
Sedaritadi yang Azka lakukan adalah berjalan bolak-balik di depan ruang UGD, bajunya masih lembab lantaran tercebur ke danau tadi dan belum diganti. Pikirannya tertuju pada keadaan Vita. Tubuh gadis itu sangat panas sebelumnya, semoga tidak terjadi hal buruk. Ingin menghubungi keluarganya, Azka tidak menemukan ponsel di dalam sling bag Vita, mungkin tertinggal di danau.
Konsentrasinya terpecah saat pintu dibuka memunculkan seorang dokter.
"Gimana keadaan pacar saya, Dok?"
"Pacar? Kamu pacarnya?" intimidasi Dokter menggunakan wajah tajam.
Dengan sangat yakin Azka menjawab. "Iya, saya pacarnya, beberapa hari lagi."
Kedua alis Dokter menyatu. "Ini bukan hal bercandaan. Dimana wali gadis itu?"
"Saya temannya. Keadaannya gimana? Dia baik-baik aja, kan?" Wajah Azka begitu serius, sama sekali tidak berniat bercanda.
Sang Dokter menghela napas gusar, membetulkan letak kacamatanya yang hampir melorot. Dia mencatat sesuatu di kertas kemudian memberikan pada Azka. Mata Azka menyipit melihat apa yang tertulis di sana.
"Itu nomer saya. Kalau walinya sudah datang, kamu kasih kertas itu dan bilang segera hubungi saya."
"Saya bisa jadi walinya, Dokter!" tukasnya saat Sang Dokter akan berlalu pergi.
"Sedekat apa kamu dengan pasien?"
"Emangnya saya orang jahat yang mau manfaatin kabar kesehatan oranglain? Jelasin ke saya teman saya sakit apa!" titahnya tak terbantah sambil menekan kata 'teman saya' supaya dokter itu mengerti.
Melihat tatapan menyala dari Azka membuat sang dokter tidak bisa berbuat apapun lagi. Helaan napas keluar dari bibir pria paruh baya tersebut, menimbulkan tanda tanya di benak Azka karena sorot itu tampak seperti akan memberitakan kabar buruk.
"Keadaannya nggak baik."
"Nggak baik gimana?" selanya duluan.
"Teman kamu, harus gugurin kandungannya."
Kening Azka mengerut dalam. "Gugurin ... kandungan?"
"Jadi kamu belum tahu? Mungkin dia menyembunyikannya dari semua orang. Tapi kandungannya itu nggak baik buat kesehatannya. Dia harus segera gugurin janin itu sebelum bertumbuh."
Azka belum bisa menafsirkan apa yang baru saja Sang Dokter lontarkan, ia masih belum mengerti sehingga tidak bisa menangkap maksudnya.
"Kamu temannya, bukan? Kamu harus yakinkan teman kamu untuk merelakan bayi itu---"
"Bentar!" potong Azka, memandang sang lawan bicara dengan alis bertautan. "Maksud Bapak apa? Teman saya, teman saya hamil?" Pupil matanya membesar ketika mengucapkan kata terakhir.
"Ya. Sudah satu bulan, dia harus segera menggugurkan kandungan itu sebelum terlambat."
Azka terkejut, perlahan ia mundur selangkah demi selangkah sambil menggeleng. Terdiam, Azka tidak sadar sang dokter sudah beranjak pergi, keterkejutan masih menyerangnya.
"Nggak masuk akal. Vita? Hamil?" Tubuhnya menegang dengan wajah memucat. "Nggak. Nggak. Nggak. Vita? Cewek macem Vita?" Tawa muncul di bibir Azka. Sedetik kemudian tawanya berganti dengan sorot mengeras tatkala mengingat beberapa kejadian seminggu belakangan. Terlebih kejadian di danau tadi, secara tidak sengaja ia mendengar teriakan Vita. Satu nama langsung terlintas dalam benaknya.
"Satya. Berani-beraninya lo."
"Kelurga pasien?" Seorang suster keluar dari UGD.
"Saya, Sus?" sahut cowok itu dengan sisa kesadaran.
