Air Mata Harapan

Air Mata Harapan
Tiga


__ADS_3

Sekonyong-konyongnya pacar terlihat tak peduli, tetap akan khawatir saat gadisnya terluka, ia akan melindungi atau mungkin mengerahkan yang terbaik untuk pasangannya. Begitu juga yang Satya lakukan saat Vita terjatuh ke aspal dan terluka ringan.


"Lo gimana sih Vit? Jalan aja bisa jatuh." Satya mendengus, memoles alkohol pada lulut Vita.


Konyol, padahal cuma jalan. Tapi Vita tidak melihat ada batu besar yang menghadang hingga menyandung dirinya.


"Iya...." Vita tersenyum getir, membiarkan Satya terus mengobati lukanya. Keduanya saling membungkam, hanya dibalut keheningan. Lokasi mereka tengah berada di bawah pohon rindang, suara nyanyian angin mengalun di telinga masing-masing.


Sampai Vita teringat sesuatu. "Eum, Satya."


"Hm?" Ia menyahut sambil fokus merekat perban.


"Ergh...." Ragu, Vita menggarut tengkuk belakangnya.


"Bilang aja."


"Ergh." Kali ini gadis itu menggarut hidung. "Anu, apa hubungan kita cuma bisa backstreet doang?"


"Kenapa? Lo nggak suka?" Aksi mengobati Vita telah selesai, Satya mengemas p3k yang tadi ia beli dengan terburu-buru di supermarket.


"Bukan, maksud aku, kenapa nggak lebih baik pacaran terang-terangan aja?"


"Gue ngerasa backstreet lebih baik."


"Tapiβ€”"


"Gue lebih suka gini, Vit." Satya menatap Vita intens, tepat masuk ke dalam manik cokelat legam itu, seolah ingin menghipnotis Vita agar mau menuruti perkataannya. "Backstreet atau enggak itu nggak berhubungan sama rasa sayang kita. Lo sayang sama gue, kan?"


Anggukan Vita membuat Satya tersenyum tipis. "Pinter. Intinya kita saling sayang."


Bahu Vita berguncang hebat, dirinya menangis menahan isak tangis. Napasnya tersendat-sendat. Demi apapun hatinya sangat sakit. Satya berani menipunya sampai sejauh ini. Mengapa ia begitu bodoh? Mengapa ia mau menuruti semua kebohongan belaka itu? Saat ini, hanya dia yang tersakiti. Hanya dia yang menanggung rasa menyedihkan ini.


"Ibu Vita," panggil seorang perawat. "Silakan masuk ke ruangan dokter."


Vita mengusap wajahnya menggunakan lengan sweater. Berdiri, perlahan kakinya melangkah memasuki ruangan yang dipersilakan sang perawat. Setiba di dalam, ia langsung berhadapan dengan sang dokter. Dokter seperti terkejut melihat wujudnya. Ya, Vita tau, mungkin dokter tidak menyangka Vita masih anak remaja SMA.


"Mama kamu ... mana? Siapa yang mau dikonsultasi?"


"S-saya, Dok."


Dokter itu terperangah dalam beberapa detik, namun di detik selanjutnya ia mengerti lalu mengangguk. "Baik, silakan duduk."


Vita segera duduk di kursi yang tersedia. Dokter mulai memakai Elektrokardiogram dan mendeteksi perut Vita.


"Ayahnya mana?" tanya sang dokter selagi fokus mendeteksi.


"Sebelumnya saya udah pernah ke sini," jawab Vita, berbeda dari yang ditanya.


"Ah?" Dokter kembali ke tempat duduk, melepas Elektrokardiogram dari telinga. "Dokter lain yang konsultasi kamu?"


Vita mengangguk.


"Oke gini, usia kamu sekitar 18 tahun?"


Lagi, Vita mengangguk sebagai jawaban.


"Sepertinya ini nggak akan berhasil."


"Ma-maksudnya, Dok?" Mata Vita berkaca-kaca, perasaan buruk datang menghampirinya begitu saja.


"Tubuh kamu mungil banget, Nak. Pinggul kamu sangat kecil, kamu nggak akan bisa melahirkan anak itu, ditambah usia kamu belum benar-benar matang."

__ADS_1


"T-tapi...."


"Barusan saya periksa perut kamu, perkembangan janin kamu masih di tahap trimester pertama, zigot udah mulai terbentuk di salah satu tuba fallopi. Tapi, ini masalahnya, ada komplikasi saat masa pembuahan, zigot yang udah terbentuk dari ****** sel telur nggak bisa turun dari tuba falopi ke rahim kamu. Morulanya gagal terbentuk, yang artinya proses pembentukan janin di perut kamu terhambat."


