3 Cinta

3 Cinta
Bab. 7 Cinta pertama


__ADS_3

"Aku anak abuya, Firdaus. Kenalkan. " dia memandang ku.


"kamu punya hp? " tanya nya lagi


"Zahra. Ga punya hp, memangnya kenapa?. " jawab ku.


"Iya, aku tahu nama mu zahra, bahkan saat kamu datang pertama kali kesini. Baju mu warna ungu dengan jaket hitam, kan? " Matanya keatas seolah mengingat kenangan.


"Ya ga pa-pa kalo ga punya hp. " Dia pun bangkit dari kursi dan keluar begitu saja.


Aku yang tertinggal hanya kebingungan dan kagum dengan ingatan dia, rupanya dia memperhatikan ku sejak awal datang.


"Kenapa dengan muka mu yang bingung itu Za? " tanya Ukhti Anis dengan menggandeng bahu ku.


"Siapa tadi itu namanya, Firdaus. " mengingat namanya.


"Oooh anak Abuya ya. Dia anak ke dua, anak pertama itu Mas Hanif. Kenapa dia tadi dengan mu? " Ukhti Anis menjelaskan silsilah keluarga Abuya.


"Ooo, entahlah. Datang- datang langsung nanya nama. " Aku pun bangkit dari duduk ku mau kembali ke asrama.


"Mmm ... Terus, gimana tadi sama ustadz furqan? " sambil mengedipkan matanya.


"Ya gituuuu .... " Aku tersenyum malu dan pergi.


...****************...


Keesokan harinya ...


Ustadz Furqan pun datang, dan membawakan mangga. 1 asrama heboh karena ada yang mengetuk pintu asrama.


"Cari siapa? " salah satu santriwati menanyakan maksud kedatangan dia.


"Aku mau bertemu Zahra!, dia ada? " tanyanya balik dan masih membawa bungkusan plastik penuh dengan mangga.


Aku pun datang ke depan pintu asrama, dan memandang nya dengan malu.


"Ini oleh-oleh untuk mu. " sambil menyerahkan kantong plastik dengan penuh buah mangga.


"Wah banyak sekali Tadz, Terimakasih, " ucap ku dengan riang.

__ADS_1


"Mmmm ... Tunggu sebentar ya. " Aku masuk ke dalam asrama dengan membawa mangga. Lalu ku letakkan mangga di tengah ruang asrama.


"Kawan-kawan yang mau mangga ambil ya." Aku sudah mengambil 2 buah mangga dan ku letakkan di atas lemari ku.


Lalu ku ambil buku binder bersampulkan warna hijau. Dan aku pun keluar lagi menemui ustadz furqan.


"Karena kita belum terlalu kenal, ustadz bisa isikan biodata ustadz disini ya. " ku serahkan binder hijau itu kepadanya.


Dia ambil dan buka "Boleh ku isi apa aja selain biodata? " tanya nya kembali.


"Iya , terserah ustadz aja. Nanti saya baca. " malu-malu centil aku menjawabnya.


" Ya sudah, nanti kita bertemu lagi. " dia senyum dan pergi ke arah musholla.


Aku pun memandanginya, dengan sarung, baju kemeja biru dan peci hitamnya. Setengah jalan ternyata dia pun berbalik badan, seolah mencari ku lagi. Dan menatapku terus dia tersenyum manis.


Oohhhh Ustadz Furqan ku ...


Semakin membuat jantung ku berdetak keras.


Setelah dia jauh dari pandangan ku, aku pun masuk. Mau merasakan manisnya mangga kekasih ku. Anak-anak yang lain sudah pada asyik makan mangga.


Ku lewati sekumpulan kaka kelas yang masih berbalut baju SMA. Salah satunya menangis dan yang lain membujuknya. Ada apa gerangan ini.


Buah mangga pemberian Ustadz Furqan ternyata manis semanis dia, kami pun mengupas dan meletakkannya di piring plastik biru. Linda yang tidak tahu akhirnya tahu hubungan asmara ku dengan ustadz furqan. Dia pun histeris.


Tiba-tiba ...


Perkumpulan yang penuh drama tadi datang menghampiri aku dan linda. Mereka ber empat. 1 orang mengajak linda untuk menjauh dari ku. Dan 2 orangnya lagi menjaga pintu belakang agar tidak ada yang masuk ke area belakang asrama. Dan yang 1 nya langsung menghadapi aku yang sedang duduk dengan piring mangga manis ku.


"Kamu kenal aku!? " ucapnya garang yang masih menyisakan hidung yang memerah dan mata yang sembab sehabis menangis.


