
Hari Senin, pukul 05.30, aku sudah berada dalam kafe, karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dalam apartemen studioku yang terletak di lantai tujuh dalam kawasan yang sama. Baru dua minggu putus dari Max, aku merasa ... hampir gila dibuatnya. Aku harus melakukan sesuatu yang berguna, sesuatu yang bisa mengalihkan pikiran darinya.
Dengan asal, kuletakkan ransel ke kursi terdekat dan melangkah ke toilet untuk memoles wajah yang belum sempat kulakukan. Belum lagi mendekat ke sana, aku hampir berteriak melihat bayanganku sendiri dalam cermin separuh tubuh di atas wastafel di depan toilet.
Oh, tidak! Oh, ini tidak mungkin! Kenapa bisa begini?
Aku berlari ke cermin dan meraba wajahku, menariknya ke kiri, ke kanan, dan menusuk-nusuk bagian yang bengkak karena menangis semalaman. Rasanya aku ingin pulang dan menangis lagi, tapi itu akan membuatku selain jelek, juga gila. Paling tidak, jika aku di sini dan menjalankan aktivitas seperti biasa, aku cuma jadi wanita jelek saja barang sehari.
Sambil bersungut ria, kubasuh wajah dan mulai memolesnya dengan foundation. Aku tetap akan membuka tokoku dan melayani tamu, meskipun dengan wajah bengkak, persetan dengan orang-orang yang menatapku. Tahu apa mereka mengenai kehidupan pribadiku?
Kuembuskan napas dari sudut bibir untuk mengusir anak rambut yang jatuh, lalu mulai menepuk wajah dengan bedak. Kurasa, Max ingin memastikan aku membenci hidupku setelah putus darinya. Ingatanku kembali ke hari sebelumnya, ketika menghadiri undangan pernikahan seorang teman.
Undangan online itu masuk ke notifikasi iPhone-X milikku tiga hari lalu. Tanpa pikir panjang, aku segera merencanakan pergi ke sana. Mengenakan gaun batik terusan model terbaru, aku masuk ke ballroom hotel di kawasan Jakarta Selatan dengan percaya diri. Aku lupa bahwa berpacaran lima tahun dengan Max, membuat temannya otomatis adalah temanku juga. Hal pertama yang ditanyakan orang-orang ketika kakiku baru melangkah masuk adalah : di mana Max?
Aku langsung nge-blank.
Di mana Max? Mana kutahu! Hampir saja aku menyemprot mereka dengan perkataan kasar itu. Bagaimana mungkin orang-orang itu menanyakan padaku, di mana Max? Kemudian, aku baru ingat, mereka kan tidak tahu mengenai kandasnya percintaan kami. Di sana aku tersadar, ini akan jadi malam yang panjang dan penuh drama.
Benar saja. Hampir sejam kemudian, ketika aku sedang menyantap menu buffet yang lezat, ruangan ballroom itu tiba-tiba senyap. Para tamu, khususnya para wanita, menoleh ke arah pintu masuk. Sungguh, saat itu waktu seakan berjalan lambat, seperti scene dalam sinetron, di mana kerumunan membelah ketika pemeran utama masuk ke dalam ruangan.
Max dalam setelah jas wool hitam sungguh memukau. Tinggi tubuhnya. Lebar bahunya. Senyum percaya dirinya lebih menyilaukan daripada cahaya lampu sorot yang menyirami dia dan pasangan. Seorang wanita berbalut *sex*dress berbahan kulit yang sangat ketat--mungkin berukuran XXXS--berada di sampingnya. Tangan Max yang memeluk pinggang kurusnya membuatku gerah.
Jika aku harus membandingkan diri, wanita itu sekelas jerapah Afrika, sementara aku seperti keledai dekil. Sial! Kenapa aku jadi minder begini? Aku menelan ludah.
Belum sempat aku membuang muka, pandangan Max menemukanku. Dia tersenyum, memamerkan lesung pipinya. Kemudian sepasang alis tebalnya terangkat, seakan menanyakan pasanganku. Aku menatapnya canggung, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Seorang lelaki yang tampak sendirian di dekatku sepertinya alibi yang sempurna, jadi segera saja kugeser tubuhku mendekat lalu menggandengnya. Lelaki itu tampak terkejut, tapi dia tidak mengatakan apapun, yang mana membuatku sedikit lega. Jauh di depan, Max tertawa, menampakkan deretan gigi yang rapi bak bintang iklan Close Up.
