3 Cinta

3 Cinta
Bab. 11 Pertemuan


__ADS_3

Aku tidak sabar menunggu jam 3 sore. Aku ingin bertemu dengan Ustadz Furqan dan memastikan tidak ada kemarahan di wajahnya, tidak ada lagi wajah acuh nya kepada ku. Seperti aku lihat terakhir kali. Itu benar sungguh menyakitkan.


Sebelum jam 3 aku sudah berada di kantin, dengan alasan membantu Ukhti Anis.


Tepat jam 3, Ustadz Furqan datang dengan sepeda motor. Dia memakai jaket hitam dan peci hitam.


Dia membuka jaket nya, dan masuk ke dalam kantin.


Aku pun langsung berdiri dan menatapnya. Dia tersenyum.



"Ah syukurlah, dia sudah tidak marah lagi kepada ku. " Batin ku.


" Za ... Ini buku binder mu sudah selesai. " dia menyerahkan buku binder ku. Dan dia duduk di bangku.


Aku pun menyusul dan mengambil buku binder ku, dan duduk dism sampingnya.


" Ustadz sehat? " aku bingung memulai pembicaraan.


" Sehat, kamu Zahra? " Tanya nya balik.


" Baik , Tadz. " Jawabku singkat.


" Ini oleh-oleh untuk mu. " dia berikan bungkusan berupa jajanan pasar untuk ku.


" Terimakasih. " ucap ku dengan senyuman.


" Aku kemaren sibuk kuliah dan mempersiapkan adik ku. Si Rafi bakal sekolah pondok SMP disini, " terang Ustad Furqan.


" Oh ya. Nanti kenalkan sama Zahra ya. "


Ia pun mengangguk. Dan sambil memegang tangan ku.


Aku tidak mengadukan tentang kelakuan Ustadz Mulkan yang menggoda ku dan menjelekkan dia. Takutnya ada perkelahian.


Ketika dia menggenggam tangan ku, ku lihat punggung tangannya terluka.


" Tangan nya kenapa jadi luka. " Aku hanya memancing, padahal juga tahu akibat karena apa.


" Oh ini ... Kapan ya. Ada kejadian waktu razia di asrama putra. Tergores sedikit saja. " Lalu dia melepas genggamannya.


Aku berdiri dan mengambil betadine dan salonpas.


Ku obati lukanya, ku tiup- tiup dan ku pasang penutup luka itu di lukanya.


" Semoga cepat sembuh. " Ku memandang mata nya.

__ADS_1


" Terimakasih, " ucapnya pelan.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat.


Ustadz Furqan langsung berdiri. Dan menjauh dari ku.


Aku hanya terdiam terduduk di bangku. Ternyata langkah berat itu adalah Abuya.


" Zahra, bagaimana kesehatan mu? Sudah mendingan kan, " tanya Abuya memperhatikan keadaan ku.


" Alhamdulillah sudah sehat Abuya. " Aku sambil senyum.


" Habis dari wartel ya Zahra? " Abuya masuk ke kantin.


" Inggih Abuya." Aku pun masih duduk.


" Ni, Anis. Bilang sama Ustadzah Maimunah nanti ke rumah Abuya. Tadi ada telpon orang tuanya kerumah Abuya. Bilang begitu ya. ! " perintah Abuya ke Ukhti Anis.


"Oiya Ustadz Furqan, Gimana kabar kuliahnya? " sapa Abuya ke Ustadz Furqan.


" Alhamdulillah baik Abuya, Doakan Abuya saya lagi pengajuan judul skripsi. " kata Ustadz Furqan.


" Mmm ... Ya ... Ya, bagua Furqan. Buya selalu doakan. Ya sudah, Zahra. Bilangin sama teman-temannya. Malam ini agak molor ke habis isya aja ya belajar kitab nya, " Terang Abuya kepada Ustadz Furqan dan aku.


" Inggih Abuya, " ucap ku dengan gugup.


Beliau senyum dan keluar kantin.


Setelah itu Ustadz Furqan pamit dengan ku, dan bertepatan Mba Lili masuk ke kantin. Mereka bertatapan dan berlalu. Seolah tak mengenal satu sama lain.


Apakah mereka putus dalam diam. Fikir ku, mata tajam Mba Lili mengawasiku. Aku pun cuek masuk dengan membawa oleh-oleh dari Ustad Furqan dan buku binder.


Aku tidak sabar untuk membuka dan membaca, apa saja sih yang iya tulis di buku binder ku.


