
"Leonhart gak masuk ya hari ini, Yu?" tanya Laura setelah dia membalikkan papan tanda di depan pintu dari 'close' menjadi 'open'.
"Gak tau tuh, dia belum ngabarin. Aku baru saja mau meneleponnya." Satu tombol panggilan cepat menghubungkanku ke nomor telepon Leonhart. Sambungan itu terangkat setelah tiga nada tunggu berbunyi. "Halo, Leon? Kau di mana?"
"Yu, sorry. Hari ini aku gak masuk kayaknya, badanku panas dan kepalaku pusing."
"Sakit apa? Sudah ke dokter belum?"
"Sakit rindu kayaknya, sama--"
"Waaah ... kalau itu mah tinggal telepon aja, suruh orangnya datang," potongku, lalu tertawa. "Mungkin kau cuma capek aja. Ya sudah, istirahat saja dulu hari ini."
"Kau gak mau tahu aku rindu sama siapa?" tanya Leonhart, suaranya terdengar sedikit kesal.
Lonceng di atas pintu berdenting kala terbuka, kemudian dua pasang muda-mudi masuk dalam kafe. "Ada tamu masuk, nih. Chat aja, tar aku balas. Oh ya, salam dari Laura, pagi-pagi dia udah nanyain kamu. Bye, Leon, cepat sembuh ya," ujarku sebelum mematikan sambungan di telepon genggam.
"Ah, pake alasan tamu datang. Kau itu, Yu, kayak anak kecil. Tamunya aja baru masuk, baru duduk," protes Laura.
"Kalau kau ingin bicara dengan Leonhart, kenapa gak bilang? Aku sambungin ke dia. Lagipula, Leonhart kan lagi sakit. Kasihan kalau diajak ngobrol lama-lama." Tanganku meraih kain lap dari laci di bawah mesin kopi dan mulai mengelap meja kasir, setelah bon kemarin dibereskan.
"Dasar gak peka. Tanya, kek, siapa tahu dia butuh makanan, atau buah, atau obat? Sekalian kalau bisa kau luangkan waktu untuk menjenguk dia, kau kan bosnya."
Aku terperanjat. Benar juga, kenapa tidak terpikir untuk menanyakan apakah Leonhart membutuhkan sesuatu? Mengingat lelaki itu sama sepertiku, hidup sebatang kara dalam apartemen studionya.
"Kau perhatian sekali," ledekku. "Ya sudah, gantian kau yang menelepon, nanti kita jenguk bareng. Gimana?"
Laura mendelik padaku sebelum menjawab, "Oke." Kemudian, untuk menegaskan lagi kekesalannya, Laura menunjukkan mimik jeleknya padaku dengan menjerengkan mata, mencibirkan bibir, sambil menaikan lubang hidungnya. Aku tertawa.
Belum pernah ada yang melihat Laura dalam mimik jeleknya, kecuali aku dan Leonhart, mengingat eratnya hubungan kami yang sudah seperti keluarga. Rasanya, aku ingin mengabadikan itu dalam kamera, kemudian menyebarkannya di media sosial.
Laura tidak menunggu dan langsung menelepon Leonhart, mengabaikan pelanggan yang melambaikan tangan ke arahnya. Terpaksa, aku menggantikan Laura mengambil pesanan table nomor 7.
Sambil menunggu salah satu wanita itu memilih makanan, sudut mataku menangkap Laura yang sedang tertawa. Sesekali, wanita dalam seragam pelayan itu melirikku. Timbul sedikit rasa curiga dalam kepala, jangan-jangan mereka sedang membicarakanku.
"Apa yang kalian bicarakan tadi? Kelihatannya lucu," tanyaku setelah kembali ke belakang counter.
Laura yang sedang mengambil makanan beku untuk dimasukkan dalam microwave oven, menoleh dan bertanya, "Kau kan tahu Leonhart itu lucu. Kau cemburu?"
"Ha? Kenapa kalian berdua suka sekali bertanya apakah aku cemburu? Aku benar-benar merasa gak masuk akal kalau harus cemburu padamu. Aku bahkan merestui kalau kalian berpacaran."
"Kemarin itu, kan, kau dan Leonhart makan malam. Siapa tahu saja ada percikan-percikan kembang api gitu."
__ADS_1
Aku menahan lidah untuk menjawab ledekan Laura, karena perlu konsentrasi untuk membuat lukisan pada lapisan atas Cappuccino. Setelah lukisan itu selesai, aku terkejut sendiri. Astaga! Kenapa aku jadi menggambar kembang api seperti kata Laura? Ah, biarlah, Laura mungkin tidak memperhatikannya.
