
"Zahra... Zahraaaa.. " teriak ukhti anis mencari ku.
"Kenapa ukhti? " tanya ku bingung melihat ukhti anis berteriak-teriak mencari ku di asrama.
"Sini za, ini kamu dapat buku dari ustadz furqan. Katanya didalam bukunya ada surat untukmu. Ustadz furqan mau kamu membalas surat. " ucap ukhti anis dengan senyum-senyum.
Aku pun terbengong-bengong melihat reaksi ukhti anis yang heboh, dan aku pun tidak menyangka ini terjadi.
"Jadi ini apa maksudnya? " tanya ku ulang.
"Ustadz furqan suka sama kamu, dia nembak kamu! Itu intinya. Jika kamu mau membalas suratnya bilang padaku ya. Nanti aku yang akan sampaikan" kata ukhti anis menerangkan lebih ringkas kepada ku.
Wajahku pun langsung memerah, tersipu malu. Ku peluk buku ustadz yang ku terima. Lalu aku berlari ke pojok belakang asrama. Dibawah pohon jambu, duduk dibangku rotan aku pun membuka buku nya. Terselip tulisan di belakang sampulnya.
{Untuk : Nabela Zahra.
Setiap Ruang dan Waktu Membuat Kenangan.
Dari : Muhammad Furqan }.
Terselip amplop surat berwarna pink ditengah buku. Ku buka perlahan. Semerbak bau wangi, ku cium suratnya. Ternyata wangi itu bersumber dari kertas itu. Ku buku perlahan.
*Assalamualaikum wr wb*
Kepada : Nabela Zhara
Dari : Muhammad Furqan.
Ku tutup kembali surat itu, jantung ku berdetak keras saat membaca. Oh astaga!!! Baru kali ini aku mendapatkan surat pernyataan cinta. Aku bingung menjawabnya, aku saja baru mengenalnya. Apalagi dia ustadz. Terkenang senyumnya lagi kepada ku
Aku malu ! Hati ku berdebar ketika mengingat senyumnya...
...****************...
Malam hari.
Aku pun tidak dapar tertidur, ku pandangi terus surat dari dia. Ku baca berulang-ulang. Kira-kira apa ya yang harus aku tulis membalas suratnya ini.
Aku pun bimbang, tapi terbersit dihati ku. Masa sih baru sebentar berkenalan sudah langsung menyatakan hati. Apa itu hanya perasaan sesaatnya saja.
Pagi hari minggu.
Hari libur dan bertepatan dengan hari pahing. Maka akan ada pasar. Aku ajak diajak oleh ukhti anis ke pasar buat membeli keperluan dapur. Dengan senang hati aku pun ikut. Kapan lagi aku akan keluar dari pondok melihat-lihat keadaan kota ini.
Kami memakai sepeda, aku dibonceng oleh ukhti anis. Aku sangat menikmati perjalanan.
"Gimana jawaban kamu za? " ucap ukhti anis sambil mengayuh sepeda.
"Oh surat ya, masih berfikir. " kata ku.
__ADS_1
"Nanti kabari ya, biar aku mengatur pertemuan kalian. " ucap ukhti anis.
"Iya ukhti. " kata ku pelan.
"Kamu mau ga kadang-kadang bantu aku jaga kantin." ukhti anis menawarkannya kepada ku.
Ku fikir, asyik juga menjaga kantin. Hitung-hitung sambil membuang waktu yang menjenuhkan ketika tidak ada kegiatan.
"Boleh." Jawab ku singkat.
"Oke. Nanti aku ajarin, besok gimana.? " tawarnya lagi.
"Siiiip ukhti. " jawab ku dengan nada.
Sekitar 6 menit kami pun sampai di pasar. Kami berkeliling mencari sayur, wortel, tempe. Semuanya murah-murah. Aku hanya terbelalak kagum. Mungkin hanya bermodalkan 5000 saja fikirku.
Ku lihat ada toko atk. Aku izin kepada ukhti anis mau kesana. Aku pun melihat-lihat apa saja yang dijualnya. Terlihat ada kertas binder penuh warna warni. Dan ada juga kertas surat sudah lengkap dengan amplopnya. Bertuliskan surat yang wangi. Aku izin dengan pemilik toko untuk melihatnya dan memegang surtanya. Ketika ku buka, semerbak bau wangi tercium.
"Mmmmm wanginya... " Aku pun langsung jatuh hati kepada surat yang ku pegang. Ini adalah kertas yang tepat untuk membalas surat ustadz furqan.
Aku pun dengan riang pulang ke asrama. Langsung aku pun membalas surat dari ustadz furqan.