"Dari tadi pasien menyebut Satya. Apa kamu yang bernama Satya?"
Tangan Azka terkepal.
"Silakan temui pasien di dalam ruangan." Sang suster pergi bersama peralatan perawatannya, meninggalkan Azka yang terdiam seribu bahasa. Lidahnya kelu, kakinya bagai dipaku sehingga tidak bisa bergerak.
"Satya, aku butuh kamu. Jangan pergi. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Satya, aku sayang sama kamu, hiks," racau Vita yang masih dapat didengar Azka dari luar. Rasa sakit menghujani dada Azka, terasa diremat begitu keras, dihancur-leburkan tanpa sisa. Sesak. Itu yang Azka rasakan.
"Satya, hiks. Kamu dimana? Aku mohon kesini. Aku butuh kamu. Satya...." Suara isak tangis memenuhi ruangan, salah satunya memasuki gendang telinga Azka. Sebuah kenyataan yang memborbardir perasaannya, dan kini, gadis itu menangis di sela kesunyian.
"Satya, aku takut, kamu dimanaa...."
__ADS_1
Tangan Azka kembali terkepal. Kecewa? Pasti. Dengan penuh amarah ia meninggalkan UGD.
...πππ...
Brak!
"Woi, nyelo dikit! Pintu kamar gue itu."
"Mana si bangsat?!" cari Azka to the point, mengitari pandangan ke seluruh sudut mencari sosok bajingan.
Reyhan yang tengah bermain domino di ponsel mengerutkan dahi bingung. "Baru aja balik bareng ceweknya."
"Sialan! Sampah!"
"Harusnya gue yang ngumpat, baru aja gue kalah gegara lo, tai."
Azka menghempaskan tubuhnya ke sofa, memijat pelipis merasa pusing luar biasa.
"Kenapa lagi lo? Punya utang berapa juta?"
"Bukan itu, bodoh!"
"Bodohnya agak disingkirin ya. Gue nggak ngerasa bodoh."
Mengabaikan Reyhan, Azka menetralkan emosi dalam dirinya yang akan meledak-ledak. Membayangkan kejadian bagaimana Satya bertindak kurang ajar pada Vita saja menghabiskan emosinya yang mau tidak mau harus ia redam.
"Lo pernah hamilin anak orang?" Tiba-tiba di sela keheningan Azka bertanya. Reyhan menyahut dengan menggedikkan bahu acuh.
"Gue emang cowok berengsek tapi bukan cowok bejat. Cewek itu pantas dijaga bukan dirusak."
Azka terdiam mematung. Benar. Selama ini mereka memang nakal, tapi tidak pernah mengambil sesuatu yang berharga dari seorang wanita.
"Kenapa? Lo ngehamilin siapa?" celetuk Reyhan seenaknya.
"Bukan gue."
"Mulut lo nggak bisa disaring." Azka mendatangi Reyhan lalu menyumbal mulutnya menggunakan kaos kaki. "Jangan libatin adek gue!"
Reyhan terbatuk-batuk usai dicocol paksa menggunakan kaos kaki bau, dengan cepat ia berlari menuju toilet menyikat gigi. Sedangkan Azka menghempaskan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar, kegundahan lagi-lagi menyerangnya, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Vita.... Kini ia mengerti mengapa gadis itu sangat ketakutan bila disentuh.
"Sialan lo, Azkampret!" Reyhan sudah keluar dari toilet, melempar guling bermaksud menimpuk Azka, bukannya kena, Azka malah menerimanya kemudian ia peluk sambil termenung.
"Kalau lo suka sama cewek terus ceweknya bunting, lo harus gimana?"
"Pake nanya, ya nyerah lah. Kalau ceweknya bunting berarti udah nggak segel, nggak sempit lag---"
"Otak lo nggak beres. Males gue bicara sama lo."
"Kayak lo pernah mikir bener aja."
Keheningan mengambil alih, Reyhan menyipitkan mata, menyadari bahwa Azka tengah mengajak obrolan serius, terlihat dari sorotnya yang begitu frustasi. Tapi topiknya tadi membuat Reyhan salah fokus, biasanya topik vulgar begini Azka selalu bercanda, sekarang mendadak ia menjadi sosok serius ibarat anak bujangan yang bersiap mendirikan rumah tangga.
