
Merona merah diantara temaram jingga
Semesta pun bertasbih memuji
Teduh dalam bias cakrawala
Bagaimana bisa hati begini?
Kala temaram merona
Setiap lukisan diukir
Hanya ada kamu
Kata pun tak lampau terangkai untuk menggambar rupamu
-VEP, 2021.
Mengakhiri kata-kata di ketikan laptopnya, ia menekan tombol send yang terdapat di bagian kanan bawah. Sebentar lagi projectnya akan dimulai, hal yang membuat gadis itu lumayan gembira usai menerima pesan tadi malam.
"Apa nih? Tumben auranya berbunga-bunga." Datang-datang Kayla mencomot bekal milik Vita, sandwich daging buatannya sendiri.
"Ketua Osis kasih kabar kalau sajak yang sering aku kirim ke forum dilirik sekbid humas buat dijadiin video promosi sekolah."
"Anjir?! Beneran lo?"
"Iya."
Kayla tertawa girang sambil menggoyang-goyangkan tubuh Vita. "Selamat Vit! Selamat! Kalau video promosinya lancar dan nama lo bisa didenger kepala sekolah, lo bakal dapet poin bonus!"
"Iya."
"Seandainya sajak buatan lo bener-bener sukses, lo nggak perlu lagi susah payah ikut ujian masuk perguruan tinggi, apalagi lo sering ikut olimpiade."
Sepertinya hanya angan saja, Vita mengikuti ini karena menurutnya bisa menghibur, sama sekali bukan karena perguruan tinggi. Dua tahun belakangan sih ada pemikiran untuk masuk ke sana, tapi di tahun ini pemikiran itu seketika punah mengingat masa depannya akan hancur.
"Loh loh loh? Muka lo kok mendadak sedih lagi? Lo takut kalah?! Jangan khawatir! Nggak akan ada yang bisa ngalahin sajak puisi buatan lo yang sangat-teramat puitis itu!"
"Kamu percaya kemampuanku?"
"Oh tentu saja. Gue sering ngintipin apa yang lo tulis di belakang buku pas Pak Melki lagi ngajar. Secara nggak sadar aja lo bisa ngasilin kata-kata yang menurut gue berat untuk dipahami tapi maknanya menghanyutkan. Pasti lo berhasil!"
"Makasih, Kay."
"Santai. Kantin yuk!"
"Maaf, tapi aku nggak bisa. Masih banyak puisi yang harus aku buat."
Decakan Kayla terdengar nyaring, kecewa sedikit namun ia membentuk jarinya menjadi bentuk 'ok'.
"Gue beliin popmie mentah buat lo," ucapnya, pergi meninggalkan kelas.
Tidak ada Kayla lagi, Vita melanjutkan menulis sajak, membuka halaman baru dari laptop dan mulai mencurahkan apa yang ingin ia curahkan. Kata para humas, ia harus membuat sajaknya sebanyak lima puluh halaman, nanti mereka akan memilah mana yang lumayan bagus.
Senyum gadis itu terus terpatri---sangat tipis---yang dapat membuat Vita terlupa dari segala sakit dan patah hatinya. Terus menuangkan ide, membuat Vita tidak tersadar bahwa ponselnya sedari tadi berdering, terlalu fokus memang.
Kayla datang sembari membawa janjinya, popmie mentah. Dia duduk tepat di hadapan Vita sambil mengunyah tiga tusuk tempura sekaligus.
"Seru banget sih Ibu Negara."
Vita memang sangat serius menatap layar laptop, Kayla takut Vita lupa berkedip bila sefokus itu.
"Lo mau popmie mentah atau tempura?"
"Popmie mentah." Gadis itu mengulurkan tangan mengambil bungkus makanan yang ia ingin, membuka kemasannya lalu melahap begitu saja tanpa diberi bumbu apapun.
"Ponsel lo tuh, nyala mulu," ujar Kayla usai melahap dua puluh tusuk tempura.
Tersadar, Vita mengambil ponselnya, membuka lockscreen dan melihat notif dari atas timeline.
14 panggilan tidak terjawab
37 pesan
Semua notif berasal dari pengirim yang sama. Dengan panik sang gadis membaca pesan yang terkirim.
Dia
__ADS_1
| Oi
| Gue ada kerja buat lo
| P
| P
| P
| Gue bilang gue ada kerja buat lo
| Woy
| Heh
| Kelas gue ada ulangan, buruan
| Woy
9+
Sontak berdiri, Vita menutup laptopnya dengan kasar, menyimpan ke dalam laci kemudian berlari keluar kelas dengan terburu-buru yang membuat Kayla kebingungan.
