
"Happy birthday to Yu, Happy birthday to Yu
Happy birthday to Yuriii ... Happy birthday to Yu!"
Tepuk tangan berkumandang dan tiupan peluit, meriah memenuhi seluruh ruangan pagi itu. Ini pertama kalinya aku merayakan ulang tahun tanpa kehadiran Max. Aku menangis karena terharu. Para pelanggan setia kafe berada di sini, kurasa Laura dan Leonhart telah merencanakan ini jauh hari.
Aku menoleh, saat seseorang mencolekku dari belakang. "Selamat ulang tahun ya, Yu," ujar Ricky seorang guru privat yang sering menggunakan kafe ini untuk mengajar murid-muridnya.
Aku tidak keberatan. Karena murid-murid itu masih ABG, mereka cukup royal membeli makanan dan minuman. Belum lagi, jika mama-mama mereka ikut menunggu dan bergosip tentang Leonhart, ugh ... uang tips yang masuk dalam toples langsung bertambah dengan cepat, asalkan Leonhart mau kusuruh mondar mandir untuk mengantar pesanan mereka.
"Selamat ya, Jeung," ujar Tante Rossa. Dia memelukku erat, kemudian diciumnya pipiku kiri dan kanan. Wanita paruh baya ini sering kemari sejak bercerai dari suaminya dua tahun lalu.
Awalnya, aku melihat dia berdiri bak orang linglung di depan kafe. Karena rasa kasihan, kuajak dia duduk di dalam dan memberikan secangkir Earl Grey Twining Tea, gratis. Mungkin karena rasa hangat dari minuman itu seperti sebuah pelukan yang nyaman, wanita itu kemudian menangis tersedu-sedu dan menceritakan masalahnya. Setelah itu, secara regular dia kemari untuk minum teh dan mencariku sebagai teman berbincang.
"Aaa ... Tante Rossa! Terima kasih." Aku balas memeluknya.
"Kalau gak salah kamu single sekarang, to?"
Aku tertawa menanggapi pertanyaannya. "Iya, Tan."
"Bagus. Anak tante minggu depan pulang dari Korea, kira-kira sepantaran kamu. Tante mau kenalin dia ke kamu."
"Ah, Tante, yang benar saja. Di sana, banyak wanita yang seribu kali lebih cantik dariku, mana mau anak tante kenalan sama aku yang burik gini."
"Hush! Mana burik? Berani dia bilang kamu burik, tante jahit mulutnya!" Bola mata wanita itu membulat dengan tekad, yang mana membuatku makin tertawa lebar. "Mau ya, tante kenalkan sama anakku?"
"Iya, Tante. Terima kasih, ya."
"Yu, udah cipika cipikinya? Tuh, Jeremy pesan kopi untuk Max," bisik Laura di telinga sambil memberikan kertas pesanan Max. Aku menengok dan mendapati lelaki tegap berambut cepak itu menunggu dengan gelisah di depan meja kasir.
__ADS_1
Dasar, Max, gak bisa lihat orang sedang senang apa? Meskipun tidak lagi berpacaran, paling tidak harusnya dia mampir untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Atau, mungkin dia sudah lupa? Aku memberengut dan dengan malas berjalan ke belakang counter.
Leonhart menyusulku ke belakang counter, kemudian menawarkan diri. "Mau aku yang buatkan? kau duduk saja. Tidak masalah kan jika Max tahu bahwa aku yang membuatkan kopinya?"
"Yeah, tapi gak pa-pa, biar aku saja, Leon. Thank's, ya."
"No problem, cuma menurutku, jangan dipaksakan Yu. Kau tahu Max hanya ingin menyiksamu."
Aku sedang malas berdebat dengan Leonhart, meskipun dia benar. Aku juga masih tidak mengerti, mengapa aku mau saja disiksa oleh Max. Tanganku bergerak cepat membuatkan kopi pesanan Max. Setelah terbungkus rapi, aku terkejut tidak menemukan Jeremy di mana-mana. Kemana lelaki itu?
Karena Leonhart sedang membuatkan kopi dan Laura sibuk membagikan kue ulang tahun gratis untuk para tamu yang hadir, aku memutuskan untuk mencari Jeremy. Lelaki itu mungkin sedang merokok di luar.
Langkahku terhenti di depan kafe ketika pandangan tertumbuk pada sosok Max yang berdiri sekitar lima belas langkah dariku. Mobil mewah miliknya juga terparkir di sana. Hari apa hari ini? Mengapa Max tidak mengenakan jas seperti biasa? Pakaiannya hari ini sangat casual--berupa kaos polo berwarna merah tua dan celana kain--apakah hari ini dia libur?
