Air Mata Harapan

Air Mata Harapan
Sebelas


__ADS_3

"Ah Bundaa, Azka mau ngumpul bareng Reyhan."


"Ih jangan pulang dulu Azka, ini jagain adik kamu." Sang Bunda menyerahkan seorang anak kecil yang kira-kira berusia tujuh tahun ke dalam gendongan Azka.


"Ezka kan udah gede Bunda, kenapa dimanjain mulu, sih?" Cowok berjaket denim itu bersungut-sungut menerima gendongan adiknya.


"Tunggu sini atau Bunda kurangi uang saku kamu?"


"Eh, jangan!" Dengan cemberut Azka menuruti Bundanya. Setengah hati, ia melangkah menuju kursi tunggu, duduk di sana sembari menggendong Ezka yang tertidur pulas.


"Uang saku dikurangi? Gue ampe jual benda haram gegara kemarin dipotong setengah sama Papa," monolognya.


Dokter dan suster berlalu-lalang di hadapannya, para Ibu hamil juga ikut berseliweran didampangi suami masing-masing. Dimana lagi tempat Azka selain dokter kandungan? Yap, Bundanya memaksanya ikut untuk memeriksa kandungan yang diperkirakan baru dua minggu, katanya. Azka tidak tahu apakah benar Bundanya mengandung lagi atau tidak.


Tiga hari lalu Papanya pergi ke luar negeri, terpaksa-lah ia menuruti segala keinginan Bundanya, terutama mengantar kemana saja, padahal sangat ingin ia bantah. Betapa tidak? Apa gunanya ia berada di sini? Melihat wajah berseri para ibu hamil yang baru keluar ruangan? Tidak. Dia sudah janji dengan Reyhan bertemu di jembatan biasa untuk membicarakan jualannya. Dan sekarang? Bundanya selalu tau cara menggagalkan bisnisnya.


"Ezka, bangun! Lo udah gede." Dia menggoyang-goyangkan kedua bahu adiknya, yang dibalas dengan erangan. "Nyenyak banget dih. Tau diri kalau lo berat, heh!"


"Oi! Ez, Ez! Ez! Ez dundung eaa---apa sih gaje banget, Azka."


Karena anak kecil itu tidak kunjung bangun, Azka menepuk pipinya berulangkali dengan pelan. "Ezka, bangun yuk bangun. Bisa kuy bisa, yuk buka matanya yuk, Ezka, buka matanya. Ezka! Ezka! Bukanya matanya, Ezka!"


Akibat tindakannya yang absurd, banyak pasang mata yang melirik ke arahnya namun Azka tidak peduli. Adiknya itu masih belum terjaga, membuat kesabarannya musnah, tanpa berperasaan ia mencubit paha Ezka erat-erat. Pada saat itu, barulah Ezka terbangun sambil memekik menyuarakan 'Bundaa'.


"Bangun juga lo." Azka meletakkan anak kecil itu ke kursi sebelahnya yang masih terlihat melongo, nyawanya seperti masih mengambang dan belum meloading apa yang terjadi. Dua menit berselang, barulah dia melirik Azka.


"Ih Abaaang!"


"Apa Abang-abang? Jangan panggil gue Abang."


"Iseng banget, sih. Nggak tau apa tadi aku barusan mimpiin cewek cantik?"


Kepalanya yang mungil oleng saat Azka menoyor. "Cewek cantik? Sadar umur woy."


Keduanya saling terlibat adu mulut. Melihat Ezka seperti melihat Azka versi kecil. Keduanya benar-benar mirip dari segi fisik maupun psikologis.


"Sus, saya udah nunggu sejam yang lalu."


Kening Azka mengerut tatkala tak sengaja mendengar suara yang sangat ia kenali.


"Di taman, kita berdua makan eskrim bareng---" Ucapan Ezka terhenti karena Azka tiba-tiba membekap bibirnya.


