Air Mata Harapan

Air Mata Harapan
Empat


__ADS_3

Vita menghentikan langkah, berjongkok di tengah taman sambil menangis. Ia mencabuti rumput-rumput lalu membersihkan tangannya menggunakan rumput tersebut. Vita jijik. Vita merasa jijik mengingat dirinya disentuh cowok lain selain Satya.


Karena sentuhan itu masih tetap terasa, Vita mengambil satu remasan tanah dan mengusap ke lengannya. Tidak peduli kotor, Vita terus melakukan berulangkali agar bekas sentuhan tersebut tidak lagi terasa. Di usapan yang kelima belas, tiba-tiba lengannya ditarik paksa hingga dirinya bangkit berdiri. Tarikan itu begitu mendadak bahkan Vita belum menalar apa yang terjadi.


Ingin kembali marah namun kemarahan itu seketika padam melihat wajah Satya lah yang tampak di indra penglihatannya.


"Lo ... ngapain?" Satya merunduk melihat lengan kotor Vita yang disebabkan tanah.


Tangisan Vita tercurah begitu saja, dirinya menangis sejadi-jadinya sembari menyembunyikan wajah di balik telapak tangan.


Satya berdecak, mengeluarkan sapu tangan dari saku. Dengan terpaksa ia menyentuh lengan Vita, membuka telapak tangannya lalu membersihkan pergelangan itu menggunakan sapu tangan.


"Kenapa lo nangis?" Ia menatap Vita lekat selagi mengusap.


Vita sesenggukan, mengelap ingusnya ke bahu sweater. "Temen kamu nyentuh aku."


"Temen gue?"


"Hng."


"Yang mana?"


"Yang sering manggil nama aku, hiks."


"Ck." Satya berusaha keras membereskan lengan Vita sampai bersih. Tidak sampai lima menit selesai juga, meski belum terlalu bersih karena tidak ada air.


"Mana kata lo yang nggak bisa jalan?" tukasnya, menyorot Vita datar.


"T-tadi nggak bisa."


"Terus sekarang bisa? Nggak masuk akal. Bilang aja lo nyari alesan biar ketemu gue."


"Bu-bukan gitu." Vita merunduk, mengusap wajah basahnya.


"Ck, sekarang udah bisa, kan?"


Anggukan Vita membuat Satya mendengus.


"Kalau udah bisa, bagus." Cowok itu menyodorkan tujuh buku pada Vita. "Kerjain, besok pagi harus udah selesai."


"Tapi Satya, aku—"


"Nggak terima alesan. Yang nyuruh lo ngajak ketemuan siapa? Besok pagi gue tunggu di perpus." Dia berjalan keluar taman, meninggalkan Vita tanpa mengucapkan kata 'selamat tinggal', 'sampai jumpa', atau hal semacamnya. Bukan kah itu sudah keterlaluan?


...🍂🍂🍂...


Vita merebahkan diri di kasur. Pandangannya tertuju ke langit-langit kamar, menelisik lukisan-lukisan bintang yang terdahulu ia pinta pada Papanya kala masih kecil. Kini ia sudah besar, para bintang masih ada namun Papanya telah pergi ke atas sana, menyusul sang Mama yang lebih dulu pergi saat melahirkannya. Hanya tersisa dirinya. Tidak ada siapapun.


"Maafin Erlis, Pa. Erlis nggak bisa jadi kebanggaan Papa. Erlis udah rusak. Erlis hancur." Ia menangis penuh kesedihan.


"Dan sekarang, anak yang di perut Erlis ini juga pengin ikutan pergi ninggalin Erlis. Erlis harus apa, Pa? Harus menyerah?"


Vita menenggelamkan wajahnya di bantal, berharap isak tangis dapat teredam. Tidak bisa. Dia menangis begitu keras, meraung sedalam mungkin.


"Satya ikut ninggalin Erlis. Dia yang udah buat Erlis jadi gini. Erlis harus apa sekarang?" Suaranya bergetar. Begitu menyedihkan.


"Padahal Erlis cinta sama Satya. Satya ... hiks, tega nipu Erlis. Di-dia nipu aku.... Kenapa! Ke-kenapa...?!"


Menangis adalah cara terbaik untuk melampiaskan apa yang Vita rasakan. Self injury? Belum. Vita belum masuk ke tahap itu, tidak tau besok.


