Air Mata Harapan

Air Mata Harapan
Sembilan


__ADS_3

"Notulen lo boleh juga."


"Jangan dekat-dekat!" Vita menjauhkan kursi bersama laptopnya yang ada di atas meja. Karena terlalu fokus ia tidak menyadari sedaritadi Azka mengintip coretannya.


"Kenapa? Kata Pak Lolo kita harus kerjasama. Kerjasama macem apa yang duduknya jauhan kayak matahari ke jupiter?"


"Kamu bisa tulis notulen kamu sendiri, nanti aku nilai terus kasih pendapat."


"Gue nggak jago buatnya, ajarin dong." Ia bersiap mendekatkan kursinya lagi, sontak Vita berdiri.


"Tolong ya aku mohon jangan dekat-dekat apalagi kontak fisik!"


Vita tersadar perbuatannya sudah mengganggu konsentrasi anggota humas lain, dengan sangat menyesal Vita membungkukkan badan meminta maaf lalu kembali duduk.


"Emangnya kenapa? Lo takut iritasi? Tenang aja kalau soal itu, kulit gue nggak bikin iritasi kok, gue skincarean tiap malem." Azka membuka jaket merahnya, menunjukkan kulitnya yang berwarna sawo matang dan terlihat bersih tanpa koreng sedikitpun.


Vita meringis, sangat sulit dijelaskan, ia sangat takut bersentuhan dengan cowok kecuali Satya. Sudah tiga hari Vita dihadapkan dengan cowok bernama Azka ini, setiap pulang sekolah cowok itu sudah standby di dalam ruang humas, bahkan tidak pernah terlambat. Ia akan menyapa dan bertindak sok dekat dengan Vita. Padahal sudah beratus kali Vita memperingati bahwa dirinya tidak suka diajak bicara apalagi diganggu ketika menulis. Nihil, cowok keras kepala itu masih juga meracaunya.


Seperti saat ini, Vita sudah berusaha keras mengabaikannya, tapi Azka melakukan kebiasaannya lagi, mencolek bahu Vita menggunakan bolpoin. Vita takut, bahunya akan bolong karena terus dicolek.


"Main tebak-tebakan, yuk?"


Tangan Vita terkepal, cowok ini tidak peduli bila dirinya habis kesabaran dan tiba-tiba meledak, dia tidak peduli bila Vita gagal menyelesaikan puisi sehingga nama Vita akan tercemar. Cowok ini hanya peduli bagaimana membuatnya jengkel, bagaimana membuatnya bak orang konyol yang sudah naik pitam namun tidak bisa berbuat apapun.


"Diem artinya iya. Oke, gue mulai ya. Lo tebak orangnya siapa. Ekhem, cowok, inisialnya A. Ganteng! Poin utamanya dia manis. Kepribadiannya jadi nilai plus tuh, udah baik hati, ramah, penyayang, pinter, jago masak lagi. Ciri-ciri suami idaman deh. Terus---"


"Kak, saya ijin ke toilet," pamit Vita yang mendadak berdiri menatap kakak pembina di meja depan.


"Ngh, oke Vit, tapi jangan lama-lama, bentar lagi kita mau pulang sebelum pengarahan terakhir dari Pak Lolo."


"Iya Kak."


Rasanya teramat lega saat Vita sudah keluar dari ruangan tersebut. Bukan. Vita bukan mengutuk ruangan itu, namun salah satu orang yang ada di dalam, sangat membuat Vita muak.


Langkah kaki membawanya menuju toilet, namun ketika berada di koridor kelas duabelas, langkahnya terhenti. Jantung Vita berdegub kencang. Perlahan, ia mengintip dari sisi jendela.


Deg


Airmata lagi-lagi lolos dari pelupuknya. Mulanya hanya satu titik, lama-kelamaan menjadi puluhan titik. Napasnya tersendat melihat pemandangan di depan mata. Hatinya sakit, tidak bisa ditolerir lagi, Satya sudah keterlaluan.


Tidak ingin menyaksikan lebih lama, Vita berlari sejauh mungkin. Perutnya lagi-lagi tidak bisa diajak kompromi, sangat sakit dan menusuk, secara tidak sengaja ia tersandung batu hingga jatuh tersungkur. Untungnya Vita melindungi perutnya sebelum terbentur ke tanah.


Di posisi mengenaskan itu Vita masih menangis di tengah taman yang syukurnya tidak dihuni oleh siapapun selain dirinya.

__ADS_1


"Jahat, kamu jahat Satya. Kamu milik aku. Kamu punya aku. Kenapa oranglain kamu ijinin nyentuh kamu sedangkan aku nggak bisa nyentuh siapapun? Nggak adil! Aku salah apa sama kamu? Selama ini aku ikuti semua kemauan kamu! Tapi kenapa? Kenapa kamu masih mau ninggalin aku?" Gadis dengan rambut tergerai sebahu itu terisak hebat, meremas tanah, melemparnya ke berbagai arah.


"Satya?"


Deg


Tangisan Vita sontak terhenti mendengar celetukan tersebut. Tenggorokannya tercekat. Dengan lamban Vita mendongakkan kepala memandang si empu suara.


Azka, cowok itu berdiri menjulang di hadapan Vita yang masih tersungkur, menatap ke bawah menelusuk tepat ke manik Vita, kernyitan di dahinya tampak jelas. "Ada hubungan apa lo sama Satya?" tanyanya.


Dengan tubuh bergetar gadis itu mengerahkan seluruh tenaga untuk bangkit. Kedua telapak tangannya yang kotor karena tanah refleks ia gerakkan mengusap kedua pipi yang basah sehingga seluruh wajahnya ikut kotor.


