90 Days Missing You

90 Days Missing You
PENGAGUM RAHASIA


__ADS_3

Menuju jam tutup kafe, lonceng pintu berbunyi. Belum sempat aku menoleh, secarik amplop disodorkan seseorang ke wajahku, menghalangi tatapanku yang sedang membaca majalah di meja kasir. Amplop bewarna pink itu tersegel rapi. Mau tak mau aku mengangkat wajah dan terkejut. Lelaki itu tidak setinggi dan sekekar Max, tapi pupil matanya yang hitam berkilat mencerminkan kecerdasan.


Cih! Kenapa aku jadi membandingkannya dengan Max?


Aku mengernyit, sepertinya pernah melihat lelaki ini, tapi di mana? Lelaki itu tersenyum dan kembali menyodorkan amplop yang digenggamnya dengan dua tangan. Sebagai bentuk kesopanan, kuulurkan kedua tangan menerima pemberiannya. Mataku berbinar, apakah ini tips?


"Ambir ini. Untuk kamu."


Tentu saja aku terkejut mendengar dialognya dengan aksen Jepang. Meskipun aku belum tahu apa isinya, segera aku menunduk dengan gaya orang Jepang, seperti dalam film Doraemon. "Arigatōgozaimasu."


Lelaki itu tertawa. "Saya bisa--Bahasa Indonesia. Shinpaishinaide, jangan khawatir." Kemudian wajahnya terlihat berpikir sebelum berkata, "Buka. Baca."


"Oh, oke. Pasti."


Sekali lagi bibir yang di naungi kumis tipis itu tersenyum, sebelum beranjak meninggalkan kafe menuju gelap malam. Langkahnya diikuti dua orang dalam jas hitam yang bertubuh tegap, dengan semacam alat tergantung di telinga. Aku bertanya-tanya, mungkinkah mereka semacam bodiguard untuk lelaki Jepang itu? Apakah dia orang penting?


"Surat cinta nih ye ...," ledek Leonhart dari belakang.


Bukan ledekannya yang membuatku terperanjat di tempat, tapi suara rendah dan embusan napas hangatnya yang membelai daun telinga. Aku membalikkan tubuh segera, sambil mendekap amplop itu kuat-kuat di dada. "Ini tips-ku, awas minta!"


Leonhart tertawa sambil tangannya menutup mata. "Itukah yang ada di pikiranmu, Yu? Kurasa, itu surat cinta. Aku berani bertaruh."


"Ada apaan sih?" tanya Laura yang baru masuk kembali ke counter setelah berkeliling mengantar minuman ke beberapa meja.


"Lihat ini," ujar Leonhart, dengan cekatan jarinya mencuri amplop yang tadi kudekap.


Sial! Jarinya sangat lihai. Lain kali aku harus lebih berhati-hati. 


"Taruhan, ini surat cinta," sambungnya.


"Bukan--."


Surat itu sudah berpindah ke tangan Laura dan sedang melambai-lambai di depanku. "Ah, aku juga bertaruh satu juta, ini surat cinta."


"Tolong kembalikan." Mataku membulat dengan ancaman. "Kemarikan, cepat!" hardikku dengan suara tertahan, takut mengganggu ketenangan para tamu. Kemudian, ketika Laura terkejut, aku merampas surat itu dan membalikkan tubuh.


My precious! Aku tiba-tiba teringat dengan adegan Gollum dalam film Lord of The Ring. Kutatap lagi amplop pink itu, sebelum perlahan menyobeknya. Gerakanku terhenti, perasaanku tiba-tiba tidak enak. Benar saja, ketika aku menengok ke belakang, dua pasang mata itu ternyata masih mengintip dari balik bahu.


"Hei, kembali ke pos masing-masing bisa? Walaupun satu jam lagi kita tutup, ini masih jam kerja."

__ADS_1


"Dasar pelit!"


"Gak asik!" timpal Laura.


Huh! Mau tahu aja urusan pribadi orang lain. Mentang-mentang aku curhat dengan mereka berdua masalah wanita jerapah minggu lalu, tidak serta merta membuat mereka sejajar denganku, bukan? Kadang aku merasa seperti tidak dihormati, seperti kurang berwibawa. Mereka berdua benar-benar tidak menganggapku sebagai atasan.


Sepucuk surat berada dalam amplop. Aku terkejut setelah membuka lipatan kertasnya, surat itu tertulis dalam Bahasa Jepang. Tidak ada uang di dalamnya!


"Tuh, kan!" seru Leonhart.


"Idih, bikin kaget aja!"


"Kau harus memberiku sejuta, Yu," kata Laura ringan, sambil menyeringai menampakkan gigi putih terawatnya yang membuat iri para wanita.


"Enak saja." jawabku, kemudian pandanganku kembali menatap pada surat dalam genggaman. "Huaaa ... katanya dia bisa bahasa indonesia, kenapa suratnya dalam Bahasa Jepang, plis deh, Bambang!"


"Aduh, sekarang jaman canggih, Yu. Pake Google Translate aja. Kamu foto, terus terjemahin. Beres."


"Oh iya, bener juga." Terdengar masuk akal, meski aku belum pernah mencoba. Aku akan melakukannya di rumah setelah pulang nanti, agar mereka tidak tahu kalau bosnya gaptek.


"Kalau itu ajakan kencan, apa kau akan pergi?" tanya Leonhart yang membuatku menatapnya. Tidak ada binar jenaka di matanya, tatapannya begitu serius hingga seperti memenjarakanku di dalamnya.


"Kau tahu, Yu, lelaki Jepang itu tamu Max. Minggu lalu, Max, dia, dan beberapa orang tamu lainnya, ngopi di sini." jelas Laura, mengalihkan perhatianku.