"Papa tau? Satya bilang cinta butuh pengorbanan. Di-dia bilang kalau aku harus kasih seluruhnya ke dia biar dia setia. Ta-tapi, sekarang malah dia yang menjauh."


"Terus sekarang Erlis harus gimana?"


Dalam raungannya, Vita terus menyebut kata Papa dan maaf. Hanya dua itu, karena Vita sangat menyesal telah melakukan hal memalukan ini.


Brak!

__ADS_1


Pintu kamar Vita dibuka kasar.


"Kenapa kamu nangis? Kenapa nangis lagi, Lis?"


Vita tidak menjawab, kembali terisak.


"Kita udah minta pertanggung-jawaban ke keluarganya! Kenapa kamu harus nangis lagi? Satya bakalan tanggung jawab! Apa yang kamu khawatirin? Dia nggak bisa kabur kemana pun! Mau dia lari sampe Papua juga bakalan Kakak kejar, Erlis!"


Vita menggeleng di sela menangis. "Aku nggak mau."


Kakak Vita---Mahesa---berjalan mendekati Vita dan meremas kedua bahunya. "Nggak mau gimana? Maksud kamu apa?!"


"Aku nggak mau, Kak!"


Hesa mengerutkan dahi, menahan emosi.


Vita memeluk gulingnya erat-erat, posisinya duduk bersandar di kasur. "Aku nggak mau. Satya pasti terpaksa ngelakuin itu. Aku nggak mau membebani Satya. Aku sayang sama Satya!"


"Sadar Erlis! Dia yang udah buat kamu jadi gini!"


Kepala Vita menggeleng. "Satya berhak nentuin pilihannya."


"KENAPA KAMU HARUS MIKIRIN DIA YANG JELAS-JELAS NGGAK MEDULIIN KAMU?!"


"Kakak salah." Meski terus sesenggukan, Vita mengusap wajahnya dan berusaha untuk menghentikan tangis. "Satya cinta kok sama aku. A-aku cuma mau nikah k-kalau Satya ... ngelamar karena inisiatif sendiri, bukan karena paksaan kita."


"Erlis, kalau kamu terus punya pola pikir gitu, sampe kapan pun Satya nggak akan pernah bertanggung jawab. Kamu akan jadi sampah selamanya."


Vita tertawa perih, padahal sudah berusaha untuk tidak menangis, tetap gagal. "Enggak. Aku percaya sama Satya. Aku bakal nungguin Satya."


Karena menurut Vita, Satya masih memiliki hati, dia pasti bisa menyadari kesalahannya, entah cepat atau lambat.


...🍂🍂🍂...


Suara kikikan dari arah belakang benar-benar menganggu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Kayla dan Nova? Keduanya sudah berbaikan dan malah menciptakan kebisingan. Padahal di depan sana Pak Melki tengah menjelaskan materi gelombang.


Ya, ini adalah pelajaran fisika. Pelajaran kesukaan Vita. Tentu saja ia tidak mau membuang waktu dengan menggubris mereka.


"Hey! Apa-apaan itu yang di belakang! Ngapain kalian nunduk-nunduk?!"


Nah. Akhirnya Pak Melki menyadari tingkah laku mereka. Vita menoleh ke belakang memastikan keadaan Kayla dan Nova yang sudah dibungkam keras oleh Pak Melki super killer.


"Sekarang kerjakan nomer 7 dan 9! Cepat maju!"


"Mampus," cicit Kayla, pelan.


Keduanya teramat pucat. Di saat begini mereka baru menyesali perbuatan, daritadi entah apa yang mereka pikirkan.


"Vit! Sst! Buru kerjain nomer tujuh!" Kayla menendang kursi Vita dari belakang.


"Eh nomer sembilan juga, Vit! Buruan!" timpal Nova, seenak jidat.


Tidak punya pilihan, Vita bergegas mengerjakan soal di depan. Lagipula soal itu terlalu mudah, hanya butuh satu menit kedua soal telah selesai ia takhlukkan.


"Nunggu apa lagi! Kalian berdua! Maju ke depan! Biar tau rasa sama perbuatan kalian!"


Saat Kayla dan Nova melewati meja Vita, dua gadis itu mengambil kertas yang Vita sodor. Raut Kayla dan Nova serempak berubah tenang, jika sudah dapat jawaban, sangat mudah untuk mereka lewati.


