Air Mata Harapan

Air Mata Harapan
Dua


__ADS_3

SMA PERKASA, sekolah yang banyak diminati sebagian besar penduduk Jakarta. Para alumni dari dalam maupun luar kota banyak mencalonkan diri untuk bersekolah di sana. Tidak hanya dari segi pengajaran, sekolah tersebut menyediakan berbagai fasilitas, dari AC dan Televisi di setiap kelas, tidak lupa ruang ekskul yang lengkap tanpa kekurangan satu pun. Selain disebabkan oleh ketakjuban sekolah, niat tersembunyi murid perempuan mendaftar sekolah di sana yaitu karena banyak cowok gantengnya. Meski tetap tidak bisa digapai yang penting bisa cuci mata, pikir mereka.


"Satya," panggil Meisya.


"Hm?" Satya yang tengah bermain game di ponsel menyempatkan melirik Meisya singkat sambil tersenyum menawan.


"Buku-buku aku dimana? Pr besok belum selesai. Aku mau ngerjain sekarang."


"Kamu nggak usah khawatir."


"Nggak usah khawatir gimana? Dimana kamu sembunyiin?" Meisya mengacak tas Satya tanpa ampun, mengeluarkan seluruh barangnya ke atas lantai.


"Aku punya mesin nyetak pr, aman kok."


"Mesin...?" Alis Meisya tertekuk. "Maksud kamu?"


"Udah nggak perlu dipikirin." Satya mengusap pipi Meisya di sela bermain game.


"Geli." Ia menepis lengan Satya. Sang empu tangan malah tertawa. Meisya mendekati Satya lalu memeluknya penuh mesra, keduanya saling bermanja-manja di dalam kelas.


Tiba-tiba suara grasak-grusuk terdengar, berasal dari Azka dan Reyhan yang sibuk masuk ke dalam kelas dari jendela. Keduanya melempar tas ke meja masing-masing, saat sudah berhasil masuk dan mendudukkan bokong di kursi, pada saat itu mereka dapat menghembuskan napas lega sambil mengusap peluh keringat.


"Anjir, hampir kan."


"Lo sih, bawa ****** ke sekolah."


"Eh mulut lo!" Azka menendang kursi di depannya ke arah Reyhan. "Jangan gede-gede anying, kalau guru lewat terus denger gimana?!"


"Emang gue pikirin." Reyhan menggedikkan bahu, membuka tas, mengambil botol berisi air mineral lalu meneguk perlahan.


Azka kembali menghembuskan napas lega, punggungnya menyandar ke kursi. "Untung Pak Melki belum dateng." Ia merebut botol minum Reyhan, meneguk sisanya sampai habis.


Reyhan ingin menabok Azka karena sudah menghabiskan minumnya seenak jidat, namun perhatiannya malah teralih oleh sebuah burger ayam keju yang menganggur di atas meja Satya, seperti terhipnotis ia bangkit dan mengambilnya tanpa ijin.


"Eh, punya cewek gue!" Satya menggeram.


"Ya biarin Reyhan yang makan, aku juga lagi diet," tengah Meisya. Hal yang membuat Reyhan memeletkan lidah pada Satya, cowok terbodo-amat itu lekas membuka bungkus burger lalu melahap habis dalam dua gigitan.


Dengusan Satya keluar, dibanding marah ia justru memfokuskan pandangan pada Meisya. "Kenapa diet?"


"Aku gendutan, Sat."


"Kamu nggak gendut, Sya. Plis jangan bikin kesehatan kamu makin memburuk."


"Enggak, kamu percaya deh. Ini cuma lima hari doang."


"Lima hari kamu bilang? Nanti kamu sakit lagi, sayang." Satya memasang wajah super khawatir, mengusap pipi Meisya lembut.


Tawa Meisya tampak renyah. "Pokoknya aku tetep mau diet. Kalau kamu ngelarang, itu artinya kamu nggak mau liat aku bahagia."


"Eh ada pr?" potong Azka, terlalu malas menyaksikan perdebatan. Ia juga melihat teman sekelasnya sibuk menulis.


"Ada," jawab Satya. Sepertinya kali ini ia menuruti permintaan gadisnya.

__ADS_1


"Seriusan?" Azka merubah posisi dari duduk bersandar menjadi duduk mencondong ke depan, melihat kerjaan temannya yang duduk di kursi depan. "Kok gue nggak tau?"


"Emang sejak kapan lo pernah tau di kelas ada pr?"


Azka berdesis, mengambil bukunya, mulai berjalan kesana-kemari mencari contekan. Azka berjuang mencari contekan, sementara Reyhan? Tanpa berdosanya ia mengambil buku Satya dari dalam tas, lalu menjiplak langsung.


Melihat Reyhan sudah dapat contekan, Azka kembali ke tempat duduknya—di sebelah Reyhan—lalu mencatat jawaban dengan gerakan cepat.


Satya mengumpati mereka yang seenak jidat mencontek tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


Tidak butuh waktu lama karena Azka dan Reyhan mencatat menggunakan tulisan dokter, akhirnya selesai.


"Tulisan lo kok beda-beda, Sat?" tanya Azka.