Drama malam itu berlanjut, ketika ternyata Alex--lelaki yang kugandeng--masih jomlo. Jadilah aku menghabiskan malam berpasangan dengan Alex yang hobi makan. Jika diperhatikan, tidak heran Max tertawa tadi, dia pasti tau lelaki macam Alex bukanlah seleraku--pendek dan sedikit botak.
Namun, apa yang bisa kulakukan? Aku tidak mau terlihat ngenes di depannya. Dengan maksud berusaha tampak bahagia, aku bergabung dengan para para jomlo-ers ke tengah ruangan, untuk mendapatkan buket bunga pengantin yang berhadiah voucher makan malam romantis di hotel yang sama.
"Satu-dua-tiga!!!" teriak MC dari atas panggung. Dua buah rangkaian bunga mawar merah itu terlempar ke udara, satu ke arah para jomlo-ers lelaki dan satu lagi ke arah jomlo-ers wanita.
__ADS_1
Buket mawar yang terlempar itu mengarah ke wanita jerapah yang berdiri di dekatku. Aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan buket bunga itu, setelah dia mencuri mantan kekasihku. Dengan sekuat tenaga, aku meloncat ke depan dan menyambarnya cepat. Wanita jerapah itu berteriak dan mundur selangkah.
"Ya! Jomlo-ers yang mendapatkan bunga, diharap naik ke panggung untuk diabadikan momennya bersama kedua mempelai," seru MC di panggung.
Sebelum menyeruak di antara keramaian menuju panggung, aku memberi seringai puas pada si wanita jerapah yang masih tampak shock dengan tindakanku barusan. Baru saja aku menapaki undakan pertama, langkahku terhenti. Max berdiri di sana, di ujung undakan dengan buket bunga mawar putih dalam genggamannya.
Seketika, aku bisa membayangkan kami adalah sepasang mempelai yang berbahagia, namun suara MC itu membuyarkan khayalan indahku. "Ayo, Mbak. Buruan, udah ditunggu."
"Oh, iya. Maaf." Aku kembali meneruskan langkah ke atas panggung.
"Max dan Yuri, oh my God! Ya ampun ... selamat ya! Pas banget, voucher makan malam ini memang untuk sepasang kekasih. Semoga kalian menikmatinya dan susul kita secepatnya, ya!" ujar mempelai wanita, kemudian memeluk dan mencium pipiku.
Oh, Tuhan ... apakah Kau sedang bercanda denganku?
Aku memberengut ketika voucher makan malam itu diberikan kedua mempelai pada Max. Pada akhirnya, perjuanganku untuk mendapatkan buket dinikmati oleh si wanita jerapah dan mantan kekasih yang ... entah bagaimana aku harus menggambarkan perasaanku saat ini pada Max. Setelah turun dari panggung, sisa malam itu kuhabiskan dengan menghindari Alex.
"Ya ampun, Yu, muka udah kayak mayat gitu masih dibedakin," hardik Laura dari belakang membuatku terperanjat. Ketika mataku fokus pada bayangan diri di cermin, gadis itu benar, bedakku sudah sangat tebal seperti pemain lenong. "Sini kubantu kau berias."
"Udah, sini. Diem," perintah Laura sambil menghadapkan wajahku ke arahnya. Dengan cekatan, tangannya mengambil pensil alis dan mulai menggambar. "Kau habis nangis, ya?"
"Nggak."
Ini adalah kebohongan yang sangat bodoh. Mataku jelas-jelas seperti ikan mas koki, aku tahu, karena sudah melihatnya pagi ini di depan kaca wastafel ketika menyikat gigi. Setelah semua kulakukan--dari membasuh wajah, meneteskan Insto, merendam mata dalam Boorwater, sampai mengompres dengan timun--tapi, tidak tampak perubahan berarti.
"Matamu sembab, pasti sulit melihat dengan mata kodok seperti itu."
Mata kodok? Berani sekali kau, Barbie jadi-jadian. Jika Laura tahu sebab dibalik mataku yang tiba-tiba bengkak, seharusnya dia maklum. Aku mendengkus.
"Sudahlah, Yu, yang berlalu ya sudah. Cari lagi aja cowok lain, mumpung masih muda. Apa kau perlu bantuanku?"