"Mau kemana Vit?!"
"Sebentar!" teriaknya pelan. Langkah kaki membawanya menuju lobi kelas 12 IPA. Tidak butuh waktu lama, ia sampai di kelas tujuannya. Vita mengintip dari balik jendela, mencari sesosok yang tadi mengiriminya pesan untuk meminta bantuan.
Danโitu dia! Tengah duduk di atas meja bersama temannya, bersenda gurau dengan seorang gadis yang Vita jelas tau siapa. Vita mengirim pesan memberi tahu bahwa dirinya sudah ada di depan kelas.
Dia
^^^Aku depan kelas kamu |^^^
Tepat setelah pesan terkirim, Satya mengecek ponsel dan langsung menatap ke arah pintu.
Vita kembali mengirim pesan.
^^^Bukan pintu, jendela di belakang kamu |^^^
Usai membaca, perlahan dia pura-pura berpindah duduk ke kursi yang mengarah pada jendela, pura-pura tertawa tatkala temannya melayangkan lelucon, hingga ia melirik ke pintu dan pandangan mereka pun bertemu, Vita yang sedikit menyembulkan kepalanya dari jendela agar tidak ketahuan siapapun dan Satya yang meliriknya singkat kemudian kembali menatap sang pacar sambil terkekeh.
Tiba-tiba lengannya ditarik kasar, diseret paksa, dibawa menuju bawah tangga tak terpakai yang jarang dilewati para murid.
"Lo budek?! Udah gue telepon berulang kali kenapa nggak diangkat?!" bentaknya setengah berbisik, menelisik dengan tatapan tajam.
"Satya.... T-tadi aku lagi ngetik-"
BRAK!
"AKH!" Vita memekik, menutup telinga sambil memejamkan mata tatkala Satya menendang tumpukan kursi bekas sampai ambruk semua. Cowok itu menghela napas kasar sambil mengacak rambut frustasi.
"Satyaโ"
"Jangan sebut nama gue!" bentaknya lagi, lebih keras.
Siapa yang tidak kaget dibentak? Vita terus saja tersentak karena menerima teriakan dan juga tatapan murka dari Satya, bahkan rasanya sangat sakit, air mata sudah lolos dari pelupuk sang gadis.
"Nangis, nangis, nangis! Nggak ada kerjaan selain nangis?!"
"S-Satya...hiks, maaf. Tadi akuโaku lagi ngetik, aku ... ngetik sajak puisi, aku nggak denger panggilan kamu, maโ"
BRAK!
"AKH!" Vita terus menangis, ia sangat takut bila berurusan dengan pukul-memukul, ia begitu takut. Bayangan dalam benaknya terus melayang-layang, bayangan dimana Kakaknya dulu dipukuli oleh seorang penculik.
"Satya, stop...."
BRAK!
"Satya!"
Bagaikan tuli, Satya tidak mengindahkan Vita yang terlihat sangat kacau dan terus melakukan apa yang ia mau, menghancurkan kursi-kursi bekas tanpa ampun.
Tubuh Vita meluruh ke lantai, menangis kencang tanpa memiliki pertahanan lagi, dirinya sesenggukan tidak berdaya, bayangan itu merasuki pikirannya sampai ia tidak berani membuka mata. Hidupnya seperti benar-benar sudah hancur.
Satya menghentikan perbuatannya, melihat Vita yang jatuh terkulai di lantai dengan kondisi mengenaskan. Dia mendengus, menarik Vita agar kembali berdiri.
__ADS_1
"Gue nggak minta lo nangis, Vita Erlis Pryanka!" bentaknya lagi.
Kali ini Vita membuka mata, menatap Satya menggunakan kedua bola matanya yang memiliki pupil hitam jernih, mengisyaratkan pada Satya bahwa ia butuh kasih sayang di dunia ini, tapi sia-sia, Satya tidak mengerti.
"Makanya kalau gue telepon langsung angkat! Tadinya gue butuh lo, sekarang udah enggak!"
"Ma-maaf...." Vita menggigit bibirnya berupaya menahan isak.
Decakan terdengar dari bibir Satya, cowok berkulit putih itu merogoh saku, mengambil sapu tangan, mengusap pipi dan kelopak mata Vita yang sudah teramat basah.
"Istirahat kedua, gue tunggu di perpus, banyak tugas buat lo."