Azka berniat membantu serta memberikannya sapu tangan namun Vita lebih dulu menolak. Dia sudah berdiri sembari memasang sorot kesakitan. Tentu saja kesakitan, perutnya masih simpang-siur di dalam.


"Tadi lo nyebut Satya? Kenapa? Ada hubungan apa lo sama Satya?"


Kepala Vita menggeleng, bersiap-siap pergi tapi duluan dihadang.


"Kenapa? Jawab gue, Vit!"


"Kita nggak cukup dekat buat aku nyeritain masalahku ke kamu. Urus aja hidup kamu sendiri. Dan aku bakal urus hidupku sendiri." Dia berjalan melewati Azka, meninggalkan taman dengan berjalan tertatih, menuju toilet lantai atas agar tidak bertemu pemandangan sebelumnya.


...🍂🍂🍂...


Contohnya empat remaja itu. Lokasi malam minggu mereka kali ini ialah pedagang kaki lima pinggir jembatan kota Jakarta. Pedagang ketoprak dan kerak telor, di sebelahnya ada penjual seblak maupun nasi goreng. Ramai? Pasti. Rata-rata diisi pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara.


"Tumben-tumbenan mata lo nggak jelalatan," cibir Reyhan seraya mengunyah.


Memang benar, tidak biasanya Azka menjadi sependiam ini. Tahulah seberapa lebar bibirnya bila berbicara, tapi kali ini dia tidak mengucap sepatah kata-pun sejak datang, sibuk melamun sambil menghabiskan makanan tanpa minat.


Sedangkan dua sejoli lagi, siapa lagi kalau bukan Satya dan Meisya, keduanya tengah mengumbar kemesraan dengan saling menyuap satu sama lain, terkekeh dan bergurau bahagia.


"Berasa dunia cuma milik berdua, yang lain ngontrak!" sindir Reyhan keras-keras, semua orang yang mendengar jadi merasa tersinggung. "Untung ada makanan yang bisa gue jadiin lampiasan, kalau nggak udah abis lo berdua gue semprot pake disinfektan, udah tau lagi korona."


"Udah tau kan lagi korona? Terus kenapa masih ONS aja?" sindir Satya balik.


"Halah diem! Gue anak baik, ye nggak, Ka?"


Tidak ada sahutan. Azka masih saja melamun. Membuat Reyhan menoyor kepalanya menggunakan botol kecap.


"Woi! Lagi ngelamunin yang jorok kan lo?


"Apa sih," decak Azka tak suka. Ia mengusap keningnya yang terkena sedikit noda kecap kemudian beralih menatap Satya. "Kenal Vita, nggak?"

__ADS_1


Pergerakan mengunyah Satya terhenti, maniknya yang legam melirik cowok berjaket biru itu. "Kenapa?"


"Apanya yang kenapa? Tinggal jawab, kenal apa nggak?"


"Nggak. Cewek yang gue suka cuma Meisya."


Azka memanggutkan kepala lalu merogoh ponselnya. Tapi ia teringat bahwa Vita sudah memblokirnya. Jika meminjam ponsel Reyhan, yang ada cowok bomat itu mengerjai Vita.


"Pinjem ponsel lo."


"Buat apa?" sahut Satya.


"Bentaran doang, liat youtube."


"Ngapain? Kalau nonton video porno awas lo ya."


"Ck, buru!"


Satya meminta tolong pada Meisya untuk mengambil ponselnya di kantong celana belakang pasalnya kedua lengannya kotor karena memegang kerak telor. Meisya mengambil dan menggesernya ke arah Azka.


Dengan cekatan Azka mengetik deretan nomer yang sangat ia hapal. Saat sudah mengetik duabelas angka, alisnya mengerut melihat nomer itu ternyata disimpan di kontak Satya namun tanpa nama.


"Nomer yang belakangnya dua sembilan, siapa?"


"Ha?" sahutnya.


"Di kontak lo yang nomer belakangnya dua sembilan, siapa?" tanyanya ulang bernada tidak santai.


"Lo ngomong apa, sih? Lo ngapain di ponsel gue? Siniin!" Satya berniat merebutnya balik, lebih dulu Azka menghindar. Tanpa babibu ia menekan tombol panggilan. "Lo ngehubungi siapa?!" Kali ini Satya bangkit dari duduk, menjulurkan tangan bersiap merampas, lagi dan lagi Azka menghindar, cowok itu juga ikut bangkit sebelumnya.


"Halo?"


"JANGAN KETERLALUAN!" Bentakan itu memancing seluruh pasang mata, menjadikan suasana hening mencekam. Satya sudah merebut ponselnya dan memutuskan panggilan sebelum Azka mendengar jawaban dari seberang, padahal teleponnya sudah tersambung. "Hargain privasi gue!"


"Emangnya lo punya privasi?" sela Reyhan, mencari perkara.


"Semua orang pasti punya! Sekali lagi lo buka-buka ponsel gue, jangan harap gue anggep temen lagi." Cowok tinggi putih itu menarik lengan Meisya, mengajaknya pindah ke pedagang sebelah.


"Ada masalah apa sih lo?" tanya Reyhan sepergian kedua sejoli.


Azka menatap jalanan sembari termenung. "Nggak tau. Lanjut makan aja-lah." Mereka melanjutkan aksi makan. Sekarang suasananya jauh lebih baik dari sebelumnya, kini Azka kembali bercanda-gurau dan beradu argumen bersama Reyhan perihal siapa gadis tercantik yang ada di sekitar.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


Vote juseyoo~


__ADS_2