
Siang hari yang panas, tapi gerahnya di dalam hati. Koq bisa? Ya, bagaimana tidak? Di sudut kafe milikku, di sanalah lelaki itu duduk bersama seorang perempuan. Sesekali aku meliriknya dari sudut mata, kepo dengan apa yang mereka bisikkan di sudut itu. Dan jika kuperhatikan, kurasa bukan aku saja, tapi setiap pengunjung kafe ini--hingga abang ojol yang datang untuk mengambil pesanan--juga pasti menatapnya iri.
Namanya Maxwell Panacakra. Sosok lelaki yang fisiknya adalah duplikat tokoh Thor, lengkap dengan bayangan janggut yang menghias rahang tegasnya. Kelembutan lelaki itu menyaingi tokoh Bruce Banner--sebelum dia berubah menjadi Hulk--membuat aku tanpa sadar menghembuskan napas berat.
Dari mana aku tahu itu semua? Hm ... aku adalah kekasihnya, dulu, sebelum tindakan bodohku merusak hubungan kami.
Aku baru putus dengannya minggu lalu, tidak ada ribut-ribut dramatis seperti dalam sinetron, ketika Max mengatakan bahwa dia cemburu karena tindakan bodohku, aku menantangnya untuk putus. Dan sialnya, Max menerima itu. Padahal aku berharap Max akan, paling tidak, memohon padaku untuk tetap mencintainya. Sedikit air mata menggenang mungkin, atau sesuatu yang menyatakan perasaan terdalamnya. Tapi tidak, Max hanya berkata, "Baiklah, kalau itu maumu."
Max pergi setelahnya dan tidak kembali. Tidak ada notifikasi pesan. Tidak ada telepon, meskipun hanya untuk basa-basi. Tidak ada apapun. Seakan-akan hubungan kami selama lima tahun tidak pernah ada. Jujur, aku kecewa. Aku berpikir sangat lama rasanya, hingga kepalaku sakit dan aku tertidur. Setelah bangun, aku malah merasa lebih bersalah lagi.
Itu adalah tindakan bodohku dan sudah seharusnya aku yang minta maaf. Namun, sebagai anak yang kedua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan, sifatku dapat digolongkan keras. Hampir tidak pernah, aku meminta maaf atas kesalahan yang kubuat, tapi bukan berarti aku menganggap semuanya angin lalu. Kesalahan sekecil apapun, aku catat di otak agar tidak kuulangi lagi. Namun kali ini, aku benar-benar tidak bisa mengulanginya lagi, karena hubungan kami benar-benar sudah end!
Aku menghirup napas panjang untuk mengusir kenangan buruk itu, tapi belum lagi aku menghembuskannya, suara lelaki itu mengudara, "Yu, bisa minta menu?"
Pura-pura tidak mendengar, aku membalikkan tubuh dan bertemu tatap dengan Leonhart, baristaku. Kedua alis tebalnya terangkat, sementara samar senyuman tersungging di sudut bibirnya yang menggoda. Kalau bukan karena dia, aku masih jadian dengan Max, umpatku dalam hati. Lagi-lagi aku akan mengatakan bahwa bukan salah Leonhart, ini semua salahku karena membiarkan kejadian itu terjadi. Aku patut di rajam api neraka karena telah bertindak lebih bodoh dari seekor keledai.
"Pergilah ke sana. Apa katamu dulu? Customer adalah nomor satu," bisiknya dengan suara rendah. Aku memberinya senyum sinis sebelum menarik kasar dua lembar menu dari tempatnya dan beranjak ke meja di sudut ruangan.
Sambil berjalan, kuperhatikan gadis pelayanku sedang mengantarkan pesanan di meja sebelah Max. Sebenarnya, lelaki itu cukup memanggil dan gadis pelayan akan segera menghampiri. Jadi, untuk apa Max memanggilku? Apalagi, dia barusan memanggil dengan nama dan berhasil membuat semua orang dalam kafe menoleh ke arahku. Coba katakan padaku, apa maksud dia melakukan itu? Apakah Max berniat mengenalkanku dengan wanita yang duduk di seberangnya? Cih!
