90 Days Missing You

90 Days Missing You
HAPPY BIRTHDAY, YU! #2


__ADS_3

Aku mengerang, menikmati tekanan demi tekanan di atas kulit telanjang. Ini adalah sentuhan paling seksi yang pernah aku nikmati dalam hidup. Gerakan melingkar itu menjelajah perlahan, kiri ke kanan, dari kepala ke leher hingga ujung jari kaki. Sayangnya, pijatan spa itu harus berakhir satu setengah jam kemudian.


Setelahnya, aku diantar oleh terapis wanita menyusuri jalan setapak menuju sebuah kamar mandi, di mana terdapat kolam kecil untuk berendam dan membersihkan tubuh. Aroma terapi yang diteteskan dalam air hangat serta beberapa kelopak bunga mawar membuatku merasa seperti dalam rahim, nyaman dan tak tersentuh. Enggan rasanya untuk keluar dari surga kecil ini.


Satu jam kemudian, berbalut seragam kafe seperti sebelumnya, aku keluar menuju ruang salon. Duduk di depan cermin, Dan-ce, lelaki dengan eye shadow pink, menarik tanganku dan merendamnya dalam air hangat untuk memulai ritual meni/pedi-nya. Sementara, Man-ce, yang berias eye shadow ungu, memfokuskan perhatian pada wajahku.


"Aku ingin potongan rambut yang—"


"Sssh ... sister, biarkan kami bekerja. Di salon ini, klien tidak menentukan, kamilah yang bertugas membuat klien tampak memesona. By the way, ini untuk dinner bukan?"


"Eh, dinner?"


Aku sama sekali belum memikirkan apa maksud Max mengajakku ke salon, apalagi sampai dinner dengannya. Bukan tidak mau, tapi aku cukup bersyukur jika bisa melewatkan makan siang dengan Max. Lelaki itu selalu sibuk dulu, apalagi sekarang.


"Sssh ... sudah gak perlu dijawab. Seperti tadi, tugasmu diam dan menikmati prosesnya saja, oke?"


Aku tidak menjawabnya dan membiarkan kedua lelaki kemayu itu bekerja. Jemari lentik dan panjang Man-ce, bergerak lincah dengan sisir dan guntingnya. Rupanya tidak banyak yang dipotong dari rambutku, itu melegakan, mengingat aku tidak terlalu cocok dengan rambut pendek.


Embusan dingin di ujung jemariku membuatku menoleh pada Dan-ce yang sedang berkonsentrasi membuat hiasan minimalis di atas cat kuku berwarna merah darah. Aku terkesima. Untuk pertama kali dalam hidup, kuku-kuku itu terlihat seksi.


Dengung hair dryer memenuhi ruangan saat Man-ce mem-blow rambutku agar lebih bervolume. Satu tarikan sisir terakhir menuntaskan pekerjaannya. "Voila! Yu, kau sangat cantik bahkan sebelum dirias. Aku tidak sabar melihat hasilnya setelah Bu Martha meriasmu."


Bukan hanya dia, aku pun tercengang melihat bayangan di dalam cermin yang tidak kukenal. Poni rambut yang tidak pernah kupikir bagus, ternyata membuat aku tampak lebih muda dan cute, seperti gadis-gadis Jepang. Aku tersenyum pada bayangan dalam cermin. Rasanya, aku barusan jatuh cinta pada diriku sendiri.


"Kalian sudah? Mengapa begitu lama?" ujar Ibu Martha sambil  berderap masuk ke dalam ruangan. Kemudian, dia membelalak ketika pandangannya terarah padaku. "Sudah kukatakan kau geulis. Man-ce! Tolong siapkan alat make-up."


"Bu, mungkin tidak perlu. Begini saja sudah luar biasa hasilnya. Aku tidak enak dengan Max, dia sudah menunggu terlalu lama."

__ADS_1


"Omong kosong! Tugas lelaki adalah menunggu dan—tugas wanita adalah membuat waktu menunggu mereka tidak sia-sia, mengerti? Lagipula, kurasa Max tidak akan mengeluh, meskipun harus menunggu lama."


Aku tidak mungkin melawan pemilik salon yang keren ini. Jadi, aku menurut saja ketika dia mendudukkanku lagi ke kursi putar. Kubiarkan wajahku disentuh dengan berbagai macam bedak, cair dan padat, hingga tampak seperti manekin. Kemudian, satu per satu warna itu dikembalikan padaku.


Alisku dibentuk, kemudian diwarnai dengan dark chocolate. Garis mata dipertegas dengan eyeliner, kemudian diwarnai dengan eye shadow berwarna rosegold dan kombinasinya untuk membuat efek* smokey eye. Tidak lupa maskara dan pink blusher. Terakhir, sentuhan nude matte* lipstik pada bibir.


"Nah, sempurna. Kau bahkan tidak perlu tambahan bulu mata palsu seperti kebanyakan klienku."


Aku menatap tidak percaya. Jika tadi aku jatuh cinta pada diriku, sekarang saatnya untuk pergi ke KUA dan menikah dengan diriku sendiri. Pikiran itu membuatku ingin tertawa, tapi takut. Aku khawatir topeng bedak ini akan retak dan berhamburan di lantai jika aku melakukannya.


"Berapa lama make-up ini akan bertahan, Bu?"


"Tengah malam—mungkin." Dia mengedikkan bahunya, kemudian tertawa. "Aku terdengar seperti ibu peri, kan?"


