90 Days Missing You

90 Days Missing You
APA ZODIAKMU?


__ADS_3

"Terima kasih, Kak. Datang kembali."


Aku balas tersenyum pada lelaki di depan sebelum dia berlalu. Setelah lonceng di atas pintu berdenting, yang menandakan kepergiannya, aku kembali menarik kursi dan duduk. Aku kembali memikirkan seluruh kejadian beberapa hari lalu.


Selama lima tahun berpacaran dengan Max, tidak pernah lelaki itu semisterius ini. Apakah setelah bironya tahun lalu pindah ke gedung di seberang, pekerjaannya menjadi lebih berbahaya? Apa yang dia bilang kemarin, Yakuza? Mengapa pula Max bisa terlibat dengan orang-orang semacam itu?


Kuembuskan napas panjang dan duduk menopang dagu. Semoga dia baik-baik saja.


Waktu Max menindihku dengan tubuhnya, tentu saja aku merasa takut. Namun, tidak terlalu takut. Ah, bagaimana menjelaskannya? Bukan rasa takut seperti terhadap pemerkosa atau perampok bank, tapi seperti rasa takut ketika dipaksa naik Wahana Halilintar di Dufan, atau Menara Hysteria yang tingginya berpuluh-puluh meter dari tanah. Seluruh tubuh bergetar, bahkan gigiku sampai menimbulkan bunyi gemeletuk!


Responku sangat kekanakan, bukan? Sebagai wanita dewasa, seharusnya aku lebih berani. Ada sedikit penyesalan dalam hati, mengapa kemarin aku tidak menghadapinya saja? Jika Max akan menciumku, sebaiknya aku menyosor duluan ke bibirnya. Pastinya ini akan memberikan efek kejut pada Max.


Hmm... ide yang bagus! Aku mengingatkan diri untuk melakukannya, jika Max mencoba mengancamku lagi.


Sudah hampir sore. Hari ini, kemarin, dan hari kemarinnya--tepat setelah kejadian itu--Max belum muncul di kafe. Hanya asistennya, Jeremy, yang datang dan memesan untuk take away. Karena Max tidak melihat, aku bersedia membuatkan kopi yang dipesannya.


Kualihkan pandangan dari coretan asal pesanan customer di atas kertas, ke arah gedung biru yang berkilat di depan. Gedung tempat Max bekerja. Sedang apa, ya, dia?


"Laura, apa zodiakmu?" tanya Leonhart memecah keheningan.


Suaranya membuatku menoleh ke bagian belakang counter di mana terdapat booth kayu panjang untuk tiga orang. Dengan rambut yang dikucir setengah, hari ini barista ganteng itu mengenakan kaos polo berwarna putih dan celana jeans sobek. Leonhart duduk di sana dengan alis terpaut menatap Laura.


"Hah? Apa maksudmu?" tanya Laura yang sedang merekam aksi tiktok di telepon genggamnya, tanpa peduli keberadaan beberapa pengunjung di sana. "Oh, zodiak! Aku gemini."


"Pantesan GEnit dan doyan yang MINI-mini." Leonhart tertawa.


Canda Leonhart mau tidak mau membuatku memperhatikan rok Laura. Seharusnya rok seragam itu berada tepat di lutut, tapi sepertinya Laura menaikkan sepuluh senti agar kakinya terlihat jenjang. Dan, memang Laura memiliki bentuk kaki yang indah.


"Tapi, suka kan? Hayo ngaku! Memang zodiakmu apa?" Laura ganti bertanya. Tubuh rampingnya menyelinap masuk ke dalam counter dan duduk di samping Leonhart. "Kemarikan, biar aku yang baca."

__ADS_1


"Eh, main rebut aja." hardik Leonhart, tapi terlambat. Majalah metropolitan itu sudah berpindah ke tangan Laura. Tatapan tajam Laura membuat Leonhart bersidekap lalu menjawab singkat pertanyaannya. "Sagitarius."


"Mmm ... mmm ... mmm ...," gumam Laura. Ekspresinya yang menyeringai penuh arti ke arah Leonhart membuatku penasaran.


"Bacain, dong?" pintaku, dari posisi kasir di ujung counter yang berlawanan. Laura hanya melirikku sekilas, kemudian gumamnya kembali terdengar, lebih panjang dan membuat telingaku iritasi. "Jadi, kau tidak mau membacakan? Baiklah."


Aku mendengkus, kemudian bangkit menuju tempat Laura. "Berikan padaku." Tanganku terulur untuk menyambar majalah tersebut, tapi Laura lebih cepat sepersekian detik hingga tanganku menyambar ruang kosong.


Leonhart menggeser tempat duduknya, sebelum dia menarikku agar duduk di sampingnya. "Tunggu giliranmu, Yu."


Aku menganga. Wajah Leonhart yang menyeringai berada begitu dekat. Tatapan matanya yang teduh, titik-titik kehijauan mulai menghias rahangnya, dan bibir itu .... Tiba-tiba aku merasa sedikit kesulitan untuk menelan.


