
"Laura, kau sedang sibuk?" tanyaku pada Laura yang sedang duduk sambil mengikir kukunya di salah satu kursi tamu.
"Gak juga sih, ada apa, Yu?"
"Kemarilah, kita duduk-duduk di booth situ."
Mata Laura sedikit membelalak, sebelum dengan malas dia bangkit berdiri dan menghampiriku di belakang meja kasir. "Tumben kau memintaku duduk? biasanya kalau aku duduk, tatapanmu seperti ingin menendang bokongku, supaya aku kembali berkeliling."
Wajahnya yang cantik menyeringai sangat lebar ketika berada di sampingku. "Ada apa?"
Leonhart yang sedang berada di belakang mesin kopi, turut menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku meliriknya lalu berkata, "Tidak berlaku untukmu, Leon, tapi boleh kau gantikan aku di meja kasir dulu?"
"Lah, kok gitu? Kau ingin menyingkirkanku?"
"Ini demi kebaikanmu juga," jelasku sambil menarik tangan Laura menuju booth yang letaknya berseberangan jauh dari meja kasir.
"Sekarang kau membuatku penasaran. Dan, kalau penasaran, tidak ada yang bisa menyingkirkanku sampai aku mengetahui apapun itu."
Leonhart baru berjalan beberapa langkah di belakang, ketika aku memutar tubuh dan mengusirnya, "Sana, sana. Tuh, ada yang mau bayar, tolong dilayani."
Aku bisa mendengar tarikan napas panjang dari baristaku yang menyatakan keberatannya, tapi aku perlu berduaan dengan Laura untuk mencari tahu mengenai peluang Leonhart dan Laura bersatu.
"Kau masih punya pacar?" tanyaku setelah kami berdua duduk di booth.
Laura mengernyit sebelum kembali bertanya, "Pertanyaan macam apa itu? Seperti bertanya, apakah aku punya uang lima ribu? Tentu saja aku punya pacar saat ini, kenapa kau berpikir aku lagi single?"
"Yah, siapa tahu aja. Hmmm ... apa kau pernah memikirkan mengenai Leonhart?"
Hening sejenak. Kemudian, tatapan Laura menyipit dengan curiga padaku. "Maksudmu, apakah aku pernah memikirkan Leonhart jadi pacarku? Jangan-jangan kau masih memikirkan mengenai kecocokan zodiak kemarin, ya? Ya, ampun, Yu ... sudah jangan dipikirkan lagi. Zodiak kemarin itu hanya untuk hiburan saja, gak ada arti apapun."
"Bukan begitu. Dengar, aku sudah mengamatimu dan Leonhart, dan aku berpikir seharusnya kalian berpasangan."
"Ha? Sudah, ah, aku gak mau membahas itu." Bukannya menjawab, kata-kataku malah dimentahkannya. Dengan wajah sebal, Laura berdiri dan meninggalkanku sendirian di sudut booth. Aku bahkan tidak sempat mencegahnya pergi.
__ADS_1
Laura harusnya menceritakan sedikit kesannya terhadap Leonhart, bukannya malah pergi meninggalkanku begitu saja. Aku berdecak. Ketika memalihkan pandangan ke arah meja kasir, aku menemukan Leonhart sedang menatapku datar. Hmmm ... mungkin, aku bisa menanyakan pendapat Leonhart mengenai Laura?
Meskipun tidak yakin, aku merasa harus mendapatkan sudut pandang lelaki itu terhadap Laura. Jika Leonhart memiliki rasa suka padanya, kurasa semua akan lebih mudah. Bahkan, siapapun pasangan Laura sekarang, aku yakin sudah pasti tidak seganteng Leonhart.
"Leon, pesanan table 15," panggil Laura sambil menyerahkan catatan pesanan.
Wanita itu tidak langsung pergi, namun mereka berbicara dalam nada pelan yang tidak dapat ditangkap telingaku. Baru aku berdiri dan hendak mendekat untuk mendengarkan apa yang terjadi, tapi Laura sudah pergi dan Leonhart sibuk menyiapkan pesanan yang barusan disodorkan Laura.
