
Hari ini Laura tidak masuk, dia menelepon dan melaporkan sedang sakit. Ini sungguh hal yang tidak biasa, tapi karena Laura jarang sakit, kupikir ketika dia berkata sakit pastinya wanita itu benar-benar sakit sekali sehingga tidak bisa masuk.
Memutar posisiku, Leonhart terlihat sedang membereskan meja sambil berbicang dengan dua orang anak SMU yang sedang menunggu meja itu. Sebenarnya gadis-gadis itu bisa saja memilih meja lainnya yang kosong, tapi ... ah ... anak-anak sekarang memang agresif.
Dua hari setelah Leonhart memintaku melingkarkan lengan di lehernya, aku masih bertanya-tanya perihal apakah itu benar yang terjadi atau tidak? Namun, gelembung lamunanku segera pecah begitu Max dan Samuel--lawyer associate-nya--masuk ke dalam kafe bersama segerombolan wanita genit.
Mengapa sih Max harus selalu berhubungan dengan wanita-wanita seperti itu? Apa dia tidak bisa mendapat klien yang profesional? Aku jadi teringat lagi dengan nasihat Max dulu bahwa : tidak ada yang bermain dengan pengacara, kecuali mereka dalam masalah.
Bukan berusaha menjadi protektif atau apa, aku hanya khawatir, suatu hari nanti dia akan jatuh dalam dosa. Dan, pada saat itu mungkin aku juga terseret ke neraka.
Max mendekat ke meja kasir dan melemparkan senyum sopan padaku, ini juga hal yang membuatku sebal. Setelah menciumku minggu lalu, sekarang semuanya tampak biasa saja. Seolah kencan mantan sehari dan pertemuan bibir itu, benar-benar mimpi.
Sementara, Samuel--lelaki ramah berkaca mata--yang berdiri di sebelahnya berkata, "Yu, minta yang enak-enak aja ya, gak perlu suruh mereka pilih. Kurasa teh kopi boba, atau salah satu minuman lucu dalam es, sudah dapat mendinginkan kepala mereka."
Dia menutup permintaannya dengan kerlingan mata yang membuat sudut bibirku terangkat. Samuel memang teman yang lucu, berbanding terbalik dengan Jeremy yang efisien.
"Ah, Om Samuel, kau jahat!" manja salah seorang dari wanita genit itu, tangannya terulur ke siku Samuel dan menggoyangkannya sambil pura-pura merajuk.
Semuanya ada lima orang. Pakaian mereka ... kurasa tak perlu di jabarkan. Oh, atau perlu?
Baiklah ... yang barusan memanggil Samuel dengan sebutan Om mengenakan kemeja hijau stabilo dengan rok jeans yang sangat pendek. Jika kusimulasikan, saat dia duduk mungkin separuh bokongnya akan terlihat.
Oke, itu terlalu sinis, seperempat bokong lah kira-kira yang akan terlihat.
"Apa kau tidak bisa terlihat lebih gagah seperti Om Max?"
Jeritan tawa dari wanita dalam kemeja panjang berwarna kuning lemon membahana, menarik perhatian orang-orang dalam kafe yang sedang menikmati makan siang. Warnanya pakaiannya yang menyakitkan mata, memberi efek seakan Max telah mengundang matahari masuk dalam kafe.
"Tolonglah, gadis-gadis. Jangan ribut, ini tempat umum. Aku tidak mau Om-om ini takut pada kita dan membatalkan kasus yang diajukan," kata seseorang dalam kaos biru yang ketat dan menonjolkan asetnya. Wanita ini lebih waras rupanya dari yang lain.
"Oh, jangan begitu, Laras. Aku yakin mereka mau. Mungkin bayaran yang akan diterima Om Max dan Om Samuel tidak besar, mengingat kita hanya pekerja seksual, tapi ... mari kita rayakan kemenangan nanti dengan bonus sepanjang malam selama seminggu." Seorang wanita mengenakan kemben ungu dan jas untuk menutupi bagian luarnya sepertinya orang yang lebih sinting.
