
"Sudah seminggu tuh anak menggerutu melulu, kurasa kau sebaiknya ajak dia ke dokter jiwa. Mumpung pakai BPJS gratis. Oops!"
Aku mendelik menatap Laura yang sedang berbisik ke telinga Leonhart, tangannya berada di pundak lelaki yang sedang menunggu aliran kopi panas keluar dari mesin. Leonhart menyeringai, menampakkan seri gigi putihnya yang terawat.
"Nanti kubawa dia ke sana, kalau perlu kubopong boss kita di pundak, seperti Tarzan dan Jane. Romantis kan?"
Sekarang, mereka berdua tertawa bersama, serasi sekali. Seperti Barbie dan Ken. Ini membuatku bertanya-tanya, kenapa Laura dan Leonhart gak jadian saja? Paling tidak, itu akan membebaskanku dari satu masalah, kecemburuan Max.
Aku mendengkus dan berdiri saat segerombolan anak magang--yang semuanya adalah gadis muda dalam pakaian seragam--menghampiri meja kasir untuk membayar. Meskipun pembayaran telah selesai, gerombolan itu tidak langsung pergi. Mereka saling mendorong seakan ada hal yang ingin diungkapkan.
"Ini ada sedikit tips dari kami."
"Oh, ya ampun. Terima kasih, Kak." Mataku berbinar menatap kebaikan hati mereka. Bagaimana tidak? Bayangkan, tips sebesar seratus ribu rupiah diberikan cuma-cuma ke dalam toples.
"Bukan untuk Tante, tapi untuk (mereka berbisik-bisik) barista ganteng itu," jelas seorang dari mereka. Kemudian, gadis-gadis magang itu bersama-sama memamerkan senyum paling sempurna, beberapa dari mereka melambaikan tangan ke arah Leonhart di belakang.
Merasa seperti pagar tetangga yang mengganggu, perlahan aku menyingkir dari meja kasir agar gadis-gadis itu dapat menatap Leonhart dengan sempurna. Siapa tahu setelahnya, akan ada tips seratus ribu lagi masuk dalam toples. Setelah mereka pergi, barulah perasaanku sedikit lega.
"Kau cemburu?" tanya Leonhart.
"Pada gadis-gadis itu? Untuk apa cemburu?"
"Wajahmu merah."
"Bukan berarti aku cemburu, aku merasa--tua dan terhina." Aku menarik napas panjang dan menunduk lemas.
Leonhart tertawa, gelaknya merdu di telinga. "Jangan begitu. Meskipun dua minggu lagi ulang tahunmu ke dua puluh enam, bukan berarti kau sudah tua. Kau tetap boss-ku yang paling cantik."
"Huh, Dasar gombal! Memangnya kau punya boss lainnya?"
Leonhart hanya tertawa kemudian menghampiri Laura yang menyodorkan pesanan customer dari balik mesin kopi.
"By the way, kau belum balas budi padaku, Yu."
"Balas budi? Aku sudah membayar gaji dan tagihan BPJS tenaga kerja kalian tepat waktu. Tidak lupa juga, aku membagi tips dengan adil."
"Aku mengantarmu pulang minggu lalu. Setelah kau, uhm ... meratapi nasib."
"Aku tidak memintamu, kan? Kau yang berinisiatif mengantarku pulang. Lagian--" Lonceng pintu masuk berbunyi, "siapa suruh kau mengantarku pulang?"
Aku membalik badan dan terkejut, Max berdiri di sana bersama Nikita Willi. Dengan cahaya matahari yang menyorot punggungnya, rambut pirang wanita itu terlihat bercahaya.
Cantik sekali! Aku langsung bergegas keluar dari counter dan menghampiri artis muda itu, tidak menghiraukan keberadaan Max di sampingnya. Mungkin sekarang mataku berkaca-kaca. "Tolong tanda tangan di sini, Kak Nikita. Aku fans-mu."
Nikita Willi tertawa, suaranya seksi sekali. "Oke."
__ADS_1
"Dia lebih muda darimu, Yu," ujar Max. Maksudnya untuk menerangkan, tapi kata 'muda' yang diucapkan Max malah terasa seperti sentilan di telinga. Aku mendengkus dan memberi tatapan sinis pada Max yang menatapku dengan dua alis tebalnya terangkat.
