Air Mata Harapan

Air Mata Harapan
Tiga Belas


__ADS_3

"Lo dari mana aja, Vita? Huaa."


Baru menginjakkan kaki ke dalam kelas, sambutan dan juga pelukan langsung ia terima dari Kayla dan Nova. Mereka memeluk erat kemudian mencubiti pipi Vita.


"Tau nggak hot news apa yang muncul di permukaan pas lo nggak dateng?" pekik Nova berlebihan.


Vita melanjutkan langkah menuju mejanya, mendudukkan bokong di kursi sambil meletakkan ransel ke dalam laci.


"Ih lo kayak nggak minat gitu dengernya!" sebal gadis berambut pendek itu.


"Minat kok. Hot news apa yang kalian maksud?"


"Sebelum kasih tau yang darurat, kasih tau yang utama dulu." Mereka berbisik-bisik, walau Vita masih dapat mendengar. Semenit berbisik, keduanya kembali memandang Vita. Kayla mendekat sembari menjentikkan jari.


"Kenal Ricky?"


Nama yang sangat asing. Jelas Vita tidak mengenal. Agar tidak memperumit masalah, pura-pura kenal saja, ia pun mengangguk.


"Semalem dia kepergok nyuri uang koperasi OMAYGAT!"


"Bener! Anak-anak nggak nyangka sih termasuk gue, adik kelas secuek Ricky bisa ngelakuin hal serendah itu!" timpal Nova.


"Danβ€”lo tau apa selanjutnya? Dia nggak ngaku sama kesalahannya sendiri, helow! Nggak abis pikir, deh."


Seharusnya itu bukan menjadi urusan mereka. Lagipula, jika adik kelas bernama Ricky itu melakukan kesalahan, entah disengaja atau tidak, pasti ada alasannya.


"Bu Maira ampe bingung ngadapin tuh bocah. Disuruh bawa ortu jumpain Kepsek, malah bawa pacar. Hadeh, heran."


Kayla dan Nova serempak kocar-kacir memberitakan sesuatu yang bahkan tidak Vita simak. Semua perkataan mereka bagai angin lalu, yang ada dalam benak Vita sekarang hanya bagaimana cara bertemu Satya nanti untuk memberikan kembali buku-buku tugasnya. Semalaman Vita bergadang untuk mengerjakan tugas tersebut. Berandalkan secangkir teh hangat, Vita dapat bertahan sampai pukul satu malam.


"Vit! Lo dengerin kita nggak, sih?"


"Dengerin kok."


Bohong. Ia bahkan tidak tahu topik apa yang mereka perbincangkan setelah membahas kejadian adik kelas bernama Ricky.


"Dan, ini dia berita daruratnya! Dijamin lo bakal uring-uringan tiap detik."


Kayla memijati kedua bahu Vita, merilekskan otot-otot bahu temannya itu.


"Berita darurat apa?"


Mereka berdua saling memandang dengan raut serius, sedikit merancap rasa penasaran Vita.


"Berita darurat apa?" ulangnya.


"Lo tau?" Kayla kembali memijati kedua bahu Vita. "Semalem...." Perlu beberapa detik jeda mengisi, hingga suara kikikan dari mereka berkumandang. Sudah bisa ditebak bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bercanda. Vita menepis kedua lengan Kayla lalu memilih membuka buku fisika.


"Vit, lo tau?" Mereka beralih duduk di hadapannya. "Semalem, gue dapet bakso-telur paling gede di warung Kang Ujang! Pokoknya seneng banget deh, tapi sayangnya ... bagi dua sama Nova. Elo sih nggak dateng, harusnya bagi dua sama elo, gue setengah males sih bagi makanan ke Nova."


"Ih Kumaha? Wani pisan lo."


"Ora peduli. Lo juga pelit tuh."


Keduanya berdebat kembali. Sungguh cobaan bagi Vita. Akur, bertengkar, akur, bertengkar, begitu seterusnya siklus pertemanan mereka.


"Vit, lo dipanggil Kak Azka!"


Napas Vita tertahan ketika Ecy berteriak dari depan pintu.

__ADS_1


"Apa?! Ada hubungan apa lo sama Kak Azka?" sahut Sarah heboh, alhasil semua perhatian yang ada di kelas tertuju padanya.


"Cuma teman satu ekskul." Gadis itu mengeluarkan laptop dari dalam ransel, melangkah menuju pintu sambil menenteng laptopnya. Tampaklah seorang cowok tengah berdiri bersandar di dinding, seragamnya dikeluarkan dengan celana abu-abu yang robek di bagian lutut. Dia menoleh saat Vita memperhatikannya.


