
"Saya sudah di Indonesia, hanya satu hari di sini. Saya jemput jam tujuh."
Kutatap layar sentuh untuk memastikan bahwa pesan dari Ryuichi-san dimaksudkan hari ini. Tadinya kupikir mas-mas Jepang itu hanya bercanda dengan memberiku amplop berisi ajakan kencan. Namun, esok harinya, lelaki dengan bola mata sangat hitam itu mengirimkan pesan singkat dari Jepang yang menceritakan kabarnya di sana.
Ryuichi-san juga menanyakan banyak hal padaku, seperti hobi, makanan kesukaanku, dan hubungan asmara. Yang terakhir itu sebenarnya agak risi untuk dijawab. Namun, mengingat informasi Laura bahwa Ryuichi-san adalah teman Max, mungkin dia ingin memastikan aku tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Max. Jadi, kujawab saat ini aku single.
Bukannya aku naksir Ryuichi-san. Wajah lelaki itu cukup tampan, dan kupikir tidak salah menerima ajakan kencannya. Ini debutku memulai berkencan lagi dengan orang lain, dan semoga setelahnya, ajakan kencan lain akan mengalir. Kalau dalam bisnis namanya penglaris.
Sebenarnya ada sedikit perasaan tidak nyaman, karena memulai sesuatu dengan orang yang baru dikenal itu rasanya aneh. Dan, kalau harus memilih orang lama, hm ...--aku melirik pada Leonhart yang sedang menghias lapisan atas coffee latte--rasanya tidak etis.
Ting! Leonhart membunyikan bel dan Laura datang menjemput coffee latte yang siap dihidangkan. Buru-buru aku memalingkan wajah ke depan. Beberapa tamu yang membayar membuat perhatianku teralihkan. Intinya, aku senang ada yang mengajakku pergi, paling tidak nasibku tidak sial banget sampai gak ada orang yang mau lagi denganku setelah putus dari Max.
"Kau ada kencan malam ini?" tanya Leonhart dari belakang. Kemudian, sosoknya yang tinggi muncul dan bersandar di etalase kue, di sebelah meja kasir.
Aku menatap Leonhart curiga, "Darimana kau tahu?"
"Dari dandananmu. Aku dan Laura sudah membicarakanmu dari pagi, kau tidak tahu? Dengan orang Jepang itu, kutebak." Leonhart mengembuskan napas panjang sebelum berkata, "Kau tidak mau pergi denganku, dan malah memilih orang asing yang tidak jelas latar belakangnya. Apa gak takut diapa-apain oleh dia? Kemarin kau lihat kan dia memiliki bodiguard?"
Tatapan Leonhart menyorotkan rasa khawatir, dan sekarang dia membuatku juga khawatir. Aku sampai lupa bahwa lelaki itu punya semacam bodiguard. Aduh, gimana ini?
Tidak, aku tidak boleh takut. Mau sampai kapan aku takut? Sampai jadi perawan tua keriput yang ditinggalkan semua orang? Kedinginan dan tanpa cinta? Ih, dari mana pikiran lebay itu datang?
"Oh, tunggu sebentar!" Aku teringat sesuatu. Segera kusambar tas dan merogoh ke dalamnya. "Jangan khawatir. Aku bawa semprotan antiseptik, alkohol 90%. Aku akan menggunakannya jika dia macam-macam. Aku juga bawa korek api, kalau dia nekat, aku akan menyalakan api dan menyemprotkan alkohol ini biar tercipta semburan api." Pikiranku menciptakan bayang-bayang yang membuatku tertawa senang.
"Kau itu mau kencan atau mau main sirkus, sih?" Leonhart tertawa, kemudian menyita antiseptik dan korek api dari tanganku. "Bisa-bisa kau masuk penjara gara-gara kekonyolanmu, Yu."
"Lalu apa yang kau sarankan?"
"Jangan pergi." Alisnya yang tebal menyudut naik ke batang hidungnya dan mata indahnya memelas, "Please ...."
Oh, Leon ....
"Kau tahu, aku harus pergi, kan? Bukankah kau juga ingin aku segera move-on dari Max? Dan siapa tahu, setelah ini aku jadi sosialita yang kerjanya jalan-jalan." Aku menonjok lengannya, dan melayangkan senyum. "Percayalah, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Justru masalahnya, kau itu terlalu naif, Yu. Oh, apa saja sih yang kau dan Max lakukan selama pacaran lima tahun itu? Kau tidak tahu bagaimana jika seorang lelaki putus asa karena nafsu, kan?" Aku menatap Leonhart yang berubah perlahan, dari memelas menjadi frustasi. "Kau ... aaargh, kau ...."
