
" Kamu tu dasar pelakor, dia itu punya ku. " ucap Mba Lisda sambil menunjuk-nunjuk Linda.
" Kamu itu sudah diputusin nya, ngapain kamu ngaku-ngaku! " Linda pun membalas.
"Dasar kecentilan, ganjen!! " Ejek Mba Lisda kepada Linda.
Linda menjulurkan lidahnya, dan itu pula yang membuat Mba Lisda terpicu ingin menarik baju Linda, dan mau bergulat di tengah-tengah asrama.
Untungnya teman-temannya yang lain pada sigap masing-masing di lerai. Aku pun masuk dengan tenang melewati mereka dan meletakkan sajadah, melepas mukena.
Nuri tetap terpaku di depan pintu.
" Ya teruskan berkelahinya. Kalo perlu di lapangan!" kata ku dengan santai sambil menopang kedua belah tangan ku dan berdiri ditengah mereka.
" Apa perlu aku jadi wasitnya hah?, lucu sekali kalian berdua. Berkelahi karena 1 cowok. Dia enak-enak an nonton tv tuh di rumahnya. Kalian babak belur memperebutkannya. Murahan, " ucap ku sinis.
Mereka masih saja mau memukul-mukul.
"Biar, biar. Lepas aja. Biarin berantem sampai babak belur. Biar malu kalian berdua 1 pondok bakal tahu masalah kalian dan betapa bodohnya kalian. "
Lalu teman-teman yang lainnya perlahan melepas mereka. Yang terjadi, bukannya berkelahi adu fisik tapi mereka terduduk tanpa berkata-kata, lalu menangis.
" Ah ga asyik, ga jadi berantem! " celetuk salah seorang santriwati. Entah suara siapa, karena memang banyak yang bergerombol menyaksikan mereka berdua.
" Ada apa ini?! " Para ustadzah datang,
" Ga pa-pa Ustadzah, cuma salah faham. Sudah di selesaikan, " Ucap Nuri dengan cepat.
Jikalau masalah ini sampai naik ke mahkamah pondok bakal lebih rumit lagi penyelesaiannya.
" Ayo bersiap tidur, jangan berisik. Nanti mengganggu asrama yang lain! " ucap salah satu ustadzah, setelah memperhatikan keadaan lalu mereka pergi.
Linda dan Mba Lisda pun berdiri, dan saling menjauh.
Aku menghampiri Linda, " kamu tidak apa-apa? "
Linda mengangguk. Lalu dia pergi ke kamar mandi. Ku lirik Mba Lisda kembali ke depan lemarinya dan duduk bersandar. Ia ditengah-tengah para temannya yang sedang menenangkannya.
Aku pun pergi ke toilet. Dan membuka handphone yang diberi oleh Firdaus. Satu pesan telah ku terima, ternyata handphone ini sudah disetting menjadi silent.
Aku yang tidak pernah memegang dan mengutak-atik handphone agak kebingungan. Hanya bermodalkan arahan yang tertulis di layar kecil handphone itu.
Ku klik tombol OK untuk Buka Pesan,
______________________________
Dari : Firdaus
Ada kributan pa?
__ADS_1
Smpat trdngr di rumh q?
Qm tdk apa2?
Kembali Balas
_______________________________
Tertulis isi pesan dilayar itu. Lalu aku pun membalasnya bahwa tidak terjadi apa-apa. Dan menanyakan kenapa dia memberiku sebuah handphone ini.
Ternyata dia mengatakan bahwa Ia menyukai ku, dan yang paling aman dari surat adalah dengan memberiku handphone ini untuk saling bertukar kabar.
Ia juga mengirim pesan, agar bertemu saat selesai makan malam besok untuk memberikan baterai cadangan handphone ini. Karena jelas aku tidak akan bisa mencharger handphone ini di asrama.
Tapi aku akan diberi keuntungan dengan handphone ini. Yang jelas aku bisa menelpon ibu ku.
...****************...
Sore hari,
Kami ber lima ingin mengubah suasana. Dengan membawa kitab kami berjalan menyusuri jalan menuju danau.
Danau nya sangat indah, banyak bunga teratai yang menghiasi. Hampir menutup seluruh danau, dan di setiap pinggir pantai terdapat pohon-pohon rindang dengan daun yang menguning. Kadang ketika diterpa angin, daun-daun akan berterbangan. Seperti pemandangan di luar negeri, musim gugur.
