suara lembutnya menyapa ku.
Candu sekali mendengar suaranya.
" Emm ... Ini Zahra tadz, " ucap ku ragu-ragu. Aku takuy dia marah.
" Kamu Zahra, kenapa? " tanya nya datar kepada ku.
Uhhh ternyata dia benar marah.
" Emm Ga pa-pa, kapan Ustadz Balik? " tanya ku pelan.
" Ga tahu, masih banyak kerjaan di rumah dan kuliah ku. " suara nya masih datar, biasanya dia menanyakan kabar ku dengan ciri khas tertawanya dan sedikit merayu.
" Ooh gitu, ... " kata ku ragu.
" Ya sudah kalau gitu, _" rupanya dia mau memutus telpon ku. Aku pun bergegas mengatakannya.
" Aku kangen Ustadz, kapan balik" ucap ku malu.
Diam sesaat, tidak ada jawaban.
" Halo, ... Tadz. " aku mencari respon Ustadz Furqan. Karena telponnya masih tersambung.
" Aku juga kangen, besok aku balik. Kamu mau oleh-oleh apa? " Pelan dan lirih dia mengatakannya. Seolah dia buang ke egoisannya dan rasa marahnya kepada ku.
Akhirnya pria ini luluh juga, aku pun lega.
" Terserah saja, asal Ustadz balik. " malu-malu aku menjawabnya.
Dia pun disana tertawa kecil setelah mendengar pengakuan rindu ku kepada nya. Seolah terlupa akan masalah yang tidak kami ungkapkan dan tidak ada penjelasan. Memang misterius cinta kami ini...
Terasa ingin selalu mendengar suaranya yang membuat jadi candu ku. Aku benar-benar rindu.
" Besok jam 3 siang kita bertemu di kantin ya. Ya sudah. Aku tutup telponnya. " Janjinya kepadaku.
__ADS_1
Aku pun menutup telponnya.