"Kenapa? Suka-suka gue lah."


Azka mendengus, melempar buku tersebut ke orangnya, mendarat tak mulus dengan berakhir naas di lantai.


"Jangan dilempar juga. Udah nyontek tau diri, bego."


"Like gue dong." Tawa Azka muncul. Cowok itu menyugar rambutnya ke belakang, pandangannya berpindah ke jendela yang menampilkan lapangan outdoor. Saat melihat pemandangan di bawah, satu sudut bibirnya terlengkung.


"VITA!" teriaknya tidak sinkron tempat.


Yang dipanggil tengah berusaha mendribel basket, sama sekali tidak menyadari Azka memanggilnya dari lantai atas.


"VIT!" panggilnya lagi. Tidak disahut juga.


"VIT!"


Azka tertawa. Reyhan sangat sensitif terhadap teriakan.


"Gue bawa ****** banyak nih, malem ini lo ikut nggak?"


"Gratis? Kalau gratis ya mau."


"Buat lo lima ratus rebu aja, harga temen."


"Kaga lah, nyet. Harga temen mata lo."


Dan keduanya mulai larut dalam perbincangan asyik.


Sementara Satya dan Meisya kembali bermesraan yaitu bergelayutan manja.


"Satya...."


"Kenapa, Sya?" Mendengar nada serius, Satya memusatkan perhatian pada Meisya.


"Katanya kamu mantan Vita, ya?"


"Hm?"


"Pas smp, katanya kalian pernah pacaran."

__ADS_1


Dahi Satya berkerut, ia terdiam dengan tatapan tertuju ke lantai. "Aku nggak ngerti kamu ngomong apa. Vita? Emangnya Vita siapa?"


"Ih, Vita yang sering disapa Azka."


Alis Satya saling bertautan. "Disapa Azka? Aku ngga pernah kenal."


"Syukur deh."


Senyum Satya terbit, tangannya terjulur mengusap rambut gadisnya. "Tenang aja, ngga ada siapapun di hatiku selain kamu."


Meisya tertawa renyah. "Gombal."


...🍂🍂🍂...


Bel pulang berbunyi nyaring, seluruh murid berbondong-bondong keluar menuju gerbang sekolah. Ada yang mampir ke kantin sekadar mengisi rontaan perut atau membeli air mineral. Salah satunya Satya, Meisya dan kedua dayang mereka---Azka dan Reyhan---yang menemani Meisya mengisi perut. Keempatnya duduk di meja sudut agar tidak terganggu oleh ramainya murid lalu-lalang.


Selagi mengobrol, perhatian Azka teralih oleh Vita yang tampak bersembunyi di balik gerobak makanan tengah mengintip mereka.


"Eh Vita bukan, sih?"


Reyhan mengikuti arah tunjuk Azka, tepat sekali saat itu momen Vita akan mengintip, alhasil maniknya bertemu dengan manik Reyhan. Tapi tiba-tiba saja gadis itu langsung berlari pergi.


"Lah?"


Azka bangkit ingin menanyakan maksud Vita mengintip mereka, namun tercegat saat Satya menariknya untuk tetap duduk.


"Biarin, paling cewek kecentilan."


Alis Azka tertaut.


"Oh iya, gue ke toilet bentar." Satya berdiri, keluar dari kantin. Dia berjalan santai menyusuri koridor tanpa memasang ekspresi apapun. Kedua lengannya bersarang di saku celana, melangkah normal.


Tanpa disangka tujuannya bukan toilet, melainkan perpus dimana biasa ia bertemu dengan sosok itu.


"Kenapa?" tanya Satya tanpa berbasa-basi.


Vita kikuk, seberusaha keras ia menetralkan raut agar wajahnya tidak bertambah jelek. "I-ini tugasnya." Dia menyerahkan lima buku bersampul cokelat yang tadi ia kerjakan secara mati-matian.


Satya menerima buku tersebut. Tidak membuka percakapan lain, cowok tinggi itu ingin beranjak pergi. Tapi---


"Satya!"


Langkahnya sontak terhenti di tempat.


Meski ragu, Vita memaksa mengatakannya. "A-aku nggak enak badan, Sat. Aku ngerasa perut aku mual terus. Te-temenin aku ke dokter kandungan, yuk?" cicitnya pelan, nyaris tidak terdengar. Meski begitu ia sangat yakin Satya masih dapat mendengar dengan jelas.


Hening.


Vita tahu akan begini, Satya benci mendengar hal menyangkut perutnya. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apapun selain berkata jujur.


Bukannya menyahut, Satya langsung pergi. Bahu Vita meluruh ke bawah. Kejadian ini sama persis seperti beberapa minggu lalu, saat ia mengatakan bahwa dirinya telah berbadan dua, Satya pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah-kata pun. Teramat menyakitkan bagi Vita.


Sekali lagi, Vita harus menanggung malu sendirian, datang ke dokter kandungan tanpa seorang pun mendampingi. Padahal ayah dari anak itu adalah Satya sendiri.

__ADS_1


...🍂🍂🍂...


Vote juseyo🙃


__ADS_2