Bagai disayat, Vita sungguh tak percaya. Dia menangis sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Tidak apa. Usia kandungan kamu masih tiga minggu, masih belum terlambat untuk menggugurkannya."


Vita membekap bibir, menangis sekencang mungkin. "K-kalau saya paksakan, apa ada kemungkinan untuk tetap selamat?"


"Beresiko tinggi. Zigot akan tumbuh membentuk janin cacat. Sembilan puluh persen janin tak sempurna itu akan mati dan membusuk di dalam perut kamu. Sepuluh persen sisanya, janin akan selamat jika tubuh kamu mempunyai imun yang kuat, tapi tetap saja, bayi yang kamu lahirkan nanti akan memiliki kekurangan seperti buta atau cacat lainnya. Bisa dipungkiri bahwa ini benar-benar beresiko, lebih baik kamu segera menggugurkannya. Kamu pasti akan memiliki masa depan yang lebih cerah setelah ini."


Menggugurkannya? Tentu saja Vita tidak akan melakukannya. Gadis itu bangkit berdiri, mengusap wajahnya menggunakan lengan sweater.


"Baik Dok. Terimakasih konsultasinya. Mungkin setelah ini saya akan sering kemari untuk check up. Sampai jumpa."


Vita melangkah keluar dari ruangan, meski kini beban yang ia tanggung di pundak semakin berat rasanya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Bel istirahat adalah hal yang paling dinanti-nantikan para siswa selain bel pulang, apalagi kelas yang tengah diajar adalah seorang guru killer. Menantikan bel berbunyi merupakan hal luar biasa bagi mereka. Dan ini lah waktunya, dering bel yang berasal dari speaker di setiap sudut sekolah berbunyi nyaring.


"Vit, kantin," ucap Kayla seperti biasa.


Pergerakan mengemas Vita melambat.


"Buru, entar meja penuh." Ia menyentuh pergelangan tangan Vita, bersiap menariknya.


"Enggak Kay, aku lagi nggak enak badan."


"Kok? Ayo lah, nyampe kantin pasti lo ngerasa lebih baik."


Mungkin keadaannya terbalik?


"Aku nggak suka yupi." Vita menyingkirkan lengan Kayla dari lengannya.


"Kalau mayonaise?"


"Apalagi."


"Kinderjoy deh."


"Aku nggak doyan manis, Kay. Jangan pura-pura nggak tau."


"Huaa." Kayla cemberut. "Terus gue ngantin bareng siapa? Lo kan tau gue lagi musuhan sama geng kelas, Nova sinting itu."


"Juan ada."


"Ih!" Kayla menghentakkan kaki kesal ke lantai. "Oke, gue ngantin sendirian. Lo nitip apa?"


"Popmie mentah."


"Apaan? Lo pikir popmie mentah bagus dikonsumsi?"


"Ya udah terserah kamu. Aku lagi pusing, Kay."


Akhirnya setelah berdebat hal tidak penting, Kayla pergi dari kelas. Kepala Vita terasa lebih ringan karena tidak diajak mengobrol. Begini lebih baik. Gadis berkenakan sweater putih itu menelungkupkan wajah menghadap ke jendela, memperhatikan ramainya murid lalu-lalang di tengah lapangan, ada juga yang menghabiskan waktu dengan menonton anak ekskul bermain futsal.


Sebelah tangan Vita bersarang di perut, mengusapnya berulangkali berharap sakitnya mereda. Namun yang ada rasa sakit tersebut bertambah parah saat tak sengaja bola matanya menangkap pemandangan nyentrik di bawah sana. Satya dan Meisya, ya dua orang itu, tengah bergandengan menuju kantin. Mengapa jadi sesakit ini? Padahal ia tahu Satya tidak pernah menganggapnya ada.


Selama ini dia hanya dipermainkan. Bukan begitu?

__ADS_1


Keduanya tampak sangat bahagia, tersenyum, tertawa, bercanda, sementara Vita di sini begitu sengsara. Ingin mengabaikan, tapi hal tak menyenangkan muncul mendadak. Apa itu?


"VITA!"


Cowok itu lagi!


Dari lantai bawah meneriaki namanya sambil melambai ringan ke arahnya. Ya ampun. Gara-gara dia Satya selalu tahu bahwa Vita suka memperhatikan dari jauh. Harusnya Satya tidak boleh tahu kalau dirinya selalu mengawasi meski dari jarak tak kasat mata.