"Sebentar lagi ya, Dik. Dokter Ami sedang ada kendala di perjalanan. Kira-kira setengah jam lagi dia akan sampai."


"Jadi saya harus nunggu lagi, Sus?"


Mendengar itu, Azka menjadi sangat yakin dengan prasangkanya dan langsung bangkit berdiri, berjalan menghampiri lobi sebelah. Lalu---

__ADS_1


"VITA!" panggilnya semangat melihat seorang gadis sedang berdiri berhadapan dengan seorang suster.


Sedangkan Vita, tubuhnya mematung di pijakan tanpa bisa digerakkan. Pupil matanya membesar dengan degub jantung berpacu cepat. Kedua kakinya bergetar saat cowok itu berlari menghampirinya.


"Inikah yang dinamakan jodoh?"


Tenggorokan Vita tercekat, bibir bawahnya bergetar saking takut ketahuan. Pikiran-pikiran buruk mengenai anak-anak di sekolah mengucilkannya mulai menghantui benaknya. Dengan kaku ia kembali mengenakan masker.


"Ternyata lo suka pink, ya." Azka terkekeh memandang pakaian yang Vita kenakan yaitu gaun terusan selutut berwarna merah muda dengan kuncir rambut, jam tangan, sling bag serta flatshoes yang berwarna merah muda juga.


"Makasih Sus, setengah jam lagi saya balik ke sini." Vita membalikkan badan, beranjak pergi tak mengindahkan keberadaan Azka. Namun apa yang dilakukan Azka? Mengikuti dirinya sepanjang jalan.


"Jadi, dimana calon mama mertua gue?" tanyanya sembari menyajarkan langkah.


Sorotan tajam langsung Vita berikan pada Azka, malah dijawab santai olehnya. "Lagi diperiksa dokter? Bunda gue juga kok. Kita bakal sama-sama punya adik ipar baru yang lucu-lucu."


Deru napas Vita menjadi tak terkendali, matanya memerah menahan tangis. Praduga tersebut sangat salah.


"Abang!" panggil Ezka, berteriak dari tempat duduk.


"Ayo gue kenalin ke Bunda!" ajaknya.


Bagaikan angin lalu, Vita mencepatkan langkah meninggalkan Azka yang terdiam di tempat.


"Vit! Ayo gue kenalin ke calon mertua lo!"


Dalam mimpi pun nggak akan pernah, pikir Vita.


...🍂🍂🍂...


| Lo selingkuh


| Lo selingkuh dari gue


| Maksud lo apa ha?


Mengusap pipi, Vita membaca pesan yang baru masuk dari Satya. Semilir angin menerbangkan anak rambutnya yang bermain kesana-kemari.


Pesan tersebut tidak sampai disitu, Satya mengirimi spam chat.


| Lo pikir setelah dengar lo hamil dia bakal tetap suka sama lo?


| Lo inget ya, lo itu udah bekas gue, jadi nggak usah kegenitan cari cowok lain, setelah tau kenyataan kalau lo nggak lebih dari sampah, dia juga bakal ngebuang lo


| Lo pikir cewek begayaan kayak lo disukai para cowok? Mau ngandalin muka? Standar lo masih di bawah rata-rata.


| Udah jelek, nggak segel, benar-benar nggak ada harganya

__ADS_1


| Lo itu cuma berhak ada di bawah pijakan kaki gue, jangan berusaha kabur, nggak ada yang bisa nampung lo dan bayi bodoh lo itu selain gue


| Inget itu, *****


Spontan saja Vita melempar ponselnya ke rerumputan, menjerit histeris dan menangis, memeluk tubuhnya sambil sesekali menjambak rambut.