"Iya Mba Lili, " ucapku dengan kebingungan. Apa mereka ini pembulyan. Aku bakal bersiap nih menggeluarkan jurus, secara aku pernah berlatih silat, yaaa meskipun berhenti ditengah jalan. Setidak nya aku tahu 1 atau 2 jurus.


PRANKKKK


Di tangkisnya piring yang berada ditangan ku, sehingga jatuh ketanah. Sehingga manis-manisnya mangga ku pun berjatuhan. Aku mencoba bersabar.


"Lo mba, kamu kenapa? " kata ku berdiri dari duduk ku.

__ADS_1


"Kamu dekat dengan ustadz furqan?! Kamu harusnya tahu dia itu milik ku! " ucapnya sambil menunjuk-nunjukkan jarinya kebahu ku.


"Eiisssttt ... Tunggu, tunggu. Mba Lili ini siapa nya Ustadz furqan? " tanya ku balik. Aku pun jadi ikut penasaran, sampai aku dibeginikan.


"Aku pacarnya, dia sudah datang kerumah ku dan aku kenal kan ibu ku! Bahkan dia sudah menciumku," Ucapnya sambil menangis yang tak dapat dibendungnya.


Malang kali nasib dia. Fikirku ...


Aku pun langsung menenangkannya dengan mencoba membelai bahunya. Tapi dia menepis ku dengan kasar.


"Jelaskan saja, tidak perlu kamu sok baik dengan ku. kamu siapanya? Sampai dia tidak ada lagi menghubungi ku. " Dia semakin menangis


Aku menghela nafas panjang, baru juga datang kesini. Baru juga bahagia dapat ungkapan perasaan, drama apa lagi yang aku hadapi ini. Dasar Furqan Brengsek. Batin ku marah kepadanya. Otak ku berfikir keras. Bagaimana menjawabnya.


"Mmm begini Mba, aku kan baru disini. Tidak tahu apa-apa tentang hubungan mba. Bahkan nama-nama orang asrama saja belum terlalu hafal. " Ku coba menerangkan secara logika.


"Tiba-tiba aku dapat sepucuk surat pernyataan cinta. Aku minta maaf, karena aku tidak tahu. Dan Furqan pun tidak memberitahu ku bahwa dia punya kekasih. " Semakin ku jelaskan semakin terisak-isak dia menangisi nasibnya.


Bagaimana tidak, kekasihnya tidak peduli lagi. Tapi aku yang kena batunya. Haduuuhhhh pusing kepala ku.


"Mba tahu kan aku cuma program beasiswa 1 tahun disini. Lalu aku pulang ke Kalimantan. " dia mengangguk mendengar penjelasanku.


"Sepertinya dia hanya menjadikan aku permainan Mba, jika aku pulang ke Kalimantan. Mungkin dia akan mengemis cinta lagi dengan Mba! " ucap ku dengan pasti. Tapi sebenarnya dihatiku pun tidak pasti juga. Hanya karang-karang saja untuk menyelamatkan ku.


"Tapi asal Mba tahu, itulah karakter dia. Ini adalah saat penilaian dia untuk Mba sebelum mba menikah!, dan Aku, karena sudah mengetahui hal seperti ini. Aku rasa ... Aku akan ikut dalam Permainannya!!! " ucapku dengan tegas sambil senyum.


Dia pun berhenti menangis. Dan berusaha lega dan syukurnya pemikiran ku masuk dilogika dia. Aku pun bersyukur tidak babak belur. Jelas aku kalah 4 lawan 2.


Setelah itu, dia pergi tanpa sepatah kata. Linda pun memeluk ku.


"Kamu ga papa kan Za? " sambil meraba seluruh tubuh ku.


"Aku takut, " ucap linda sambil gemetaran.


"Yu ... Lanjut kita makan mangga. " aku pun mengambil piring yang jatuh dan mengupas 1 mangga yang tersisa.


"Zaaaaa .... " Linda seolah tidak percaya dengan sikap ku yang tenang dan kembali menikmati mangga manis tapi ternyata palsu. Ternyata aku dijadikan yang ke dua.


"Sayang lin ... Mumpung gratis lo ini mangganya. " Aku menyodorkan seiris mangga ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Lalu dia pun tersenyum dengan mulut penuh mangga. Dan kami kembali tertawa. Seolah tidak terjadi apa-apa.


Pelajaran hari ini, rupanya aku cukup kuat disaat keadaan terjepit. Otak ku pun ternyata encer juga mencari alasan. Meski bawaan ku tenang, batin ku pasti tetap menyumpahi furqan. Tapi aku tetap suka dia. ❤🥰


__ADS_2