"Cheers!" sahut yang terakhir dalam kaos merah ketat dan pendek yang memamerkan pusar dan kulit eksotisnya.
"Nah, kan, sudah kubilang tadi," ujar Samuel dengan kedua alis terangkat, menarik perhatianku kembali padanya. "Laras benar. Tolong jangan ribut, atau tuan rumah yang cantik di depan akan mengusir kita. Okay, Girls?"
__ADS_1
Si kaos merah ketat menyela, "Sudah tua begitu, kau bilang cantik." Tanpa risi, wanita itu segera menggandeng dan menempelkan asetnya yang besar ke tubuh Max sambil menatapku. Sementara, dua orang lainnya menggumamkan penyetujuan.
"Aku berani taruhan dia masih perawan, mungkin ... tidak laku," bisik si kemeja kuning dari sebela kiri Max. Aku menggertakkan gigi. Meskipun tersinggung, aku tetap berusaha mempertahankan ekspresi datar.
Tepat saat itu, si kaos magenta menyeletuk, "Coba saja jika dia berani mengusir kita."
Aku membanting pena untuk mencatat pesanan ke atas meja dan memelototi wanita itu. Wah ... wah ... jika semua wanita ini ingin pertengkaran, mereka akan mendapatkannya hari ini, karena suasana hatiku sedang buruk. Rasa hangat merayap cepat ke samping pipiku saat mendengar tantangan itu.
"Sam, cari tempat duduk dengan mereka, aku akan bicara dengan Yuri."
Setelah berkata itu, Max berjalan cepat memutari counter. Dia masuk dan menarikku keluar dari sana. Aku masih dapat melihat lima wanita itu memandangku dengan rasa cemooh luar biasa sebelum tangan Max dengan lembut mendorongku masuk ke dalam ruang kantor.
Hei, bukankah seharusnya mereka yang malu karena menghasilkan uang dengan menjual tubuh? Mengapa mereka menatapku, seolah-olah aku yang melakukan pekerjaan haram?
Begitu pintu menutup di belakang, aku segera menghadap Max memaki, "Berengsek! Siapa mereka, Max? Dan, apa pula hak mereka mengatakan aku perawan atau tidak? apakah itu dosa? Dasar gak punya malu."
Untung saja ruangan ini menggunakan bingkai pintu merek Rehau German yang kedap suara. Jika tidak, hampir dapat dipastikan genk wanita Stabilo itu sudah berada di depan dan siap menerkamku.
"Tenang, Yu."
Aku berhenti tepat di depan Max, dan menghujamkan tatapan penuh rasa marah. Sambil menusuk-nusukkan jariku ke dadanya yang terbalut jas, aku berkata, "Klienmu mengganggu tamuku."
"Yu--"
"Aku belum selesai marah." Sebelum Max menyelesaikan kata-katanya aku sudah mondar-mandir lagi dalam ruangan, sambil memuntahkan rasa mualku terhadap klien Max hari ini. "Lagian, siapa sih mereka? Wanita-wanita murahan itu akan selalu bermasalah, jadi untuk apa kau menolong mereka? Kau mengerti apa yang ku--"
Aku terkejut ketika Max tiba-tiba menghampiri kemudian memelukku, telapak tangannya mengarahkan kepalaku menatapnya. Sebelum aku dapat memprotes, bibirnya sudah turun menghampiri dan mencium penuh emosi. Masih diliputi rasa terkejut, pandanganku lalu jatuh pada wajah Max yang sedang mencium dengan mata tertutup. Bulu mata dan alis tebalnya yang indah, membuatku merona seketika.
Relaks, suara Laura bergaung dalam pikiran. Oh, benar! Aku lalu memejamkan mata dan menyerah di bawah kuasanya.
Uhm ... Uhm... Uhm ...
Ya, ampun ... sungguh kenikmatan bibir Max membuatku ingin menjerit : nikahi aku segera, Bodoh! Tapi, karena bibirku sibuk, aku hanya bisa mendesah tidak jelas. Beberapa saat kemudian barulah Max melepaskan pagutannya perlahan, tapi tangannya yang kokoh masih memelukku erat.