Kelewat santai, keduanya mencatat jawaban yang sama persis di kertas. Tidak sadar bahwa sedaritadi Vita memangil dari kursi.


"Sudah, Pak." Mereka meletakkan spidol ke atas meja. Pak Melki manggut-manggut karena waktu pengerjaan mereka bisa dibilang singkat.


"Kay! Nov! Aku kebalik ngasih kertas!" bisik Vita dari bangkunya, wajahnya begitu panik. Namun sayang, Kayla dan Nova tidak dapat mendengar bisikan tersebut.


"Udah bisa duduk kan, Pak?" tanya Kayla.


"Sebentar, saya liat jawaban kalian." Pak Melki kembali mengenakan kacamata, memeriksa jawaban di papan tulis. Vita mengaduh, menggarut kening karena kedua makhluk itu tidak juga mengerti kodenya.

__ADS_1


Satu menit memeriksa papan tulis, Pak Melki manggut-manggut.


Melihat itu, Kayla dan Nova saling bertos-ria menduga bahwa mereka pasti akan segera dipuji karena menjawab soal dengan sangat tepat. Namun---


"Mana kertasnya?" Tiba-tiba Pak Melki berceletuk.


"H-ha? Gimana Pak? Kertas apa ya, Pak?"


Penggaris panjang diambil Pak Melki, hal yang membuat Kayla dan Nova mengerti maksud guru cerdas itu, keduanya segera menyerahkan kertas yang tadi Vita beri. Pak Melki mengambil, membaca apa yang tertulis.


Vita di kursi meringis.


Mati aku, pikirnya.


"Vita, kemari kamu."


Kan.


Karena Vita murid pintar, teladan dan penurut, ia langsung berdiri menghampiri teman-temannya.


"Kalian bertiga, silakan hormat menghadap tiang bendera sampai bel istirahat berbunyi!"


"Loh, P-Pak---"


"JANGAN MEMBANTAH!"


"Kamu Vita! Jangan sementang pintar bisa bertindak seenaknya! Sama saja kamu mendukung temanmu jadi orang bodoh!"


"I-iya Pak, s-saya minta maaf."


"Sekarang laksanakan perintah saya!"


"Iya, Pak."


Dengan sangat terpaksa ketiganya beranjak keluar kelas, menuju lapangan yang sialnya begitu terik. Harusnya Vita menolak untuk memberi jawaban. Begini jadinya.


"Vit, sori," kata Kayla, memasang raut bersalah.


"Iya Vit, sori."


Senyum Vita terlengkung, ia paling tidak bisa melihat orang memohon maaf. "Nggak papa, ini hukuman pertama aku di sekolah. Makasih."


"Kenapa ... makasih?"


"Iya, selama ini hidupku terlalu membosankan, belajar terus."


"Wah kalau gitu kapan-kapan gue dibolehin dong nyeret lo masuk bk?" Kayla menyengir, menjentikkan jari senang.


Tidak sampai begitu juga, Kayla.


Sesampai di lapangan, langkah ketiga gadis itu melambat melihat tiga sosok cowok yang sepertinya dihukum juga, tengah berdiri hormat menghadap tiang bendera merah putih. Kayla dan Nova saling menatap. Sedangkan Vita membatu di tempat.


Kayla dan Nova memang nakal, namun mereka tidak pernah suka berdekatan dengan cowok selain teman sekelas. Bisa disimpulkan keduanya tidak suka berada di posisi ini---dihukum bersama---apalagi Vita, tau sendiri kan?


Tidak punya pilihan lain, tiga gadis itu berjalan ke tengah lapangan, menuju tiang bendera yang tidak langsung mendekati ketiga cowok di sana. Mereka mengambil posisi di belakang dengan jarak kurun dua meter.


Baru akan menghormat, seruan salah satu di antara ketiga cowok itu membuat Vita, Kayla dan Nova tersentak kaget.


"Lo bertiga dihukum juga?"


Azka berbalik, menatap tiga gadis di belakangnya.


"Iya, Kak," jawab Kayla seadanya.


Azka manggut-manggut. Vita sama sekali tidak meliriknya. Namun syukur, cowok berambut cokelat itu kembali menghadap ke depan menjalankan hukuman. Vita merasa lega karena dia tidak menyebut nama 'Vita' seperti biasa, sehingga Satya di depannya tidak tahu bahwa dirinya tepat berada di belakang.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


Vote juseyo🙃


__ADS_2