90 Days Missing You

90 Days Missing You
HAPPY BIRTHDAY, YU! #3


__ADS_3

Sesekali, aku melirik ke arahnya. Sungguh sulit dipercaya jika Max di sini. Menggenggam erat tanganku. Merangkul pinggangku. Aku bertanya-tanya, apakah ini mimpi? Atau, kejadian putus kemarin itulah yang mimpi?


Beberapa kali aku mencubitnya dan Max mengaduh. Itu tandanya bahwa semua ini benar-benar terjadi, kan? Dari penculikanku, salon itu, gaun merah ini, dan high heels yang barusan dibelikan Max juga—semuanya nyata, kan?


Bukan aku tidak bersyukur, tapi jika ini mimpi, kumohon—siapa pun—tolong bangunkan aku. Dan, jika ini bukan mimpi—Oh, tidak! Aku menatap jam butut di pergelangan tangan yang menunjukkan pukul 16.30.


"Max, pinjam handphone-mu. Aku lupa mengabari Laura dan Leonhart mengenai kepergianku. Bagaimana jika mereka berdua tidak bisa menangani kafe yang ramai? Ya ampun, kenapa aku egois begini?" Rasa panik merayapi ketika aku terpikir rating kafe mungkin turun karena ada meja yang tidak terlayani.


"Nope! Mereka seharusnya bisa menangani masalah kafe, bukankah Laura dan Leonhart sudah tiga tahun bekerja denganmu?"


"Tolonglah, Max. Paling tidak biarkan aku mengabari bahwa aku bersamamu, atau mereka akan menelepon ke polisi karena mengira aku diculik."


"Kau memang kuculik, Yu." Seringai Max mengembang begitu lebar hingga membuat wajahku bersemu.


"Max!" Lelaki itu mendengkus dan memutar bola matanya. Dengan enggan, dia mengeluarkan iPhone 11 Pro dan menyodorkannya padaku. Aku menyeringai lebar sambil mengucapkan, "Ma'aci, Max."


"Oh, ya Tuhan, umurmu sudah 26 tahun dan masih seperti anak kecil." Max mengurut wajahnya.


Aku membalikkan tubuh, kemudian memutar nomor telepon kafe. Sambungan di ujung sana langsung terangkat bahkan sebelum nada tunggu berbunyi. "Yu? Kema—"


"Leonhart? Aku minta maaf telah pergi tiba-tiba dari kafe. Aku bersama Max, jadi jangan khawatir. Tolong simpan kunci kafe berikut barang-barangku. Aku harus pergi, terima kasih banyak, Leon. Bye."


Tatapan Max tidak terbaca saat aku mengembalikan handphone-nya. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya, kemudian tersenyum. "Kau mau makan malam denganku?"


Aku membelalak. "Tentu saja."


Hari belum lagi malam saat Max mengendarai mobilnya keluar dari Kemang Village. Mercedez Benz-nya melambat ketika masuk ke pelataran lobi hotel di SCBD Kuningan, tempat teman kami mengadakan acara resepsi bulan lalu. Tempat Max membawa si wanita jerapah.


Aku mendengkus dan bertanya-tanya, buat apa Max membawaku kemari?


Ketimbang mati penasaran, akhirnya dalam lift yang hanya membawa kami ke lantai enam, aku memberanikan diri bertanya. "Max, kau dan wanita jera—" Max menoleh, "maksudku, wanita model yang kemarin kau bawa ke resepsi. Apakah dia pacarmu?"


Max tidak menjawab. Keningnya berkerut, seperti sedang berusaha mengingat. Please, jangan bilang dia lupa, karena itu tidak mungkin. Max memiliki ingatan super, dan itu yang membuat karirnya bersinar di bidang hukum.


"Itukah yang kau pikirkan kemarin? Yang membuat matamu bengkak?"


Aku mengulum bibir dan menunduk malu, ternyata ingatan Max sampai sejauh itu.


Dia terkekeh. "Tidak, Yu. Kami tidak berpacaran." Tangan Max turun, dari lengan ke pinggul, menghantarkan rasa hangat di sana. "Kalau tidak salah lihat, rasanya waktu itu kau tidak sabar ingin menghujatnya, bukan?"


"Bukan begitu—" kalimatku terputus oleh denting bel dan pintu lift yang bergeser terbuka. Dorongan lembut telapak tangang Max yang hangat, membawaku menyusuri karpet tebal menuju meja yang sudah di-booking Max.


"Aku membeli ini di toko gaun itu, semoga bisa membuatmu hangat," ujar Max, sambil tangannya mengeluarkan large scarf dari kantung jaket dan membungkus pundakku.


Whaaat? Kenapa tidak dari tadi Max mengeluarkannya? Untung saja wajahku sudah dipoles hingga cantik, jadi tidak rela rasanya untuk menunjukkan mimik cemberut, apalagi mengingat Max yang menanggung semua biayanya.