"KAMU JAHAT SATYA! AKU BENCI SAMA KAMU! SAMPE KAPANPUN AKU NGGAK AKAN PERNAH MAAFIN KAMU! KAMU UDAH KETERLALUAN! KAMU NGGAK BISA GINIIN AKU TERUS! AKU BUKAN HEWAN, SATYA. AKU BUKAN HEWAN! AKU MANUSIA! AKU PUNYA PERASAAN!" Vita sesenggukan dan terisak hebat usai berteriak kencang melampiaskan sesak dalam dada.


Danau sepi itu menjadi tempat dimana Vita mengadu rasa sakitnya. Airmatanya tidak berhenti berlinang, lengannya tak berhenti melempar batu ke dalam air, bibirnya mengeluarkan isak tangis hebat. Sakit itu begitu terasa dalam dada Vita, terlalu membekas sampai tidak bisa disembuhkan oleh apapun.


"Satyaaa...," isaknya. "Aku cinta sama kamu! Cuma kamu satu-satunya yang aku cinta. Tapi kenapa.... Kenapa kamu nggak hargai cinta aku? Cintaku sangat besar, Satya. Aku bahkan rela beri semuanya ke kamu. Tapi kenapa? Kenapa kamu masih terus nyakitin aku?"


"Mamaaa, Erlis udah nggak kuat. Erlis cape. Papaa, bawa Erlis pergi. Sekarang. Udah nggak ada secercah harapan dalam hidup Erlis. A-aku, aku harus pergi."


"Iya! Aku harus pergi."


Ketika Vita melangkah menuju danau—memutuskan sesuatu diluar nalar—sebuah tangan tiba-tiba menariknya.


"Jangan ngelakuin hal bodoh!"


Karena tarikan tersebut begitu kencang, tanpa sengaja kaki Vita tergelincir hingga dirinya jatuh ke pelukan orang yang menariknya, otomatis keduanya tercebur ke dalam danau sambil saling berpelukan.


Vita langsung tersadar, bergerak kesana-kemari hingga akhirnya dia berhasil kembali berdiri. Napasnya megap-megap, seluruh tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki sudah basah kuyup. Cowok yang menariknya ikut muncul, mengusap wajah menyingkirkan rambut yang menutupi mata.


"KAMU!" bentak Vita tak habis pikir. Dadanya kembang-kempis, merasa kehilangan akal menghadapi cowok ini.


Kedua bola mata Azka memerah, begitu juga Vita. Keduanya saling menatap dengan ekspresi yang berbeda.


Decihan Vita keluar, ia berjalan ke tepi danau ingin mengakhiri semuanya. Mengambil sling bag dan ponsel dari atas rumput, bersiap pergi, namun terurung ketika Azka melayangkan pertanyaan.


"Lo diapain Satya?"


"Bukan urusan kamu!"


"Gue tanya, diapain Satya?!" Nadanya berubah tegas, tak terbantah.


"Apa gunanya aku kasih tau kamu?! Emangnya kamu bisa apa ha?! Kamu bisa apa?! Kamu bisa ngerubah pikiran Satya biar tanggung jawab?!"


"Tanggung jawab?"


Napas Vita tersendat-sendat, pusing menerjangnya begitu saja. Seluruh tubuhnya terasa tremor tanpa sebab.


"Tanggung jawab apa maksud lo, Vit? Dia ngelakuin apa ke lo?!" Oktaf suara Azka meninggi.


"Dia—" Raut Vita memucat, di detik berikutnya ia jatuh tak berdaya ke atas rerumputan.


Dengan panik Azka menghampirinya, mencengkeram kedua bahu gadis itu. Lengannya bergetar merasakan suhu tubuh itu sangat panas. Ia pun menepuki pipinya. "Vit? Vita?" Tak membuang waktu, ia segera menghubungi ambulans karena merasa tidak bisa membawa Vita ke rumah sakit menggunakan motor. Setelah selesai memberitahu alamat melalui telepon, Azka mengangkat tubuh mungil Vita, membawanya menuju jalan raya.

__ADS_1


...🍂🍂🍂...


Vote juseyoo~


__ADS_2