Dia menatapku sayu saat bertanya, "Mengapa hari ini kau begitu cerewet?"
__ADS_1
"A-aku hanya merasa di-bully." Suaraku terdengar terengah-engah yang mana membuat seringai indah Max mengembang. Sial, aku harus banyak berlatih sepertinya.
"Kata-kata wanita seperti mereka jangan terlalu dianggap, Yu. Kau tahu tingkat pendidikan mereka rendah, dan hanya mengandalkan otot."
Otot bagian mana? sinisku dalam hati. Meskipun begitu, aku tidak terima mereka merendahkanku seperti sampah.
"Mereka yang berkata kasar, belum tentu tidak suka padamu. Dari nada bicara mereka, kurasa anak-anak itu merasa iri padamu. Dan, cemburu. Ingat itu."
Aku berdecih mendengarnya. "Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku, Max. Aku tidak peduli jika mereka iri atau cemburu, aku hanya tidak mau mereka mengganggu ketenangan kafe. Dan, untuk apa ciuman barusan?"
Seakan tersadar, Max dengan canggung melepas pelukannya. "Aku minta maaf, tapi errr ... kuharap kau menyukainya," ujar Max sambil memamerkan seringainya yang menular. "Ya, sudah. Sebaiknya aku keluar dulu. Thanks, Yu."
Sosoknya yang tinggi berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, sebelum dia membuka pintu itu, aku buru-buru memanggil, "Max ...," lelaki itu menoleh ke arahku di belakang, "sekali lagi kau menciumku, akan kuanggap kita jadian." Max tertawa, tapi tidak berkomentar apapun. Dia menggeser pintu dan menghilang di baliknya.
Saat keluar, pandanganku langsung bersitatap dengan Leonhart. Meskipun berdiri cukup jauh, dari tempatnya yang menggantikanku di meja kasir, dapat kurasakan tatapan tajam lelaki itu mempelajari wajahku. Kurasa tidak mungkin untuk berbalik arah ke kamar mandi dan memperbaiki lipstikku, jadi aku meneruskan langkah ke arahnya di balik counter.
"Terima kasih, Leon."
Tidak ada jawaban apapun ketika dia beranjak meninggalkan meja kasir dan mulai menyibukkan diri dengan pesanan yang masih tertunda. Gerakannya yang cekatan dan tak banyak bicara, membuatku merasa bersalah telah meninggalkan meja kasir begitu saja, terutama dengan Max. Kuharap Leonhart tidak berpikir aku berasik masyuk dengan Max di dalam kantor.
Sesekali aku bangkit dan membantu Leonhart mengantarkan pesanan. Hari yang cukup sibuk, membuat perhatianku teralihkan dari Max dan gerombolan genitnya. Tepat jam 20.00 kafe di tutup.
"Hei, kau marah aku meninggalkan meja kasir? Mengapa dari tadi kau diam saja, Leon?"
Lelaki yang sedang menatapku kemudian memalingkan wajahnya. Tangannya bergerak mengunci rolling door sambil bertanya, "Apa yang kau lakukan dengan Max?"
"Kami bicara." Suara dengkusan keras yang keluar darinya, membuat alisku berkerut. "Apa kau menemukan kesulitan saat aku tidak di depan?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, Leonhart malah balik bertanya, "Sudah kau luruskan masalahmu dengan Max? Apakah kau dan dia ... berbaikan?"
"Belum." Aku menunduk, menatap ujung sepatu ketsku. "Sudah, jangan dibahas lagi."
Leonhart bangkit dari tempatnya, kemudian menarik tanganku untuk menyerahkan kunci kafe. Dia tidak melepaskan genggaman meskipun kunci sudah berpindah tangan. Sepasang mata indah itu hanya memandang lurus padaku dalam bisu, apa yang ada di dalamnya masih sebuah misteri.
Kemudian, dia berbalik dan pergi.
__ADS_1