Lengannya yang keras menempel di sisi tubuhku dan panas tubuhnya yang meradiasi, membuat jantungku berdegup keras. Selama tiga tahun ini, rasanya belum pernah aku duduk demikian dekat dengan Leonhart. Ataukah, aku baru menyadarinya sekarang?


"Kau baik-baik saja, Yu? Kenapa tiba-tiba diam? Jangan marah, dong, aku bacakan, deh," ledek Laura, merasa senang karena berhasil membuatku penasaran.


"Pria Sagitarius : percaya diri tinggi, terbuka, ramah, lucu. Well, bagian ini benar. Kemudian dalam cinta pria Sagitarius adalah seorang : perayu, petualang sejati dan panas. Ugh! Panassh."


Ya, ampun, jika dibanding Laura ... aku tidak ada apa-apanya.


"Oke, lanjut. Pasangan cyintaaah...," desah Laura, menggunakan aksen Syahrini. "Pria Sagitarius, cocok dengan Gemini. Nah, sudah kubilang kau juga menikmatinya bukan? Kemudian Leo dan Aries."


"Oke, giliranmu, Yu. Apa zodiakmu?" tanya Leonhart yang tiba-tiba menoleh ke arahku, matanya menatap dengan intens, menunggu jawaban.


"Yu?" Laura ikut bertanya dari bahu Leonhart.


Sebenarnya itu hanya pertanyaan ringan, tapi tatapan yang mereka berikan membuatku merasa terintimidasi, seakan-akan aku telah tertangkap basah melakukan hal yang salah. "A-aku gak tahu."


"Gak tahu? Gak mungkin, gak tau. Ini mainan sejak SD. Ayolah, jujur padaku," desak Laura. Bukannya aku tidak tahu, mana mungkin seseorang lupa dengan tanggal lahirnya. Namun, saat terdesak seperti ini aku tidak mampu mengingat apapun.

__ADS_1


"Kemarikan." Buku itu berpindah ke tangan Leonhart, aku dan Laura otomatis mendekatkan kepala ke arahnya. "Ulang tahunmu ... tanggal 23 Juli kalau gak salah, Yu."


"Wah, kau mengingatnya!" seru Laura mengejutkan. Bukan hanya Laura, aku juga jadi memperhatikan Leonhart. Bagaimana lelaki itu bisa mengingatnya, sementara pikiranku masih blank?


"Apa yang kalian lihat? Kurasa itu wajar, bos kita cuma satu, kan?"


"Aku gak percaya. Aku mencium sesuatu yang fishy di sini. Kurasa ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Laura curiga. Matanya menyipit menatap aku dan Leonhart bergantian.


Kuharap wajahku tidak berubah merah. Semoga Leonhart tidak menceritakan apapun pada Laura. Semoga Laura tidak peduli mengenai apapun yang telah terjadi antara aku dan Leonhart.


Leonhart berdecak. "Jadi, mau di lanjut atau tidak?"


"Tentu saja." jawabku spontan, dengan harapan dapat mengalihkan perhatian Laura dari kecurigaannya. " Ayo, cepat, sebelum jam lima dan para pelanggan mulai berdatangan."


Masih menatapku dan Leonhart bergantian, Laura berdecih dan menyerah. "Lanjut."


"Leo. Wanita Leo : kreatif, dermawan, hangat. Dermawan? Hmmm ... rasanya aku belum merasakan sifatmu yang itu, Yu. Kemudian dalam cinta ...," Leonhart berhenti untuk menatapku. Suhu ruangan seperti naik beberapa derajat dan senyap, ketika dia berkata, "hangat, energik, dan bergairah."


Aku harus mengejap beberapa kali untuk mengembalikan diriku ke alam sadar. "Kemarikan buku itu, biar aku mengeceknya sendiri."


"Kau ingin mengecek zodiak orang lain bukan? Enak saja."Dengan sigap Leonhart memasukkan buku itu dalam kaos polonya. "Silakan ambil kalau kau berani, Yu."


Aku terperangah. "Astaga! Aku hanya ingin meminjamnya, Leon, bukan ingin memakannya."


"Kau tidak berani, Yu? Mau kuambilkan?" Lagi-lagi aku terperangah ketika Laura menawarkan diri. Apakah mereka akan melakukan hal tidak senonoh di depanku?


"Kalau kau yang akan mengambilnya, aku akan menyembunyikan majalah ini dalam celana dalamku, dan lihat apa kau berani mengambilnya?" tantang Leonhart, tawanya membahana ke sekeliling ruangan.


"Dasar sinting!" hujat Laura sambil terkikik.

__ADS_1


Jelas sudah, Gemini dan Sagitarius adalah pasangan yang sangat ideal. Sayangnya, mereka berdua seperti tidak bisa melihat itu. Sudah waktunya aku bertindak untuk menjodohkan mereka. Paling tidak, itu bisa mengalihkan pikiranku dari Max.


__ADS_2