
Memandang punggung Max dalam balutan jas yang berjalan menjauh bersama Jeremy, aku mengulum bibir lagi, mengingat kecupan Max kemarin. Jika pertemuan bibir yang sesingkat itu saja bisa membuat kepayang, bagaimana jika waktu dapat di perpanjang? Kemudian, mungkin mengganti tempat parkir menjadi ranjang yang empuk. Lalu, pakaian yang melekat di--
"Nah! Apa yang sedang kau lamunkan, Yu?" tanya Laura dengan suara keras. Wajahnya yang muncul tiba-tiba di hadapan, memblokir pandanganku pada sosok Max yang sudah berada di seberang jalan.
"Ah, minggir! Minggir sana!" usirku sambil mengibaskan tangan, tapi terlambat. Tepat ketika Laura menyingkir, pintu masuk ke gedung bertingkat tempat Max bekerja mengayun tertutup. "Aaargh ... Lauraaaa!"
"Ada apa denganmu, dan Max, dan Leonhart?" tanya Laura sambil berkacak pinggang di depan meja kasir.
"Leonhart? Kenapa dengan dia?"
Ketika aku dan Laura menoleh pada sosok yang sedang dibicarakan, lelaki yang duduk di depan AC, dekat jendela kaca, menegakkan tubuhnya dan memandang kami dengan kedua alis terangkat. "Kenapa melihatku begitu?"
Suasana kafe jam sepuluh memang biasanya sepi, mungkin karena jam sibuk kantor. Setelah Max, belum ada lagi tamu yang meminum kopinya dalam ruangan. Kebanyakan, pada jam ini tamu-tamu yang datang memilih untuk duduk di depan kafe sambil menikmati bakaran tembakau. Hal ini membuat mereka bisa bercerita lebih leluasa.
"Kau menatap Yuri tanpa berkedip, sementara Yuri menatap Max sambil berkali-kali mengulum bibir. Ini tidak biasa. Katakan padaku, apa yang kau dan Max telah lakukan kemarin?" Laura menatapku dengan intens, menuntut jawaban atas pertanyaannya.
"Yeah, aku juga penasaran, apa yang kau dan Max lakukan dalam pakaian begitu mini dan dandanan ala tante kemarin," timpal Leonhart, memindahkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.
"Dandanan ala tante katamu?" Aku berdiri dari tempat dudukku dan memicingkan mata menatap Leonhart.
"Mini? Sejak kapan Yuri pakai pakaian mini?" heran Laura.
"Tidak pernah!"
"Sejak kemarin, kurasa dia sudah dewasa sekarang," ujar Leonhart membocorkan rahasiaku.
Buru-buru aku membantah, "Bukan begitu!"
"Jadi, bagaimana?" desak Laura meminta penjelasan.
"Aaargh ...! Kalian membuatku frustrasi." Aku mengempaskan kembali bokongku ke kursi kemudian mengubur wajah dalam tangan, namun gagal.
Laura tiba-tiba menarik pergelangan kiriku. Binar matanya menatap kagum pada jam tangan pemberian Max. "Oh my God! Apakah itu Patek Philippe gold series? Gila. Aku tidak tahu Max sekaya itu."
Leonhart berdecih menanggapi komentar Laura. "Jika aku adalah Max, sebaiknya uang itu kubelikan cincin kawin untuk melamar."
"Melamar siapa? Pacara saja kamu gak punya." Leonhart tidak menjawab kata-kataku. Namun, pandangannya yang lurus menatap tajam dan membuatku kembali memikirkan komentarku barusan. "Eh, ada dr. Raisa ya, maaf," ujarku malu-malu.
Tatapan Leonhart beralih, bersama dengan dengkusan kasar dari hidungnya. Yah, kalau dipikir, lelaki seganteng Leonhart masih single itu cukup mengherankan, bukan?
"Jadi, gimana acara kemarin, Yu?"
Aku memikirkan sebentar, sebelum dengan bersemangat menceritakannya pada Laura, sebagai teman wanita satu-satunya saat ini. Sesekali teriakan dan napas tertahan meluncur dari bibirnya yang berulas warna magenta yang eksotis, terutama saat aku menyebutkan merek dan nama tempat terkenal. Aku mulai berpikir sebenarnya Laura lebih tertarik dengan itu ketimbang cerita antara aku dan Max.
Kututup ceritaku dengan mengatakan Max mengantarku pulang, titik, tanpa menyebut bahwa kami berciuman dan tidak ada perubahan mengenai status hubungan kami. Kurasa, ini bagian menyedihkan dari petualangan sehari bersama Max.
