90 Days Missing You

90 Days Missing You
RASA COKELAT


__ADS_3

Pukul 06.00 aku sudah berada di apartemen Leonhart yang jaraknya lebih dekat ke Kafe. Aku akan mengejutkannya dengan berkunjung tanpa mengabari lelaki itu terlebih dahulu.


Berdiri di selasar, aku menatap heran pada pintu unit Leonhart yang tidak tertutup sempurna. Sepengetahuanku, Leonhart bukanlah orang yang ceroboh. Di lantai depan juga tergeletak sendal berbulu berbentuk kelinci warna pink, yang pastinya milik seorang wanita karena ukuran kaki yang kecil.


Sedikit rasa penasaran membuatku mendorong pintu itu. Gelap. Aku menggigit bibir dan bertanya-tanya, apakah Leonhart tinggal bersama seorang wanita?


Oke, sedikit rasa penasaran telah berubah menjadi lebih banyak. Aku melangkah masuk tanpa mengetuk. Sambil menenteng keranjang buah yang cukup berat, aku mengendap-endap masuk bagai pencuri. Siapa suruh dia tidak menutup pintunya dengan benar.


Apartemen studio Leonhart lebih besar dari milikku. Jendelanya yang tertutup gorden tebal hanya memberikan sedikit cahaya masuk dalam ruangan. Samar-samar bentuk dapur muncul di sebelah kiri, aku segera mendekat dan meletakkan keranjang buah di sana.


Bunyi gemerisik dari balik sekat lemari yang menghalangi pandangan ke bagian belakangnya, membuatku menoleh dan bertanya-tanya. Aku mulai mengendap lagi, lebih jauh ke dalam apartemen.


Sial! Kenapa aku jadi penasaran begini?


Baru saja kakiku sampai di samping lemari sekat, teriakan siluet wanita di atas ranjang membekukan aku di tempat. "Oh my God, Leonhart! Ada pencuri!" Wanita yang sepertinya sedang duduk di sana segera melompat turun dari ranjang.


Teriakan itu membangunkan siluet lain yang lebih besar. Dengan cekatan, siluet yang besar itu berguling ke samping untuk menjangkau sesuatu. Bunyi saklar terdengar sebelum ruangan menjadi terang benderang. Aku memicingkan mata.


"Yu! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Leonhart, suaranya yang besar menunjukkan rasa terkejutnya yang luar biasa.


Aku maklum. Jika di posisinya, aku pasti juga akan sangat terkejut mendapati atasanku mengintip karyawannya yang sedang asik masyuk. Namun, aku tidak bisa memalingkan wajah. Pemandangan Leonhart yang bertelanjang dada di atas ranjang, membuatku terpana. Lelaki itu tampak seperti model iklan parfum luar negeri. Sementara di sisi ranjang, berdiri seorang wanita langsing dalam jubah tidur yang acak-acakan.


Aku berusaha menelan apapun itu yang menghalangi tenggorokan sebelum menjawab, "A-aku ... mengantar buah?" Meskipun itu adalah kebenarannya, suaraku terdengar seperti cicitan yang tidak meyakinkan. Leonhart berdecak, kemudian menyingkap selimutnya kasar. Aku memelotot, kemudian dengan refleks kubalikkan tubuh dan bergegas menuju pintu apartemen. "A-aku tidak meliat apapun, sungguh!"


Kurasakan dadaku berdegup sangat kencang dan tubuhku gemetar. Aku ketakutan. Entah apa yang kutakutkan, tapi kakiku terasa lemas. Oh, Tuhan ....


"Berhenti di sana, Yu." Peringatan Leonhart terdengar dari belakang. Aku tidak mengindahkan dia dan terus berjalan melewati meja dapur. Baru saja tanganku memengang kenob pintu, suara Leonhart kembali terdengar. Kali ini lebih keras. "Berhenti, atau hari ini aku resign!"


Ultimatum yang terdengar serius membuatku mematung seketika. Aku menggigit jariku sendiri, sakit, ternyata bukan mimpi. Aku tidak bisa kehilangan barista hanya karena menjenguknya sakit. Ya ampun, aku sungguh konyol karena mengikuti rasa penasaran yang tidak pada tempatnya.