"Silakan, Kak." Kuberikan senyum termanis pada Nikita Willi sambil mengantarnya ke Wall of Fame buatanku. Wall of Fame yang dimaksud sebenarnya adalah bingkai besar dari kanvas yang terpatri di dinding. Hanya tamu selebritis yang dibolehkan untuk membubuhkan tanda tangan di sana.
"Terima kasih, Kak Nikita, semoga pelayanan kami memuaskan. Mau pesan apa, Kak? Kopinya gratis on the house, tapi makanannya tetap berbayar."
"Tidak masalah, biar aku yang bayar." Max tersenyum. "Seperti biasa."
Aku tidak bisa bermasam wajah, karena sedang berhadapan dengan Nikita Willi yang mengembalikan spidol. "Terima kasih," katanya.
Wanita itu lalu menggandeng lengan Max dan berjalan anggun menuju tempat duduk di sudut ruangan.
Jika Max jatuh cinta pada Nikita Willi, itu bukan salahnya. Aku pun akan setuju. Dengan berat, aku menarik napas panjang dan berlalu.
Baru saja langkahku sampai di balik counter, suara Max memanggilku, "Yu, bisa kita order sekarang?"
Sialaaan! Aku menggertakkan gigi dan mengepal hingga buku-buku jariku memutih. Kenapa lelaki itu suka sekali mempermainkanku? Kutatap Laura dan Leonhart yang berusaha menahan tawa mereka di balik mesin kopi. Laura bahkan berjongkok agar ekspresinya tidak terlihat oleh tamu.
Aku berbalik dan melemparkan senyuman yang terlalu ramah. "Tentu saja, Pak."
Kucatat tiap detil yang disebutkan Nikita dengan seksama--susu tanpa lemak, satu sachet gula diet, less sugar, dan dalam mug. Kertas itu lalu kuberikan kepada Leonhart sambil menitipkan pesan. "Untuk Max, tambahkan Bayclean dalam espressonya. Tolong balaskan dendamku ini, Leon."
Leonhart terkekeh lalu berkata, "Laura, aku sibuk. Artinya, kali ini giliranmu mengantar boss kita ke dokter jiwa."
"Terus saja bully aku. Sudah, ah! Aku capek. Kalian layani dulu tamu-tamu di sini. Panggil aku setelah dua orang itu menghilang." Kubalikkan badan dan berlalu menuju ruang kerja di balik counter, meninggalkan kedua karyawan yang masih tertawa di belakang punggungku.
Bagaimana mungkin dia tidak merasa bersalah setelah dengan sengaja menggagalkan kencanku? Dan, tidak ada minta maaf sama sekali, padahal dia tahu kalau malam itu aku akan berkencan. Aku bahkan sudah berdandan!
Dari semua mantan kekasih yang kumiliki, uhm ... ada berapa ya? Sebentar kuhitung dulu. Sekitar tujuh, kurasa. Tidak satu pun yang membuatku kesal seperti Max. Apakah ini karma? Seharusnya bukan, karena kesalahan yang kubuat itu tidak disengaja!
Semakin kupikirkan, semakin sakit kepalaku. Kusandarkan kening di atas tumpukan tangan dan berusaha untuk tidur. Aku tidak mau bergantung pada paracetamol merah itu, mungkin aku hanya perlu mengistirahatkan otakku sejenak.
Bunyi pintu geser membuatku mendengkus dan menegakkan kepala dengan malas. "Sudah kubilang jangan ganggu aku sampai--."
Glegkh! Aku menatap sosok Max yang sedang menutup pintu geser itu dan berjalan mendekat.
"Sampai apa?" tanyanya. Didudukkan dirinya dengan nyaman di depanku, seakan kafe ini bagian dari kepemilikan biro pengacaranya.
"Sampai kau pergi," jawabku ketus.
Max menarik napas panjang kemudian melepaskannya perlahan. Tangannya terulur mengambil pen dan mulai mencoret-coret kertas bekas di atas meja. "Kau masih marah?"
"Apakah aku seharusnya senang?" sinisku.
"Aku menyelamatkanmu, kau tahu?"