__ADS_1
"Kau tidak akan mengatakan bahwa Max menciummu?" Kata-kata Leonhart langsung membuat wajahku memerah. Dari mana dia tahu kalau aku dan Max--
"Uwaaah ... gimana rasanya?" tanya Laura.
Bola matanya membesar dan berkilat, memohonku untuk bercerita. Aku ingin menghindar dari topik, tapi rasanya tidak mungkin, karena sekarang Leonhart sudah bergabung ke belakang counter dan berdiri memandangku.
"Ayo, duduk di sudut situ, lebih aman untuk bercerita." Laura langsung menarik tangan dan menyeretku, mengabaikan protes yang kulayangkan. Di belakang, Leonhart berjalan mengikuti. Didudukkannya aku di sudut sebelum mereka berdua mengambil duduk di samping. "Nah, ceritakan sekarang. Jangan malu-malu."
Aku cemberut memandang Leonhart. "Katakan padaku, bagaimana kau bisa tahu mengenai ciuman itu, Leonhart? Apakah kau mengikutiku?"
"Aku tidak perlu mengikutimu untuk tahu apapun. Polesan lipstikmu sedikit berantakan kemarin dan barusan kau mengulum bibir berkali-kali, yang mana tidak biasa."
Laura membelalak seperti teringat sesuatu, kemudian bibirnya terbuka untuk memotong kata-kata Leonhart. "Ah, pantas saja. Oke, cerita. Aku butuh detilnya."
"Tidak ada detil gimana-gimana Laura, ciuman itu begitu singkat dan aku--oh, ini memalukan. Aku belum pernah ciuman. Sementara, mungkin Max sudah berpengalaman. Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya?"
"Lima tahun pacaran dan kalian belum pernah berciuman sama sekali? Apa kau suster gereja? Ini sungguh tidak adil. Sudah, tenang. Biar aku mengajarkanmu, perhatikan ya."
Aku mengangguk. Mungkin, aku memerlukan tutorial seseorang yang berpengalaman seperti Laura untuk mengajariku cara berciuman yang benar.
"Pertama-tama, belajar melihat tanda-tanda jika Max berniat menciummu. Kemudian, relaks. Aku tahu ini sulit, karena begitu bibirnya mendekat, tubuh biasanya menegang dengan antisipasi. Tapi, tetap ... berusahalah relaks, oke?"
"Ah, benar! Tubuhku tegang hingga ke akar rambut."
Leonhart berdecak, dan membuat kami berdua memandangnya. "Ada yang ingin kau tambahkan, Leon?" tanya Laura. Nadanya seperti guru pelajaran mencium yang tersinggung saat kelasnya diganggu oleh murid nakal yang sok tahu.
Fokus Laura langsung teralihkan padaku lagi. "Nah, begitu bibir kalian bersentuhan, nikmati saja. Karena belum berpengalaman, biarkan Max menuntunmu. Biasanya, ketika pasangan sudah nyaman, mereka akan menggunakan lidahnya untuk mengeksplor lebih jauh. Sekali lagi, jangan takut. Ciuman itu nikmat."
Dapat kurasakan hangat di kedua pipi saat Laura mengatakan itu. Aku tidak berkomentar. Jujur, rasanya aneh, tapi nikmat.
"Buka sedikit bibirmu, jangan terlalu besar, biarkan dia penasaran. Max mungkin akan mendesak untuk membuka sisanya. Balas belaian bibirnya dengan lembut."
"Dengan lembut?" tanyaku heran.
"Jadi, julurkan lidahmu seperti ini." Aku melihat tanpa berkedip saat Laura menjulurkan lidah. Dia menggerakkan ujung lidah hingga bagian itu menukik ke atas, seperti jari telunjuk yang memanggil. Laura memasukkan lagi lidahnya, sebelum menerangkan, "Mainkan ujungnya seperti itu untuk menggelitik langit-langit mulut. Daerah sensitif lelaki sepertinya di antara gusi dan gigi, benar gak, Leon?"
Pertanyaan yang tiba-tiba membuat Leonhart terperanjat dan wajahnya bersemu. "Err ... untuk memastikan, bagaimana jika kita praktek dulu?"
Jari Laura bergerak mencubit dada Leonhart dan berhasil membuatnya mengaduh. "Enak saja. Dan, aku gak percaya kau gak tahu. Apalagi pacarmu dokter."
"Raisa itu--"
Bantahan Leonhart segera terpotong oleh Laura yang sudah terfokus lagi padaku. "Mudah kan? Ayo, giliranmu mencobanya, Yu."
"Aku gak mengerti bagaimana kau bisa menggerakkan ujung lidahmu seperti itu? Kenapa rasanya lidahku kaku?"