__ADS_1


Tidak tahukah dia, saat di mall, aku merasa seperti pajangan berjalan yang dilihat semua orang. Mungkin Max ingin memamerkanku pada dunia, tapi aku bisa mati kedinginan dalam gaun satin tipis yang memamerkan lebih banyak kulit terbuka ketimbang yang tertutup.


"Menu malam ini sudah kupesan, kau hanya perlu menikmatinya. Tambahlah nanti, jika diperlukan," ujarnya, lalu melayangkan senyuman dari seberangku. Hal menyenangkan dari berpacaran dalam waktu yang lama adalah kau tahu selera pasanganmu seperti melihat telapak tangan sendiri.


Makan malam itu menyenangkan, sambil sesekali menyinggung masa lalu. Max mengatakan bahwa makan malam ini menggunakan voucher yang kami menangkan saat acara resepsi lalu. Ternyata dugaanku salah, dia tidak menggunakan voucher itu bersama wanita jerapah. Tahukah Max betapa senang hatiku mendengar pengakuannya?


Sembari menikmati santapan makan malam, aku tidak sabar menanti bagaimana hari ini berakhir. Jika boleh berharap, bagaimana dengan sebuah cincin dan lamaran pernikahan?


[...]


Rasanya, Max baru berkendara sebentar dan sekarang kami sudah berada di parkir basement apartemenku. Ini mengesalkan, sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengannya, tapi Max sudah keburu membukakan pintu dan menungguku.


Ditutupnya pintu mobil di belakang, begitu aku keluar. Tatapan sayu Max membuatku ingin menyentuhkan jemari di pipinya yang kasar dengan janggut. Butuh keberanian yang besar untuk itu, sayang aku tidak memilikinya. Jadi, aku hanya membalas tatapannya dan menunggu.


"Happy Birthday, Yu. Terima kasih sudah mau kuculik." Seringai Max menghantarkan rasa hangat di pipiku.


"Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih, Max." Lagi-lagi tatapan Max menyusuri wajahku perlahan, dari ujung rambut dan berhenti di bibir. Ujung-ujung jemariku gemetar di bawah tatapannya. Aku mengulum bibirku dengan gugup. "Hmm ... sebaiknya aku pulang."


Max mengejapkan mata, seperti teringat sesuatu. "Tunggu, Yu. Aku hampir lupa hadiahmu."


Eh, hadiah? Oh, semoga saja ....


Max membuka lagi pintu mobil dan mengeluarkan sebuah kotak biru terbungkus beludru. "Ini untukmu, Yu. Bukalah."


"Oh, Max, kau sampai repot-repot. Terima kasih banyak! Kalau bukan karena espresso itu—" Aku terdiam. Ngomong-ngomong mengenai espresso, aku baru ingat sesuatu. "Kau belum membayarnya."


"Hah? Masih ditagih?" Max membelalak. Sejurus kemudian, bibirnya menyunggingkan senyum jahil. "Tidak bisa gratis?"


Aku mengangkat telapak tanganku dan menjawab, "Maaf, tidak bisa, Pak."


Lelaki itu berdecak. Dia mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribu yang masih licin seperti habis diseterika, kemudian menyerahkan padaku. "Nih, mana kembalinya?"


"Besok ambil di kafe, ya. Aku tidak membawa dompet dan—"


Aku tidak sempat bereaksi ketika Max menurunkan bibirnya untuk menciumku. Desakan tubuhnya membuatku mundur dan bersandar pada sisi mobil. Tangannya yang kokoh merangkul pinggangku, menghilangkan jarak yang ada. Aku dapat merasakan hangat tubuhnya menembus gaun satin tipis yang kukenakan.


"Uhm ... Uhm ...." Bibir Max mengulum lembut bibirku.


Ya, ampun ... apa yang harus kukatakan mengenai rasa bibir Max selain sempurna. Tebalnya. Teksturnya. Belum lagi lidahnya yang membelai langit-langit mulutku terasa begitu menggelitik. Butuh sedikit waktu bagiku untuk bisa membalas pagutan demi pagutannya dengan benar.


"Uhm ... Uhm ...." Aku mendesah, membiarkan lidah Max menjelajah lebih liar.


Lima tahun berpacaran, kami belum pernah sekali pun berciuman. Sekarang, setelah hubungan asmara itu putus, di sini kami malah melakukannya. Ironis, bukan?


Seakan bisa membaca pikiranku, Max memutuskan ciuman itu dan menarik diri. Aku baru sadar telah memeluk leher Max dan mengacak-acak tatanan rambutnya yang biasa rapi. Namun, itu tidak sedikit pun mengurangi ketampanannya. Sebaliknya, aku lebih suka sosok Max seperti ini, seolah baru bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Belum pernah kulihat ekspresi Max seperti ini, seringai malu-malu yang dia tunjukkannya membuatnya tampak berbeda. "Hmmm ... jadi begini rasa bibirmu, Yu."


"Hah?"


Max tergelak tanpa menjawab, manik matanya berkilat jenaka. "Selamat malam, Yu."