Aku pun duduk di bawah pohon dengan menikmati pemandangan. Kadang terlihat ikan yang sesekali muncul kepermukaan air. Aku pun asyik membaca buku binder yang di tulis oleh Ustadz Furqan.
Dia benar-benar mengisi setengah buku dengan tulisan yang indah. Dia isi dengan kata mutiara dan kata-kata puitis.
Saking asyiknya membaca aku tidak menyadari ada seseorang yang datang menghampiri ku.
"Kamu lagi baca apa?. "
Mendengar suara laki-laki. Langsung terkejut dan menutup buku.
" Astaga, " pekik ku. Ku tengok disamping pohon ternyaya Firdaus sudah berdiri. Aku pun mengelus dada untuk menenangkan jantung ku yang berdetak cepat akibat terkejut.
" Kenapa tidak balas SMS ku? " Firdaus duduk ditanah disamping ku.
"Ga bawa hp nya. " jawabku singkat padat.
" Harus nya kamu selalu bawa, kan kamu ga tahu jika ada razia. " Firdaus sambil melempar batu ke dalam danau.
" Iya nanti dibawa terus. "
__ADS_1
" Ya sudah, aku mau balik, " ucap Firdaus sambil berdiri dan berjalan arah pulang.
Setelah puas duduk. Aku dan Linda berjalan mengelilingi danau. Sambil membicarakan kejadian kemaren.
" Siapa yang mulai perkelahian kemaren? " tanya ku kepada Linda.
" Si Mba Lis itu, dia tahu aku ada hubungan saat Mas Hanif memberi boneka dan coklat kepada ku saat di kantin. "
"Emmm ... Ternyata kita senasib ya! " kata ku kepadanya.
" Untung aku tidak babak belur, " ucapnya sambil tertawa lagi.
" Yah apapun yang terjadi, kita selalu untung, " akupun menambahkan.
Dan kami pun berpandangan dan tertawa bersama.
" Za , besok kita ke pasar pahing yu? " Ajak Linda kepada ku.
" Mau beli apa ke pasar? " tanya ku kepada Linda.
" Yaa, jalan-jalan aja. Cuman berdua aja kita. Refreshing otak lah. " Linda sambil membentangkan ke dua tangannya dan menghirup udara.
" Oke lah. Tapi kamu yang pinjam sepeda sama izin dengan Abuya ya, " ucap ku kepada nya.
" Siip lah. " Linda mengancungkan jempol nya tanda setuju.
...****************...
Keesokan hari nya kami pun bersepeda ke pasar pahing.
Hanya berkeliling saja, tidak ada yang dibeli. Kami pun mampir ke orang yang jualan sate.
Kaget dong, yang jualan kumisnya tebal melintang dan dia berbaju hitam bergaris.
" Sate ... Sate ... Sate Mba,? " ucapnya dengan nada khas madura.
" Iya pak 2 porsi dibungkus pak. "
Wuih enak nih, asli Sate Madura. Batin ku dan sudah meneguk saliva.
" Orang mana kalian berdua ini? " tanya seseorang yang memakai gamis dan peci.
" Kalimantan Pak. " Sambil tersenyum.
" Oh, ngapain di Jawa? " tanya beliau lagi.
" Mondok Pak di An Najah* ! "
" Itu pondok teman aku, Abuya Hadi kan. " sambil tertawa.
" Program yang 1 tahun itu ya, nama kalian siapa? " tanya beliau lagi.
" Saya Zahra Pak, kalo ini Linda," Terang ku kepada beliau.
" Zahra, mau tidak aku jodohkan dengan anak ku. Tapi dia lagi kuliah di Mesir. Tahun depan baru datang." tawar beliau.
Aku pun hanya senyum-senyum saja.
" Titip salam ya buat Buya Hadi, bilang dari H. Idris. " Sambil mengambil bungkusan sate.
" Inggih Pak, Insyaallah saya sampaikan. "
Lalu beliau pamit duluan. Dan tidak berapa lama sate kami pun selesai dibungkus. Dan kami melanjutkan lagi perjalanan dengan santai pakai sepeda Abuya.
"Eeeiiiittttsssss .... " tiba-tiba Linda berteriak dan menghentikan sepeda secara mendadak.
__ADS_1
Aku pun berteriak karena terkejut.