"Dari mana kau tahu?"


Laura menyeringai lebar, "Dia memberiku tips cukup besar."


"Apa? Dan kau menyimpannya sendiri? Wah, korupsi itu namanya! Kau kan tahu, setiap tips dari tamu harus di celeng kemari." Aku menunjuk pada wadah tips di depan meja kasir. "Pantas saja wadah ini sulit penuh."


"Ssst ... pelankan suaramu. Bukan korupsi, tapi amal. Jadi, uang itu kusumbangkan untuk membeli masker, untuk paramedis yang bekerja di rumah sakit. Kalau harus menunggu persetujuanmu, belum tentu kau rela."


"Bah! Bisa aja ngelesnya. Tapi, kalau memang diperlukan, aku bersedia koq."


"Iya, lain kali akan kuingat. Maafkan aku ya, aku lupa. Aku baru teringat lagi ketika lelaki itu berbalik dan pergi." Laura mengamit tanganku dan menggoyangkannya. Dia tahu pastinya, aku tidak akan marah mengenai uang tips, karena sebagian, bahkan seluruhnya, mungkin adalah kerja keras Laura yang sudah mondar-mandir mengantarkan makanan, minuman, dan menjajakan senyum sempurnanya.


"Aku jadi penasaran, apa yang teman Max tulis dalam surat itu. Sini kuartikan." Lagi-lagi aku terkejut, surat itu sudah berpindah ke tangan Leonhart dalam sekejap mata. Lelaki itu seperti punya kemampuan mencuri. Semoga saja dia tidak mencuri hatiku.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Leonhart dengan tatapan curiga.

__ADS_1


"Gak pa-pa, udah sana artikan."


Kalau dilihat dari jarak empat puluh lima sentimeter ke bawah, terhitung dari ujung rambut lelaki itu, memang Leonhart ganteng. Bayang-bayang wajahnya yang maskulin hampir mirip dengan Max, apalagi kalau sedang serius seperti ini. Hanya saja lelaki ini doyan sekali bercanda, mungkin itu yang membuat banyak wanita menganggapnya playboy. Ataukah dia memang playboy?


Entahlah, tapi selama tiga tahun bekerja di kafe-ku, belum pernah aku melihat teman wanitanya. Yang ada malah tamu-tamu di sini sering menghampirinya dan saling melempar rayuan. Atau, jangan-jangan ... dia penyuka sesama jenis?


Glegkh!


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


この手紙を読んでくれてありがとう。あなたは美しいです、私はあなたとデートすることに興味があります。今週日本に帰らなければなりません。来週迎えに行きます。


Terima kasih sudah membaca surat ini. Anda cantik, saya tertarik berkencan dengan Anda. Saya harus kembali ke Jepang minggu ini. Aku akan menjemputmu minggu depan.


Tertanda, Ryuichi Tendo


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Berikan padaku," kata Laura sambil menatap lekat-lekat surat itu, padahal tidak satu huruf pun dimengertinya. "Whoa ... gila! Pengagum rahasia tiba-tiba muncul dan langsung ngajak kencan. Orang kaya ini, Yu. Setelah ini, kalian akan menikah dan hidup bahagia selamanya. Persetan dengan Max!" Laura tertawa terlalu keras hingga membuat beberapa orang yang masih asik menghabiskan waktu di kafe menoleh ke arah counter dan bertanya-tanya.


"Jangan mimpi terlalu tinggi. Belum tentu dia orang yang baik."


"Ah, jangan naif, Yu. Tidak satu pun orang di dunia itu baik. Yang perlu kau lakukan cari yang terbaik dari yang tidak baik, dan menikahlah dengannya. Benar, kan, Leon?"


Baru aku akan membalas Laura, tapi Leonhart yang tiba-tiba beranjak pergi dalam diam membuat aku dan Laura bertanya-tanya, "Kurasa dia cemburu," bisik Laura.


"Dan kau terlalu banyak nonton drama Korea. Sudah sana kembali pos masing-masing."


Satu jam kemudian, setelah kafe tutup, meja dan kursi dilap dan dibetulkan posisinya sebelum semua orang meninggalkan kafe. Laura melambai kemudian masuk ke dalam BMW X1 yang sudah menunggunya sejak setengah jam lalu.


"Hei, kau belum bicara dari tadi. Lidahmu keseleo ya?" godaku pada Leonhart yang sedang mengunci pintu kafe. Dia belum menjawabku, itu menyebalkan. Tiga tahun ini, belum pernah aku melihatnya murung, lelaki itu selalu tertawa atau menyeringai.


Bunyi rolling door terakhir menghantam landasan di bawah, lalu Leonhart berjongkok untuk menguncinya. Jeans sobek yang mengetat memperlihatkan pahanya yang kekar, aku membuang muka. Rasanya tidak etis untuk melihat terlalu banyak dari lelaki itu ... aneh saja si.


"Ini kuncinya," ujar Leonhart. Tubuhnya menjulang tinggi di hadapan, membuat bayang-bayang yang menyembunyikan ekspresi wajahnya.


Aku menengadah menatapnya, "Kau tidak apa-apa?"


Dengan tidak sabar, Leonhart menarik tanganku dan menjejalkan kunci kafe ke dalamnya. Dia tidak melepaskan tanganku pun tidak bicara sepatah kata. Itu membuatku bertanya-tanya. Tarikan napas halus keluar dari dadanya sebelum berkata, "Yu, jangan pergi dengan si Jepang itu, ya."

__ADS_1


Belum lagi aku sempat bertanya, Leonhart sudah berbalik pergi. Aku masih terpaku menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Temaram lampu jalan menampilkan siluetnya yang tinggi menyusuri trotoar, bahkan dari belakang lelaki itu tampak keren.


__ADS_2