"Aku kenapa?"
"Kau itu cantik, itu yang ingin dia bilang, Yu," celetuk Laura yang baru datang, tangannya dengan cekatan mengisi ulang wadah untuk gula dan creamer.
__ADS_1
Suara decak lidah terdengar dari Leonhart. "Hei, jangan ikut campur. Tolong biarkan aku menyelesaikan kalimatku sendiri, oke?" hardik Leonhart, kemudian lelaki itu kembali berpaling menatapku. "Yu, menurutku, kau--."
Lonceng pintu berdenting, menandakan tamu datang. Aku menoleh dan mendapati Max sedang menatapku. Max, meskipun pakaiannya selalu itu-itu saja--kemeja putih, dasi dan jas wool hitam--selalu membuatku terpukau. Tatapannya hari ini berbeda dari sebelumnya, dia mengamatiku lekat, seakan-akan kami baru dipertemukan untuk pertama kalinya.
"Yuri, sampai ketemu nanti maram," sapa seseorang, yang membuatku mengalihkan perhatian dari Max.
Wajahku pasti merah saat ini. Bagaimana mungkin aku tidak melihat Ryuichi-san yang berdiri di samping Max. "Oh, iya. baik," jawabku.
Ryuichi-san dan seorang tamu, disertai dua orang berpostur tegap menyertai langkahnya ke tempat duduk di ujung, sementara Max masih bergeming di depan kasir. Tatapannya masih tidak beralih dariku, apakah ini salah satu jurusnya dalam pengadilan untuk membuat gelisah lawannya hingga mereka akhirnya mengaku bersalah?
Well, aku tidak merasa bersalah, aku bahkan belum melakukan apapun. Jika Max mau protes mengenai acara kencanku dengan tamunya, kurasa itu sudah bukan urusannya.
"Bapak mau pesan sesuatu?" tanyaku berusaha mengusir mantan kekasihku dari hadapan. Sial, mengapa suaraku bergetar? Rasanya aku ingin menangis di bawah tatapannya yang tajam.
"Ada apa antara kau dan Ryuichi-san, Yu? Apa dia mengajakmu kencan? Apa kau mengiyakan ajakannya?" Mata Max menyipit, menyelidik. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan pisang ketika dikelupas kulitnya.
"Itu bukan urusanmu, Pak." Aku mengangkat tangan untuk menghentikan rasa ingin tahunya. Namun, aku terkejut saat Max menangkap tanganku dan menahannya di meja. Kupikir dia akan menyakitiku karena telah mengganggu tamunya, tapi tidak. Genggamannya terasa lembut dan hangat.
"Sekarang itu jadi urusanku."
"A-apa?" Belum lagi aku selesai bertanya, Max sudah pergi menemui tamunya.
"Max juga tidak setuju kau pergi dengan cowok Jepang itu," terang Leonhart dari belakang.
"Memangnya dia pikir dia siapa, ngatur-ngatur aku kayak gitu. Baru datang aja udah bikin badmood."
Leonhart menjawabku dengan menaikkan bahunya. "Tapi, kali ini, aku setuju dengannya."
Huh!
Aku berkeras tidak akan menoleh ke belakang, tempat di mana Max dan Ryuici-san berada. Rasa kesalku masih belum padam, apakah Max benar-benar ingin aku tersiksa? Menjomlo seumur hidup, dan berharap dia memungutku lagi? Aku sudah mengakui kalau aku menyesal telah putus darinya, lalu apa lagi yang dia inginkan?
Aaargh! Rasanya ingin menerbalikkan meja di depanku dan menendang etalase kue di sebelahnya.
"Yu ... Yu, aku mau bayar," ujar Max. Entah sudah berapa lama aku mengumpat dalam hati, aku terkejut ketika mendapati orang yang kuumpat berdiri di depanku
"Eh? Oh .... oke. Double espresso, americano grande, cappuccino, dan makanannya. Semua jadi Rp.753,000,-." Aku mengambil kartu kredit Max dan menunggu sampai mesin mengeluarkan bukti transaksi.