"Pak Lolo manggil kita berdua," katanya, dijawab anggukan oleh Vita lalu berjalan mendahului, langkahnya disusul dari belakang oleh cowok tersebut. Vita merasa risih karena cowok itu tetap berjalan di belakangnya, punggungnya terasa kebas karena terus ditatap. Ia berusaha acuh, tetap tenang melangkah menuju ruang humas.


Tidak butuh waktu lama tiba-lah di tempat tujuan, Vita masuk duluan usai mengetuk pintu. Pada saat itu Pak Lolo memulai wacananya. Selama itu mereka juga berdiskusi mengenai adegan di video promosi yang telah dibuat, Vita memberikan ide semampunya. Soal puisi yang ia buat, dua hari lalu sudah ia serahkan pada ketua humas, katanya mereka akan menyeleksi terlebih dahulu.


"Jadi begitu, mengerti?" final Pak Lolo setelah kurang lebih setengah jam berwacana.


"Ngerti, Pak."


"Nak Vita, Nak Azka, selama dua minggu ini kalian sudah bekerja keras, oleh sebab itu saya akan memberikan poin khusus ke nilai kalian. Lusa, video promosinya akan diluncurin. Terimakasih banyak sudah ikut-serta dalam pembuatan video tersebut."


"Oke Pak, nggak masalah buat saya," ucap cowok yang duduk di sebelah Vita. Padahal yang ia lakukan selama ini tidak lebih dari meracau ketenangan orang-orang.


"Kalian tidak perlu lagi datang kemari, terimakasih banyak atas usaha kalian selama ini."


Ada rasa sedih dalam hati Vita ketika Pak Lolo mengatakan itu. Rasanya Vita tidak ingin beranjak dari sini.


Bel berbunyi lancang ke sepenjuru sekolah, Pak Lolo pamit pergi kemudian para anggota humas beramai-ramai mengucapkan terimakasih pada Vita, tapi malah Azka yang mengumbar senyum.


"Sama-sama, sama-sama."


"Pede banget lu," cibir Hera.


Ketika ruang humas separuhnya hampir kosong, Vita mengemas barang-barang, bangkit dan segera menyingkir, pergerakannya terhenti saat Azka ikut bangkit sehingga menghalangi jalannya. Alis Vita tertaut melihat Azka memandangnya tanpa berkedip.


"Apa?" tanya gadis itu, datar.


"Kata terimakasih buat gue mana?"


"Terimakasih apa?" Mengabaikan rasa bingung, Vita menuruti saja permintaan Azka. "Makasih banyak." Dia pun berjalan melewati cowok itu. Baru lima langkah berjalan, kakinya berhenti di pijakan karena dia lagi-lagi berdiri menghadang.


"Keadaan lo gimana?"


"Apanya?" Kebingungan melanda Vita. Betapa tidak? Mengenai kejadian di rumah sakit, Vita belum tahu kalau Azka sudah mengetahui rahasianya. Ia cuma tahu Azka tidak bertanggung-jawab setelah menceburkannya ke danau lalu pergi begitu saja. Pikiran itu muncul karena selama dirawat Vita tidak pernah melihat cowok itu berada di sana.


"Keadaan lo sekarang gimana? Dan---" Lirikan mata Azka mengarah ke perut Vita.


"Jangan kurang ajar!" Dia melanjutkan langkah seraya memasang wajah marah. Emosinya naik-turun bila ada sesuatu yang berhubungan dengan perutnya. Sesuatu yang ada di dalam sana masih menjadi momok menakutkan baginya. Dia tidak ingin kehidupan sekolahnya hancur bila ketahuan, di sisi lain ia tidak ingin menyingkirkannya.


Vita berjalan menyusuri koridor. Di tengah keramaian, dirinya menghindar dari segala jenis kontak fisik, memilah jalan aman untuk ia lalui. Begitulah kehidupan Vita sekarang, dirinya tidak akan pernah lagi bersentuhan dengan siapapun selain Kakaknya, temannya, dan ... Satya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Seminggu berlalu dengan cepat, setiap harinya diisi oleh kegiatan biasa. Tidak ada yang spesial. Sekolah, belajar, pulang, tidur lalu hari berganti, mengulang kegiatan yang sama. Begitu seterusnya.


Seorang gadis berkuncir satu dengan memakai seragam rapi disertai atribut lengkap baru saja kembali dari ruang kepala sekolah. Dirinya baru selesai berbincang dengan Pak Kepsek, menyerahkan medali emas karena baru memenangkan olimpiade tingkat nasional. Pak Kepsek sangat bangga sehingga mengeluarkan kata-kata pujian yang berlebihan. Bukannya senang, kesedihan melanda Vita, meski begitu ia tetap tersenyum. Dan sekarang, ia akan kembali ke kelas.