Terdengar kasak kusuk dari belakang. Tak lama kemudian, wanita dalam jubah tidur melewatiku, pakaiannya sudah rapi. Aku mundur selangkah untuk memberinya akses keluar. Sebuah tatapan sinis menjelajahiku dari atas ke bawah, sebelum wajah tirus itu berlalu dan menutup pintu.


"Kenapa gak ngabarin dulu kalau mau kemari, Yu?" tanya Leonhart, suaranya terdengar mendekat ke arahku, mengirimkan getaran aneh di sepanjang tulang belakang.

__ADS_1


Jemariku saling meremas satu dengan yang lain, perutku rasanya mulas. "A-aku minta maaf telah melanggar privasimu, Leonhart. Sorry banget." Aku menangkup kedua tangan di wajah karena malu.


"Boleh tatap aku saat kita bicara?" tanya Leonhart, suaranya begitu dekat di telinga sebelum hangat tubuhnya melewatiku.


Dengan ragu, aku membuka mata dan menahan napas, mendapati Leonhart yang berdiri sangat dekat. Dia menyandarkan punggungnya pada pintu, seakan menghalangiku pergi. Aku hanya bersyukur Leonhart sudah berpakaian lengkap, meskipun kaos rumah yang dipakainya tampak ketat untuk tubuhnya yang berotot. Lagi-lagi, aku berusaha menelan.


"Kalau masih sakit, istirahatlah dulu. Aku kemari mau menjengukmu, sekalian mengantar buah. Harusnya malah aku dan Laura yang kemari, tapi dia ada urusan."


Alis Leonhart terangkat naik, "Benarkah? Handphone-mu juga gak aktif kemarin.""


"Benar. Mengenai handphone, aku baru sadar handphone-ku mati ketika sudah di apartemen. Kenapa kau tidak menelpon Laura jika ada yang mendesak?" Aku mencoba tenang. Leonhart tidak perlu tahu kalau aku tidak jadi ke apartemennya kemarin karena Max mengajakku makan malam, kan?


Lelaki itu tidak mengatakan apapun, tatapannya yang menjelajahi wajah, membuat jantungku berdegup kencang. Aku mengalihkan pandangan, menatap pada jam tangan tua yang kulitnya mulai mengelupas. Jarum jam itu menunjukkan pukul 06.40.


"Oh, aku harus pergi, Leon. Semoga cepat sembuh," ujarku sambil memaksakan senyum yang terasa canggung. Kuulurkan tangan melewati tubuhnya untuk meraih kenop pintu, tapi pintu itu tertahan berat tubuhnya hingga tidak dapat di buka.


"Orang yang kurindukan tidak datang, Yu. Aku terpaksa memanggil Dokter Raisa, barusan dia memeriksaku lagi dan mengatakan aku sudah sembuh."


Bibirku membentuk huruf O. Jadi, wanita itu dokter? Dokter macam apa yang memeriksa pasien di bawah selimut? Aku tidak percaya pada kata-katanya. Namun, sebelum pikiranku mengkhayalkan yang tidak-tidak, aku segera menghardiknya, "Kalau begitu, apalagi yang kau tunggu? Sana sikat gigi dan bersiap."


Sepeninggal Leonhart, barulah aku bisa bernapas lega. Untung Leonhart tidak marah dengan kejadian tadi. Hanya satu pertanyaan yang menggantung dalam pikiranku, mungkinkah Dokter Raisa dan Leonhart menjalin hubungan?


*****


Pukul 20.30, kafe akhirnya tutup juga.


Hari ini bisa dibilang luar biasa ramai, baik pesanan dine-in ataupun take away. Laura sudah meninggalkan kafe lebih dulu seperti biasa. Seharian bergerak bergerak ke sana kemari mengambil pesanan, Laura mungkin lelah dan tidak mau bekerja lebih dari jam kerja seharusnya.


Sebenarnya, Leonhart juga bisa pulang begitu jam kerjanya berakhir pada jam 20.00, tapi Laura memintanya agar tidak meninggalkanku sendiri dengan bayaran sebatang cokelat Toblerone. Aku menyeringai ketika menengok ke belakang, melihat lelaki itu menggumamkan lagu sambil mengunyah Toblerone yang diberikan Laura. Tangannya dengan ringan mengatur kembali tatanan kursi dan meja serta mengelapnya bersih.