Kenapa ya cowok itu? Kenal saja Vita tidak.


Daripada melihat lebih jauh, Vita berpindah duduk ke tempat Kayla, lebih baik ia tidur sejenak. Jangan lupa bahwa nanti kelasnya mengadakan kuis fisika, tenaganya harus terisi agar bisa fokus menjawab.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Jam pelajaran berlangsung begitu saja, tidak ada rasanya bagi Vita, perih di perut lebih berbekas di setiap detik untuknya.


Bel pulang telah berbunyi satu jam lalu, sekolah sudah teramat sepi, lorong maupun koridor hanya diisi beberapa murid yang tengah ekskul. Tidak ada hal menarik sehingga Vita bebas duduk dimana saja. Gadis itu tengah menenangkan diri, duduk di kursi koridor kelas duabelas. Demi apapun, perutnya bisa sesakit ini.


Saat tengah berjalan pulang, mendadak perutnya kembali berulah, terasa mules dan keram, alhasil ia menepi sejenak di kursi ini untuk memulihkan tenaga, nihil, yang ada sakit itu bertambah parah.


Keringat sudah membasahi pelipis sampai lehernya, bahkan seragamnya terlihat bak disiram air saking basah kuyup. Luar biasa, padahal Vita hanya duduk berdiam diri.


Ingin pulang, berjalan saja rasanya sangat sulit. Bila begini terus, Vita tidak yakin akan kuat mempertahankan bayi di dalam perutnya. Lantas, apa yang bisa ia lakukan?


Satu cara terlintas dalam benaknya, tapi ia sedikit tidak yakin. Namun karena sudah tidak memiliki pilihan, ia harus mencoba.


Tangan Vita tergerak merogoh saku rok, mengeluarkan sebuah benda pipih. Langsung saja ia mengirim sebuah pesan pada sosok itu, siapa lagi kalau bukan Satya. Hanya Satya harapan satu-satunya.


Dia


Satya, perut aku sakit banget. Aku nggak bisa jalan, sekarang aku lagi di koridor kelas duabelas. Bantuin aku, plis.... Aku nggak minta dianter, aku cuma minta bantuin mapah ke depan gerbang. Dari sana aku bisa pesan taksi online. Satya, aku mohon kali ini bantuin aku.


Vita menekan tombol send dan akhirnya terkirim. Centang dua. Vita berharap Satya segera membacanya.


"Hai."


Betapa terkejutnya Vita mendengar celetukan mendadak tepat di sebelahnya. Ia menyimpan ponselnya terburu-buru sambil memasang raut ketakutan setengah mati. Apa tadi cowok itu sempat membaca pesan yang ia kirim? Sungguh Vita teramat takut bila itu terjadi.


Azka tersenyum sambil menaikkan satu alis, menunjuk ponsel di saku rok Vita menggunakan gerakan dagu. "Nonton porno, ya?"


"H-ha?" Vita cengo, tidak mengerti sekaligus kebingungan mengapa dia mengucapkan kata 'porno'.


"Siniin ponsel lo, gue tau film porno yang seru."


"Ma-maksudnya apa?" Vita sungguh tidak mengerti.


"Siniin deh ponsel lo." Azka menyentuh lengan Vita tanpa ijin, sang empu tangan tersentak dan langsung menepis lengan tersebut secara kasar.


"Jangan nyentuh sembarangan!" bentak Vita, berwajah memerah diiringi deru napas memburu.


Azka ikut terkejut menerima bentakan, apalagi melihat raut Vita yang benar-benar memerah. Manik jernih gadis itu pun berair menahan tangis, tubuhnya juga perlahan bergetar. Azka dapat melihat kedua tangan dan kakinya berguncang hebat seperti kegigilan.


"S-sori," ucap Azka bernada rendah.


Isak tangis mulai muncul dari bibir Vita. Dadanya kembang-kempis merasakan sentuhan fisik dari Azka tadi masih terasa jelas di pergelangan tangannya. Bukan lebay, itu merupakan perasaan 'takut' yang timbul dalam hatinya.


"G-gue minta maaf." Azka merasa bersalah, ia memaku menyaksikan Vita tremor perlahan demi perlahan. Ingin menyentuh kembali sebagai bentuk pertolongan, Vita lebih dulu berlari ke lorong lain. Azka semakin memaku di tempat, tidak menyangka sentuhan darinya yang biasa disukai para gadis kini justru menjadi penyebab seorang gadis menangis ketakutan.


Apa sentuhannya berdampak besar bagi orang-orang?


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...

__ADS_1


Vote juseyoπŸ™ƒ


__ADS_2