Reyhan duduk di single sofa tepat di sebelah Azka, menepuk paha sobatnya itu. "Ada masalah?"
"Ck, gue lagi patah hati."
"Siapa orangnya?"
Dengan sendu Azka menjawab. "Vita."
"Vita? Anak mana?"
"SMA Perkasa."
__ADS_1
"Kelas?"
"11 IPA 1."
"Orangnya yang mana?"
"Sering gue panggil."
"Yang mana?"
"Juara satu umum."
"Yang mana?"
"Anak kesayangan Kepsek."
"Yang mana?"
Reyhan terhuyung ke belakang saat tiba-tiba Azka melempar guling padanya.
"Sialan, dikasih empati ngelunjak ya lo," tukas cowok bomat itu.
"Lo yang ngelunjak, Pak Supri! Sia-sia gue ngasih tau."
...πππ...
Keesokan harinya Vita diperbolehkan pulang, gadis itu mencari-cari keberadaan ponselnya namun tidak kunjung ditemukan. Mungkin tinggal di danau, pikirnya. Nanti saja ia ambil bersama Kakaknya, kalau masih ada. Ngomong-ngomong, tadi dia ijin tidak sekolah, tentu saja, ia masih berkemas di rumah sakit dan sekarang baru tiba di rumah.
"Vit, Satya datang."
Sontak Vita mengurungkan langkah menaiki tangga, menoleh ke pintu dimana Satya muncul dari sana. Hesa berpamitan pergi, tinggal-lah Vita dan Satya berdua di ruang tamu ini.
"Gue denger lo kecebur danau?" Dia mendudukkan bokong ke sofa, menelisik keadaan Vita dari atas ke bawah.
Airmata Vita tidak terbendung, ia menangis melampiaskan rasa sakit di hadapan Satya, menyatakan bahwa ia sangat butuh kasih sayang. Naas, Satya tidak kunjung melakukan sesuatu, cuma diam memandang Vita.
"Kenapa kamu nggak dateng pas aku di rumah sakit, Satya? Aku butuh kamu."
"Ck, manja ya lo? Yang penting sekarang gue dateng, kan? Gue ada di hadapan lo sekarang."
"Tapiβ"
"Nih, pr gue." Satya menyodorkan sepuluh tumpuk buku ke atas meja. Beberapa tetes airmata kembali lolos dari pelupuk Vita.
"Tapi aku masih sakitβ"
"Emang gue peduli? Buruan kerjain! Besok pagi harus selesai semua."
Sesak dalam dada Vita semakin bertambah, tangisannya mengencang.
"Jangan lebay, bisa? Gue cuma nyuruh lo ngerjain pr bukan bunuh orang." Cowok berkenakan kaos putih dibalut kemeja merah itu bangkit berdiri menuju dapur.
"Aku laper. Masakin aku makanan, ya?" pinta Vita yang ikut menyusul ke dapur.
Satya berdecak, menyorot Vita malas, tapi berikutnya ia mengambil berbagai bahan masakan dari dalam kulkas, memicu kesenangan dalam hati Vita disusul kedua sudut bibirnya yang terangkat, apalagi saat Satya bertanya. "Banyak atau dikit?"
"Banyak!" jawabnya cepat.
"Lo bersihin ayamnya, gue nyiapin bumbu terus masak."
Dengan tangis terharu, Vita mulai menjalankan perintah Satya. Hatinya menghangat saat Satya menyuruhnya ini-itu untuk menyiapkan makanan. Makanan yang nantinya akan mereka nikmati bersama-sama.
Vita berharap, Satya segera sadar dan mau menerima dirinya dan anaknya suatu hari nanti. Entah cepat atau lambat, Satya pasti bisa mencintainya sama seperti ia mencintai Satya. Akan ada hari dimana mereka saling memiliki. Pasti. Karena apa? Karena Vita yakin pada Satya.
...πππ...
__ADS_1
Vote juseyoo~