3 Cinta

3 Cinta
Bab. 9 Razia


__ADS_3

Ku coba merangkai kata untuk membalas surat Harris. Antara bingung, terima atau tidak. Aku pusing memikirkannya. Sepertinya memang aku harus menjawab seperti aku menjawab surat cinta ustadz furqan saja. Lagi pula ini aku tidak tahu permainan apa lagi yang akan ku hadapi.


Ku pilih lembar surat yang wangi, ku tulis isi suratnya.


**Kepada : Harris


Terimakasih atas ungkapan hatimu yang jujur.


Aku baru mengenal mu. Aku merasa kita harus saling mengenal satu sama lain.


Jadi,


Aku tidak bisa menerima atau pun menolak mu.


Mungkin maksud ku, jalani saja waktu yang akan kita lewati.


Biarlah waktu yang menjelaskan.


Dari : Zahra.


Setelah selesai ku tulis, sepertinya ini lah balasan ku. Jikalau ada rasa, biar waktu yang menjelaskan. Jika aku tolak, dia pasti akan hancur dan membuat tidak semangat belajar. Biar lah aku menjadi penyemangat belajar nya, hitung-hitung membantu apalagi dia imut.


💐💐💐


Besok siang nya ku titip surat itu dengan Mba Lili. Sengaja, biar Mba Lili mengetahui aku konsisten dengan ucapan ku untuk hanya ikut permainan Ustadz Furqan. Dan sejujurnya untuk mengamankan ku dari lingkup pertemanan di dalam asrama.


Jujur, ustadz furqan menempatkan ku di zona yang tidak nyaman. Bagaimana tidak, aku satu asrama dengan kekasihnya atau mantannya itu. Aku cukup salut, dia tidak pernah menyentuh ku untuk melampiaskan kemarahannya.


Biarlah image aku sebagai pemain ulung dalam hal cinta. Menduakan hati segalanya itu pun terdengar dari bisik-bisik dinding asrama. Padahal aku tidak tahu akan semua itu, itu hanya naluri dalam mempertahankan diri. Jikalau furqan benar-benar serius pasti aku ...


"Aahhh aku sebenarnya menyadari hati sudah terpincut dengan Ustadz Furqan, " Batinku tidak bisa membohongi, ada rasa cinta.


Setelah menerima surat dariku, Mba Lili pun tersenyum. Dia tidak mengatakan apapun dan raut wajahnya langsung sumringah, dan berlari keluar asrama. Ternyata cinta memang begitu gila.


💐💐💐


Besok harinya, Harris lewat depan Asrama santriwati dengan membawa gerobak sampah. Aku sudah duduk di depan Asrama dengan teman-teman yang lain. Membaur seperti biasanya sambil menikmati jajan cilok.


Dia melambat dan berhenti dan memanggil ku.


"Za ... Za ! " Dia mengucapkannya dengan pelan. Tapi semua teman-teman memandangnya. Lalu dia salah tingkah. Dan pergi dengan gerobaknya.


"Ada apa pula anak itu, tingkahnya lucu, " batin ku, aku memandanginya sambil berpangku tangan ke dagu.


Karena hari ini Pahing, jadwal ke pasar. Aku pun izin kepada Abuya dengan Linda untuk ke pasar dan meminjam sepeda Abuya.

__ADS_1


Ketika di depan rumah Abuya dan sudah mendapat izin, tinggal meminjam sepeda Abuya saja yang belum. Linda meminjam kunci nya ke dalam rumah Abuya. Karena lama, akupun duduk di teras sendirian.


"Lagi ngapain kamu Za. " Suara laki-laki mengangetkan ku. Saat ku tengok ke belakang, ternyata dia Firdaus. Anak Abuya yang ke dua.


"Menunggu Linda, dia mencari kunci sepeda. " Sambil ku arahkan lagi pandangan mataku ke depan.


"Kamu mau kemana? " Tanya nya lagi.


"Ke Pasar, memangnya kenapa? Nitip? " tanya ku lagi.


"Engga, hati-hati dijalan. " Dia tersenyum dan bertepatan Linda pun datang.


"Kunci sudah dapat Za! " sambil menenteng kunci penuh girang. Aku pun berdiri dan memperhatikan Linda penuh riang mencoba menaiki sepeda. Aku pun langsung duduk menyamping, dan ternyata Firdaus masih memandangi kami. Aku memandang dia, dan tersenyum. Dan dia pun tersenyum.