Di belokan koridor, seorang cowok tiba-tiba muncul di hadapannya sambil menyodorkan buket bunga, tak lupa senyum cengengesan yang ia punya.


"Baru pulang dari olimpiade, ya? Gue tebak dapet medali emas?"


"Iya," jawab Vita seadanya.


"Bunga terharum buat gadis termanis yang pernah ada."


Dengan lamban gadis berkuncir itu menerima bunga tersebut. "Makasih."

__ADS_1


"Bunga itu bagus buat lo dan seseorang."


Vita tak mengerti seseorang apa yang dimaksud, dia kembali melangkah melewati Azka. Tapi langkahnya diikuti.


"Selama seminggu gue kasih bunga, bunganya lo kemanain aja?"


"Simpan." Dusta, nyatanya semua bunga yang Azka berikan dibuang Vita di tong sampah depan sekolah. Baginya Azka masih seseorang tak penting yang tiba-tiba 'sok kenal sok dekat' padanya.


"Simpan dimana? Di hati lo?"


"Di rumah."


Cowok itu manggut-manggut, kemudian memandangi Vita dengan sangat intens. Karena risih Vita pun menatapnya balik. "Kenapa?"Β 


Bahu Azka tergedik. "Nggak ada. Gue cuma heran, kenapa setiap detiknya lo makin cantik aja."


Tidak lucu. Buktinya tidak ada perubahan ekspresi dari wajah datar Vita. Gadis itu kembali menatap ke depan, fokus berjalan. Dalam benaknya hanya diisi Satya, setiap menitnya ia hanya memikirkan cowok itu, seperti sekarang, ia menebak-nebak Satya sedang apa dan bersama siapa. Selama seminggu ini Vita jarang melihatnya karena sibuk belajar, ia cuma bertemu ketika Satya menitipkan tugas. Rindu dalam hatinya tumbuh menjadi pohon yang amat kokoh.


Barusan dipikirkan, orangnya sudah ada di depan mata. Vita berubah linglung ketika maniknya tak sengaja bertubrukan, jantungnya berdegub kencang karena Satya berjalan berlawanan arah dengannya, otomatis mereka akan saling bersisian nantinya.


"Dicariin kemana-mana taunya di sini," tukas cowok berkaos hitam bernama Reyhan dengan lantang.


Air muka Azka yang semula hangat berubah dingin, dirinya tetap berjalan di sebelah Vita, tidak memandang tiga orang yang berjalan berhadapan dengannya.


"Azka." Ketika bersisian, lengan Azka dicekal oleh seorang gadis dengan rambut terurai, siapa lagi jika bukan Meisya. "Kata Reyhan lo nyembunyiin blush on gue, ya?"


Dengan cepat Azka menepisnya. "Nggak ada."


"Eh santai dikit, dong," sergah Satya karena lengan gadisnya dihempas begitu kencang.


"Suka-suka gue. Lagian cewek lo duluan yang megang tangan gue."


"Gue cuma nyentuh lo dikit, emangnya salah?" ujar Meisya tak terima.


"Jelas salah. Lo ngejaga kehormatan lo sebagai cewek, kan? Kenapa nyentuh cowok duluan?"


"Ada masalah apa sih lo?" Satya menginterupsi, dahinya berkerut tak senang. "Seminggu ini ngilang terus berubah."


"Tau nih anaknya Pak Supri, kenapa sih lo? Di kelas nggak ada, kantin nggak ada, tempat tongkrongan nggak ada. Biasanya juga berisik ngerecokin gue," timpal Reyhan.


Azka mengabaikan mereka, memilih pergi menyusul Vita yang sudah jauh meninggalkannya.


"Kalian berantem?" tanya Meisya sepergian Azka.


"Enggak, kalau berantem juga kita nggak pernah diem-dieman kayak cewek. Tuh anak aja yang aneh tetiba ngambek tanpa alasan." Satya menjawab acuh.


"Apa karna gue kebanyakan korupsi makan hasil jualannya, ya?" Reyhan menambahi.


"Nggak mungkin lah," balas Meisya.


"Mungkin aja. Selama ini gue kasih seperempat dari hasil penjualannya."


"Lo pikir Azka mata duitan?"


"Lo pikir dia ngejual itu buat apa? Cuma karna money lah, Nona Meisya."


Di tengah adu argumen antara Reyhan dengan Meisya, sebuah jawaban muncul dalam benak Satya. Jawaban yang memancing kemarahan dalam hatinya, lengannya terkepal memikirkan persepsinya yang pasti benar.


Vita.., batinnya.

__ADS_1


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Vote juseyo~


__ADS_2