__ADS_1
Ada hal lain yang ingin aku tanyakan padanya--jika aku memiliki keberanian barang secuil--untuk apa dia kemari setiap hari? Aku bisa mengerti letak kantornya yang menjulang sepuluh lantai di seberang kafeku, tapi demi Tuhan! Ada kafe lain yang berjajar di kiri-kananku, dan dia harus memilih makan pagi dan makan siang--belum lagi coffee break--di kafeku? Oh! Yang benar saja.
Semakin dalam, kupikir dia ingin membuatku mati berdiri dengan membawa wanita berbeda-beda setiap hari. Max seakan ingin menunjukkan apa saja yang telah kulewatkan, bahwa aku tidak bersyukur pernah menjadi kekasihnya. Jika dia ingin aku menyesal, jujur saja, aku memang menyesal. Hhh ....
"Silakan," ujarku sambil meletakkan masing-masing menu di depan mereka.
"Kau mau pesan apa, Rose?" tanya Max lembut pada wanita di seberangnya. Nama yang indah, secantik orangnya. Polesan lipstick merah di bibir mungil itu melengkung indah, sementara wajah oriental dengan tambahan bulu mata palsu menatap Max dengan pandangan sayu.
Jelas wanita itu lebih muda dariku, lebih seksi, dan lebih berkelas. Pantas, Max dengan mudah mengatakan bye! Aku mengejap mengusir rasa tidak percaya diri yang menyuruhku berlari keluar kafe, pulang ke apartemenku, dan meratapi nasib di sana.
"Matcha latte, please," jawab Rose memecah lamunanku.
"Excellent! Dan, aku seperti biasa." Senyum Max terkembang sangat indah, seperti senyum seorang pengacara pada klien lima milyar rupiah-nya.
Aku menyampaikan pesanan meja 17 pada Leonhart, kemudian kembali ke posisiku di belakang kasir yang menghadap pintu masuk. Dengung mesin pembuat kopi dan semerbak wangi kopi pesanan Max membuatku tersenyum pudar. Biasanya, aku yang membuatkan pesanan dia.
"Kau cemburu?" tanya Leonhart dari punggungku beberapa saat kemudian.
"Pembayaran dengan OVO atau Go-pay ada cashback dua puluh persen, Kak." Aku mengindahkan pertanyaan Leonhart dan berkonsentrasi pada pelanggan yang akan membayar. Bunyi scan barcode dan printer yang otomatis bekerja setelah pembayaran berhasil cukup menghiburku. "Terima kasih dan ditunggu kedatangannya lagi."
__ADS_1
"Kau cemburu?" tanyanya lagi, lebih dekat ke telingaku.
Aku memutar tubuh menghadapnya. "Apakah bisa kita bicara setelah orangnya tidak ada? Atau sebaiknya sekalian saja kita bicara di depan Max agar dia juga bisa mendengar jelas jawabannya," desisku jengkel pada Leonhart.
"Jawaban apa?"
Oh, Tuhan! Apa yang dilakukan Max di depan counter? Semoga dia tidak mendengar keseluruhan dari tanya jawab barusan. "Ti-tidak apa-apa. Laura, tolong bantu Bapak ini membawa tray."
"Tidak perlu, jika kau tidak berniat membantuku." Max menatap tajam sebelum dia kembali ke tempat duduk sambil membawa tray berisi pesanannya.
Eh? Apa maksudnya itu? Apa dia juga berharap aku membawakan tray itu ke tempat duduknya? Aku mendengkus sambil menatap punggungnya sinis. Apakah dikiranya aku serendah itu? Hei, Tuan, aku ini pemilik kafe. Aku bisa saja menendangmu keluar dari sini, sekarang juga. Namun, lagi-lagi aku bertanya, mengapa aku tidak melakukan itu seminggu lalu ketika putus darinya?
Oh ... aku tidak mengerti diriku sendiri.
Tak berapa lama kemudian, Max dan Rose keluar setelah membayar pesanan mereka. Aku masih menatap punggung Max ketika dia menyeberang jalan dengan tangan Rose terkait di siku jasnya.
"Kau membuang napas lagi. Kau tahu, ada pepatah mengatakan bahwa menarik dan membuang napas panjang akan memperpendek umur seseorang. Aku takut, kau tidak lama lagi mati."
"Apa pedulimu?"
__ADS_1
"Kau belum mewariskan toko ini padaku." Leonhart tertawa, di belakangnya Laura juga terkikik geli. "Dan kau belum menjawabku, apakah kau cemburu?"
"Ya, aku cemburu. Puas?" Barista berengsek!