Melewati Leonhart, aku meneruskan langkahku ke meja kasir dan duduk di sana. Pandanganku tak lepas dari barista yang dengan cekatan menuang takaran espresso ke dalam mug, kemudian menambahkan air panas untuk membuat segelas hot americano. Disatukannya pesanan itu dalam nampan bersama dengan seporsi caesar salad, sesuai pesanan. Sejurus kemudian, Leonhart membunyikan bel di depannya untuk memanggil Laura.
Baru terpikir sekarang, aku belum pernah menanyakan pada Leonhart apakah saat ini dia memiliki kekasih atau tidak. Kemungkinan besar belum, karena kalau sudah, dia tidak mungkin bermanis mulut denganku.
Bel pintu berbunyi, mengalihkan perhatianku dari sosok Leonhart. Max masuk bersama tiga orang wanita seksi dan satu orang lelaki necis berkepala plontos. Para wanita itu mengenakan sexdress ketat dengan model yang sama. Perbedaannya hanya di warna saja--merah, kuning, hijau--seperti lampu lalu lintas, pikirku sinis. Rok yang terlalu pendek dan belahan dada rendah, membuat payudara mereka yang kebesaran seperti ingin meloncat keluar.
"Selamat sore," sapa Max, seringai indah yang terkembang menampakkan deretan giginya yang sempurna. Aku mengejapkan mata.
Apakah mataku bermasalah karena sepertinya Max tersenyum padaku? Rasanya sudah berabad-abad aku tidak melihat wajah Max yang secerah itu. Setelah minggu lalu dia mengancamku, mengapa tiba-tiba sekarang lelaki itu begitu ramah? Apakah dia sudah tahu sekarang bahwa yang dilakukannya kemarin itu salah?
Walaupun masih banyak pertanyaan lainya, aku memaksakan diri tersenyum. Kemudian, senyumku pupus ketika salah seorang wanita seksi, yang berpakaian kuning mencolok, merangkul pinggang Max dan menyeretnya pergi.
Tidak lama kemudian, Laura datang menghampiriku. Dengan suara rendah, dia berbisik, "Yu, kau dipanggil Max. Dia ingin kau yang mengambil pesanannya."
Aku memutar bola mata, ternyata senyuman itu hanya fatamorgana. Max masih masih orang yang sama, orang yang membuat iritasi di bawah kulitku. Berengsek! Aku mengambil catatan pesanan dan berjalan ke tempat duduk mereka, sementara Laura bergerak ke table 4 yang melambai ke arahnya.
"Kenalkan klienku, Yu. Mereka girlband yang akan mengorbit di akhir tahun dan Pak Joe dari manajer artis." Max memperkanlkan para tamunya.
"Oh, selamat!" Aku memaksakan diri untuk tersenyum manis, meskipun mataku jelas menangkap bahwa wanita seksi bergaun kuning itu sedang menyelipkan tangannya di siku Max. "Sekarang, boleh saya catat pesanannya?"
"Aku seperti biasa saja. Kau mau apa, Cynthia? Jessica? Refina? Silakan diorder, tagihannya masukkan ke akunku ya, Yu."
Aku mengangguk tanpa menatap Max, kemudian mencatat satu per satu pesanan para wanita itu. Es cokelat, Es matcha, Es susu aren--selera yang aneh untuk wanita dewasa. Minuman tipe ini biasanya dipesan oleh ABG, tapi aku menyimpan komentarku dalam hati. Customer selalu nomor satu, bukan?
"Dan, Bapak mau pesan apa?" tanyaku pada lelaki gundul yang jaraknya paling dekat denganku.
__ADS_1
Postur tinggi dan rampingnya menegak menanggapi pertanyaanku. Matanya memancarkan kilatan yang sama dengan pantulan lampu di kepalanya, ketika dia berkata, "Bagaimana dengan nomor teleponmu, Sayang?"
Eh? Aku terkejut dengan permintaannya yang diikuti kata sayang. Apakah lelaki botak itu barusan menggodaku?
"Nomor telepon ada di menu itu, Pak, jangan lupa dicatat ya jika mau memesan nanti." Aku mencoba berkelit dari pertanyaan yang menjebak. Dari sudut mataku, Max tampak sedang menatap lelaki botak itu, alisnya bertautan.
