
Seminggu lalu
Seorang cowok berseragam abu-abu yang tampak lesu berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Setelah menebus biaya, ia kembali sambil membawa bubur ayam. Langkahnya yang tersisa lima meter mencapai daun pintu terhenti saat mendengar isakan tangis.
"Satya, jangan pergi, jangan hiks."
Dengan lamban ia membuka knop pintu, terpampang lah pemandangan seorang gadis terbaring tak berdaya di atas bangsal, tertidur pulas seraya bergumam tak jelas.
"Jangan sakitin Satya, Kak. Satya nggak salah apa-apa. Dia bukan orang jahat," gumamnya lagi. Perlahan Azka masuk ke dalam, berdiri memaku di sebelah bangsal sembari memandang wajah pucat tersebut.
"Gimana bisa Satya ngelakuin ini ke lo?" bisik Azka, serak. Tenggorokannya masih tercekat mengetahui fakta mengejutkan mengenai gadis di hadapannya ini. Jika saja ia tidak mengikutinya ke danau tadi, mungkin sampai kapanpun ia tidak akan tahu kebenarannya.
"Satya itu cinta pertama dan terakhir aku. Jangan sakitin dia, hiks."
Azka mematung mendengarnya, airmata bahkan menetes dari pelupuk gadis itu. Tangan Azka terkepal begitu erat.
"Itu artinya gue nggak boleh ngehajar dia?"
"Jangan, Kak! Jangan lukain Satya!"
Tawa renyah terbit di wajah Azka, hatinya perih tanpa alasan. Meletakkan bubur tersebut di atas nakas, Azka duduk di kursi, meletakkan kepalanya di atas tumpukan tangan sambil memperhatikan wajah putih gadis itu.
"Mau tau rahasia? Gue udah suka sama lo sejak pertama kali lo lewat dari kelas gue. Iya, udah lama banget. Sejak waktu itu gue cuma merhatiin lo dari jauh. Sekarang gue nyesel kenapa nggak dari dulu gue ngajak lo kenalan." Tangannya terjulur ingin menyingkirkan anak rambut Vita namun terurung mengingat bahwa Vita benci sentuhan.
"Sori gue nggak bisa nyelametin lo. Kalau aja waktu itu gue ngajak lo bicara, mungkin sekarang Satya nggak bisa ngelakuin ini ke lo."
Sepuluh menit termenung, Azka berdiri dan meninggalkan ruang inap Vita, memesan ojol mendatangi danau tadi untuk menjemput motornya.
...πππ...
Pensi sekolah akan segera diadakan, seluruh murid kegirangan karena kelas akan dikosongkan dalam beberapa hari ke depan. Para murid yang bersangkutan mulai sibuk mempersiapkan hal-hal yang perlu dilakukan, seperti membuat proposal, mencari tokoh, menyiapkan properti dan lainnya.
"Yang jadi kandidat pangeran dan putrinya siapa? Siapa aja yang pantes dicalonin?"
"Gue cocok kayaknya," ucap Ucup, cowok berbadan gempal.
"Pak Melki bahkan nggak rela nonton kalau lo yang jadi pangeran, apalagi satu sekolahan."
Bibir Ucup manyun, kembali menyesap kiko.
"Gimana kalau Satya?" usul salah satu dari mereka.
"Satya? 12 IPA 3? Boleh juga. Lo udah tanya sama dia?"
"Belum. Tapi dia bener-bener cocok jadi kandidat."
"Putrinya?"
"Meisya? Apalagi mereka pacaran, kan?"
"Oke, catet dulu."
Para anggota kepengurusan mulai sibuk mendiskusikan berbagai hal di aula, seluruhnya duduk lesehan di lantai.
"Vit, lo jadi baca puisi, kan?"
Vita yang baru datang seraya mengangkat beberapa properti langsung melotot. "Bukan. Aku cuma nulis."
__ADS_1
"Apaan? Pokoknya lo baca puisi. Catet nama si Vita!" titahnya pada si pencatat, Vita kelabakan.
"Nggak bisa! Pokoknya nggak bisa!"
"Jadi gimana? Masa lo nggak ngelakuin apa-apa di pensi ini? Pak Kepsek pasti nungguin lo nampil, secara anak kesayangan."
"Aku udah nulis puisi, kalian bisa cari orang yang bisa baca puisinya."
"Apa gunanya? Emangnya Pak Kepsek tau itu puisi lo yang buat?"
"Akuβ"
"Kalau enggak, Vita dijadiin kandidat putri di drama aja. Penampilannya oke juga buat jadi Cinderella," celetuk seorang cowok kemayu.
"Nggak!" bantah Vita cepat. "Kalian mau dramanya hancur?"
"Catet namanya!" bisik mereka, tak mendengar pendapat Vita.
"Nggak! Aku nggak mau!"
Tidak ada yang mengindahkan, mereka kembali asyik mendiskusikan hal lain, mendatangkan kegelisahan dalam gadis itu.
"Minggir woi minggir! Orang ganteng mau lewat!" Seluruh pasang mata beralih ke seorang cowok yang baru memasuki aula.
"Ck, tuh cowok ngapa ngekorin lo mulu sih, Vit? Mending agak kalem, ini berisiknya bukan main."
Jangan tanyakan Vita, dirinya saja sudah dibuat pusing keliling oleh cowok itu. Kemana-pun Vita melangkah, dia akan terus mengikuti.
"Lo belum sarapan. Kesehatan itu dijaga bukan dibiarin kayak tugas Pak Melki." Azka duduk lesehan di lantai, menarik ujung hoodie Vita agar segera duduk di sebelahnya.
