
" Ada acara apa ini kok rame banyak kado, " tanya beliau kepada kami.
" Hehe, iya Buya. Zahra Ulang Tahun. " Nuri sambil senyum-senyum menjelaskan.
" Ooh, Selamat ya Zahra semoga Sehat, Berkah diumurnya sekarang, dan tambah semangat untuk belajar dan menghafalnya ya, " Ucap Abuya dengan senyum khas beliau.
" Aah iya, Buya lupa. Tadi Buya bertemu Haji Idris. Dia suka kamu Zahra. Katanya mau melamar kamu jadi menantunya nanti, " Ucap beliau sambil tertawa.
" Terus Buya gimana? " tanya yang lain serempak seolah penasaran.
" Tapi Buya bilang, Zahra masih sekolah. Buya hanya dititipkan Zahra untuk 1 tahun disini untuk belajar, bukan menikahkan Zahra, nanti kalo sudah selesai. Urusannya sama Kiayi yang di Kalimantan," Ucap Abuya sambil senyum.
" Cieeee cieeee Zahra... " Mereka pun mengoda ku...
" Betul Abuya!. Kalian ini bisa saja, " Ucap ku sambil malu-malu.
" Ya sudah. Lanjut makannya ya, banyak-banyak makannya. " setelah memberikan pesan lalu Beliau pun pergi.
💐💐💐
Terasa ada yang melintas di kaki, seperti panjang dan dingin. Aku bangun dengan tiba-tiba tapi tidak berani menggerakkan kaki ku.
Ku buka selimut yang menutupi kaki ku.
Sekelebat terlihat hitam, panjang, dan berkilau melintasi kaki ku sebelahnya dan masuk ke dalam selimut.
Aku sudah takut. Ku bangun kan Aya.
" Aya. Cepat bangun ada sesuatu di dalam selimut kita. " Aya pun dengan cepat bangun dan lari kepojok Asrama.
" Linda, ayo bangun. Cepat-cepat. " Linda bangun dan beranjak dengan masih mengantuk.
" Kenapa Za? "
Setelah itu ku coba membuka selimut kembali, karena memang ada tiga tumpukan selimut. Dan selimut terakhir yang ku buka. Aku beteriak.
" ULAAAAAAARRRRR !!!!!!!!!!!!! "
Seketika aku langsung meloncat, dan menjauh melihat ular kobra berdiri yang sudah mengancang-ancang untuk mematuk. Asrama kami pun heboh. Ular nya tidak bisa keluar pintu.
" Ada Apa? " Ustadz Yaqin datang.
Di susul oleh para santri, dan ustadz lainnya.
" Ular. Ular! " Kami pun berteriak meminta bantuan.
" Cari tongkat. "
" Cari karung. "
"Ganjal pintunya, semua santriwati keluar. "
" Awas, ularnya di bawah lemari. "
" Yeee dapat. "
Lalu ustadz Yaqin keluar dengan membawa karung yang sudah terikat dalam genggamannya.
__ADS_1
Akhirnya meski selama satu jam mereka baru bisa dapat menangkap ular itu. Mereka masukkan ke karung dan melepasnya di tempat yang jauh.
Mengerikan, syukurnya kami di lindungi Oleh Allah Swt. Sehingga kami tidak digigit. Benar- benar subuh yang mengerikan.
💐💐💐
Pagi Hari,
Pak Pos datang.
Pak Rahmat nama beliau, saking langganannya tiap bulan. Kami pun akrab dengan beliau.
" Zahra ada wesel. Dan ada paket juga. " kata beliau sambil meminta tanda tangan ku.
" Makasih ya pak! " ucap ku.
" Loh pak, ini kan surat ku untuk di Kalimantan. Kenapa balik lagi? " Protes Nuri.
" Bukannya tujuannya disini. Sini aku lihat dulu." Diambil lagi surat yang diterima oleh Nuri.
Setelah beliau memperhatikan dengan teliti surag yang harus Nuri kirim malah kembali lagi.
" Hahahaha. " Pak Rahmat tertawa sekali.
" Kenapa Pak? " tanya kami kebingungan.
" Lihat, ini. Kau salah mengisi alamat. Tujuan: kau isi alamat disini. Dari: malah kau isi alamat di Kalimantan. Ya ga sampai ke kalimantan surat mu ini ! " jelas Pak Rahmat.
Dan kami pun semuanya tertawa, mentertawakan keteledoran Nuri yang salah meletakkan alamat penerima.