...****************...


Sehabis isya kami pun berkumpul di aula rumah Abuya. Kami dengan khusyu belajar. 1 jam kami belajar.


Sehabis menutup kitab, beliau memberikan pesan kepada kami.


" Mempunyai perasaan cinta itu sebuah anugerah. Memang Allah memberikan nikmat tentang cinta. Tapi yaa kalian disini utamakan belajar, " terang beliau kepada kami.


Aya senggol-senggolan dengan Linda. Dan Nuri saling berpandangan dengan Risa. Sedangkan Aku hanya tertunduk.


" Posisi kalian masih pelajar. Yaa di lihat juga. Kalo cinta nya masih Anak SMP ya anak kecil, tidak bisa di anggap serius. Beda kalo yang sama Ustadz, ya tapi tetap utamakan belajar dulu. Kalian masih muda, perjalanan menggapai cita-cita masih panjang, Ya sudah. Kalian boleh pulang" Ucap beliau dengan senyuman.


Deg, jantung ku terasa di hantam oleh panah kata-kata Abuya.

__ADS_1


Dag, Dig, Dug ... Jangan-jangan Abuya tahu semuanya, apalagi beliau menyebut Ustadz. Apakah beliau tahu hubungan ku dengan Ustadz Furqan.


Ketika kami mau pamit keluar Aula, Abuya memanggil ku.


" Oiya Zahra, Abuya lupa. Kemaren ada yang nelpon ke rumah Abuya. Dia bilang namanya Ridwan anak toko kelontong di Pasar Pahing. Kamu kenal? " tanya Abuya.


" Ga kenal Abuya,! Salah orang kali Abuya" kata ku dengan kebingungan.


" Engga kok, dia dengan jelas menyebut nama Zahra. Jadi Abuya bilang kamu sakit, " kata Buya.


" Engga pernah kenalan saya dengan orang pasar sana Abuya, " Jelas ku kepada Abuya.


"Ohh ya sudah, mungkin salah orang. " Beliau senyum. Lalu beliau melanjutkan dengan membaca Al Qur'an.


Aku berjalan dengan kebingungan dibelakang teman-teman ku menuju dapur yang memang terhubung dari rumah Abuya ke dapur umum dan dapur tempat kami makan.


Lalu tiba-tiba , ada yang menarik tangan ku dengan cepat.


Dan aku pun tertarik dan masuk ke sebuah ruangan. Seperti gudang. Aku terperanjat.


" Aakh... " dan mulut ku langsung di tutup oleh tangan. Tangan laki-laki.


" Ssstttttt .... " Satu tangan nya menutup dan satu tangan dengan telunjuk dibibirnya menyuruhku untuk diam.


Setelah ku pandangi . Ternyata dia adalah Firdaus, anak Abuya. Adik Mas Hanif.


" Kamu kenapa? " Tanyaku dengan masih wajah yang terkejut.


" Ini aku pinjamkan hape untuk mu Za, Nomor ku sudah ku daftarkan, ini sudah aku isi pulsa. Kamu tinggal balas pesan ku, " Ucapnya sambil menyerahkan handphone merk Siemens di genggaman tangan ku.


Setelah itu aku pun keluar. Dan ku masukkan handphone itu ke dalam saku ku.


" Za, kamu kemana saja? " tanya Nuri yang mencari ku.


" Ooh tadi ke toilet Nur. " Ucap ku asal,


Setelah itu ku lihat Firdaus keluar dan bersandar di dinding dengan senyumannya. Dan sambil memberikan kode tangannya ke telinga bahwa aku harus mengangkat telpon dia atau sms nya.



Ada apa anak Abuya ini, apalagi dia memberikan fasilitas handphone kepada ku.


" Zahra, ayo balik ke Asrama. Linda berkelahi. "


Aku kaget mendengar Linda lagi berkelahi. Dengan siapa? Batin ku bertanya-tanya. Linda adalah orang yang tidak pernah menginginkan berkelahi, baru kali ini aku mendengar nya berkelahi sejak pertama kenal dia, aku dan Nuri bergegas berlari ke Asrama.


Belum sampai masuk ke dalam asrama. Terdengar suata perempuan saling memaki, aku pun dan nuri semakin bergegas masuk ke dalam asrama.

__ADS_1


Dan ternyata Linda sedang beradu mulut dengan Mba Lisda.


💐💐💐


__ADS_2