Sambil mencuci gelas dan piring terakhir, sekelebat pikiran mengenai kejadian tadi pagi membuatku bertanya, "Leon, aku penasaran, apakah kau dan Dokter Raisa uhm ... berpacaran atau semacamnya?"


Gumaman itu terhenti, kemudian suara Leonhart bertanya, "Kenapa? Kau cemburu?"

__ADS_1


Oh, ya ampun. Lagi-lagi pertanyaan itu. "Nggak, aku hanya penasaran."


"Apa kau juga mau tahu apa yang kami lakukan dalam gelap, pagi tadi?"


Pertanyaan Leonhart membuatku menoleh. Manik hitam matanya tampak berkilat-kilat dalam temaram lampu kafe yang sudah dimatikan setengahnya. "Bukan itu! Aku hanya bertanya apakah kau dan dia--"


"Dokter Raisa tadi pagi naik ke ranjangku dan--" Lelaki itu mulai bergerak dari tempatnya--menyusuri tatanan meja yang sudah rapi--menuju ke arahku.


Buru-buru aku mengelap tangan dan menutup mata ketika melihat Leonhart bergerak mendekat melewati deretan meja dan kursi yang sudah ditata rapi. "Jangan lanjutkan! Tolong, aku tidak ingin mengetahui detilnya. Kau sudah menodai mataku pagi ini."


"Astaga! Benarkah begitu? Apa saja yang kau lihat?" Suaranya rendah dan menantang, hangat tubuhnya yang membelai menandakan dia sudah di depanku.


Aku menekan tanganku lebih dalam menutupi mata, ketika menjawab, "Aku tidak akan menceritakannya padamu."


Sentuhan lembut di bibir, membuatku menahan napas dan terdiam. Kemudian sekali lagi benda lembut itu menyentuh bibir, kali ini aku segera melepaskan tangan untuk mencari apa yang barusan menyentuh bibirku.


"Apa yang baru saja kau lakukan, Leonhart?" tanyaku sambil memicingkan mata dengan curiga.


"Errr ... menyentuh bibirmu dengan kanebo ini. Hmmm, kau tampak menikmatinya."


Aku membelalak, bisa-bisanya dia-- "Ah, sialan! Aku bisa cacingan punya barista sepertimu! Pueh! Pueh!"


Leonhart tertawa, kemudian melempar kanebo itu ke dalam sink. "Yuk pulang!"


Aku mendelik menatap Leonhart yang bergerak menjauh, memeriksa semuanya dan mematikan lampu. Sementara aku buru-buru melepas celemek dan mengambil tas, kemudian menyusulnya keluar kafe.


Setelah memastikan rolling door terkunci baik, Leonhart mengembalikan kunci. Kemudian, lelaki itu melangkah mundur sambil membuat gerakan dengan jari telunjuk dan jempol, seakan ingin mengambil fotoku. "Aku suka rambutmu yang tergerai seperti tadi pagi. Nite, Yu!" Dia menyeringai dan berbalik pergi.


Aku tercenung menatap punggungnya yang bergerak menjauh, hilang timbul dalam cahaya lampu jalan. Berbeda dengan Laura, setiap hari aku selalu menguncir rambut dengan gaya ekor kuda yang efisien. Namun, karena buru-buru menuju apartemen Leonhart dan rambutku masih basah, aku tidak melakukannya tadi pagi. Kata-kata Leonhart terngiang lagi dan membuat pipiku panas.


Aku mengulum bibirku dan terkejut ketika mencecap rasa coklat. Kapan aku makan cokelat? Apakah kanebo itu bekas mengelap tumpahan saus cokelat di meja? Aku mengulum bibirku lagi, aneh. Rasanya tidak seperti saus cokelat. Rasanya seperti ... coklat batangan?


Bukankah Laura barusan membagi Leonhart cokelat Toblerone-nya? Sebuah pikiran melintas di kepala, aku membelalak dan menarik napas karena terkejut.

__ADS_1


Tidak mungkin Leonhart---


__ADS_2