__ADS_1
"Rahasianya, rajin-rajinlah mencium pasanganmu. Tolong dipraktekkan, ya. Jangan biarkan pelajaran yang kuberikan jadi sia-sia. Lagi pula, lelaki lebih suka dengan wanita berpengalaman."
Kata-kata penutup Laura membuat mataku bersinar dengan rasa tertarik. Dapat kubayangkan reaksi Max jika dia menciumku lagi. Mungkin, lain kali, aku bisa membuatnya terlena sampai mengatakan kata-kata magis : Will you marry me?
Hari itu kuhabiskan dengan berpikir mengenai teknik berciuman ala Laura. Aku jadi bertanya-tanya, apa saja yang dilakukan Laura saat berpacaran? Dan sejauh apa dia telah berbuat?
Ini tentunya bukan urusanku, tapi aku khawatir dengannya sebagai sesama wanita. Aku tahu, keluarga Laura adalah keluarga berada, tapi kurangnya perhatian kedua orang tuanya membuat Laura seperti hilang arah. Aku hanya tidak ingin wanita itu terjerumus atau dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
***
Pukul 20.00 tepat. Begitu jarum jam panjang menunjuk ke angka dua belas, Laura seperti biasa melesat pergi setelah berpamitan, meninggalkan kafe yang sedang ramai. Kali ini aku tidak sempat melihat jenis mobil yang membawanya, karena sibuk dengan pesanan.
Sejak sore hingga malam tamu yang datang semakin banyak, ditambah gerimis di luar membuat tamu-tamu itu semakin enggan pulang. Akhirnya, kafe tutup lebih malam.
Setelah semua lampu di matikan dan hanya menyisakan cahaya dari etalase kue, aku menghampiri Leonhart yang sedang mengelap meja terakhir. "Kurasa aku harus memberimu bonus ya, kau rajin sekali."
"Aku ingin menolaknya, tapi tidak bisa." Leonhart terkekeh. "Nah, selesai. Aku cuci dulu kain ini, kemudian kita pulang."
"Hmm ... Di luar masih gerimis, kurasa aku akan menginap di sini. Jadi, setelah selesai, kau bisa langsung pulang," ujarku, lalu berbalik dan berjalan menuju counter. Hari yang melelahkan, aku tidak sabar untuk segera beristirahat. Sofa bed di sana cukup nyaman untuk digunakan tidur. Segera kubereskan barang-barang, kemudian memindahkan ke dalam kantor.
"Oh, jangan lupa kunci pintunya," tambahku pada punggung Leonhart yang berjalan menuju kamar mandi. Lelaki itu hanya melambai tanpa menoleh.
Setelah membereskan barang, baru teringat kalau kunci kafe belum kuberikan pada Leonhart. Lalu, bagaimana lelaki itu bisa mengunci pintu? Buru-buru kuambil kunci kafe dari dalam tas dan segera menyusul keluar. Hampir saja aku menabrak tubuh Leonhart yang berdiri tepat di balik pintu geser.
Napasku tercekat di tenggorokan. Lantai kantor yang lebih tinggi dari kafe membuat tinggi tubuhku hampir sejajar dengannya. Mataku menatap langsung dalam manik yang berkilat dalam cahaya minim pada lorong. Leonhart tidak bicara, bibirnya begitu dekat dan napasnya membelai hangat.
Aku ingat, rasanya pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Aku tidak begitu ingat kejadiannya, tapi itu adalah hari di mana Max memutuskan hubungan kami.
"Leon, waktu itu ... apa yang sudah kita lakukan sebenarnya?"
Alisnya berkerut, mencoba mengingat kembali. "Maksudmu, saat Max memergoki kita?" tanyanya pelan, tatapan matanya sayu memandang.
"I-iya. Aku tidak ingat kejadiannya, tapi aku ingat, posisi kita persis seperti ini bukan?"
Leonhart menyeringai. Wajah tampan itu membuatku merona dalam keremangan. "Aku tidak menyalahkanmu, karena kau mabuk. Kau yakin ingin tahu apa yang sudah terjadi?"
"Y-ya ... aku harus tahu di mana kesalahanku untuk bisa menebusnya, bukan?"
Manik matanya berubah lebih serius ketika berkata, "Lingkarkan tanganmu di leherku."
"Eh? Ti-tidak mau." Jantungku berdegup keras mendengar permintaannya. Apakah aku benar-benar telah melingkarkan tangan di lehernya waktu itu, ataukah Leonhart sedang menggodaku?
Leonhart berdecak. "Sayang sekali. Kalau begitu, aku pulang."
Dia mengambil kunci dari tanganku dan berjalan menembus gelap. Aku dapat mendengar putaran kunci sebelum suasana dalam kafe menjadi hening sepenuhnya.
__ADS_1