"Makan malam itu adalah permintaan maafku pada Leonhart, karena sudah melibatkan dia dengan klien Max," terangku sambil menempatkan Cappuccino di atas nampan bersama dengan pesanan lainnya. "Tinggal dua hot Americano, ya."
"Kalau kau tahu Yu, Leon--" Kata-kata Laura terputus ketika lonceng di atas pintu berbunyi. Melihat Max yang masuk bersama Jeremy, Laura buru-buru pergi sambil membawa serta nampan yang berisi pesanan table nomor 7.
Sekilas pandang ke arah Max, sudah membuat jantungku berdetak lebih cepat. Sambil menuangkan takaran espresso ke dalam mug dan mencampurnya dengan air panas, kulirik jam di dinding yang baru menunjukkan pukul 08.30. Tumben.
"Bisa kubantu pesanannya, Pak?" tanyaku dari belakang mesin kopi yang mulai bekerja menggiling biji kopi lagi.
"Leonhart tidak masuk?" tanya Max dari depan meja kasir.
"Dia sakit," jawabku mencoba terlihat cuek. Kualihkan lagi pandanganku ke arah mesin kopi, padahal aku ingin berlama-lama menatapnya.
Pasalnya, hari ini pakaian Max berbeda, dia tidak mengenakan jas resmi yang membuat tampilannya seperti televisi jaman dulu yang tidak berwarna. Hari ini Max mengenakan kaos polo berwarna pink. Aku tahu, itu bukan warna yang macho, tapi lain halnya jika Max yang mengenakan warna tersebut. Pink malah membuatnya tampak memesona.
Sosok Max kemudian menghilang dari meja kasir. Aku menebak, lelaki mungkin sedang berjalan ke tempat duduknya di sudut ruangan dan menungguku untuk mengambil pesanannya, seperti biasa. Namun, betapa terkejutnya aku ketika Max melangkah masuk ke balik counter.
"Aduh!" Aku segera menarik tanganku menjauhi tetesan espresso yang baru keluar. Sial!
Saking terpananya, cairan hitam itu malah terkena tangan, alih-alih masuk ke dalam wadah yang kupegang. Bukan itu saja, rasanya aku mau pingsan, karena Max tiba-tiba berada di sampingku. Lelaki itu berdiri terlalu dekat, hingga aku bisa mencium aroma white musk yang menyelubungiku seperti kepompong.
Rasanya, otakku rasanya mengalami konflik, apakah Max sedang menanyakan mengenai kondisi tangan atau hatiku? Konsentrasi, Yu, hardikku dalam hati.
Susah payah, aku berusaha menelan gumpalan yang menyumbat tenggorokan sebelum menjawabnya, "Gak pa-pa, Max, gak pa-pa. Apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya duduk di sudut itu dan memesan kopimu, seperti biasanya."
"Kupikir, kau mungkin memerlukan tenaga bantuan."
Aku ternganga, apakah lelaki itu sedang menawarkan diri untuk menolongku? "Kau pasti sibuk, uhm ... seperti biasa."
"Bukan aku, tapi Jeremy yang akan membantumu. Berhati-hatilah, Yu. Aku pergi dulu."
Aku tercengang dan tidak tahu harus berkata apa, selain berdiri di sana seperti orang bodoh dengan bibir membentuk huruf O. Max meninggalkan asisten berharganya untuk membantuku? Belum lagi aku selesai mencerna kata-katanya, Max sudah pergi dari kafe.
*****
Max bukanlah orang yang pelit untuk menggaji seseorang yang bisa tahan dengan adat kerasnya. Oleh karena itu, aku yakin, aku tidak akan mampu membayar uang lembur Jeremy. Jadi, sesuai dengan jam kerja di biro pengacara Max, aku menyuruh Jeremy pulang tepat pukul enam sore.
Laura sudah membeli buah-buahan dan menatanya dalam keranjang, untuk dibawa saat menjenguk Leonhart nanti malam. Namun, ketika kafe tutup, wanita itu malah harus pergi menjemput sepupunya yang akan segera melahirkan. Kali ini sebuah BMW dua pintu muncul dan segera membawa Laura pergi.
Aku menarik napas panjang. Laura beruntung, tidak sepertiku yang luntang-lantung. Kuletakkan keranjang buah Leonhart di trotoar, kemudian mengambil besi kait untuk menarik turun rolling door. Pintu gulung itu hanya turun setengah meter dari rumahnya, kemudian berhenti, meskipun aku sudah menariknya sekuat tenaga.