Tidak ingin menciptakan kegaduhan, Vita menuruti perintah tersebut, ia duduk tepat di sebelah Azka. Cowok berkulit sawo matang itu mengeluarkan setiap rantang dari rantang bertingkat yang isinya ia masak di kantin sekolah, rantang pertama isinya nasi, rantang kedua ada ayam sambal kentang, rantang ketiga tumis brokoli, dan rantang keempat ada empat potong buah apel.
Pipi Vita memerah karena malu.
"Woi! Jangan ada yang goda Vita lagi! Kasian pipinya merah," teriaknya lantang. Kata 'cieeee' semakin memarak di aula besar itu.
"Stop gue bilang!" Untungnya titahan Azka kali ini didengarkan, meski semua orang masih memandang mereka dengan tatapan menggoda.
"Udah makan buru!" titahnya. Saking dilanda malu, Vita menuruti perkataan Azka. Dengan lahap ia menghabiskan makanan buatan cowok itu sampai kandas. Senyum mengulum di bibir Azka, di matanya melihat Vita mengunyah seperti melihat kelinci kecil melahap wortel. Menggemaskan.
Tidak butuh waktu lama semua makanan sudah habis tak bersisa, banyak orang bertanya-tanya mengapa porsi makanan Vita sangat banyak. Hanya Azka yang senang menyaksikan pemandangan tersebut, ia menyodorkan sebotol mineral yang langsung diambil Vita.
"Enak?"
Refleks, Vita mengangguk.
"Masakan gue loh."
Pikiran Vita langsung tertuju pada Satya. Makanannya sangat mirip dengan masakan Satya, tidak pedas dan terasa gurih.
Azka sibuk membersihkan sisa makanan yang Vita jatuhkan saat makan tadi sehingga mengotori lantai. Rantang demi rantang Azka satukan kembali.
"Gimana kalau Azka dijadiin kandidat pangeran juga?" usul cowok kemayu.
"Boleh tuh. Buruan catet!"
Si empu nama tidak terlihat keberatan, ia sibuk memperhatikan Vita yang asyik mengusap bibir menggunakan tisu sambil melamun.
__ADS_1
...πππ...
Dia
Gue bilang jauhin Azka, budek ya lo?! Jangan coba ngehasut Azka ngebenci sahabatnya sendiri!
Tarikan napas dalam-dalam Vita keluarkan, lagi-lagi pesan begitu yang ia terima. Sejak semalam Satya terus menerornya dengan pesan yang sama persis.
"Dia?"
Gadis itu terlonjak mendengar sebuah suara yang sangat dekat di telinganya, sontak dia bangkit untuk menjauh.
Dengan ekspresi tenang Azka memiringkan kepala ke samping. "Kenapa dia nyuruh lo ngejauhin gue?"
"Jangan deket-deket! Berapa kali aku bilang jangan deket-deket!"
Azka tersenyum simpul. "Siap!"
Helaan napas keluar dari bibir Vita. Dia begitu dibuat bingung oleh cowok itu. Mulanya ia sering berteriak memanggil namanya, kemudian tiba-tiba menjadi sok kenal, dan kini dirinya bertindak menjadi orang terdekatnya. Sebenarnya apa maunya?
"Duduk dulu, nggak baik cewek mungil macem lo berdiri di tengah panas gini, entar tambah mungil." Ia menarik tudung hoodie Vita hingga terduduk kembali. Setelahnya Azka merogoh saku celana, mengeluarkan sesuatu kemudian menyodorkannya. "Diminum, sehari tiga tablet."
Mata Vita tertuju pada kotak yang tersodor. Seolah mengerti, Azka memberi jawaban. "Ini vitamin."
"Nggak. Makasih."
"Ini beneran vitamin." Azka membuka tutup kemasan, mengambil tiga tablet lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
Karena tidak ingin berinteraksi lebih lama, Vita menerima botol obat itu.
"Minum sekarang!"
Benar-benar memusingkan. Tidak ingin dicurigai hal macam-macam, Vita membuka tutup botol, menuang tiga tablet ke tangannya lalu memasukkan ke dalam mulut seperti yang Azka lakukan sebelumnya.
"Puas?"
Cengiran menghiasi wajah Azka membuat Vita jengah, memilih membuang muka menatap lapangan. Ia duduk tenang di kursi sedangkan Azka berjongkok di sebelahnya seperti seorang bodyguard.
"Kamu kenapa sih ngikutin aku mulu?"
"Gue nggak ngikutin lo, gue cuma ngejaga lo."
"Ngejaga? Emangnya kamu siapa?!" Emosi Vita tersulut mendengar jawaban tersebut.
"Gue? Gue Azka Putra Radena, putra dari Tiyana Putri Rafika dan Ezron Fahriza Radena, abang dari Ezka Putra Radena, cucu dari Sihyuk Jeffrey Stefanus danβ"
"Aku nggak nanya itu!"
Wajah Azka tampak cengo. "Bukannya tadi lo nanya gue siapa?"
"Aku nggak nanya silsilah keluarga kamu, aku nanyaβ" Ucapan Vita terhenti karena kehabisan kata-kata.
"Nanya...?" Kedua alisnya terangkat.
Vita mengentakkan kaki kesal lalu beranjak pergi. Emosinya tidak tertahan menghadapi cowok macam Azka. Ia sungguh tidak kuat, kesabarannya habis ludes terbakar.
...πππ...
__ADS_1
Vote juseyo~