Max tersenyum, yang mana membuatku menahan napas. Meskipun aku ingin berbalik masuk dan menyuruh Leonhart untuk mengantarkan kopi ini pada Max, kakiku seperti tertarik gravitasi pesonanya. Tiba-tiba saja, aku sudah berada di depannya. "Ini pesananmu, Pak."
Max tersenyum lagi. Tanpa melepaskan tatapan, dia mengambil gelas kertas berisi double espresso dari tanganku. Tidak berhenti di situ saja, satu tangan Max membuka pintu mobilnya, lalu berkata, "Masuklah."
Tarikan napas panjang terdengar sebelum Max menyalakan mobil dan mengunci pintu.
"Max. apa yang kau lakukan?" tanyaku panik. "Aku harus kembali ke toko." Satu tarikan gas menghentakkan punggungku ke tempat duduk.
"Kau sedang diculik, Yu. Jadi diamlah dan pasang sabuk pengamanmu." Seringainya begitu lebar, aku hanya bisa tercengangn menatapnya. Belum pernah kulihat wajahnya begitu senang ketika bertemu denganku. Apa yang merasukinya?
Sekarang aku benar-benar panik, mobil Mercedez Benz itu melaju dengan cepat. Buru-buru aku menarik sabuk pengaman dan memasangnya segera, demi keselamatan. "Max, apakah kau baik-baik saja? Kau sakit? Kita mau kemana?"
Max menoleh, manik matanya berkilat jenaka. "Pertama-tama, mari kita ke salon."
"Salon?" Baru saja aku mengatakan itu, mobil bergerak melambat dan berhenti di salah satu sudut kota Jakarta yang paling bergensi, Jl. Kemang Prapanca.
__ADS_1
Merek salon terkenal yang terpampang di depan bangunan membuat aku membelalak. Max membuka pintu mobil dan menarikku mengikutinya. Pada pintu masuk, terdapat papan kecil bertuliskan 'close'. "Salonnya belum buka."
Tidak memedulikan kata-kataku, Max mendorongnya. Aku terkejut ketika pintu itu terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya di belakang counter. "Martha, ini korbanmu."
"Korban? Apa maksudnya, Max?" Aku menatap wanita gempal dalam pakaian kebaya berwarna hijau terang. Lengkap dengan tatanan rambut berkonde yang klasik, Martha seakan wanita yang datang dari masa lalu.
"Uwah, geulis. Man-ce! Dan-ce! Bawa wanita ini ke dalam."
Dua orang lelaki kemayu segera keluar dari balik tirai. Berperawakan tinggi dan tampan, mereka berjalan bak di atas panggung catwalk. Wajah-wajah itu memancarkan senyum, sementara masing-masing mencekal dan menyeretku pergi menuju ruangan gelap di depan yang menanti bak mulut menganga.
Aku meronta-ronta dan berteriak, "Maaax!"
Tidak ada respon apapun dari Max, bahkan sampai pintu menutup keras di belakang dan ruangan itu menjadi gelap gulita. Suara pintu terkunci membuatku menciut di tempat. Oh, sial! Harusnya aku memasukkan racun tikus ketika membuatkan kopinya tadi. Apa yang sedang Max lakukan padaku?
Entah Man-ce ataukah Dan-ce yang menyingkap tirai tebal, sesaat kemudian ruangan itu jadi terang benderang, menampakkan pemandangan indah di balik partisi kaca. Sebuah taman outdoor asri, di mana pada pinggirnya berjejer saung-saung menghadap kolam yang ditaburi kelopak mawar.
"Dengar, Sis. Jangan panik, drama banget, tahu gak? Pacarmu ingin kau mempercantik diri," terang salah satu lelaki kemayu dengan eye shadow berwarna pink.
Kemudian, aku terkejut ketika bahuku diraih oleh lelaki kemayu lainnya. Dia menghadapkanku ke wajahnya yang berias eye shadow berwarna ungu. "Ya, benar. Dia sudah membeli voucher dari menicure, pedicure, spa, salon rambut sampai make-up. Ih, ngiri aku tuh."
"Hah? Pacarku yang mana? Maksudmu Max? Dia itu orang yang paling menyebalkan di atas muka bumi."
"Ah, penyangkalan. Kau tahu, perbedaan antara cinta dan benci itu sangat tipis, jauh lebih tipis dari tali G-String. Sana ganti bajumu yang jelek itu, kami akan mulai dengan spa untuk merontokkan daki-daki di seluruh tubuh dan membuatmu relaks. Baru kemudian, kita ke salon-meni-pedi dan terakhir, make-up. Sepertinya, ini hari yang spesial buatmu," ujar si eye shadow pink sambil menarikku keluar melewati pintu kaca.
Kalimat terakhirnya menyadarkanku. Astaga! Max ingat hari ulang tahunku.
__ADS_1