Linda pun mengayuh dengan cepat, sangat mengasyikkan pergi menyusuri jalan dengan pemandangan penuh pohon yang rindang. Kami pun sangat bahagia saat bisa pergi ke Pasar.


"Kamu mau beli apa Za. " Masih dengan mengayuh sepeda yang kadang-kadang dia hentikan pedalnya.


"Ga tahu, liat apa yang ada di Pasar. Kamu tadi ngapain sih lama banget nyari kunci, " Ucapku sedikit cemberut.


"Hehe, emmm aku di tadi jadi lama karena ketemu Mas Hanif, " terang Linda penuh dengan bunga-bunga dihatinya.


"Oowalah, pantas saja. Aku di luar malah kepanasan, " Aku menggerutu.


Dan Linda pun hanya tertawa melihat kejengkelanku.


"Ngapain kamu disini? " Tanya ku, karena aku terkejut ketika bertemu nya.


"Aku sengaja izin ke pasar juga, ketika melihat mu pergi. " Harris berdiri dihadapan ku.


"Terus .... " Aku pun berdiri juga mematung menunggu nya menjawab ku, apa maksud dia mencegat dan menemui ku.



"Aku hanya perlu berbicara dengan mu, aku mau minta maaf dengan mu! " Harris seolah menyesali sekali.


"Hey, Harris ... Maksud kamu apa sih? Aku tidak mengerti. " aku pun kebingungan dengan sikapnya.


"Malam tadi , ada razia di asrama. Yang merazia lemari ku adalah Ustadz Furqan. Dia mendapatkan dan mengambil balasan surat mu, " Ucap Harris dengan panik.


"Makanya aku tadi dihukum membersihkan sampah seluruh Asrama, dan yaa seperti itulah, " terang harris dengan ku.


"Gila kamu Ris, bagaimana aku bertemu Furqan, " Aku kesal, mau marah tapi percuma juga.


"Harusnya surat itu kau simpan dengan baik, atau bakar saja. Kau sudah tahu kan, aku ada hubungan dengan Furqan, lalu bagaimana sikapnya dengan mu?, kamu tidak apa-apa kan," tanya ku kepada nya sambil melihat badannya, takut ada perkelahian.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, dia jelas marah dengan ku. Dia sempat meninju lemari ku."


Aku yang mendengar nya langsung menghela nafas panjang. Kejadian apa lagi yang akan ku lewati.


"Ya sudah, kalo memang dia sudah tahu." Aku tidak dapat berbuat apa lagi, jadi mencoba menenangkan diri saja.


" Aku tadi membuat gelang 1 pasang untuk kita, tanda hubungan kita. " Dia menyerahkan gelang bertuliskan nama H❤Z.


Ku terima gelang itu.


"Terimakasih. "


"Kalo begitu ayo kita pulang, " Ajak ku kepada nya.


"Kamu duluan, bisa kacau kalau ketahuan kita ber iringan, " ucapnya kepadaku.


Akhirnya aku pun duluan pulang, ketika dijalan aku menemukan tukang keripik singkong. Aku mengajak Linda untuk berhenti.


"Mas, beli keripik nya 5000 ya! "


Mas penjual itu kaget, dan terlihat mencari-cari plastik.


"Mba yakin beli 5 ribu? " dengan masih sibuk mencari plastik.


"Iya, memangnya kenapa? " tanya ku balik.


"Ga pa-pa kalo plastik hitam besar begini? " sambil memperlihatkan kantong plastik besar berwarna hitam.


Aku pun mengangguk karena cuaca sudah sangat panas. Maa tukang keripik itu pun membungkusnya, dan menyerahkan 2 kantong plastik besar kepada ku.


" Mas, saya cuman beli 5 ribu rupiah, 2 kantong besar ini punya saya? " ucap ku tak percaya.


" Iya mba, itu 5 ribu rupiah. " dia tersenyum.


" Waaahh ... Ini kebanyakan mas. " kataku sambil mengangkat 2 kantong plastik hitam besar.


" Iya mba, memang segitu," ucapnya sambil mentertawakan ku yang sedang kebingungan.


Aku pun dibonceng Linda dan sambil masih kebingungan siapa yang akan menghabiskan keripik ini.


Akhirnya kami pun sampai, aku turun di depan gerbang mengarah ke Asrama. Sedangkan Linda mengembalikan Sepeda Abuya ke rumah beliau.


Seketika aku melihay Ustadz Mulkan bersama salah satu santri. Aku pun memanggilnya.


" Ustadz ... Ustadz Mulkan! Tunggu! "

__ADS_1


💐💐💐


__ADS_2