" Terimakasih. Pak.! "
Lagu pun mengalun merdu. Lagu dari Peterpan, Mungkin Nanti.
Aku pun sambil membuka paket dari ibu ku. Ternyata isinya adalah Indomie rasa soto banjar, dan indomie rasa soto banjar limau kuit. Iwak rabuk, itu adalah ikan gabus di jadikan halus dan dikasih bumbu. Dan tidak lupa ikan kering sepat. Ada secari kertas, bertuliskan. Tolong beri bungkusan ini ke ummi dan abuya.
Terimakasih ibu. Aku pun tersenyum bahagia mendapatkan jatah agar makan enak. Tidak ada lagi sedih jika tidak bisa makan, bukan tidak ada menu. Melainkan tidak cocok dilidah.
💐💐💐
Malam hari.
Sehabis sholat Isya kami pun berangkat ke dapur umum untuk makan. Dan tidak lupa ku bawa oleh-oleh untuk keluarga Abuya.
Sesampainya di dapur umum, terlihat banyak santri , ustadz berkumpul disana. Dan disana juga ada Ustadz Furqan. Aku pun sudah tersipu malu.
Kami pun memasuki dapur umum.
" Mau makan ya Zahra? " Tanya Ustad Furqan.
" Cieeeee ada yang nanya! " mereka kompak menggoda kami.
Tanpa menjawab, Aku pun bergegas pergi ke ruang tengah Abuya. Ku lihat ada Ummi sedang menonton televisi.
" Assalamualaikum Ummi! "
" Waalaikum salam. Kenapa Za? "
__ADS_1
" Ini Um, oleh-oleh dari ibu di Kalimantan. Tadi paket saya sampai. "
" Wah terimakasih Zahra! " Ucap beliau girang.
" Wah Mie apa ini? Soto banjar limau kuit, ada ikan kering juga. Nanti Ummi Coba. "
Dan Firdaus lewat.
" Ngapain Mi? " tanya nya dan langsung merapat.
" Wuih apa ini mi? Mie khas Kalimantan nih. Minta dong. " di comotnya satu mie.
" Dari Zahra lo ini Fir." Ummi sambil melirik ku dan tersenyum.
Seperti Ummi tahu bahwa anaknya suka sama aku. Sehingga sifat beliau agak berbeda.
" Besok Ummi mau bikin kue putri salju sama nastar. Bantuin Ummi ya, " Ucap beliau sambil memegang tangan ku.
" Siap Ummi . "
" Makasih ya Zahra, katanya kemaren malam kamu sama ular. " Firdaus mengingatkan ku kembali.
" Stop Fir, jangan ingat kan itu. Aku trauma. " Aku pun mundur dan menuju ruang makan kami.
Aku ingin lewat jalur sebelah, karena ingin mencuci tangan. Tiba-tiba aku kaget karena mau bertubrukan dengan Ustadz Furqan. Langsung ku putar badan ku untuk mengindari Bertubrukan dengan nya. Malah aku menabrak dinding beton.
" Aaaaaauuuuuuuu, " teriak ku sangat nyaring.
Semua orang pada keluar. Firdaus juga datang.
" Kamu ga pa-pa? " tanya Ustadz Furqan.
" Kenapa-Kenapa??? " tanya yang lainnya penasaran.
" Ga pa-pa. " Ku pegang dahi ku.
Ku lewati saja Firdaus dan memasuki ruang makan. Ia pun menyusul. Sedang Ustadz Furqan tidak berani masuk lebih ke dalam karena area rumah Abuya.
" Kamu baik-baik saja? " tanya Firdaus.
Teman-teman yang lain kebingungan.
Ku buka perlahan tangan yang menutupi jidat ku.
Dan ternyata Jidad ku sudah membiru dan membengkak seperti telur.
Aku pun menangis. Firdaus langsung ke dalam rumah nya, lalu datang membawakan kotak P3K dan kantong es. Laluia berikan ke Linda.
" Nih Linda, kamu obati Zahra! " ucapnya penuh khawatir, apalagi mendengar aku menangis.
Dengan perlahan Linda mengoles obat luka. Setelah itu dia menyuruhku meletakkan Kantong Es di jidat ku.
Dengan masih ter isak-isak. Aku pun melanjutkan mau makan malam.
" Ada-ada aja kamu Za, " Risa geleng-geleng kepala.
Sakit mungkin tidak seberapa, tapi malu nya itu. Apalagi dihadapan Ustadz Furqan sama Firdaus.
__ADS_1
💐💐💐