__ADS_1
Oh, ya ampun! Rasanya, aku ingin melompat-lompat karena kesal. Bisakah hari ini lebih buruk lagi? Sudah Leonhart tidak masuk, tanganku terkena air panas, Laura juga pergi begitu saja, apa lagi yang akan muncul nanti? Aku hanya ingin malam ini cepat berlalu, aku bahkan belum menjenguk Leonhart. Mau sampai rumah jam berapa kalau begini?
Kuedarkan pandangan ke sekeliling untuk meminta pertolongan. Meski jalan raya masih ramai, tapi pejalan kaki sudah jarang, hanya ada beberapa wanita yang melewatiku. Aku mendengkus kesal. Jika dalam beberapa kali percobaan rolling door itu tidak juga turun, maka aku terpaksa menginap di sini dan menguncinya dari dalam.
Sekali lagi, dengan sekuat tenaga, aku menarik turun pintu itu. Aku bahkan sampai bergelayut di besi kaitnya, tapi pintu itu tidak juga menunjukkan pergerakan.
Kemudian, seseorang melingkarkan tangannya ke pinggang dan menarik aku turun. Dengan satu tarikan yang kuat, rolling door itu mengikuti gaya gravitasi dan ujungnya membanting ke tanah. Aku terpana melihatnya.
"Max?"
Lelaki itu mengambil gembok yang tergeletak di trotoar dan memasangkan pada tempatnya. Masih dalam posisi berjongkok, Max bertanya, "Keranjang itu untuk siapa?"
"Leonhart." Aku menggigit bibir setelah mengatakan itu, karena tatapan yang diberikan Max sungguh menyeramkan. Jangan-jangan Max berpikir ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Leonhart. "A-aku akan menjenguknya besok, bukan malam ini."
"Bagus, makan malam, yuk."
Seperti orang bodoh, aku mengulang lagi ajakan Max dalam otak, sebelum merespon, "Hah? Serius?"
Max tidak menjawab. Di bawah lampu jalan, dia menunjukkan seringainya yang indah, lalu berjalan di depanku sambil menenteng keranjang buah.
"Max, tunggu!"
*****
Setelah membersihkan tubuh, dalam apartemen studioku yang nyaman, aku mengempaskan tubuh ke ranjang dan berguling ke sana kemari. Kenyang dan bahagia, itu yang kurasakan. Sudah lama sekali aku tidak makan malam dengan Max. Sewaktu hubungan belum putus, dia juga cukup sibuk, hingga untuk bertemu pun hanya seminggu sekali, apalagi setelah putus.
Meskipun tidak banyak yang dibicarakan, aku merasa keberadaan dia di sisiku sudah lebih dari cukup. Aku jadi berpikir, apakah ini artinya Max juga menginginkanku kembali? Ataukah makan malam barusan, semacam gencatan senjata?
Jangan terlalu banyak berharap, Yu, hanya karena dia mengajakmu makan malam di Carl's Junior, otak kecilku memperingatkan. Benar juga. Aku mengembuskan napas panjang dan mulai menarik turun perasaanku yang saat ini melambung tinggi.
Dalam ruangan yang sepi, aku baru teringat pada telepon genggam. Pantas saja alat komunikasi itu diam dari tadi, ternyata mati. Sambil mengisi daya, aku menyalakannya. Ratusan pesan dari aplikasi chatting berebutan masuk dan menimbulkan bunyi yang berisik.
Kusortir nama-nama yang masuk dalam notifikasi. Nama Leonhart yang muncul membuat aku meringis, mengingat keranjang buah yang sekarang teronggok di atas meja dapur. Lambang sebuah missed call dan dua chat yang tidak terbaca, membuatku segera membukanya,
Perasaanku mengharu biru membaca pesan Leonhart yang bernada kecewa.
Mengetahui bagaimana rasanya menunggu pesan yang tak berbalas, mau tidak mau aku jadi memikirkan lelaki itu dan kondisinya kesehatannya. Leonhart pasti merasa kesepian dan putus asa. Kalau saja tadi telepon genggamku aktif, aku pasti akan segera meneleponnya, atau paling tidak meminta Laura untuk membawakan dulu buah itu ke apartemen Leonhart, agar dia terhibur.
Aku baru akan menekan panel keyboard untuk menginformasikan bahwa besok pagi aku berkunjung ke apartemennya, tapi rasanya hari sudah terlalu malam. Jadi, kuurungkan niatku.
__ADS_1