Mudah sekali dia bicara. "Jangan tersinggung, tapi aku bukan macam kau yang bisa pacaran dengan tiga orang sekaligus, atau pacaran maraton--baru putus udah gandeng yang baru. Bukannya aku gak mau move on, tapi lima tahun bukan waktu yang singkat dan bisa dibuang begitu saja."
__ADS_1
"Nah, itu! Kau cuma kurang ko-lek-si! Rumusnya simple : koleksi - seleksi - resepsi. Kalau koleksimu aja kurang, gimana mau seleksi? Dan lupakan saja resepsi." Laura menutup pensil alis dan mengambil eye-liner dari tas make-up miliknya. "Tutup matamu. Kau cantik, tahu?"
"Aku tidak terhibur."
"Aku tidak berbohong. Kau hanya kurang ... apa ya?" Laura berpikir sebentar, seakan kata yang akan dilontarkannya sulit untuk disebutkan. "Kurang dipoles, nah!"
"Jika maksudmu berdandan ala Laura Wicaksono, lupakan saja. Aku tidak tertarik."
"Terserah, tapi ... kuperingatkan, kau akan menyesal nanti. Selesai!" Tanpa basa basi, Laura segera menggeser posisiku untuk mengambil tempat di depan cermin, bahkan sebelum aku dapat melihat wajahku setelah di polesnya.
Aku berdecih, kemudian segera berlalu dari sana dan kembali ke belakang counter. Jika Laura dapat melihatnya jelas, maka orang lain kurasa juga dengan mudah mengetahui, bahwa kehidupan pribadiku sedang di titik minus.
Rasanya, aku ingin membenturkan kepala ke meja granit di depan. Ini sungguh bodoh. Maksudku, buat apa aku menangis semalam karena memikirkan apa saja yang mungkin dilakukan Max dengan wanita jerapah itu, toh aku yang minta putus dari Max. Konyol, bukan? Mungkin ini yang dinamakan dilema wanita STW--setengah tuwa--ataukah hormonku sedang mengalami gangguan teknis. Entahlah, tapi aku berharap--sangat berharap--bisa move on dari Max.
Denting bel pintu yang terbuka berbunyi, menampakkan sosok Leonhart yang beranjak masuk. Seringainya sempurna menampakkan deretan gigi yang terawat, seakan membawa angin segar dalam ruangan. Tidak heran jika dia digilai banyak wanita, tua dan muda. Rambut gondrong sepundaknya, hari ini dia ikat licin ke belakang, ala barista Italia. Jika dipikir-pikir, dua orang yang cakap dan seksi ini mungkin salah satu yang membuat kafeku tetap ramai.
"Kau menangis?" tanya Leonhart dengan siku bertumpu di meja kasir, sementara tatapannya lembut menelusuri wajahku.
Konsentrasiku menghitung uang dalam mesin kasir buyar seketika. "Nggak, sudah jangan tanya-tanya lagi. Bersihkan mesin kopi itu dan setel yang bener. Kau juga Laura, beres-beres meja atau apalah. Dan kurangi komentar mengenaiku."
"Kenapa sih kau masih menangisi lelaki itu, Yu? Kau lihat sendiri, dia sudah move-on, dan kurasa kau juga harus. Asal kau tahu, aku available," ujar Leonhart, dengan malas dia menyeret sikunya pergi.
Aku tidak mengatakan apapun. Kutarik napas panjang, lalu melanjutkan kembali hitunganku yang tertunda.
Mungkin Leonhart menyukaiku, ini hanya teori kemungkinan yang tidak mau kubuktikan. Jika aku jomlo menahun, mungkin aku akan segera meloncat ke pelukannya ketika dia menawarkan diri seperti itu. Namun, tawarannya tidak pada tempat, karena boleh dikatakan aku sedang berkabung dan kuburan cintaku masih basah dengan air mata.
Kulihat Laura bergerak ke arah pintu dan membalik papan kecil bertuliskan "CLOSE" yang tertempel di pintu kaca. Sudah pukul tujuh rupanya, aku mendesah lagi dan berharap Max tidak kemari hari ini. Siapa tahu, setelah makan malam romantis kemarin, dia pulang larut dan tertidur hingga besok.
Nyatanya permintaanku tidak dikabulkan. Dari pintu kaca yang transparan, aku melihat Max turun dari Mercedez Benz CLA Coupe dan masuk ke kentornya, sementara mobil mewah itu terus lewat dan menghilang di basement gedung.
Oh, sial!
__ADS_1