Anggukan Vita membuat Satya membuang sapu tangannya ke lantai. Setelah itu dia pergi begitu saja, tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Vita merunduk mengambil sapu tangan tersebut, memeluk kain persegi itu dan menangis sambil bergumam tidak jelas.
...๐๐๐...
Bel pulang telah berbunyi lima menit lalu, tepat saat Vita ingin mengemas barang, ia menerima pesan dari salah satu anggota sekbid humas.
Vit, jangan pulang dulu. Dateng ke ruang humas ya, gue tunggu
Pesan tersebut membuat pergerakan Vita menyimpan barang lebih cepat dari sebelumnya. Tidak lama akhirnya selesai, ia menenteng ransel di pundak, keluar dari kelas dan bergegas menuju ruang humas. Untungnya sedari istirahat pertama sampai sekarang Kayla masih belum kembali dari kelas musik sehingga ia tidak perlu menjelaskan mengapa matanya bisa membengkak bak disengat lebah.
Sesampai di depan ruang humas Vita membuka knop pintu, ia masuk dan menghampiri salah satu anggota yang tengah duduk di kursi.
"Saya ngelakuin kesalahan?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
Si anggota sekbid yang tengah membaca naskah langsung menoleh. "Ah, Vit, ternyata lo lebih rajin dari yang gue bayangin."
"Rajin?"
"Iya, lo dateng lebih cepat dari perkiraan."
"Kamu manggil saya? Ada alasan?"
"Eh, santai aja kali, kayak siapa aja, kita kan seangkatan."
Vita tersenyum, menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Ck, kaku banget Vit. Duduk dulu." Si anggota mempersilakan duduk, Vita menurut.
"Jadi saya ada ngelakuin kesalahan?"
"Bukan kesalahan kok, astaga. Lo parno bener. Lagian kalau ada juga nggak mungkin gue ungkap, itu bukan wewenang gue. Gue kesini karena suruhan Pak Lolo."
"Pak Lolo?"
Pak Lolo adalah guru bahasa, jarang masuk ke kelas Vita karena Vita adalah anak ipa, paling pelajaran bahasa hanya sekali dalam seminggu dalam kelasnya, tapi apa alasan Pak Lolo memanggilnya?
"Kenapa? Saya ngelakuin kesalahan?"
"Jangan formal banget Vit. Gue Hera, lo juga udah kenal." Memang kenal, Vita dan Hera pernah satu olimpiade bersama, tapi Vita bertindak seperti tidak mengenal Hera.
"Tapi kamu salah satu ketua humas kan?" Kini Vita tidak lagi berbicara formal.
"Gue anggota doang ih! Lo nggak perlu sekaku itu."
Senyum kikuk Vita tercipta. "Jadi kenapa Pak Lolo manggil aku?"
Hera mengambil berkas-berkas di atas meja, mencari berkas mana yang akan ia tunjuk, hingga ketemu, ia menyodorkan pada Vita.
"Video promosi sekolah kali ini temanya kasih sayang, jadinya Pak Lolo mau lo kerjasama bareng anak lain, saling komunikasi dan ngungkapin pendapat tentang runtutan kejadian di video nanti. Karena Pak Lolo tau lo sibuk olimpiade, dia nitipin pertanyaan ke gue, lo beneran mau ikut partisipasi dalam project ini?"
Vita membaca berkas yang tadi Hera berikan, di sana tertulis bahwa Pak Lolo adalah ketua yang bertanggung jawab atas sekbid humas dan juga yang bertanggung jawab atas segala dokumentasi di sekolah, ekskul junarlistik dan kreator menjadi salah satu tanggung jawab Pak Lolo.
"Lo setuju ikut partisipasi?" tanya Hera lagi.
Sebenarnya Vita tidak ingin, ia tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang, terlebih dengan keadaannya yang begini. Tapi di sisi lain dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berpartisipasi dalam video promosi sekolah, apalagi sajak buatannya dilirik oleh ketua panitia yaitu Pak Lolo sendiri.
"Iya, aku setuju." Entah bagaimana bibir Vita menjawab lancang, padahal tidak ia perintah.
"Oke." Senyum Hera tersungging. "Lo udah lakuin yang terbaik. Gue tau lo pinter Vit. Tapi, pinter aja nggak cukup buat lo sukses. Lo harus bergaul sama yang lain."
"Iya, makasih sarannya Hera."
"Sama-sama. Berkasnya boleh lo bawa pulang, dibaca lengkap. Besok kita kumpul di ruangan ini."
"Sekali lagi makasih."
__ADS_1
...๐๐๐...
Vote juseyo~