
Akbar dan Arman saling berpandangan, mereka paham jika melarikan diri bukan jalan bagus.
Tapi bertahan disini juga tidak menguntungkan.
Akbar sudah tahu bahwa sosok gelap itu perwujudan dari Gumantong dan hantu lain hanyalah alat untuk menerima persembahan tumbal manusia. Jika dia sanggup melawan atau mungkin memusnahkan sosok gelap itu, akankah mereka selamat?
Akbar selalu merasa Xiayu memiliki rahasia namun dia tidak akan memaksanya.
Dari percakapan yang mereka curi dengar itu.
Tampaknya mereka ingin tubuh dan jiwa anak indigo sebagai penutup tumbal mereka. Dan parahnya, mereka ingin membunuh Akbar!
Arman sedikit cemas, takut bila Akbar nekat menjadi bait.
Di altar sosok raksasa itu tersenyum.
"Tuan dewa?."
"Dia ingin mati, dan kita tidak bisa menghentikannya," kata raksasa itu dengan seringai.
Kepala desa tahu bila Raksasa memiliki tubuh yang bersifat agregat, juga jiwa, yang seluruhnya dibentuk oleh jiwa-jiwa yang tak terhitung banyaknya.
Akbar dan Arman mulai kembali ke pagoda adik wanita dengan siswa yang selamat.
“Di mana Anda masih menonton dan tidak akan membuka pintu?” Arman berkata kepada siswa yang lain.
"Bukannya aku tidak mau membuka jalan, tapi hantu putih itu terus mengikuti kami."
__ADS_1
Mereka berlari dan berlari.
Tetapi gagal untuk menyingkirkan hantu putih itu. Meski telah jauh berlari hingga lelah, hantu itu akan selalu muncul di sebelahnya.
“Bakiak?!” Para siswa yang berlari terjatuh lemas dan merasa sedikit kedinginan.
Teman-teman Akbar juga tidak bisa berdiam diri, Adik wanita meminta mereka egera keluar dari desa, jarak desa dengan jalan utama masih cukup jauh.
Mereka tidak ada pilihan selain berlari dan menghindari tangan-tangan hantu yang mencoba meraih mereka, tidak sedikit dari mereka yang mulai lelah dan lambat ditarik paksa oleh tangan hantu dan menghilang dengan jeritan pilu.
"Berhenti!!." Dinda tiba-tiba berteriak dan memegang kepalanya seolah kesakitan.
"Tidak ada waktu berhenti, Dinda!." desak Salsa.
Dinda menunjuk ke arah lahan sawah kosong tidak jauh dari lokasi mereka.
Sawah di sisi jalan tidak terlalu besar, mereka bisa mendengar suara hantunya langsung, tetapi mereka tidak menemukan sesuatu yang aneh.
"Ada apa? itu hanya sawah kosong?."
Dinda mengulurkan jari-jari dan menunjuk ke tengah sawah. Dia memperhatikan bahwa Dinda mengacu pada permukaan sawah, dan menyipitkan matanya untuk melihatnya.
Dia dan Salsa melihat tiang bambu berdiri di tengah sawah dan orang-orangan sawah tergantung di tiang bambu.
"Itu hanya boneka jerami, apa masalahnya? Aku akan mencabutnya."
“Berbahaya.” Dinda menggelengkan kepalanya, dan berkata dengan serius.
__ADS_1
Mereka serius melihat orang-orangan sawah di tengah danau lagi.
"Hanya boneka, ayo segera lari."
Hanya melihat tubuhnya, tidak ada yang istimewa, orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami dan mendengarkannya dapat dengan jelas memahami struktur internal tubuhnya.
"Jangan ...."
"Aaaaaaaaaaaaa—!!." Tubuh siswa yang ingin lari menembus batas boneka jerami telah di tusuk dengan bambu tajam tepat di dadanya.
"Aaaaaaaaa—, Ya Tuhan !! Tolong Aku !!." Mereka mulai menangis tertunduk ditanah, ketakutan.
Bila di amati dengan cermat. Selain tubuh yang terbuat dari jerami, ia juga memiliki pakaian compang-camping dan topi jerami di atasnya, yang tampaknya tidak ada yang istimewa. Tidak terlalu lama untuk melihatnya di sini, topi jerami dan pakaiannya telah memudar dan busuk, dan tubuh yang terbuat dari jerami juga berjamur, apa pun bentuknya, itu hanya orang-orangan sawah biasa.
Hantu!
Benar saja, itu Jelangkung!
Dinda menguatkan diri sambil menarik Salsa, melirik ke arah orang-orangan sawah, dan berkata : "Pergi."
“Kamu benar-benar tidak menunda sejenak,” Salsa menangis sambil tertawa.
Ketakutan.
Salsa mulai bisa merasakan stress pada mentalnya.
Mengenggam erat tangan Dinda dan berlari tanpa menoleh, mengabaikan jeritan-jeritan putus asa itu.
__ADS_1