3 Cinta

3 Cinta
Bab. 13 Komik Cinta


__ADS_3

Ternyata Linda berhenti karena ia melihat ada toko komik. Dia pun langsung parkir sepeda di depan rumah.


" Ayo turun, bawa satenya Za, " Ucap Linda memperintahkan aku.


Aku hanya mengikuti dia dari belakang.


" Silahkan masuk, silahkan dipilih. Boleh baca dan nyewa komik nya. 3000 rupiah untuk 2 buku komik. Kalo lewat masa nyewa maka akan denda 3000 untuk 1 buku. Robek atau rusak denda 5000 untuk 1 buku. Jika hilang denda 25.000 " Ucap kasir nya.


Aku pun langsung berburu komik, ku pilih komik dengan genre romansa. Gambar nya sangat cantik dan tampan. Sambil menikmati sate yang kami bungkus dan sambil membaca komik. Sesuatu hal yang sangat mengasyikkan.


Tak terasa hari pun sangat siang, dan sate kami pun telah habis. Akhirnya aku dan Linda memutuskan untuk menyewa beberapa buku komik.


Lalu kami pun pulang dengan membawa buku komik.


...****************...


Sehabis Isya.


Kami pun berangkat ke dapur umum untuk makan. setelah mengambil lauk dan kami ber lima pun pergi ke ruang makan.


" Za, Zahra. " Panggil Firdaus.


" Kenapa? " Aku pun menghampiri Firdaus yang berada di depan pintu ruang makan kami.


" Habis makan mampir dulu kesini ya, ada yang mau aku bicarakan. " Lalu Firdaus pergi.


Aku hanya mengangguk dan kembali ke meja makan.


" Kenapa Za? " Tanya Nuri.


" Mau bicara katanya. " Sambil ku suap makanan yang ada dipiring ku.


Aku pun dengan segera menyelesaikan makan ku. Lalu ku izin kepada mereka untuk bertemu Firdaus. Agar bila ada yang mencari ku, mereka bisa menghandle mencari alasan untuk sementara.


Aku pun menuju ruang tengah, disitu terletak TV, disamping ruang tengah ada beberapa ruangan. Sebelum ke tengah ruang ada sofa. Terlihat Firdaus sudah duduk menungguku.


" Duduk dulu, " Ucap Firdaus menyuruh ku duduk di sofa. Aku pun menurutinya.


"Nanti ada Abuya sama Ummi, " Ucapku ragu.


" Mereka tidak ada, mana handphone. Kamu bawa, kan? " dia menengadahkan tangannya. Menunggu aku memberikan Handphone nya.


Ku keluarkan handphone nya dan ku berikan kepadanya. Lalu dia melepas tutup baterai dan mengganti baterai yang terbaru. Lalu iya nyalakan.


" Nih, udah nyala. " Diserahkannya handphone itu kepada ku.

__ADS_1


" Za, aku kangen. Ada yang mau aku beritahu dengan mu. " Dia menghadap ku dengan serius.


" Kenapa? " tanya ku dengan penasaran.


" Aku tahu hubungan kamu dengan Ustadz Furqan dan Harris. Asal kau tahu, kamu itu dijadikan taruhan mereka. Jika mendapatkan mu maka akan mendapatkan sesuatu, " Ucap Firdaus.


" Emmm iya aku tahu kok, " Ucap ku pasti, karena memang sudah tahu.


" Kamu tidak apa-apa? " tanya nya lagi.


" Iya, ga ada apa-apa. Baik-baik saja. Biar lah, itu urusan mereka. Aku tidak sakit hati. " Aku tersenyum.


" Kau yakin, lebih baik putuskan mereka. Hanya aku untuk mu Za! Aku sayang kamu Za, aku tidak rela kamu di bicarakan oleh mereka yang macam-macam" Tegas Firdaus.


" Apa jangan-jangan kamu juga ikut taruhan? " tanya ku kepadanya.


" Tidak, Tidak Za, malah aku kemaren mendengar mereka bicara seperti Jun, Ridwan, Rony, yusuf, dan lainnya. Aku sempat cekcok dan berkelahi dengan mereka. Mereka membicarakan mu dibelakang, " ucap Firdaus sambil memegang dagunya.


" Trus sempat pukul-pukul an? " tanya ku kepadanya. Firdaus hanya mengangguk.


" Luka dibibir mu itu? Bodoh kau Fir. Aku ini tidak perlu kau bela. Aku memang mengikuti permainan mereka. " Ku tarik tangannya sehingga wajahnya menatap ku. Memang terlihat ada luka dan merah membiru di ujung bibir. Seperti habis ditonjok.