*Assalamuaikum. Wr wb.
*Kepada : Ustad Furqan
Terimakasih atas bukunya beserta ungkapan hati yang tulus.
Saya sangat tersanjung saat menerima surat dari ustadz.
Tentang perasaan yang ustadz rasakan, saya tidak dapat menerima nya dan tidak dapat pula saya menolak nya.
Alangkah baiknya kita jalani hari-hari ini dengan indah dengan hati yang bertaut dengan saling mengenal satu sama lain*.
Dari : Nabela Zahra*
Tulis ku di kertas yang wangi semerbak. Ku lipat dengan hati-hati dan ku masukkan ke amplop yang berwarna dan berukir bunga.
Ku hampiri ukhti anis. Ku serahkan surat itu kepada nya. Dia tersenyum dan langsung ke luar asrama. Satu setengah jam ukhti anis pun datang dan menghampiri ku.
"Za, kamu di tunggu ustadz tuh di kantin. " katanya sambil senyum-senyum.
Akupun terkaget-kaget. Aku malu bertemu, jantung ku semakin kuat berdetak. Ku benarkan kerudung ku, aku berkaca memandang wajah ku. Apakah sudah pantas untuk bertemu.
Ukhti anis meng aba-abai agar tidak ada yang menggangu ku dikantin.
"Za kamu tenang saja. Yang lain bakal tidak ada yang tahu. Aku akan menjaga nya. " ucap ukhti anis.
Aku senyum dan memasuki kantin, tapi lewat pintu belakang dan di tempat penjaga kasir.
__ADS_1
Ku lihat sudah ada ustadz furqan menunggu. Jantung ku pun semakin berdetak keras. Kami pun bertemu yang ke tiga kalinya. Dia tersenyum kepada ku.
"Za, artinya mulai saat ini kan kita. " ucap ustadz furqan tanpa melanjutkan kata-katanya yang kata kelanjutannya kita sudah memahaminya masih-masing.
Aku pun mengangguk pelan. Akhirnya dia pun duduk di bangku depan kasir. Sedangkan aku duduk dikursi kasir. Saling berhadapan.
"Kamu suka mangga za?. " tanya ustadz memecah keheningan.
"Mmm suka, tadz. " ucap ku pelan. Aku pun masih tertunduk malu. Aku malu menatapnya.
"Zahra... " dia panggil namaku. Dan aku pun otomatis mengangkat kepala ku.
Dan kami pun bertatapan. Saat itulah sangat jelas sekali wajah nya yang tampan ku pandangi. Matanya, hidungnya, bibirnya. Belum pernah ku rasa sedekat ini dengan seorang laki-laki.
"Kamu cantik zahra. " ucap ustadz furqan. Aku pun tersipu malu. Dan ternyata jari ustadz menyentuh jari ku secara tidak sengaja. Aku pun langsung menarik kembali tangan ku.
"Mmm maaf za. " kata ustadz kepada ku.
"Ga pa2. Ustadz suka warna apa.? " tanya ku mencoba mencaikan suasana agar tidak terlalu kaku dan juga mencoba mengusir kegugupan ku.
"Biru." ucapnya singkat.
"Nanti ketika aku pulang ke rumah aku bawakan kamu mangga, kamu mau apalagi?." Tawarnya lagi.
"Sudah tadz. Tapi terserah ustadz aja. " ucap ku lagi.
"Oiya. Ini no telpon rumah ku. Saat aku pulang, kamu bisa menelpon ku. " ucapnya kepada ku.
Akupun menerima lembar kertas yang bertuliskan nomor telpon rumahnya.
Karena terasa sudah lama, dan kami pun takut jikalau ini sampai diketahui yang lain. Akhirnya ustadz furqan pun pamit pulang. Tajam sekali dia memandangi ku. Seolah ada rasa rindu yang ingin dilepasnya.
Tapi kami tersenyum dengan penuh ceria. Karena ada dua insan telah mengakui dan bertemu karena Cinta.
Ketika di pintu masuk kantin dia berpapasan dengan ustadz furqan ada laki-laki masuk ke kantin. Mereka saling menyapa.
"Aku beli buku dan polpen dong. " ucapnya kepada ku.
Ku ambilkan buku dan polpen nya dan ku serahkan.
"3000." ucap ku datar menyebutkan nota belanjaannya.
Tapi dia malah duduk dihadapan ku di meja kasir.
"Kamu zahra kan. " ucap nya dengan menatapku.
"Hah, iyaa. Kamu siapa?? " aku tak mengenal wajah nya
...****************...
__ADS_1