"Geulis, aku tidak tahu pastinya kapan make-up ini akan bertahan. Mungkin, itu tergantung bagaimana kau dan Max saja. Jika dia memberimu ciuman panas setelah kau keluar dari ruangan ini, maka make-upmu sudah pasti rusak seketika. Lelaki seperti Max tidak dapat ditebak, seperti sebuah Kotak Pandora. Nah, keluarlah, kurasa pacarmu pasti sudah tidak sabar lagi untuk bertemu."


Max tidak mengatakan apapun saat aku keluar tidak lama kemudian, ekspresinya juga biasa. Aku mulai berpikir mungkin aku saja yang besar kepala, karena jarang nyalon. Namun, ketika kami telah berada di luar salon, tatapan tajam Max menelusuri setiap mili wajahku, memancing rasa panas merambat perlahan ke pipi. Jangan-jangan Max tidak mengenaliku lagi, aku mengulum bibir.


Lelaki itu kemudian menyeringai, lalu mengamit tanganku. "Ayo makan siang."


Kami makan siang di Dapur Solo, Kemang Village, kemudian lanjut ke sebuah toko gaun yang masih berada di mall yang sama.


"Max, aku tidak perlu gaun. Untuk apa?" protesku ketika dia berkeras menyeretku masuk.


"Pilihlah, jangan khawatir. Pemilik galeri ini berhutang padaku. Aku tidak mungkin memilih sembarang gaun, maksudku lihatlah," Max membalikkan bahuku dan menunjukkan keseluruhan koleksi yang terpajang, "semuanya adalah gaun wanita."


Ya, semuanya gaun wanita yang sangat indah. Perlahan, kuedarkan pandangan ke sekeliling galeri dan merasa setiap gaun itu memanggilku, 'pilih aku! Pilih aku!' Aku menegak ludah, lalu memutuskan untuk menyentuh salah satu gaun. Bahan halus dan licin itu meluncur mulus di kulitku. Persetan! Jika Max tidak akan membelikannya, aku akan membeli satu untuk diriku sendiri.

__ADS_1


Tag harga yang muncul di ujung jahitan membuatku menahan napas dan mulai menghitung jumlah nol di sana. Oke, mungkin aku akan mencari gaun lain yang lebih murah. Gaun ini harganya sebesar gaji Leonhart dan Laura dalam sebulan dijadikan satu.


"Pilih saja, Yu. Jangan sungkan," bisik Max di telinga yang membuatku melonjak di tempat.


Aku menyeringai ketika mendapat angin segar, rasanya tidak sabar segera mencoba satu per satu pakaian di galeri. Ternyata, Max tidak membiarkan aku membeli sesuai keinginanku. Dia memintaku mencoba semua pakaian dan aku diharuskan untuk berputar-putar di depannya. Sungguh risi bukan?


Setelah hampir satu jam berganti-ganti pakaian, aku merasa hampir putus asa karena Max belum juga memutuskan gaun mana yang akan beli. Aku suka warna cerah atau yang hitam itu, tapi Max berkeras untuk mencoba salah satu gaun yang berwarna merah burgundy.


Gaun ini terlalu hot, dan sudah pasti harganya sangat mahal karena limited edition. Aku ragu apakah Max akan menyukai gaun terakhir ini. Lima tahun berpacaran, Max tidak pernah mengeluhkan penampilanku, atau menyuruh aku tampil lebih seksi seperti para kliennya.


Aku menelusuri lagi bayangan dalam cermin. Dengan potongan dada rendah dan potongan paha yang tinggi, sepertinya model gaun ini cocok digunakan seorang wanita untuk merayu CEO. Wait ... bukankah Max seorang CEO?


Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak, tapi sekali lagi ... aku takut topeng mahalku luntur, jadi aku terkekeh sendiri dalam ruang ganti yang hanya ditutup dengan tirai tebal.


"Apa yang kau tertawakan di dalam?" ujar Max,


"Hei, jangan mengintip!" hardikku ketika menyadari kepala Max menyembul masuk dari tirai yang tertutup.


"Pramuniaga tadi sedang melayani customer lain, jadi—" kata-kata Max menggantung di udara ketika tatapannya menelusuri tampilanku dalam sex dress bertali tipis pada bahu.


Dengan santai, dia berjalan masuk dan membiarkan tirai tebal itu tertutup di belakangnya. Aku berdiri canggung di depannya, menunggu. Jantungku berdetak tidak karuan ketika dia menyeret malas jemarinya menelusuri lengan yang terbuka. "Aku suka yang merah ini, cocok dengan kulit dan ... bentuk tubuhmu."


Hening seperti jeda yang menyiksa, sebelum dia membuka suaranya lagi. Tatapan Max sayu ketika berkata, "Pergilah dan siapkan barangmu, ada satu tempat lagi yang harus kita datangi."


"Max ...." Aku menahan tangannya agar tidak berlalu dari hadapan. Ruang ganti itu tiba-tiba terasa sempit dan udara di ruangan seperti tidak cukup untukku bernapas. "Apa maksudmu dengan semua ini?"


Dia merapatkan jarak dan menatapku lekat, kemudian perhatiannya beralih ke bibir. Dengan lembut, Max menyapukan ibu jari pada tulang pipiku saat berkata, "Kau akan tahu nanti."

__ADS_1


__ADS_2