"Biar lebih cepat, sebaiknya aku menelepon langsung ke telepon genggammu. Boleh kau masukkan nomormu di sini?"
Oh, sial! Kupikir telingaku bermasalah, ternyata tidak. Si botak memang merayuku. Meskipun aku enggan memberikan nomor telepon pribadi, kata 'customer adalah nomor satu' terngiang lagi dalam benak. Dengan ragu, aku mengambil Samsung Galaxy Fold yang berkilat dari tangannya.
Aku sedang menimbang untuk memasukkan nomor pribadiku, ketika sebuah tangan besar mengambil telepon genggam mahal itu dari tanganku. Kursi bergeser kasar ketika lelaki plontos di depan berdiri dan bersitatap dengan Leonhart di sampingku. Wajah keras si botak berbanding terbalik dengan Leonhart yang melemparkan senyum lebar.
Dengan cekatan, jari baristaku menekan panel nomor di layar sentuh sebelum menyodorkannya kembali kepada pemiliknya. "Jika ada pesanan, kau bisa meneleponku, Pak, kapan saja. Selamat menikmati." Senyumnya mengembang dengan indah sebelum dia menarik tanganku pergi.
"Duduk di sana, Yu, dan jangan kemana-mana," perintahnya di balik counter, kemudian mengambil catatan pesanan dari tanganku.
Sesekali aku menoleh ke belakang, ke arah Leonhart yang sedang membuat campuran minuman untuk trio seksi yang duduk mengelilingi Max serta si lelaki hidung belang. Cuping hidung Leonhart mengembang dan rahangnya yang mengatup bergerak dengan gelisah. Jika tidak demi kesopanan, mungkin Leonhart bisa menyentil ginjal si botak dengan mudah.
Dasar Max! Selalu saja dia membawa aura ganjil kemari. Aku jadi tidak enak telah membuat Leonhart terlibat.
*****
Hari itu dilalui dalam diam, baik Laura dan Leonhart sama-sama tidak bicara denganku. Setiap kali selesai membuat pesanan customer, Leonhart duduk di booth yang jauh dari tempatku. Sementara Laura memilih terus berkeliling. Aku merasa telah berbuat salah dan dijauhi, sungguh perasaan yang tidak nyaman.
Karena pukul 20.00, kafe sudah sepi, aku memutuskan untuk menutupnya lebih pagi. Laura mengucapkan salam seperti biasa ketika dia meninggalkanku dan Leonhart, kemudian naik ke dalam mobil Porche Cayenne berwarna kuning yang langsung datang begitu dia menekan tombol panggil di telepon genggamnya. Terkadang, kupikir Laura mungkin punya semacam mobil canggih, ketimbang seorang kekasih yang tajir melintir.
"Ini kuncimu, Yu," ujar Leonhart sembari menyodorkan kunci kafe, kemudian lelaki itu langsung membalikkan tubuh dan melangkah pergi sebelum aku mengucapkan terima kasih.
Aku buru-buru mengejar untuk menghentikan langkahnya. "Tunggu dulu, Leon. A-aku minta maaf telah melibatkanmu tadi."
"Bukan hanya itu, Yu, kau masih punya kesalahan yang lain. Hal yang paling tidak kusukai adalah orang mencari kebenaran tentangku dari orang lain. Jika ada hal yang ingin kau ketahui mengenaiku, tanyakan langsung. Aku selalu jujur padamu."
Tatapannya tidak terbaca di bawah bayang-bayang lampu jalanan. Apa maksudnya kesalahan yang lain? Namun, karena malam semakin larut, aku tidak ingin bertele-tele untuk menebus kesalahanku. "Kau mau ... makan malam denganku?"
__ADS_1
"Aaargh!" Aku terkejut mendengar teriakan Leonhart. "Kenapa gak dari tadi ngajaknya, Yu. Untuk kali ini kau kumaafkan. Dan, jangan pernah memberi nomor pribadimu pada siapapun, kau dengar itu?" Leonhart mencubit kedua pipiku dengan gemas. "Si-a-pa-pun!"
Aku menepis tangannya dan tertawa. Terkadang, aku mendapati Leonhart seperti sedikit posesif dengan bosnya ini, tapi kurasa itu hanya perasaanku saja.