Sementara kusodorkan bukti transaksi itu untuk ditandatangani, kualihkan tatapanku ke arah lain agar tidak perlu menatap Max. Menatap bagaimana rambutnya yang hitam sudah waktunya dirapikan. Menatap kuku tangannya yang sedikit somplak. Aku yakin dia sudah berusaha untuk tidak lagi menggigiti kukunya. Atau mungkin, seseorang sudah menggantikanku untuk mengingatkan dia agar tidak lagi mengigiti kuku. Ada perasaan sedih menyelinap, ketika mengingatnya.
__ADS_1
"Ayo, Makasu-san, cepat. Saya ada kencan hari ini dengan Yuri," ajak Ryuichi-san. Bibir yang dibingkai kumis tipis itu menyunggingkan senyum percaya diri padaku.
Aku membalasnya dengan senyum paling manis yang bisa kulakukan saat Max berada di depanku. Sesaat kemudian, rombongan itu berlalu bersama Max. Kemudian, aku terpana ketika aku menatap pada bukti transaksi yang harusnya ditandatangani Max. Alih-alih mendapat tanda tangan Max, di atas kertas itu malah terdapat coretan tangan yang amat kukenal.
JANGAN PERGI!!! tulisnya, lengkap dengan huruf besar dan tiga buah tanda seru untuk memastikan aku mengerti isinya. Apa-apaan ini? Mengapa semua orang menyuruhku tidak pergi? Pokoknya aku harus pergi, peduli setan!
Pukul 20.30. Hingga kafe tutup, aku belum juga dijemput. Padahal Ryuichi-san berjanji menjemput jam 19.00. Bukankah orang Jepang selalu tepat waktu?
Berdiri di atas trotoar, di depan kafe, Leonhart menyerahkan kunci padaku sambil bertanya, "Kau belum dijemput?"
"Belum. Mungkin dia tidak tertarik padaku. Apakah ada yang salah dengan dandananku, Leon?"
"Tidak ada. Kau ... sempurna." Dia tertawa, apakah itu artinya dia merasa senang aku tidak jadi berkencan dengan Ryuichi-san?
Sebuah notifikasi masuk ke nomorku, buru-buru aku menggeser layar sentuhnya dan terkejut. Notifikasi itu datang dari Max : Jangan menunggu, kami sedang bersenang-senang.
Menyusul kemudian, sebuah foto yang menampakkan Ryuichi-san yang sedang memegang mic dalam ruang gelap, sedang berkaroke ria, bersama tiga orang gadis pemandu yang setengah telanjang.
"Lihat tuh!" kataku sambil menjejalkan telepon genggamku ke dalam tangan Leonhart. "Aaargh! Max sialan!!!" makiku ke arah gedung biro pengacara milik Max. Beberapa orang pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang lewat menoleh ke arahku, aku tidak perduli jika suaraku bergema hingga berpuluh-puluh kilometer jauhnya.
Air mataku tumpah tak tertahan, pasti Max sudah merencanakan hal ****** ini. Aku melepas high heels-ku dengan kasar dan membantingnya ke atas trotoar satu per satu, karena tidak tau harus kulampiaskan kemana lagi kemarahanku yang sudah mencapai puncaknya.
Leonhart yang terbahak-bahak di belakang, membuatku menoleh. "Apa yang lucu? Apa menurutmu kemalanganku mendapat jodoh itu lucu, huh?"
"Uhm ... tidak, itu tidak lucu sama sekali." Leonhart berusaha mengulum tawanya. Ekspresinya malah membuatku menangis lebih keras, seakan mengatakan reaksiku tidak lebih konyol dari anak SMA yang mengalami cinta monyet.
"Kemarilah, Yu."
Ditariknya aku ke dalam peluknya. Aku tidak kuasa menolak, dan malah menangis lebih deras lagi. Tangannya yang mengelus punggungku, perlahan memberikan kehangatan yang meredakan badai emosi. Di bawah temaram lampu jalanan, Leonhart memelukku erat, menunggu hingga tangisku berubah menjadi isakan.
"Udah nangisnya?"
Leonhart menangkup wajahku dan tersenyum. Senyum Leonhart seperti ini harusnya bisa meruntuhkan tembok China, tapi sekarang aku hanya bisa menatapnya nanar dengan mata setengah terbuka karena bengkak.
"Yuk, kuantar kau pulang."
Aku mengangguk lemah menjawabnya. Terima kasih, Leon.
__ADS_1