" Buya tahu? " tanya ku lagi.


Dia pun mengangguk pelan.


" Tidak kami jelaskan. " Lalu Firdaus terdiam.


" Sudah kau obati luka mu? " tanya ku kepadanya.


" Sudah. Aku tidak suka kamu dibegitukan mereka, " Ungkap Firdaus sambil mengambil bungkusan.


" Nanti, apapun yang kau dengar tentang ku. Jangan kau tanggapi. Apalagi sampai berkelahi seperti ini. Jika kau terluka, aku pun merasa sedih. " Aku pun mewanti-wanti.


Lalu dia mengangguk dan memberikan sebuah bungkusan. Dan ku tengok sebuah kado bersampulkan warna pink dihiasi dengan pita


dan beberapa cemilan.


" Apa ini? " tanya ku.


" Hadiah Ulang Tahun mu, besok kan! " ungkap Firdaus.


Aku sangat terharu, diriku saja sampai lupa akan hari ulang tahun ku.


" Terimakasih Fir, ternyata kamu ingat ulang tahun ku. " Aku merasa bahagia mendapatkan perhatian tulus Firdaus. Antara Furqan, Harris dan Firdaus. Aku merasa saat ini Firdaus lah yang benar-benar tulus memperhatikan ku.

__ADS_1


"Assalamualaikum, " Suara di depan ruang tamu masuk.


" Itu Buya dan Ummi. " Firdaus gelagapan karena terkejut.


" Ya sudah, aku balik ya ke ruang makan. " Aku pun melambaikan tangan ku kepadanya sambil berjalan menuju ke ruang makan.


Aku pun duduk kembali dan mengambil kerupuk.


" Selamat Ulang Tahun Kami ucapkan!! " Ucap Nuri, Aya, Linda dan Rika secara serempak. Mereka mengejutkan ku.


Memang tidak ada kue, Mereka hanya memberikan tumpukan kerupuk putih yang ditumpuk dan dianggap menjadi kue.


Aku pun menangis. Mereka memeluk ku.


" Ternyaya kalian ingat ya! " aku berlinang air mata sambil memeluk mereka.


" Ingat dong, nih hadiah buat kamu. " Nuri memberikan sebuah kado. Di susul dengan Aya, Linda dan Rika.


" Terimakasih ya semuanya. " Aku pun memeluk mereka kembali.


Aku benar-benar bersyukur mendapatkan teman -teman seperti mereka yang sangat solid apalagi sama-sama berada di kejauhan.


" Za, ada yang mau ketemu tuh. " Aya menunjuk ke pintu yang tersambung diruang dapur umum.


Aku pun berbalik, ternyata Harris sudah berdiri disitu menunggu ku.


" Ada apa Ris, " Tanya ku kepada nya.


" Selamat Ulang Tahun ya, maaf seadanya. " Harris menyerahkan bingkisan dengan plastik hitam. Ku buka ada kado berbalut kertas sampul warna pink.


" Terimakasih Harris, " Ucap ku pelan. Ternyata dia pun ingat ulang tahun ku seperti Firdaus. Aku merasa ia pun memiliki perasaan yang tulus.


" Emmm aku dengar, ada perkelahian di Asrama kalian, benar? " Tanya ku penuh selidik.


" Iya, cuman aku tidak tahu pokok permasalahannya. Karena aku telat datang. Saat datang sudah ada Abuya disana melerai mereka. " Dia menjelaskan dengan rinci.


" Lalu siapa yang berkelahi? " tanya ku lagi. Aku hanya ingin mencocokkan cerita Firdaus dan Harris


" Aku lupa, yang jelas, Anak Abuya Firdaus, Jun, Yusuf, Ridwan ya itu lah. Ada lagi sebenarnya. Aku lupa Za. Karena banyak. Tapi Firdaus yang lebih bonyok wajahnya. Kenapa? " tanya Harris.


"Aah ga pa-pa. Mereka tadi dapat info. Makanya aku mencari kebenaran. Kau tahu tentang apa sehingga mereka berkelahi. " Aku masih ingin mengkorek informasinya.


" Kalian sudah makan? " Suara Abuya di depan pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang makan.


" Iya Abuya," Jawab mereka serempak.

__ADS_1


Harris yang mendengar itu, dengan secepat kilat langsung mundur dan melambaikan tangannya. Aku pun langsung kembali duduk di kursi. Bertepatan Abuya masuk ke ruang makan.


__ADS_2