Eh, sudah? Begitu saja malam ini berakhir? Dan, apa pula maksud pernyataannya barusan?


"Max," panggilku, menghentikan langkah Max untuk pergi. "Apakah ini artinya, kita bisa memulai lembaran baru?"


Ada jeda sesaat sebelum aku mendengarnya mengembuskan napas panjang. Jeda yang sepertinya digunakan Max untuk memikirkan jawaban yang bijaksana. "Aku masih berusaha berdamai dengan diriku, Yu. Setelah kejadian dengan Leonhart ... aku sadar, ternyata cukup sulit bagiku untuk memaafkan."


Max bisa saja melontarkan kejujuran, tapi tetap saja jawaban yang diperhalusnya barusan menusuk di hati. Aku tidak menangis, tapi air mataku lolos begitu saja dari sudut mata. Namun, aku tidak mungkin mengusapnya, sudah pasti itu akan membuat seluruh make-up yang mahal ini rusak.


"Maaf, Yu. Aku hanya ingin memberi waktu bagiku, dan bagimu, untuk berpikir lagi, sebelum kita berdua menyesal kemudian. Kurasa, ini yang terbaik, bukan?"


Aku mengangguk, karena tidak tahu harus merespon apa. Max memeluk dan mencium keningku, seperti yang biasa dilakukannya dulu sebelum berpisah. Aku masih berdiri beberapa saat setelah Mercedez Benz itu melesat pergi.


Dengan gontai, aku menuju lift dan naik ke atas. Rasa sedihku hilang begitu menyadari bahwa aku tidak punya kunci apartemen, karena benda itu berada dalam tasku yang tertinggal di kafe. Untuk menelepon juga tidak mungkin, karena handphone-ku juga di sana. Oh, sial!


Aku segera menekan tombol G (Ground). Kalau begini, aku terpaksa pergi ke apartemen Leonhart untuk mengambil barang-barangku. Jam tangan menunjukkan pukul 21.13, semoga saja dia belum tidur, atau paling tidak, semoga dia sedang sendiri. Aku takut jika harus memergokinya lagi berduaan dengan Dokter Raisa seperti tempo hari.


Begitu lift membuka, sosok dengan tas selempang perempuan—yang berdiri di depan—membuatku berteriak senang. "Leonhart! Ya ampun, aku baru saja akan ke apartemenmu!"


Lelaki itu tampak kebingungan sebentar, kemudian dia ikut berteriak, "Oh, wow! Yu, kau tampak ... beda." Manik matanya berkilat dengan pujian ketika mempelajari tampilanku yang baru dipoles.


"Seharusnya, aku membiarkanmu ke apartemenku, ya." Dia tertawa sampai kepalanya terlempar ke belakang. "Tapi, mana mungkin aku membiarkanmu berkeliaran di luar dengan pakaian seperti ini. Aku takut kau diculik lagi, kali ini oleh hidung belang," ujar Leonhart, tatapannya terfokus pada dadaku.


Aku menatap ke bawah dan mendapati bagian gaun itu melorot, hingga memamerkan terlalu banyak belahan payudara. "Oh, ya ampun!"


Refleks aku menaikkan bagian itu, tapi malah tepi rok yang sangat pendek ikut naik. "Oh!"


Leonhart tertawa lagi, kali ini lebih keras. Wajahku terbakar malu, aku segera membereskan posisi scarf untuk menutupi bagian dada. "Awas, kalau berpikiran kotor!"


Begitu pintu lift membuka di lantai atas, kami keluar menyusuri lorong, menuju ke unitku. Leonhart menungguku membuka kunci pintu, sebelum menyerahkan tas selempang. "Terima kasih, Leon. Maaf, ya, sudah merepotkan. Sebagai kompensasi, kau boleh masuk lebih siang besok."


"Eh? Kau tidak mengundangku masuk? Aku membawakanmu kue ulang tahun, loh." Sebelah tangannya mengangkat kantong kertas bertuliskan UNION CAKE, untuk membuktikan bahwa dia tidak berbohong.


"Uwaaah ... Terima kasih banyak, Leon!" Aku segera meraih kantong itu tanpa permisi. Air liurku terbit hanya dengan melihat merek toko kue favoritku. "Tapi, tetap tidak. Dengan pakaian seperti ini, aku takut kau tidak mau pulang."


Leonhart memegang dadanya dan membuat ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "Astaga! Kau bisa menebak pikiranku!"


Dia berhasil membuatku terbahak-bahak. "Sana pulang! Selamat malam, Leon," ujarku mengakhiri pertemuan. Ujung jari kakiku terasa mulai berdenyut dan memohon untuk dibebaskan.


"Baiklah, happy birthday, Yu," ujar Leonhart, kemudian bibirnya turun dan mendaratkan ciuman kilat di pipiku. Belum lagi aku menghardiknya karena melakukannya tanpa izin, sosok Leonhart sudah menghilang  di pertigaan koridor.

__ADS_1


__ADS_2