__ADS_1
"Menyelamatkan? Kau--."
"Ryuichi adalah anggota Yakuza. Kau tahu itu mafia Jepang, kan? Dia memiliki jaringan rumah makan Jepang di Indonesia dan ... aku tidak mau kau terlibat dengannya."
Aku mendecak. "Apa pedulimu?"
Pen itu dilepaskan Max dengan sengaja dan membuat suara benturan ketika menyentuh meja. Aku tersentak dan membelalak di bawah tatapan Max yang tajam.
"Itu akan jadi urusanku ketika kau terlibat dengannya. Kau tidak mau saat umurmu bertambah, kau terikat di sushi bar dan dinikmati beramai-ramai oleh anggota Yakuza, kan?"
Dapat kubayangkan film-film Jepang jaman dulu, di mana para wanita disiksa dan dijadikan semacam permainan berahi segerombolan Yakuza. Tapi, itu kan dalam film. Aku menggeleng. "Kau sedang menakut-nakutiku."
"Buat apa aku membuatmu takut, Yu?" ujar Max tanpa mengendurkan tatapannya. Sesaat kemudian, gerahamnya menggertak dan dia mendengkus sebelum berkata, "Kalau kau mau tahu, bagaimana jika aku membuatmu takut, maka akan kutunjukkan."
Max berdiri. Dalam sekejap, dia sudah berada di samping dan menarikku. Dengan kasar, Max mendorongku ke dinding dan menindih dengan tubuhnya, hingga aku tidak dapat bergerak. Aku menggeliat, berusaha melepaskan diri, tapi cengkraman tangannya begitu kuat dan tidak kendur meski aku meronta lepas.
"Lepaskan, Max! Kau gila!" hardikku sambil terus meronta.
"Apakah kau takut sekarang?"
Aku dapat merasakan bibirku dan gigi di dalamnya gemeletuk ketakutan. Namun, bahkan dengan suara gemetar aku tetap menjawab, "Tidak!"
Max mengangkat dagunya yang tegas dan menatapku. Aku balas menatapnya nyalang. Aku tidak boleh berpaling, akan kutunjukkan kalau dia tidak bisa membuatku takut. Napasku mulai berkhianat dengan tidak mampunya paru-paru menghirup lebih banyak oksigen ketika tubuh Max mendesakku lebih rapat ke dinding. Kemudian, bibirnya turun, semakin dekat. Aku hanya bisa membelalak menatapnya.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan pintu membuat Max refleks menarik dirinya dan melepaskanku. Dia mundur selangkah, lalu menyugar rambut hitamnya, tanpa tahu bahwa itu dapat membuat kerapiannya hilang.
"Aku minta maaf, Yu," ujar Max. Raut wajahnya terlihat frustrasi. Napasnya tersengal dan gerakan naik turun dadanya seirama dengan napasku.
Apakah Max juga merasa takut?
Kemudian, tatapannya berubah dingin sebelum berkata, "Dengar nasihatku, Yu, tidak ada yang bermain dengan pengacara, kecuali mereka dalam masalah. Jatuh cintalah dengan orang di sekitarmu. Orang yang kau tahu baik."
Aku masih menatapnya dalam diam ketika Max beranjak menuju pintu dan menggeser daunnya, menampakkan sosok Leonhart. Dua lelaki itu saling bertatapan, sebelum Max meneruskan langkahnya pergi.
Saat seperti ini, aku baru memperhatikan bahwa Max lebih tinggi dari Leonhart, bahunya lebih besar. Lebih kokoh. Seakan sanggup menanggung semua masalah dunia. Dan, itu membuat mataku berkaca-kaca.
Leonhart buru-buru menggeser tutup pintu di belakangnya dan menemuiku. Ditangkupnya wajahku, matanya menyorotkan kecemasan ketika bertanya, "Kau tidak apa-apa? Apakah dia menyakitimu, Yu?"
"A-aku tidak apa-apa. Max hanya ...."
"Hanya apa? Kenapa kau gemetar?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Leonhart ketika lelaki itu menarikku dalam dekapnya. Tatapanku masih terpaku pada sosok yang baru saja pergi.
__ADS_1
Max ....